Kompeni Kewalahan Hadapi Banjir

Awal pekan lalu akibat hujan deras semalaman nyaris melumpuhkan aktivitas warga di sejumlah wilayah Ibukota dan sekitarnya. Di kawasan yang jadi langganan banjir warga mengungsi: di masjid, sekolah, dan gereja. Di Cawang dan Kampung Melayu, Jakarta Timur, banjir ada yang mencapai ketinggian tiga meter. Dan, sampai awal pekan ini belum semua korban banjir meninggalkan tempat penampungan.

Sekitar 50 persen wilayah DKI Jakarta berada di dataran banjir. Tidak heran kalau sejak dulu banjir menghantui penduduk. Apalagi dari 13 sungai di Jakarta, semuanya berpotensi banjir. Ditambah penduduk makin berjubelan. Pada tahun 1948 penduduk baru 1,2 juta jiwa, tahun 1973 jadi 5 juta jiwa, 1987 bertambah 7,5 juta jiwa, dan 1995 jadi 9 juta jiwa. Kini diperkirakan 11 juta (siang) dan 9 juta malam. Mereka pun baik secara legal maupun illegal banyak tinggal di bantaran kali. Dan yang lebih jelek lagi, membuang sampah dan segala kotoran di sungai-sungai.

Lalu kenapa sejak dulu banjir melanda Betawi? Jawabnya, karena pendiri kota Batavia, JP Coen melihat keuntungan bila di muara Sungai Ciliwung ini dijadikan sebagai markas Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) atawa kompeni. Apalagi VOC atau kompeni bercita-cita menjadikan Batavia sebagai pusat perdagangan dunia. Karena itu ia memilih tanah di dekat pelabuhan Sunda Kelapa yang diairi banyak sungai. Tanpa menyadari di sekitarnya banyak terdapat rawa-rawa dan paya-paya.

Belanda yang datang ke Nusantara setelah menempuh perjalanan ribuan mil tanpa disertai keluarga kemudian membangun kanal-kanal dengan menyodet Ciliwung dan sungai lainnya. Meniru Amsterdam dan kota-kota lainnya di Eropa. Sekaligus sebagai luapan rasa rindu pada kampung halaman, setelah berada di Nusantara menempuh perjalanan ribuan mil tanpa disertai keluarga. Tidak heran, dalam peta awal ke-18 dan 19, disekitar Pasar Ikan dan Jakarta Kota dijumpai belasan kanal membelah-belah kota.

Di tepi kanal-kanal ini, Belanda membangun rumah-rumah dan antar tetangga saling kunjung mengunjungi dengan menggunakan perahu atau sampan. Sementara pada muda-mudi yang kasmaran, di malam hari, terutama malam Minggu ‘bersampan ria’ sambil memetik gitar dan melantunkan suara. Tapi pihak pemerintah, melarang orang Eropa, teristiwa wanita-wanita yang telanjang menyelam atau berenang dari rumah-rumah pemandian sepanjang dinding kali ke dalam air yang berbahaya dan tercemar itu. Pemandangan demikian sangat tercela bagi pribumi.

Banyaknya kanal dan terusan menyebabkan Belanda, dalam upaya menarik parisisata dari Eropa, telah mengunggulkan Batavia sebagai ”Venetia van Java’. Venisia merupakan kota tempat wisata air di Italia yang dibangun di tengah-tengah rawa. Ia merupakan salah satu pusat wisata di Eropa yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.

Sayangnya, sungai, kanal dan terusan yang banyak terdapat di Jakarta telah menyebabkan banjir di musim penghujan karena air yang telah bercampur lumpur tidak mengalir. Akibat banyaknya penyakit, gubernur jenderal Herman Willem Daendels (1808-1809) memindahkan pusat kota ke selatan, sekitar Pasar Baru, Lapangan Banteng dan Gambir (Medan Merdeka).

Sekalipun demikian banjir masih juga mengancam Ibukota. Seabad lalu, Residen Betawi dalam koran resmi gubernemen ‘Java Courant’ bulan Maret 1903, mengumumkan : ”Lantaran hujan keras, jalanan dari Tangerang ke Mauk terendam air. Jalanan dan gili-gili semua rusak. Kampung Sangiang, Kosambi, Jati, Tegal Kusir, dan Mauk (semuanya di Tangerang) sudah kebanjiran dengan ketinggian air satu meter.”

Rupanya, sejak dulu hujan dan banjir terjadi di bulan Pebruari. Seperti 9 Januari 1932, turun hujan sepanjang malam, sehingga hampir semua permukaan Betawi tergenang air. Laan Holle (kini Jl Sabang) serta Jl Thamrin sekarang (dulu masih kebun sayur) merupakan banjir paling parah. Akibat banjir 1932 ini, keesokan harinya orang-orang yang bertempat tinggal di Jl Sabang (belum merupakan pertokoan), tidak bisa keluar rumah. Malahan banyak penduduk yang mencari selamat nongkrong di bubungan atap rumah. Bagi yang memiliki perahu, bisa berdayung-dayung di Jl Sabang.

Di masa Kompeni, sampai awal ke-18, bukannya tidak menyadari malapetaka akibat lumpur yang membuat sungai-sungai dan kanal menjadi dangkal. Pada masa itu dikenal adanya ‘uang lumpur’, yang diperoleh dari sebagian sewa rumah dan petak milik Kompeni. Dengan ‘uang lumpur’ itu pemerintah kota mengeruk lumpur atau menggali parit-parit baru. Tetapi karena besarnya endapan, air bah di Betawi sukar dikendalikan. Tapi karena banjir di masa itu jarang penduduk, tidak begitu menimbulkan masalah. Karena diendap oleh situ dan rawa yang jumlahnya ratusan. Yang kini jumlahnya dapat dihitung dengan jari sebelah tangan.

Bintang Betawi 27 April 1903 mewartakan : ”Tadi malam antara jam 7 ada turun ujan. Amat kasihan orang kampung Pintu Besar, Asemka, Pinangsia dan Jembatan Baru (kesemuanuya di Jakarta Kota) kerendam air ujan yang membawa segala kotoran dari jalan besar masuk di dalam rumah-rumah orang, serta membawa hawa busuk dan lumpur ….”Tapi banjir di Batavia dapat diringankan ketika Belanda membangun Banjir Kanal Barat (BKB). Dan, kini Gubernur Sutiyoso berencana membangun proyek Banjir Kanal Timur (BKT). Sekalipun diperlukan biaya besar, BKT dapat mengurangi dampak banjir.

(Alwi Shahab)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: