ARDAN ITU ANAK MEDAN

Image SAYA bangga dikupas majalah Horison (edisi Mei 2002), sehubungan dengan genap umur saya 70 tahun (pada 2 Februari 2002). Hanya dalam kata pengantarnya, redaksi (rubrik “Kakilangit”) membuka dengan “Meskipun lahir di Medan, dia memahami dan menghayati (Betawi)…Maklumlah, dia cukup lama tinggal di tengah masyarakat Betawi…”, bersama anak pertama. Lho – saya tinggal di Kwitang (Jakarta Pusat) “mulain orok”. Ayah saya Moh. Zein dari Pasar Minggu (Betawi) dan ibu saya Mursah (Bogor/ Sunda). Pada 1930 mereka ke Medan untuk kerja (ayah saya tukang potret studio). Lahir 2 orang anak, Mursiah dan saya (pada 1932). Karena ayah sakit parah, sekeluarga kembali ke Jakarta. Umur saya ketika itu sekitar 6 bulan. Tak lama kemudian ayah saya meninggal dunia. Saya jadi anak yatim, apalagi ibu saya tak menikah lagi (hingga wafat pada 19820). Kami sekeluarga tinggal di Kwitang. Saya pindah ke Rawamangun, setelah menikah (pada 1977). Kemudian ke Rawabelong, sejak 1980 hingga sekarang. Karena (amat) terlambat menikah, pada 8 juni 2003 baru menikahkan anak ke-3 (bontot) Mia Armalia. Kedua abangnya, Ardiansyah (25) dan Armansyah (24) masih “sendirian”. Nama istri saya Masfufah, kelahiran Jakarta, 27 Agustus 1953. Kenapa saya jujur bilang lahir di Medan? Karena memang demikina adanya. Tak perlu lahir di Jakarta untuk jadi Betawi. Teman saya (Batak) lahir di Singapura, tapi dari kecil tinggal di kampung, dia jadi Betawi. Teman saya yang lain, lahir di Salatiga, tapi dari kecil dibawa ke Medan – ya jadi anak Medan. Saya jadi Betawi bukan karena lahir di Medan, tapi “dari orok” tinggal di Kwitang. Andai keluarga saya “gak pulang kampung”, sayapun jadi orang Medan-lah. Jadi Betawi tidak tergantung di mana lahir, atau dari etnis mana orang tuanya. Rano Karno dari kecil tinggal di Kepu, dan tak pernah keluar dari Jakarta, dia jadi Betawi. Padahal bapaknya Sukarno M. Noor orang Minang dan ibunya dari Jawa.

Terang Bulan Terang Di Kali

BUKU Terang Bulan Terang Di Kali adalah kumpulan 10 cerpen, yang saya tulis antara 19 Juli 1954 (“Pulang Pesta”) dan 9 Desember 1954 (“Malam Terang dan Langit Cerah”). Buku (cetakan pertamanya) oleh Gunung Agung pada 1955, setelah dimuat dalam majalah khusus cerpen Kisah yang dipimpin M. B. Jassin. Majalah bulanan itu “menyorot” salah satu cerpen yang dimuat. Dalam edisi No. 9 Th II, September 1954, Jassin mengupas cerpen saya “Abang Pulang Siang” (Pulang Siang). Dia merasakan karya Ardan akan sangat membantu ahli ilmu bahasa dan ahli bangsa-bangsa dan kemasyarakatan (Antropologi-Sosiologi) dalam penyelidikannya, jika menyangkut Jakarta. “Paus Sastra” itu mencatat lebih jauh: Bahasa dialek lahir, tumbuh dan mati. Adat kebiasaan muncul, mengalami perubahan, hilang diganti dengan yang lain. Begitu juga dengan permainan anak-anak Betawi-Jakarta yang mengalami lahir, tumbuh dan sirna. Sangat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya. Teman saya sejak sekolah (di Taman Siswa, Jakarta) hingga sekantor di Sinematek (lembaga arsip Indonesia, dari 1978 samapi 2001, M. Misdach Y. Biran menulis dalam majalah TIFA No. 3 Th. I / 1954: “Ardan adalah penggemar dan pemerhati masyarakat, yang bila malam hingga larut sering berjongkok, melamun memandangi air keruh di bawah terang bulan, menghayati ilham dari pengalamannya setelah keluar masuk kehidupan rakyat kampungnya”. Misbach juga “Seniman Senen”, selain saya, Trisnojuwono, Soekanto SA, Ajip Rosidi, dan lain-lain yang biasa keluyuran di Senen pada 1950-an. Dalam buku Cerita Pendek Indonesia (Gunung Agung, 1978) Ajip mengemukakan: “Justru lantaran kehendak memberikan gambaran yang senyata-nyatanya, sewajar-wajarnya tentang manusia dan kebudayaan Jakarta itulah, maka dalam Terang Bulan Di Kali ini Ardan lebih cenderung menulis sketsa daripada cerpen. Dan Ardan, demi pengetahuannya yang luas dan mendalam kepada kota tempat selama ini dia hidup, masyarakat yang dicintainya, kepada kita ia telah menyuguhkan lukisan yang indah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta, bahkan dalam beberapa bagian, mencapai tingkatan sastra yang tinggi”. ImageKritikus yang telah senior pada 1950-an, Boejoeng Saleh menulis dalam Mejalah Indonesia No. 10-11-12, Okrober-Novembwr-Desember 1955, “Ardan dengan kumpulan sepuluh cerpennya itu menunjukan bahwa ia mempunyai segala bakat yang baik untuk menjadi seorang pengamat (observer) yang teliti. Ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa yang tajam, di dalam ceritanya. Ardan menggerakan kamera tidak hanya unjtuk menangkap gambar-gambar yang langsung menceritakan hal tokoh-tokoh ceritanya, melainkan ditangkap juga gambar-gambar lain. Tidak hanya eksotik dan romantis, tetapi juga yang realistis, yaitu realita yang sepahit-pahitnya,. Itulah , sebab filmnya tidak hanya “play film”, melainkan juga suatu semi-dokumentary. Akltivis muda yang kini tinggal di Kebon Jeruk (Jakarta Barat), Rizal berpendapat: “Ardan adalah”orang dalam” (insider) tentang kehidupan Jakara. Ia tumbuh di antara anak-anak Jakarta,mengalami suka-duka mereka, bergaul akrab dengan mereka – ya, berada di dalam kehidupan mereka. Itulah sebanya ia seperti orang-orang pendatang yang tinggaldi daerah-daerah elite, dan hanya dengan menyaksikan asap dapur mengebul dari pondok penduduk miskin di Jakarta, sudah berpretensi tahu segala-segala tentang kehidupan rakyat Jakarta”. Rizal menambahkan, “Tema dunia rakyat Betawi-Jakarta dalam sastra Indonesia bukanlah naru. Aman Datuk Madjoindo telah mulai dengan Si Dul Anak Betawi (Balai Pustaka, 1936), lantas M. Balfas (1921-1975) dengan Si Gomar yang kemudian dibukukan dalam Lingkaran-lingkaran Retak (Balai Pustaka, 1952). Tapi Ardan lebih menukik dari keduanya. Madjindo bukan omong Betawi. Ejaanya saja yang Betawi, tapi gaya dan jiwanya Indonesia Minagkabau. Balfas lebih murni dari Madjoindo, ia menggunakan omong Betawi, tepatnya Betawi Ora. Tapi agak ke-Belanda-Belandaan. Di sinilah kelebihan Ardan , ia memakai benar-benar dialek Betawi, dan sebagai orang dalam, nyata benar kewajarannya”. (Dalam majalah Jurnal Betawi No. 2 Th I, Juni 2002). Tulisan Rizal dimaksud “mengingat” usia saya genap 70 tahun (pada 2 Februari 2001). Begitu pula dengan majalah sastra Horison edisi Mei 2002 yang angkat pena adalah Maman S. Mahayana, dosen Fakultas Sastra UI, Depok. Mahayana menyebut, “Dilihat dari tema-tema yang diangkat dan cara penyajian, tampak ada perbedaan antara sosok Ardan dan Firman Muntaco (1935-1993), kedua sastrawan ini memang menampilkan kisah-kisah ringan model sketsa, namun, Muntaco sepenuhnya mengekploitasi bahasa Betawi sebagai mediumnya, sementara Ardan memanfaatkannya untuk kepentingan dialog (belaka)”. Perbedaan lain yang cukup mendasar justru terjadi pada tone (nada) yang menyertai keduanya. Muntao terkesan memposisikan dirinya sebagai pewarta yang tidak terlibat, sedagkan Ardan sebagai pelaku yang terlibat. Dengan demikian nada ironi dalam cerpen Ardan terasa lebih menukik-menyentuh. Catatan lain Mahayana, “Bagi masyarakat Betawi, SM Ardan boleh jadi lebih dikenal sebagi seniman Betawi daripada sebagai sastrawan Indonesia. Sememangnya, belakangan ini Ardan lebih banyak berkecimpung dalam berbagai masalah kebetawian daripada kesusastraan Indonesia. Jadi wajarlah jika masyarakat Betawi menempatkannya sebagai sastrawan Betawi, bergandengan dengan Firman Muntaco, Ramelan dan Zaidin Wahab. Jika Ardan dan Firman Muntaco secara konsisten seolah-olah hendak memotret peri kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi, maka Ramelan dan Zaidin lebih mengangkat cerita-cerita silat Betawi, (Macan Kemayoran, Ramelan dan Si Jampang, Zaidin).

50 Tahun (Terus) Menulis

Karir menulis saya mulai sejak kelas 6 Taman Muda (SD) “Taman Siswa”, Jln. Garuda No. 25, Jakarta. Di rubrik remaja pada Koran Merdeka, 1948-1950. Masih di Taman Muda (SMP) sudah masuk ke majalah dewasa (1950), seperti Pujangga Baru, Duta Suasana, Nasional, Mimbar Indonesia (HB Jassin), Gelanggang/SIASAT (Asrul Sani); kemudia Zeinith, Buku Kita, Kisah, Djaja, ANEKA (olahraga & film), dll. Tahun-tahun belakangan di Koran Kompas, Suara Karya, Republika , Sinar Harapan (lalu Suara Pembaruan), Pos Kota, Warta Koto, minguan Mutiara, majalah Humor, dll. Jadi wartawan/redaktur Genta/Merdeka (1955-1956), Abad Muslimin (1966), Violeta (1972-1978), Citra Film (1981-1982). Memimpin perkumpulan remaja (teater, dll) “Kuntjup Harapan” (1963-1965). Ikut membina lenong di Taman Ismail Marzuki (TIM) mulai 1969, bersama d. Djajakusuma (1918-1987), Sumantri sastrosuwondho (1932-1988), Ali Shahab, dll (hingga 1980-an). Mulai 1972 juga lewat TVRI. Karya buku : kumpulan cerpen Terang Bulan di Kali, (955- cetakan kedua 1971), kumpulan puisi Ketemu Di Jalan (1956), drama Nyai Dasima (1965, cetakan kedua 1974), Apa Siapa Orang Film Indonesia (1979), Dari Gambar Idup Ke Sinepleks (1992), Sejarah Film Indonesia, 1900-1950 (1992), dan sedang menyusun Biografi Sukarno M. Noor, 1931-1986, yang Insya Allah akan terbit awal tahun depan. Menulis scenario (film) Di Balik Dinding (1955), Terang Bulan Terang Di Kali (1956), kemudian Si Pitung (1970), Si Gondrong (1971), Pembalasan Si Pitung/Ji’ih (1977) serta sinetron Sepeda Pak Guru (seri rumah Masa Depan, 1984), serial Lenggang Jakarta (1997) dan Jenazah Yang Tak Pulang Ke Rumah (2002). Dapat penghargaan dari Bamus Betawi (1997), pemda DKI Jaya (1999), kemudian jadi anggota tim pemilih untuk penghargaan bagi seniman Betawi (2000-2003), yang diberikan Pemda Jakarta setiap bulan Juni. Duduk dalam kepengurusn Lembaga Kebudayaan Betai (LKB), sejak awal (1977) sampai 1999-2004, yang dipimpin Hj. Emma A. Bisrie. Adalah pula anggota Dewan Pekerja Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) selama 2 periode (1982-1990) dan Ketua Komite Film DKJ 1998-2002. Bekerja di sinematek (arsip film) Indonesia, dari 1979 sampai sekarang.

Nyai Dasima

Lakom Nyai Dasima, disamping Si Pitung, merupakan cerita yang popular di Betawi – Jakarta, sejak masa keemasan Lenong (sebelum kemerdekaan RI). Si Pitung masih disebut “rampok”, sedangkan gundik/isteri-piara Nyai Dasima dikatakan “Lari dari Tuan” (Belanda/Inggris) karena dipelet oleh Saimun yang sudah punya isteri bernama Hayati. Pada 1970 saya tulis scenario Si Pitung (Dewi Films) dengan sutradara Nawi Ismail (1918-1990) dan dibintangi Dicky zulkarnain (1939-1995). Setelah film itu beredar, maka Si Pitung telah (berubah) menjadi “Robinhood Betawi” alias “perampok budiman”. Sementara cerita Nyai Pejambon (Dasima) semula “ditarik” oleh Saimun lewat guna-guna Salihun. Dalam usaha ini ikut berkomplot Saleha (ibu Saimun), Hayati dan Mak Buyung. Oleh pengaruh pelet, Dasima “berontak”, langsung meninggalkan anaknya Nancy dan “suami”nya tuan W. Setelah hidup di kampun, harta bawaan Dasima di”porot” (dikuras) oleh Hayati dan lain-lain. Versi “kolonial” (G. Francis-1896) memang “mamperlihatkan nada anti-muslim yang pada masanya berarti anti-Pribumi”. Begitu lata pengantar buklu Tempo Doeleo (Pramudya Ananta Toer, 2003). Ya, tokoh-tokoh dalam cerita iu semuanya jelek, kecuali Tuan W. Pada tahun 1963 saya tulis drama 3 babak Nyai Dasima untuk keperluan pentas perkumpulan remaja skm Berita Minggu, “Kuntjup Harapan”. Maka niat Saimun “mengambil” Dasima ditentang ibunya, diluruskan oleh Mak Buyung, sementara Salihun menolak melakukan guna-guna, dan Hayati marah besar karena dimadu. Tapi Dasima datang ke Saimun atas kesadaran sendiri, ingin lepas dari orang asing. Maka buku Tempo Doeloe memuat pernyataan W. V. Watson, bahwa versi Ardan membuang nada anti-muslim dan memasukan ke dalamnya pesan nasionalistik. Nyai Dasima versi Ardan diterbitkan oleh Triwarsa (1965) dan cetakan keduanya oleh Pustaka Jaya (1974), Terang Bulan Terang Di Kali (Gunung Agung, 1955, cetakan kedua oleh Pustaka Jaya, 1971). Keduanya sudah lama sekali, 30 tahun lalu.

Jakarta, 16 November 2003

Advertisements

2 thoughts on “ARDAN ITU ANAK MEDAN

  1. Armalia November 26, 2010 at 1:30 am Reply

    Sbagai anaknya, saya bangga ayah saya bisa jadi salah satu daro ikon betawi dan juga perfilman di Indonesia ini.

  2. Arya/nanang March 10, 2013 at 1:41 am Reply

    Terakhir ketemu Om ARDAN ; sahabat ortu saya (Soemantri Sastrosuwondho) ; tahun 2000 an awal waktu ada penyerahan penghargaan oleh pemda DKI utk para perintis/pengembang kebudayaan betawi di salah satu gedung di Rasuna Said, waktu itu juga ada Pak Ali Shahab, Bu Aminah Cenderakasih dll. Apakabar Bu Armalia.?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: