Saat-saat Senayan Digusur (2-Habis).

Pemindahan warga Betawi dari Senayan (Jakarta Pusat) ke Tebet (Jakarta Selatan) yang jaraknya sekitar 10 km tidak berjalan mulus. Penyebabnya masalah keamanan. Warga Senayan yang sudah pindah ke Tebet, seringkali disatroni para penjahat dan perampok. Mengetahui mereka menerima uang gusuran, warga jadi sasaran empuk bagi penjahat untuk menyatroninya.Seperti dituturkan tokoh Betawi H Irwan Syafi’ie (75 tahun), menghadapi teror demikian, warga Senayan banyak yang tidak tenang tinggal di tempatnya yang baru. Akhirnya ramai-ramai hijrah dari Tebet. Dengan uang gusuran yang tidak cukup untuk membeli rumah, mereka menjual kaplingnya di Tebet. ”Karena kepepet kavling-kavling itu dijual murah. Pokoknya asal laku saja sudah lumayan,” tutur H Irwan Syafi’ie.

Tidak heran, kalau sekarang ini, seperti dituturkan H Zawawi (75) salah seorang warga yang tergusur dari Senayan, mereka yang hijrah ke Tebet paling-paling tinggal 25 persen. Bahkan, dia meramalkan beberapa tahun mendatang, sudah tidak akan ada lagi eks gusuran Senayan tinggal di Tebet. Karena harus menjual rumahnya, karena pewarisnya makin bertambah. Apalagi, kata Zawawi saat warga Senayan pindah ke Tebet, ”selama dua tiga tahun suasananya masih semrawut. Karena kebiasaan dan usaha di Senayan berlainan dengan Tebet.” Ia mengibaratkan, ”seperti ikan di empang, kini pindah ke akurarium,” menunjukkan sulitnya cari makan di awal pemindahan.

Ketika Gelora Bung Karno (GBK) dibangun pada 1960 untuk menghadapi Asian Games IV (Agustus 1962), ribuan manusia yang tergusur tinggal di empat kampung. Masing-masing Kampung Senayan, Petunduan, Bendungan Udik, dan Pejompongan. Yang keseluruhan luasnya 270 ha. Kini, seluruh kawasan di empat kampung itu disebut Senayan.

Orang sudah melupakan nama kampung Petunduan. Padahal kampung ini habis sama sekali dan tidak tersisa saat penggusuran. Dan, di Petunduan inilah terletak Gelanggang Olah Raga Bung Karno. Termasuk Stadion Utama, Lapangan Atletik, Basket, Softball, dan Hockey. Penduduknya, sebagian besar petani buah-buahan, pengusaha kecil, pedagang pikulan, termasuk pedagang ketupat sayur. Ketupat dari daerah ini terkenal kelezatannya. Dengan semur tahu dan semur kentang, dicampur sambel godok berupa pepaya muda dan peta serta kulit ketupat, yang semua mereka ambil dari kebun tanamannya masing-masing.

Kalau Petunduan sudah tidak tersisa samasekali, tidak demikian dengan Kampung Senayan. Kampung yang juga dihuni warga Betawi ini, sampai kini masih tersisa. Antaranya Jl Senopati, bersebelahan dengan Bundaran Jl Pattimura dan Sisingamaraja. Dua kampung lainnya yang tergusur adalah Bendungan Ilir dan Bendungan Udik. Seperti diceritakan H Nawawi, dia tinggal di Bendungan Udik. Bekas kediaman saya ini sekarang berada di Parkir Timur Senayan. Tidak berjauhan dengan Hotel Hilton, yang kini sedang bermasalah dan tengah ditangani Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Terkait kasus perpanjangan hak guna bangunan (HGB) di hotel berbintang lima ini. Karena letaknya hanya 100 meter dari Jl Gatot Subroto, Nawawi mengaku dia mendapat ganti rugi lebih besar. Tapi sudah tidak ingat lagi jumlahnya. Di sini dulu terdapat kali kecil, tempat warga mandi, mencuci, dan kakus. Di samping bertani, penduduknya banyak yang jadi pengusaha batik tulis (mori). Mereka produksi dengan bergairah, dan ratusan kodi dipasarkan di Pasar Tanah Abang.

Mereka juga mendapat bantuan pemasaran dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) yang letaknya juga di bilangan Senayan. Sedangkan sebagian daerah Pejompongan yang kena gusur antara lain gedung MPR/DPR dan Taman Ria Senayan. Seperti dikemukakan Nawawi, kehidupan masyarakat kala itu ‘cukup lumayan’. Akibat hasil buah-buahan yang melimpah. Seperti dikemukakan Nawawi, kawasan Senayan kala itu dijuluki kawasan hijau. Karena pada pemilu pertama (1955) Partai Masyumi merebut suara terbanyak.

(Alwi Shahab)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: