Bagai Bayi Keterjang Bendi

Majalah Tempo 10/I 08 Mei 1971. Dalam rangka persiapan president’s cup di Seoul, pemain PSSI mengadakan try out ke Sumatera. terjadi ketegangan, hanya 13 pemain yang ada. 6 orang pemain inti diboyong BNI 46. 6 pemain bergabung ke PSSI.

MEI datang, dan mereka pasti pergi keluar negeri. Hampir sebulan sebelumnja, mereka telah menekankan ibu djari disurat izin imigrasi. Dan beberapa hari jang lalu mereka djuga dikumpulkan ditempat itu, ketika Aang Witarsa masuk keflat nomor 2O tersebut. Dulu coach Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia itu datang dengan wadjah sedikit tegang, untuk mengabarkan seperti katanja: “Besok tanggal 6 April djam 6 pagi kita akan berangkat ke Palembang”. Ia kelihatan gelisah, lebih-lebih melihat Lukman Setiawan, Redaktur Olahraga TEMPO ada disitu, hingga kemudian ia berbisik kepadanja: “Ini soal dalam, djangan disiarkan dulu”, (sedjenak menarik nafas kemudian menambahkan), “sebelum ada penjelesaian”. Kemudian ia kembali menghadapkan wadjahnja kesedjumlah pemuda jang sudah nglompok didepannja. Udjarnja pula: “Barang-barang jang tak perlu dibawa, ditinggalkan sadja”. Ia diam sedjenak. Ngomong lagi: “Maksudnja, supaja dalam perdjalanan kedaerah selama 10 hari itu, kita bisa bertindak serba ringkas”. Sampai disini nampak Witarsa menekan kembali gedjolak perasaannja. Tegang. Lantas menjulut rokok sebatang. Lalu katanja pula: “Kita akan berangkat dengan pemain-pemain seadanja”, kembali menjedot rokoknja. “Pas-pasan”, udjarnja pula seraja mengepulkan asapnja deras-deras. “Tjuma 13 orang termasuk pemain pendjaga gawang”. Diisapnja sekali lagi untuk kemudian meneruskan: “Kalau diperlukan saja sendiri akan turun kelapangan”. Hening.

Kelintjahan kaki. Bekas kanan luar PSSI ditahun 50-an itu pernah beladjar di Djerman, tapi agaknja belum pernah menelaah teori bagaimana mengolah PSSI, karena perkumpulan itu memang lain dari jang lain. Ia tahu bahwa didalam daftar tersebut djuga nama pemain-pemain bola seperti Kadir, Iswadi, Jopie Leepel, Suaeb dan dua orang bernama depan: Rony. Tapi jang hadir dalam pesan-pesannja itu hanjalah beberapa anggota PSSI. Senior lainnja jang kena wadjib latihan ditempat konsinjir para pemain, djalan Tokio Senajan. Betul bahwa merekapun akan berangkat ke Seoul, ibukota Korea Selatan, untuk bertanding memperebutkan President’s Cup. Tapi mustahil hanja bisa dilakukan dengan 13 orang. Dalam atjara telah ditetapkan bahwa sebelum turnamen jang menentukan dinegeri asing itu, mereka harus mentjoba kelintjahan kaki mereka dinegeri sendiri, ini namanja try-out. Dan telah diputuskan untuk mengadakan suatu pertandingan di Sumatera. Tapi persiapan itu ternjata harus dihadapi pengisap rokok tadi, di luar kesempurnaan. Enam pemain inti PSSI Senior pagi itu tak ada disana dan tak mungkin ikut ke Palembang dan Pangkalpinang bersama mereka.

Ada sesuatu jang tidak beres seperti seundel benang jang tengah kusut. Wartawan TEMPO kemudian menemukan bahwa keenam pemain inti jang telah tergabung dalam club sepakbola BNI-46 itu, sore harinja berada 60 kilometer diluar kota Djakarta, disebuah lapangan sepakbola lokal, Stadion Purana Bogor namanja. Mereka sama asjik menggiring bola, sementara dikaos mereka hanja tjap BNI jang ada. Disana djuga kelihatan Sutjipto Suntoro, bekas kapten PSSI jang pernah didjuluki sebagai Pele Indonesia. Disampingnja nampak pula Mangindaan, coach BNI jang bersama Sutjipto menjusun suatu team sepakbola karjawan Bank Negara tersebut. Apabila PSSI try-out ke Palembang maka BNI dalam rangka merajakan ulang tahun perusahaannja jang ke-25, melakukan pula serentetan pertandingan pertjobaan. Di Bogor itu mereka tengah mengadu dengan kesebelasan listrik — alias PLN. Sementara orang jang melihat 7 pemain jang lintjah bagai bilalang di tengah lapangan Purana itu, sudah tentu bertanja, apakah Tjipto, Jopie dan 5 pemain inti PSSI lainnja telah dibeli atau disewa BNI?

Belut tak bertulang. Adalah seorang turis jang djuga menginap dihotel Princess, Bangkok, ketika rombongan PSSI menginap disana bulan Desember jang lalu. Kelihatannja ia atjuh tak atjuh dengan team Asian Games Indonesia jang nginap disana meskipun dari tjara bitjaranja ia bukan orang kemarin. Orang itu bernama Hilman Toha, bekas pemain Persidja. Sedjumlah pemain PSSI kenal padanja dan kelihatan sering ngobrol dilobby hotel ataupun kadang direstoran. Apa jang dikerdjakannja tidak banjak jang tahu, tapi ketika orang melihatnja dilapangan Purana Bogor, gerak-geriknja di Bangkok merambangkan kesan jang pasti. Dia ternjata karjawan BNI-46. Benar bahwa Rony, Kadir, Jopie sudah lama tersebut sebagai pegawai BNI, namun tidak mustahil bahwa ketika di Bangkok ia tidak main lobby. Dengan kisahnja seperti jang pernah ia tuturkan djuga kepada reporter TEMPO, Yusril Djalinus, tentang Djadjang dan Fatah Hidajat jang tidak main bola lagi dan tinggal sebagai makelaar rebewes dikantor polisi. Djuga tentang Him Tjiang jang dikabarkan menderita gangguan ingatan maupun sedjumlah pemain jang tidak bisa lagi menendang. Semua itu bisa sadja membangkitkan bajangan kelaparan jang mengantjam, derita jang tak berkesudahan bagi pemain-pemain bola itu nanti, setelah kakinja tak mampu lagi mengangkat sepatu. Disaat kebingungan datang pada pemain-pemain PSSI jang masih muda usia itu, akibat dongeng tentang masa depan jang suram. Hilman kembali datang membawa suatu slogan: “Food atau Football makan atau menjepak bal”. Kini hampir seratus persen memilih jang pertama, apalagi bila dipelupuk mata mereka terbajang harapan-harapan isteri mereka (lihat box).

Turis jang djuga pakai hem batik seperti rombongan olahragawan Asian Games itu ternjata memang belut tak bertulang, gesit bagai burung emprit dan pandai menundjukkan djalan keluar bagi beberapa pemain jang sangsi dan gontai. Ia tolong Sutjipto jang bilang “sakit hati”, (karena PSSI tidak membalas suratnja dan tidak mengutjapkan terima kasih padanja) untuk bergabung dengan bis kaum bola jang baru: BNI. Dan apa jang sering diutjapkannja adalah apa jang pernah dikatakannja dalam sebuah wawantjara: “Tak ada dibukunja PSSI kasih makan”. Ia rupanja tahu benar perkumpulan bola tingkat nasional itu sampai kedjantung-djantungnja, dan ia tahu bagaimana tjara memanfaatkan kelemahan perkumpulan tersebut.

Biang keladi. Maka berdirilah sebuah klub sepak bola jang tidak terikat pada tradisi perbolaan dinegeri ini. Ia tidak termasuk Persidja djuga tidak terikat pada perdjandjian untuk membatalkan atjaranja bila PSSI alias negara memanggil anak buahnja. Dan ke-klub itulah datang Mangindaan, jang belum berkesempatan menggantikan Djamiat mendjadi coach PSSI dan sementara sedia melatih buruh-buruh BNI. Agaknja ada perasaan bersalah untuk melatih jang terachir ini, hingga tatkala ia dipergoki distadion Purana Bogor, dengan trainingspak-nja jang biru dan bertjap BNI ia mendahului: “Saja lagi jang dituduh biang keladinja”. Tapi tidak peduli siapakah biang keladinja karena jang lebih santer dibitjarakan kalangan bola adalah kesanggupan Mangindaan untuk membentuk kesebelasan kelas PSSI hanja dalam tempo 3 bulan. Dihitung dari hari ketika team BNI mulai dengan try-out-nja, maka itu berarti akan djatuh pada bulan Djuli, di mana tanggal lima bulan itu seluruh bank akan merajakan hari djadinja. Orangpun kemudian meramalkan, bahwa pada saat itu, team jang diasuh Mangindaan akan dihadapkan dengan kesebelasan luar negeri, jang bisa dengan enteng didatangkan BNI.

Dilihat sepintas kilas tak ada persoalan muntjulnja klub bank tersebut. Bukankah Pardedetex jang mengontrak pemain-pemain PSSI pernah terdjadi dalam sedjarah persepakbolaan Indonesia beberapa waktu berselang. Dan tidakkah muntjulnja klub Jaya Karta jang disponsori oleh Jajasan Jaya Raya djuga telah menggoda pemain-pemain PSSI? Ada pula jang berdalih bahwa sesungguhnja PSSI sendiri harus berterimakasih, karena harapan untuk mendjadikan wadah tingkat nasional itu berbasiskan klub tidak lama lagi terdjadi sehingga PSSI tidak perlu repot memikirkan djaminan. Tapi alasan itu tidak seluruhnja boleh dibenarkan. Klub BNI njata benar bedanja dengan Jaya Karta dan Pardedetex. Di Medan dimana PSSI mempunjai perwakilan daerahnja, mengikat Pardedetex dengan suatu perdjandjian, dan klub itu terdaftar sebagai eksponen PSMS. Jaya Karta-pun tidak lepas dari Persidja. Ini sebab musabab rombongan PSSI Senior ke Sumatera ompong dan tinggal 13 bidji.

Asap rokok bagai kabut. Ketegangan jang terdjadi pada suatu pagi dibulan April tersebut, dimana asap rokok mengepul bagai kabut hanjalah karena beberapa inti PSSI jang sedang digembleng dalam pusat Latihan Senajan, terpaksa harus meninggalkan TC. Antjaman bagi mereka tertudju keperiuk nasi jang selama ini diasapi oleh bank. Tapi antjaman dari PSSl, tidak kalah beratnja: desersi. Artinja, kalau dalam perang bisa dihukum mati. Maka mendengar berita tentang itu diutuslah Inspektur Djenderal Sutjipto Danukusumo untuk menemui Sukasah, Direktur Utama Bank Indonesia 46. Nasib baik masih melindungi BNI karena disana tokoh dibelakang semua kisah ini, Sukasah-lah orangnja: teman sedjawat Kosasih Purwanegara, Ketua PSSI. Hingga api dalam sekam bisa segera dipadamkan. Tapi api diluar menjemprot tak terkendali lagi.

Dokter gigi Endang Witarsa menjala komentarnja. Di Petak Sinkian Djakarta Kota, pelatih club UMS itu berseru: “Itu sama sadja dengan club liar!” Tindakan BNI tak boleh dibenarkan, katanja. Kolumnis sepakbola Kadir Jusuf melukiskan perlakuan BNI itu sebagai mengganggu kelantjaran PSSI, “mengganggu sekali”, katanja. Dan gong dan komentarnja berbunji. “Saja tak begitu setudju, hal seperti ini boleh dikatakan liar”. Walaupun kalangan BNI mentjoba menerangkan bahwa pemain-pemain inti jang dimaksudkan PSSI itu, sesungguhnja sudah mereka perkenalkan di Sumatera, tapi para penindjau sepakbola tetap menjalahkan mereka. Sebab, try-out jang dilakukan ke Sumatera itu bukan tjuma untuk tjari popularitas, melainkan untuk melihat kekompakan suatu team. Ketika seorang mengabarkan telah tertjapai suatu penjelesaian dengan Sukasah, maka hebohpun mereda. Pertengahan April jang lewat keenam inti PSSI jang bekerdja dibank tersebut kembali kedjalan Tokio, Senajan, bergabung dengan senior-senior bola lainnja.

Ditjari kran. Sampai disini ikat-pinggang boleh dikendorkan karena lega, namun nafas pandjang belum boleh dihela karena problim jang lain belum terdjawab semua. Ketika anak-anak PSSI jang “mbolos” ke Bogor itu pulang kembali pada hari Senin 19 April jang lalu, tak seorang PSSI-pun sempat merajakan ulang tahun perkumpulan sepakbola itu. Bajangan tentang turnamen Seoul masih belum bisa diraba hingga pesta tak perlu ada. Apalagi ketegangan jang terdjadi selama sembilan-belas hari sebelumnja, memaksa sebagian pimpinannja menindjau kembali kebidjaksanaan mereka. Kendatipun soal dapur pemain-pemain PSSI sudah merampas sebagian otak kalangan atasan, dengan peristiwa Pardedetex dan lahirnja Jaya Karta, tidak dengan sendirinja redjeki tertuang pada jang membutuhkannja. Ditjari setidaknja satu atau dua buah kran jang bisa seperti ledeng mengutjurkan air dimalam, pagi, dan siang. Lama baru didapat meskipun kedua tjukong itu datang tanpa membatja iklan. Dalam kongres PSSI di Djakarta, ditetapkanlah djabatan buat mereka. Sarnubi Said dari Pertamina diangkat sebagai Wakil Ketua Dua, sedang Frans Hutasoit dari Jaya Karta dinobatkan sebagai Komisi Tehnik Kesebelasan. Dari Sarnubi, Kepala Divisi Pemeliharaan & Perbekalan Pertamina sudah tentu diharapkan dapat membekali anak-anak PSSl dan organisasi itu sendiri disamping mengutjurkan minjak pelumas untuk memutar roda gerobak tua PSSI jang kini berusia 41 tahun itu. Sedang dari Hutasoit, Kepala Direktorat II Keamanan DCl jang membawahi semua Kasino di Betawi, diharapkan tetap mentjandu bola sambil terus membagi redjeki.

Lifter mengangkat lidi. Sjahdan meskipun lambat ada sedikit perubahan. “Pengurus jang sekarang mempunjai keuntungan-keuntungan, antara lain dengan adanja keuangan jang baik djika dibandingkan waktu-waktu jang lalu”, kata Endang Witarsa sambil melirik keanak buahnja jang tengah menjundul bola. “Tjoba hal itu terdjadi dulu-dulu”, sesalnja djuga. Dokter gigi jang pernah njambi di Pardedetex sebagai pelatih itu, tidak hanja ngiler pada uang jang menganak sungai ke PSSI. Ia djuga memudji susunan organisasi jang baru. Dulu Kosasih jang terpilih lagi sebagai Ketua Umum, ikut tjampur dalam soal tehnis permainan, tapi kini telah dipisahkan. “Itu sangat baik”, katanja. Sebab dengan struktur baru seperti itu ada kebebasan komisi tehnik PSSI membentuk team. Meskipun ia menjajangkan sistim persiapan menghadapi Seoul. “Tidak akan ada kemadjuan”, katanja. “Apa jang akan diperbuat oleh seorang pelatih menghadapi sekian banjak pemain?” Hari itu, ketika ia bitjara, PSSI memang mengundang 50 orang, dan try-out jang mereka lakukan “hanja menghadapi jang lemah-lemah”, seperti lifter berlatih mengangkat lidi.

Sehubungan dengan 50 orang jang dilatih itu, Kadir Jusuf tidak memberikan reaksi. Ia malah berkesimpulan “baik” meskipun baginja “pintu TC jang selalu terbuka untuk pemain-pemain jang berpotensi” lebih baik lagi. Dengan diangkatnja Djamiat kekelas team manager djuga merupakan suatu penjegaran meskipun belum tentu fatwa-fatwa pelatih jang baru segera dituruti oleh para pemainnja. Ini tidak berarti bahwa para pemain itu terlalu sulit diasuh meskipun tak ada seorangpun jang pernah mengatakan gampang. Kalau toch dengan semua itu masih djuga terdjadi kegagalan “djangan disalahkan pemain”, kata Endang, karena seharusnja “pelatihnja jang dipetjat atau mengundurkan diri”. Bekas pemain Persidja tahun 50-an jang kini muntjul lagi diera pembaharuan PSSI djuga menjalahkan kritik-kritik jang ditembakkan kepemain-pemain itu. Anhar, demikian nama veteran itu, mengatakan kepada Lukman Setiawan, wartawan TEMPO, bahwa wartawan “terlalu banjak melontarkan kritik terhadap PSSI tetapi lupa bahwa pemain-pemain sekarang masih muda-muda”. Apa maksudnja “Masih ada harapan”, katanja.

Baginja rupanja persoalan PSSI bukan tjuma soal “makan” dan organisasi. Persoalan pokok menurut pendapatnja ialah, “djangka pendek pemusatan latihan setjara sentral, djangka pandjang desentralisasi latihan didaerah-daerah”. Ini istilah klasik jang tidak menarik lagi didunia persilatan istilah organisasi bola. Tahu bahwa itu tidak menarik, Anhar menambahkan bumbu, “pengalaman mengadjarkan pada kita bahwa pemain-pemain PSSI mondar-mandir dari kampungnja ke TC Djakarta, sehingga ketika pulang kampung, mereka keburu djatuh djadi mangga muda”. Sebagai bekas wartawan, ia masih suka memberi tjontoh, lihatlah katanja, “bekas coach PSSI Tony Pogacnik dulu bisa melatih team Asian Games IV setahun penuh”. Lantas ia menantang, “kenapa sekarang tidak?”

Dibalik rambut Djamiat. Juswardi, Kadir, Iswadi, Resdijanto, Djunaedi, Suaeb, Mudajat dan Rony Pattinasarani dipandangnja sebagai “jang paling lumajan”. Mungkin bagi Djamiat itu belum bisa diterima akal warasnja, karena dibalik rambut kepalanja jang tipis ia punja konsep tersendiri. Ia melihat adanja suatu gap jang perlu segera ditutupi untuk memungkinkan tertjapainja harapan-harapan. Dulu konsepnja diibaratkan sebagai Sepakbola Gaja Indonesia (lihat box) meskipun ia sendiri tidak terpukau dengan peristilahan gaja itu sendiri. Tapi orang seperti Anhar djuga tidak bisa dipukau dengan ichtiar-ichtiar sematjam itu, hingga tentang President’s Cup ia berkomentar: “Kalau PSSI bisa mentjapai setengah kelas diatas kesebelasan Pardedetex in top form, tjukup pada achir tahun ini sadja, sudah bagus”.

Mentjapai tingkat seperti jang dilukiskan insan bola itu, berarti memerlukan pemain otak dibarisan muka. Kalau pembitjaraan tentang PSSI sudah sampai disini, maka Sutjipto perlu disebut-sebut. Meskipun kata orang anak ini otak-otakan, penindjau berkesan bahwa dengan keluarnja “PSSI tjuma kelihatan muka belaka”. Gambaran tentang turnamen di Korea kini mendjadi buram. Bukan hanja karena PSSI sudah keterdjang bendi BNI, tapi karena ikut-sertanja pemain-pemain bank jang seharusnja dischors karena disersi bisa menimbulkan keirian pada sementara pemain jang tetap bergantung di PSSI. Lebih-lebih Iagi seperti dikatakan Anhar: “Membangun suatu kesebelasan dengan pemain-pemain muda tidak semudah menggoreng pisang”. Maka bila PSSI menang di Seoul, seperti biasanja, itu benar-benar karena rahmat dewi fortuna, Tapi kalau kalah, itu bukan berita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: