Herry Kiswanto Ditempa di Medan

LAHIR di Aceh 45 tahun lalu, sejak kecil Herry Kiswanto sudah gemar sepak bola. Apalagi setelah kembali ke daerah asal atau kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat, di dekat rumahnya ada lapangan sepak bola yang menjadi pelampiasan kegiatan olahraga paling digemari di Tanah Air. Dari berlatih seadanya Herry kemudian masuk klub Tornado. Sesudah itu, dia melanjutkan berlatih di klub PTPN XIII setamat Sekolah Menengah Atas. Karena sepak bola mulai mendarah-daging, sambil menuntut ilmu di Akademi Industri dan Niaga di Bandung, ayah dua anak dari istri tercinta Tuti Hariati ini, masuk klub UNI di Kota Kembang. “Bermain sambil kerja di Bank Rakyat Indonesia atas bantuan pengurus Persib Bandung,” kenangnya ketika diwawancarai di Hotel Natour, Simpang, Surabaya, Selasa (27/6).

Ketika itu, walau prestasi belum begitu menanjak, tokoh sepak bola nasional asal Medan, almarhum TD Pardede dengan klub semi prof Pardedetex sudah meliriknya. Melalui putranya Johny Pardede, TD Pardede yang akrab dipanggil “Pak Katua”, Herry (sebagaimana panggilan akrabnya-Red) diboyong ke Medan. Dilatih antara lain oleh pelatih asal Belanda, Frans van Balkom dan Fred Kohber asal Jerman, Herry pun makin matang.

“Dari situlah kemudian saya masuk skuad tim nasional, tepatnya sejak tahun 1979 sampai 1993,” kata Herry. Awalnya, Herry bermain di posisi gelandang. Tokoh sepak bola Sumatera Utara, Kamaruddin Panggabean (almarhum) menyarankan Herry sebagai libero. Posisi ini memang cukup pas untuknya, bukan hanya di Pardedetex tetapi juga di tim nasional yang sempat menjuarai SEA Games 1987 Jakarta dan juara sub grup Pra Piala Dunia.

***

TAHUN 1993, Herry mulai memasuki masa “pensiun”. Namun karena sepak bola terus merangsangnya, dia lalu berkiprah di klub Bandung Raya sampai klub ini menjadi juara Liga tahun 1996. Setelah itulah Herry benar-benar pensiun sebagai pemain dan beralih menjadi pelatih dengan mengantungi sertifikat pelatih S-1.

Terakhir menjadi asisten pelatih Persija Pusat, Herry yang sekarang pelatih tim sepak bola DKI Jakarta memposisikan sepak bola bukan sekadar olahraga tetapi juga seni. “Namanya juga permainan laki-laki, sepak bola boleh keras, tetapi lebih diutamakan teknik dan keterampilan,” ujarnya.

Ditempa di lingkungan Pardedetex di Medan selama hampir empat tahun, Herry yang dulu dikenal enggan bermain keras, sekarang tidak lagi mentabukan hal itu. Tetapi segera digaris-bawahi, keras dalam arti tetap dalam batas-batas sportivitas. Dan yang paling dia tabukan yaitu membuat cedera lawan.

Pendapatnya tentang sepak bola nasional, yang bisa disebut masih jalan di tempat, “Ini antara lain karena ada pengurus yang masih dipengaruhi oleh hal-hal lain. Artinya, tidak 100 persen menumpahkan perhatiannya untuk memajukan cabang olahraga yang digemari dari desa sampai ke kota ini.” Malah Herry mensinyalir, ada di antara pengurus yang sengaja rebutan kursi atau kedudukan untuk maksud tertentu. Kalau sudah begitu, bagaimana sepak bola kita bisa maju. Ya… kan Her…. (Syamin Pardede)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: