Yang Kokoh Hingga Saat ini

Masjid Luar Batang
Berlokasi di jalan Luar Barang V, kampung Luar Batang, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Masjid ini dibangun pada tahun 1739 M oleh Sayid Husein Bin Abubakar di atas lahan yang dihadiahkan oleh Gubernur Jenderal VOC pada waktu itu. Pada masjid ini terdapat kentongan berukuran 140 cm dari kayu berwarna hijau dan sumur tua berdiameter 80 cm. Sekarang ini masjid Luar Batang selalu ramai dikunjungi para peziarah terutama yang berziarah ke makam Sayid Husein bin Abubakar. Bangunan utama masjid berbentuk empat persegi yang ditopang dengan tiang utama pemugaran.

Masjid Jami Kebon Jeruk
Berlokasi di jalan Hayam Wuruk No 85, Tamansari, Jakarta Barat. Dibangun pada tahun 1786 M oleh Chau Tsien Hwu dari sebuah surau yang hampir roboh. Tidak ada catatan riwayat pembangunannya. Masjid tersebut kemudian dinamai Masjid Jami Kebon Jeruk, dengan ukuran lantai 10 x 10 meter persegi sebagai ruang utama ibadah dan 11,5 x 6 x 2,5 meter persegi sebagai ruang mengaji. Bangunan menara terletak di sebelah kiri masjid dan di halaman timur masjid terdapat nisan makam tertulis Fatimah Hwu, istri dari Chau Tsien Hwu. Nisan ini berbentuk naga dengan tulisan huruf Cina dan pertanggalan 1792 M, tahun ini merupakan tahun wafatnya Fatimah. Masjid ini mengalami beberapa kali pemugaran, antara lain pada tahun 1950 dibuat perluasan pada keempat sisi masjid, tahun 1974 dilakukan perbaikan pada bagian-bagian yang rusak, kemudian perbaikan dilakukan kembali pada tahun 1983 sampai dengan 1986 dan terakhir tahun 1998.

Masjid Jami Al-Barkah, Bangka
Masjid Jami Al Barkah yang didirikan tahun 1818 oleh seorang yang disebut Guru Sinin. Guru Sinin ini diyakini sebagai wali yang berasal dari Banten. Tapi sesungguhnya yang ada sekarang bukan bangunan asli seperti pertama kali dibangun tahun 1818. Replika masjid ini awalnya beratapkan rumbia dengan tiang penyangga dari batang kelapa berdinding papan. Di bagian barat masjid terdapat makam-makam tua yang salah satunya merupakan makam dari Guru Sinin yang wafat tahun 1920. Juga ada makam menantu dan cucu Guru Sinin, KH Ridi yang wafat tahun 1933 dan KH Naisin yang hidup hingga usia 132 tahun. Di hari-hari tertentu makam-makam tua itu masih didatangi para peziarah.

Masjid Al Makmur, Tanah Abang
Masjid Al Makmur sekarang persis bersebelahan dengan Pasar Tanah Abang, bercikal bakal dari sebuah mushala yang dibangun oleh KH Muhammad Asyuro tahun 1704 M. Kedua anak KH Muhammad Asyuro, KH. Abdul Murod Asyuro dan KH. Abdul Somad Asyuro tercatat menjadi penerus dakwah ayah mereka hingga masuk ke abad 20. Dengan semakin berkembangnya perkampungan dan bertambahnya jumlah penduduk sekitar langgar, keberadaan langgar itu dirasa tidak representatif lagi menampung jamaah yang semakin bertambah. Atas inisiatif tokoh masyarakat Tanah Abang keturunan Arab, Abu bakar bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Habsyi, tahun 1915 langgar diubah menjadi masjid besar. Masjid yang dibangun di atas tanah wakaf 1.142 meter persegi milik Abu Bakar itu kemudian diberi nama Al-Makmur.

Masjid Al mansur, Jembatan Lima
Pembangunan masjid ini dirintis oleh seseorang dari Kerajaan Mataram bernama Abdul Malik. Abdul Malik adalah putra dari Pangeran Cakrajaya, yang sebelumnya bergabung dengan Tentara Mataram berperang di Batavia. Tahun 1717 M tercatat sebagai tahun pembangunan masjid bermenara setinggi 50 meter, berkubah seperti topi baja kompeni, dan berjendela di sepanjang batang menaranya ini.

Tak ada catatan resmi, diberi nama apa masjid dengan atap seperti rumah biasa ini. Namun yang pasti seperti diakui oleh masyarakat sekitar daerah Kampung Sawah Lio, Tambora, alur sejarah masjid Al Mansur diyakini seperti itu adanya. Hingga dua abad kemudian kegiatan dakwah tetap diteruskan oleh keturunan Abdul Malik, seperti Imam Muhammad Habib, dan ulama-ulama perantau seperti Imam Muhammad Arsyad Banjarmasin, pengarang kitab Sabilil Muhtadin.

Imam Muhammad Arsyad Banjarmasin inilah yang kemudian memperbaiki letak mihrab masjid. Pembentulan arah kiblat itu diakukan bersama-sama dengan sejumlah ulama lokal pada 2 Rabiul Akhir 1181 H atau 11 Agustus 1767 M. Dua abad berikutnya, tanggal 25 Sya’ban 1356 H / 1937 M dibawah pimpinan KH Muhammad Mansyur bin H Imam Muhammad Damiri diadakan perluasan bangunan masjid. Berturut kemudian, untuk menjaga terpeliharanya tempat suci serta makam-makam para ulama (di depan kiblat), maka di sekitar masjid dibuatkan pagar tembok (sekarang berpagar besi). Tahun 1960-an adalah kali kedua masjid di Jalan Sawah Lio ini dipugar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: