Saat-saat Senayan Digusur (1)

Kini Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor) tengah sibuk memeriksa kasus dugaan korupsi di Gelora Senayan yang sekarang beralih nama menjadi Gelora Bung Karno (GKB). Kasus ini dinilai merugikan negara sekitar Rp 1,7 triliun.Uang sebanyak itu, kalau saja didirikan rumah sederhana dengan harga Rp 20 juta per unit dapat dibangun 85 ribu unit rumah. Jumlah cukup banyak, mengingat jutaan keluarga masih tidak memiliki rumah. Karenanya datang desakan bertubi-tubi agar mereka yang terlibat kasus ini diajukan ke pengadilan. Baik pejabat pemerintah maupun swasta. Di samping memeriksa Ali Rahman, mantan mensesneg masa Gus Dur, juga pemilik Hotel Hilton (keluarga almarhun Ibnu Sutowo). Terkait kasus perpanjangan hak guna bangunan (HGB) di hotel berbintang lima itu, yang berdiri di atas tanah negara.

Yang jelas, ketika ribuan warga Betawi tergusur dari Senayan pada tahun 1960, mereka rela dan ikhlas menyerahkan tanahnya. Hengkang dari tempat kelahirannya ini, demi suksesnya Asian Games IV (Agustus 1962). Tidak terpikir secuil pun bekas tempat kelahiran mereka kemudian berubah fungsi penggunaannya. Sebagian jadi mal, plaza, graha niaga, taman hiburan, dan berbagai sarana bisnis lainnya. Bahkan, Hotel Mulia yang juga berada di kawasan Senayan beberapa tahun lalu pernah dihebohkan karena melakukan pelanggaran terhadap jalur hijau. Di samping penyalahgunaan HGB. Rupanya, Gelora Bung Karno yang luasnya 270 hektare menarik minat para pengusaha. Hingga pernah salah seorang keluarga Pak Harto ingin menjadikannya kawasan bisnis, dan memindahkan GBK ke Cengkareng.

Baiklah kita kembali dulu ke awal tahun 1960. Setelah Jakarta terpilih menjadi tuan rumah Asian Games ke-IV (Agustus 1962), terjadi pemindahan besar-besaran warga Senayan ke Tebet. Seperti dituturkan Haji Zawawi (73 tahun), ribuan warga yang kediamannya terkena proyek pembangunan Asian Games IV dipindahkan ke Tebet. ”Kami diberi kavling dan uang ganti rugi untuk membangun rumah di tempat tinggal yang baru,” kata H Zawawi, salah satu korban gusuran dari Senayan. Tapi kakek empat anak, 5 cucu dan seorang cicit ini, tidak ingat lagi berapa uang yang diterimanya kala itu.

”Pokoknya yang tergusur menerima ganti rugi dengan baik. Kala itu korban gusuran dapat menerima uang kontan secara langsung, atau ditransfer melalui bank, yang telah siap ditempat warga berada. Kalau sekarang main gusur, dulu kagak,” katanya. Karenanya, tidak pernah terjadi sengketa saat penggusuran. H Zawawi merupakan salah seorang dari sedikit korban gusuran Senayan yang selama 45 tahun sampai kini bertahan di Tebet. Tepatnya di Tebet Timur Dalam Raya, Jakarta Selatan. Kini, jumlah warga korban gusuran yang masih tinggal di Tebet sangat sedikit. Maklum, setelah orang tuanya meninggal, warisan harus dibagikan kepada keluarga. Sementara tanah di Tebet makin mahal. Kini berdasarkan NJOP harganya Rp 1 juta per m2.

Dia kemudian menunjuk beberapa daerah di Tebet, areal yang khusus disediakan bagi warga Senayan. ”Di masa Bung Karno daerah ini dipatok-patok jadi ribuan kavling,” ujarnya. Dan kavling yang disediakan cukup luas. Seperti kediaman H Zakwawi luasnya 300 m2. Waktu itu, Tebet boleh dikatakan masih kampung. Sebagian besar penduduknya petani buah-buahan, seperti juga warga Senayan.

Jalan memasuki Tebet sebagian besar belum beraspal. Kalau hujan penuh lumpur, hingga kita mesti memakai sepatu karet tinggi untuk menghadapi becek. Bahkan, kadang-kadang sepeda harus digotong karena saat becek jalan tidak dapat dilalui roda dua. Bahkan, kata Zawawi, di Tebet kala itu masih banyak dijumpai pematang sawah. Seperti di Senayan, buah-buahan melimpah di Tebet. Dari duku sampai durian. Mereka juga sangat agamis. Seperti warga Senayan, tiap Ahad pagi mereka berbondong ke Kwitang, menghadiri pengajian Habib Ali. (Bersambung).

(Alwi Shahab/as)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: