Dari Jayakarta ke Tumenggung Mataram

Ketika VOC (Kompeni) menaklukkan Jayakarta (Mei 1619), JP Coen bukan saja menghancurkan keraton, tapi juga memporakporandakan masjid Kesultanan Jayakarta yang kini letaknya kira-kira di Kalibesar Timur. Pangeran sendiri dan para pengikutnya kemudian hijrah ke Jatinegara Kaum, dekat Pulogadung, Jakarta Timur. Mengikuti jejak Rasulullah, Pangeran Ahmad Jaketra di tempatnya yang baru membangun sebuah masjid yang diberi nama As-Salafiah. Dari masjid yang dijadikan markas inilah, pengeran dan para pengikutnya bergerilya melawan Belanda.

Sekalipun sudah berusia hampir empat abad, masjid ini masih berdiri kokoh. Ini terlihat dari empat tiang utama terbuat dari kayu jati yang menjadi penyangga masjid tersebut. Sekalipun masjid ini sudah delapan kali di renovasi dan diperluas tapi empat tiang utama ini masih kita dapati. Hal yang sama juga masih terlihat pada masjid-masjid tua lainnya. Dari masjid As-Salafiah inilah, ia mengobarkan semangat jihad kepada para anak buahnya yang tetap setia. Sambil tidak henti-hentinya mengusik Belanda dalam upaya merebut kembali Jayakarta. Menurut sejarah versi Belanda, sampai 1670 Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya ini. Ketika Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten menyerang VOC, Jatinegara Kaum kembali memegang peran penting sebagai pos terdepan.

Hal yang sama juga terjadi ketika balatentara Mataram melakukan dua kali penyergapan ke Batavia (1628 dan 1629). Seperti juga masjid-masjid tua lainnya, di samping kiri masjid terdapat makan-makam. Termasuk makam Pangeran Ahmad Jaketra, para keluarga dan pengikutnya. Adanya kuburan ini baru diumumkan pada 1956 bertepatan dengan HUT DKI ke-429. Dengan alasan Belanda sudah enyah dari bumi Indonesia, yang sebelumnya selalu dirahasiakan. Jatinegara Kaum mungkin merupakan kampung tertua di Jakarta, dengan penduduk aslinya bukan Betawi, mengingat waktu itu Jayakarta dikuasai Kerajaan Banten. Para penduduk asli juga menggunakan bahasa Sunda yang bersumber dari Banten, bukan bahasa Melayu dialek Betawi.

Ada yang telantar
Dari Jatinegara Kaum, mari kita menuju ke Proyek Senen, Jakarta Pusat. Tapi kita bukan untuk berbelanja. Karena dibagian belakang dari proyek Senen, tepat di depan Gelanggang Remaja Planet Senen dan Stasion KA Senen juga terdapat sebuah masjid tua, Al-Arief namanya. Tidak diketahui pasti berapa usia masjid ini. Menurut seorang petugasnya, konon usianya lebih dari 200 tahun. Sayangnya, petugas ini tidak mau menjelaskan lebih rinci tentang masjid ini. Ia hanya menyatakan kecewa karena masjid tua yang dulunya terletak di Gang Jagal Senen tidak pernah mendapat bantuan pemerintah.

Telantar, begitu ia mengistilahkan kondisi peninggalan sejarah ini. Di belakang masjid yang dapat menampung sekitar 500 jamaah ini, terdapat lima buah makam tua. Diantaranya makam Syekh Daeng Ariefuddin, pendiri masjid Al-Arief. Menurut seorang petugas, ia adalah keturunan Sultan Hasanuddin dari Sulawesi Selatan. Masjid ini pernah mau dibongkar pada masa Belanda, dan juga setelah kemerdekaan. Tapi berkat kegigihan pengurusnya dan umat Islam setempat, upaya membongkar masjid ini dapat digagalkan. Memang sampai tahun 1967 lokasi masjid ini di daerah hitam Planet Senen. Hingga didepannya seringkali mangkal para WTS dan hidung belang. Waktu itu ada pemeo : ”Mau menuju ke surga (masjid) atau ke neraka (tempat WTS) ada semua di sini”. Tapi sayangnya, para pengunjung lebih banyak menuju ke neraka! Di Pasar Senen, salah satu pasar tertua di Jakarta juga terdapat sebuah masjid tua lainnya.

Masjid At-Taibin yang terletak disamping gedung Gas Negara. Didirikan oleh para pedagang Pasar Senen sejak 1815. Masjid ini juga dapat diselamatkan dari pembongkaran Segi Tiga Senen pada tahun 1980-an. Seperti juga masjid tua lainnya, masjid At-Taibin juga disangga oleh 4 tiang berjejer lurus, terbuat dari kayu jati hitam. Tiap tiang memiliki nama sesuai dengan pemberian orang-orang yang menyumbangnya. Tiang pertama bernama Hajjah Fulana binti Husain, kemudian berturut-turut Hajjah Jantiyah, Haji Muhammad bin Fulan, dan Haji Sarbi. Para penyumbang ini tentunya orang-orang yang hidup saat masjid ini dibangun. Saat revolusi kemerdekaan, masjid ini pernah juga dijadikan markas pasukan Siliwangi. Dari masjid-masjid inilah para ulama memberikan semangat kepada pejuang dalam melawan Belanda. Masjid terletak di Jl Senen Raya 4, Kalilio, Jakarta Pusat.

Satu masjid dua nama
Dari Senen, kita memasuki kawasan Kwitang. Tidak jauh dari kali Ciliwung terdapat Masjid Al-Riyadh. Tapi orang lebih mengenalnya sebagai masjid Kwitang. Masjid ini dibangun sekitar satu abad lalu oleh Habib Ali Alhabsji, tokoh ulama Betawi. Awalnya masih berbentuk mushola. Sampai tahun 1960-an, Habib Ali selalu mengajar di masjid ini. Ia kemudian membangun Islamic Centre Indonesia di kediamannya, kira-kira 300 meter dari masjid. Masjid ini pada tahun 1963 pernah diresmikan Bung Karno. Oleh proklamator kemerdekaan Indonesia ini, masjid itu diberi nama Baitul Ummah atau kekuatan umat. Tapi kemudian diganti lagi dengan nama semula. Kawasan Glodok atau China Town yang selalu hingar bingar banyak memiliki masjid tua. Agak sedikit terpencil di Jl Pengukiran II terdapat sebuah masjid kecil. Seorang pengurusnya menyatakan, masjid yang diberi nama Al-Anshor didirikan oleh para pendatang dari Malabar (India) pada abad ke-17

. Tepatnya pada 1648. Berbeda dengan masjid-masjid lainnya, masjid Al-Anshor yang dulunya luas dan terdapat pemakaman, kini sudah menyatu dengan rumah-rumah penduduk. Sudah tidak ada lagi yang tersisa untuk pekarangan masjid. Tidak diketahui berapa lama masjid ini digunakan oleh para imigran India. Karena para imigran dari negeri martabak yang datang belakangan mendirikan sebuah masjid lainnya, tak jauh dari masjid ini. Masjid baru yang dibangun di Jl Bandengan Selatan 34, oleh masyarakat setempat disebut Masjid Kampung Baru. Didirikan 1748 kini hanya tersisa beberapa dari bangunan aslinya. Seperti empat tiang penyangga dan beberapa pilar kecil pada jendela. Masih di kawasan Kota, di Jl Pekojan, terdapat sebuah masjid tua yang dibangun abad ke-18. Masjid An-Nawier erat kaitannya dengan masjid kuno di Keraton Surakarta dan Keraton Banten.

Menurut Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta, masjid Pekojan yang dapat menampung hingga 2000 jamaah, masa lalu merupakan salah satu masjid yang berperan dalam penyebaran Islam. Melihat masjid-masjid tua di Jakarta, tampak sekali sentuhan arsitektur Cina ikut berperan. Terutama pada Masjid Kebon Jeruk dan Angke. Bahkan di Masjid Kebon Jeruk, dekat penyeberangan Sawah Besar – Ketapang, kubahnya mendapat sentuhan arsitektur Cina. Berdiri pada 1786, masjid ini merupakan masjid pertama bagi ‘peranakan’ Cina (istilah orang Cina yang masuk Islam) di daerah Glodok. Di sini terdapat makam Ny Cai, istri pendiri masjid tersebut, Kapiten Tschoa. Kapiten inilah yang ketika itu memimpin masyarakat Muslim di Batavia. Masjid Tambora yang terletak di tepi kali Blandongan (anak dari kali Ciliwung) mempunyai kisah menarik.

Masjid ini dua abad lalu dibangun oleh orang-orang bekas tahanan Belanda. Ketika itu di daerah yang sekarang berdiri masjid datang sekelompok orang dari kaki pegunungan Tambora di Sumabawa. Mereka dibuang ke Batavia untuk kerja paksa (rodi) akibat menentang kekuasaan Belanda. Setelah bebas mereka memilih tinggal di daerah itu. Pada 1181 (1762 M) dibawah pimpinan Ki Mustadjib, tokoh masyarakat Tambora mereka mendirikan sebuah masjid. Untuk mengenang nama daerahnya, mereka menamakan Masjid Tambora. Di depan masjid ini terdapat makan pendirinya. Hanya beberapa ratus meter dari sini, terdapat sebuah masjid kuno lainnya. Masjid Al-Mansyur didirikan permulaan abad ke-18 oleh Abdul Mihad, putra dari Pangeran Tjakrajaya, sepupu dari Tumenggung Mataram. Keberangkatan ke Jakarta dalam rangka membantu rakyat Jayakarta untuk mengusir VOC.

Karena usahanya secara fisik tidak berhasil, maka Abdul Mihad berusaha melalui jalan lain untuk menentang penjajahan. Yakni dengan mendirikan masjid pada 1717. Di masjid inilah dia mengadakan ceramah-ceramah untuk menggelorakan semangat rakyat menentang penjajah. Pada 1947, masjid ini pernah ditembaki pasukan NICA. Pasalnya, KH Moh Mansyur, pimpinan masjid saat itu memasang merah putih di puncak menaranya. Kyai Mansyur kemudian ditangkap Belanda. Setelah ia wafat (12 Mei 1967) masjid ini pun dinamakan Masjid KH Mohd Mansyur. Sekaligus menjadi jalan utama di Kampung Sawah, Jembatan Lima, Jakarta Barat. Tentu masih banyak lagi sejumlah masjid, yang bukan saja patut dikenang karena kekunoannya, tapi juga perlawanannya dalam menentang penjajahan.

(alwi shahab)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: