Ngibing di Malam Capgome

Setelah lebih dari 40 tanun kagak muncul, pawai dan arak-arakan Capgome sebagai penutup Imlek atawa tahun baru Cina hari Ahad menyedot puluhan ribu orang. Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada serta sejumlah jalan di kawasan Kota dipadati pengunjung hingga memacetkan arus lalu lintas. Tradisi perayaan Capgome jatuh pada tanggal 15 menurut perhitungan penanggalan lunar (Imlek). Karena itu, pada tempo doeloe Capgome dirayakan malam hingga dini hari. Boleh dikata tidak kalah semaraknya dengan karnaval samba di Brasil.

Karena malam hari, kala itu diadakan pesta kembang api, barongsai, orkes gambang kromong, dan cokek pada hampir seluruh pelosok kota. Acara itu berlangsung sekitar lima malam, berpindah-pindah dimulai dari Glodok, kemudian Palmerah, Tanah Abang, Senen, dan Meester Cornelis (Jatinegara). Baru kemudian ke Bogor, Cianjur, dan Sukabumi.

Sementara rakyat bergembira di jalan-jalan, para tauke atawa cukong kagak mau ketinggalan. Sambil menenggak minuman keras dengan berselendang di leher, mereka ngibing bersama para penari cokek diiringi gamelan gambang kromong. Para penari yang mengenakan kebaya memutar-mutarkan tubuhnya dan selalu menyodorkan minuman keras pada si babah yang kemudian memberikan sawer di sela-sela BH-nya. Tidak mengherankan banyak yang teler dan kemudian ambruk akibat minuman keras.

Pada malam Imlek para kongcu yang bertandang ke rumah siucia (gadis) diharuskan membawa ikan bandeng kepada sang mertoku. Calon mantu yang tidak bawa bandeng dianggap kagak ngehargain sang mertoku. Bisa-bisa pernikahan putus.

Waktu itu pacaran tidak sebebas sekarang. Gadis banyak yang dipingit, dilarang keluar rumah, apalagi menonton Capgome pada malam hari. Kala itu tempat penjualan ikan bandeng di Jl Bandengan, Glodok.

Bagaimana meriahnya Capgome di Jakarta? Kita kutip tulisan wartawan majalah Moestika Ratu Kwee Tek Hoay berjudul Non Tjapgome (1930) dalam bahasa yang dikenal sebagai sastra Melayu-Cina. ”Tidak ada pesta Tjapgome di Java yang melebihkan ramenya di Batavia. Keramean yang tidak bisa didapet di laen-laen tempat”.

Tjapgomeh di Buitenzorg (Bogor), Cianjur, dan Bandung pun teritung rame, tetapi kalah jauh jikalu dibanding Batavia. Yang bikin itu pesta jadi rame yalah rombongan orang yang jalan plesiran dengan diiringi muziek, menyamar dengan rupa-rupa pakean, sambil berdansa dan tandak (menari) di sepanjang jalan”.

Rombongan orang plesiran cara begitu ada terdapat juga di laen-laen tempat, tapi terlalu encer buat menarik perhatian. Di Batavia jumblahnya itu rombongan ada ratusan dan terdiri dari segala bangsa, yang bikin padet antara straat (jalan raya) mulai dari Glodok liwat Toko Tiga, Patekoan, Kongsi Besar dan laen-laen jalan hubungannya”.

Selanjutnya, Kwee menulis, ”Di sepanjang itu jalanan ada penuh dengan restaurant dan warung-warung makanan yang sebagian besar tinggal dipasang terus sedari Pasar Malem.

Menggambarkan meriahnya Capgome, Kwee (1886-1951) menulis. ”Di malam tjapgomeh antero straat ada begitu padet dengan penonton, terkadang orang tidak bisa bertindak mundur, atawa maju, hingga keliatannya orang boleh berjalan menginjak itu kepala-kepala manusia yang begitu rapet zonder (tanpa) kuatir jato di tanah”.

Warga Cina, yang memegang teguh adat-istiadat dan budaya leluhur telah melakukan perayaan Imlek dan Capgome sejak mereka banyak bermukim di Batavia. Seperti diketahui, ketika JP Coen membangun kota ini, dia juga memboyong ratusan keluarga Tionghoa dari Banten. Kelompok ini dipimpin oleh Souw Beng Kong yang kemudian diangkatnya menjadi kapiten atau kaptoa. Menurut Coen, siapa yang hendak memperluas dan membangun negara harus mengambil hati orang Tionghoa karena mereka adalah bangsa yang ulet, rajin, dan pekerja keras.

Ketua MPR Amin Rais dan Ketua DPR Akbar Tandjung beberapa hari lalu terlihat di televisi menghadiri acara Capgome di Jakarta. Pemprov DKI telah menjadikan acara ini sebagai aset untuk menarik wisatawan asing dan domestik di Ibu Kota.

(Alwi Shahab)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: