Balai Kota dan Gereja Belanda

Johannes Rach (1720-1783), membuat gambar Balai Kota (Stadhuis) Batavia pada 1770. Ia adalah soldadoe VOC kelahiran Kopenhagen, Denmark yang banyak melukis kota ini pada abad ke-18. Tidak kurang 40 lukisan dari 220 lukisan yang ia lukis kini jadi dokumen berharga di Rijk Museum, Amsterdam. Stadhuis (Balai Kota) Batavia salah satu gedung peninggalan abad ke-18 yang terselamatkan dan sejak 1972 dijadikan sebagai Museum Sejarah DKI Jakarta. Ketika Ratu Inggris Elizabeth dan Ratu Belanda Beatrix ke Jakarta, keduanya mengagumi gedung yang telah berusia tiga abad ini.Di ujung kiri gedung Museum (kini Jl Stasiun), terdapat gedung Stasiun Kereta Api BEOS, Jakarta Kota, yang kali itu masih tanah lapang. Dahulu jalan ini bernama Tijgersgrach (Kanal Macan), merupakan kawasan elite Batavia. Dinamakan demikian karena ketika itu di tempat ini terdapat sebuah kanal — sedotan sungai Ciliwung. Kini telah jadi jalan raya yang hiruk pikuk. Di tempat ini pada 1870 dibangun gedung Raad van Indie (pengadilan), yang kini jadi Museum Keramik.

Jl Fatahillah, tempat museum sejarah berada dulu bernama Stadhuis Pleinzuid (Lapangan Balai Kota). Terlihat orang tengah memikul dan mengambil air dari pancoran di depan Balai Kota, yang sampai kini masih kita dapati. Di kiri kanan alun-alun (Taman Fatahillah) terdapat pohon-pohon asam berjajar rapi. Di sebelah terdapat Hollandsche Kerk (Gereja Belanda). Kini menjadi Museum Wayang. Di belakangnya terdapat pemakaman umum, yang setelah ditutup kemudian dipindahkan ke Tanah Abang I (Kober), Jakarta Pusat (dulu Kerhoff Laan). Karena sebagian daerah selatan masih belukar, mayat-mayat dibawa dengan perahu melalui Kali Krukut.

Di alun-alun seperti terlihat dalam gambar, merupakan tempat warga Batavia berkumpul. Di kiri terlihat seorang nyonya (nyai) tengah berjalan menuju pasar dipayungi oleh budaknya. Sementara budak lainnya membawa tempat sirih dan tempolong untuk si nyai meludah. Terlihat kereta kuda tengah melaju di alun-alun membawa tuan dan nyonya Belanda, dipayungi dua orang budaknya yang berdiri di bagian belakang kereta.

Gedung Balai Kota tampak berdiri megah hingga kini. Tapi di gedung ini dulu merupakan pengadilan, dan dibagian bawah terdappat penjara bawah tanah. Dulu, disayap timur Balai Kota di pasang ‘kuda kayu’ sejenis kuda-kudaan dengan panggung tajam. Orang terhukum di atasnya selama berhari-hari dengan diberi beban berat di kedua kakinya. Siksaan mengerikan. Sementara orang yang lewat menertawai, membuat malu terhukum.

Di depan gedung ini kerap dilakukan eksekusi hukum gantung atau pancung. Sampai kini di Museum Sejarah masih kita jumpai ‘pedang keadilan’, entah sudah berapa kali memisahkan kepala terhukum dari badannya. Pernah kejadian, Sara Specx, puteri tidak sah Jaques Speck akibat kumpul kebo dengan wanita Jepang, diadili di tempat ini. Soalnya, gadis jelita yang baru berusia 13 tahun dan dititipi oleh ayahnya kepada Gubernur Jenderal JP Coen, ia membuat malu sang gubernur. Pacarnya, Pieter J Corterhoef (17 tahun), calon perwira muda VOC, ia izinkan mengunjunginya hingga larut malam. Setelah JP Coen menolak grasinya, perwira muda ini pada 1629 dihukum pancung di alun-alun. Sedang Sara di dera dengan badan setengah telanjang di pintu masuk Balai Kota.

Di gedung ini terdapat kamar penyiksaan hingga sebagian besar yang dipenjara terpaksa mengakui tuduhan yang diajukan hakim, karena tidak tahan siksaan. Untung Soerapati, salah seorang budak yang berhasil meloloskan diri saat dipenjara di bawah tanah. Ia meloloskan diri karena dibantu gadis tuannya, yang jatuh cinta padanya. Hukuman gantung dan tebas dengan pedang berakhir 1896 terhadap perampok Tjoen Boen Tjeng. Jagoan Kwitang Bang Puasa, juga dihukum gantung di tempat ini karena membunuh Nyai Dasima.

(Alwi Shahab)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: