Sejarah Salah Kaprah


glodok18721.jpegFoto : Glodok 1872. Dalam sebuah keluarga bernama teater rakyat Betawi, lenong dan topeng betawi ibarat saudara kandung. Wajah mereka mirip, membuat banyak orang salah terka. Bertahun-tahun, H. Bokir, Nasir T(openg) atau Mpok Nori dianggap sebagai pentolan lenong. “Itu salah kaprah. Mereka sebenarnya orang topeng,” ucap S.M Ardan.

Penontonnya seperti tak memperhatikan, dari papan namanya saja jelas terbaca, kumpulan mereka bernama “Topeng Betawi Setia Warga”. Sama sekali terbebas dari embel-embel lenong.

Mengapa lenong dan topeng bisa membingungkan banyak orang? Ternyata kisahnya berawal dari proyek revitalisasi TIM tahun 1970-an. Saat itu, untuk meramaikan panggung, para punggawa TIM mengundang “bintang-bintang” berbagai grup topeng betawi sebagai pemain tamu. Nah, begitu lenong meledak, Bokir dan kawan-kawan langsung lekat dengan cap sebagai pentolan lenong.

Padahal, dua teater rakyat ini banyak bedanya. Lenong wajib diiringi gambang kromong dengan rebab cina, sedangkan topeng diiringi gamelan dan rebab sunda. Lagu-lagu yang dibawakan pun lain. Kalau lenong mengakrabi tembang-tembang Betawi dan Cina seperti Jali-Jali, Cente Manis, Si Pat Mo atau Sam Yi Lok, topeng banyak mengangkat lagu Sunda.

Begitu pula dramaturginya. Pertunjukan lenong dibuka dengan acara nyanyi bersama disertai gerak maju mundur para pemainnya. Tapi topeng, diawali tarian yang biasanya dibawakan seorang penari wanita dan seorang pe-bodor laki-laki. Belum lagi soal cerita, yang satu mengisahkan kepahlawanan, satunya lebih banyak soal kehidupan sehari-hari.

Tapi yang paling membedakan, menurut S.M Ardan, adalah sejarahnya. Konon, lenong pertama kali muncul dan berkembang dalam masyarakat Betawi Tengah, sementara topeng lahir di kalangan masyarakat Betawi Pinggir (perbatasan dengan Jawa Barat). Ini berpengaruh ke soal bahasa yang digunakan. Misalnya, “Di tengah, masyarakatnya biasa ngomong Gue sih ogah, tapi di pinggir, kalimat yang sama diucapkan Gua mah embung!” Beda, kan?
Belakangan, makin parah saja. Tak cuma topeng, tapi hampir semua sandiwara dialek Betawi disebut lenong. Sebuah salah kaprah yang harus diluruskan. Iye enggak, Bang!

Advertisements

4 thoughts on “Sejarah Salah Kaprah

  1. barkah May 5, 2007 at 6:31 pm Reply

    Bang, konsepnye paten. Punya celah tersendiri. Dua jempol buat abang. :)

    • Yopie doank November 24, 2013 at 6:39 am Reply

      Ho,oh emang berasa beda nya , apalagi kalu nonton lenong dines..
      yang pake bahasa melayu puncer ( tinggi ) jauh banget ,

  2. dik November 18, 2008 at 4:46 am Reply

    tanks ya, aretikelnya bisa membantu saya dalam menulis teater rakyat

  3. nurhasan June 30, 2009 at 7:23 pm Reply

    Wah..aye sendiri baru ngerti klo topeng ame lenong beda!, makasih infonye bang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: