Istri Kedua Kaum Bola Bicara

Majalah Tempo 10/I 08 Mei 1971 Istri pertama pemain PSSI adalah bola. istri kedua mereka: istri sungguhan, yang sabar menunggu rumah. ditinggal berbulan-bulan, tapi mereka yakin suaminya dapat membagi cinta. profil istri para pemain PSSI.

SEMENTARA isteri-isteri kedua mereka dengan kesabaran malaikat menunggu dirumah pemain-pemain sepakbola itu ada jang asjik masjuk dan menggerutu ditempat “bini tua” mereka. Seperti Iswadi misalnja, jang asjik bagai tengah mentjubiti paha berkata: “Heh djudes betul itu makanan”, sambil menuding kue pisang, lemper dan buras – hidangan pagi di Pusat Latihan (TC) Senajan. Tapi Juswardi meskipun oleh ‘njonja tuanja’ dihidangi kopi, susu plus telur ajam tetap kurang puas sambil berkata: “Soalnja bukan kalori. Perut ini kalau tidak diisi nasi rasanja…. bagaimana ja?” Maka iapun keluar djuga meninggalkan TC kepintu 9 tjari restoran.

Soal-soal sepele seperti jang menjangkut makanan itu bisa berakibat besar. Kaum mertua sering bilang “bisa mengakibatkan sang suami ganti bini”, meskipun sesungguhnja bukan itu sebab musabab mereka ‘kawin lagi’. Benar bahwa menurut penglihatan, djaminan di TC lebih memuaskan dibandingkan dengan apa jang mereka dapatkan dikediaman mereka sendiri, tapi itu bukan djaminan bahwa mereka bisa kerasan disana Jacob Sihasale sering-sering seperti ‘perempuan ngidam’. Bukan pada mangga muda jang sedang tidak musimnja dibulan ini tapi pada ‘isterinja jang kedua’ di Surabaja (isteri jang pertama itu untuk sementara sadja bernama: Bola). Menurut perhitungan dokter, njonja Jacob akan melahirkan pada minggu pertama bulan Mei, saat mana Jacob harus mendampingi ‘isteri jang pertama’ (team PSSI) ke Seoul. Tapi karena semua isteri-isteri itu tahu betul bahwa suami mereka bisa membagi tjinta, njonja Jacob-pun tidak tjemburu, bahkan memberi dukungan kuat kepada suaminja untuk memuaskan ‘Isteri pertama’-nja jang sudah dinikahinja sebelum mereka kawin. Pemain-pemain sepakbola seperti Jacob jang kawin dengan isteri sungguhan, setelah lebih dulu kawin dengan ‘isteri kesenangan’ (sepakbola) antara lain, Judo Suharsojo, Sunarto, Anwar Udjang, Mudajat. Berikut ini adalah kisah njonja-njonja sungguhan orang-orang bola kepada wartawan TEMPO.

NJONJA VERA JUDO HADIANTO

Sesaat setelah mereka meliwati bangku pelaminan, masih dalam keadaan malu-malu pengantin, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, alias ‘isteri pertama’ Judo Hadianto, menilgram dari Djakarta untuk mengikuti persiapan Turnamen Konperensi Wartawan Asia Afrika. “Bulan madu kami terpaksa dibatalkan, karena keesokan harinja Judo meninggalkan Solo”, kata Vera dengan berseri-seri. Mengapa berseri-seri? “Saja selalu relakan, karena sepakbola berarti kebahagiaan Judo dan rezeki kami bersama”, djawabnja. la memang tidak perlu chawatir, meskipun kini status Judo masih terkatung-katung sebagai tenaga honorair Berita Yudha. Sebab, sedjak kisah permulaan kawinnja ditahun 1962, meskipun sering ditinggal, ada tiga anak jang menghiburnja dan sebuah kebun buah dipekarangan rumah di Tjidjantung jang bisa menjibukkannja.

NJONJA SUMIJATI MUDAJAT

Dia sempat mengantarkan Mudajat sampai dipintu pekarangan rumah sambil mengemban baji. Anaknja jang baru berusia 2 tahun jang djuga ikut melambaikan tangannja tatkala ia pergi masih bisa menitip: “Pak djangan lupa kalau pulang, Agus dibelikan bedil-bedilan”. Sang suami, bekas gelandang Persebaja jang pernah diturunkan umurnja dari 25 tahun mendjadi 20 tahun untuk memungkinkannja bermain di Kesebelasan PSSl Junior dalam Kedjuaraan Junior Asia, Manila. Njonja Sumijati djuga tega melepaskannja “karena saja jakin Mudajat masih dapat meningkatkan permainannja”, hingga ia selalu mendorong sambil pesan: “Soal rumah tangga djangan dipusingkan”. Bagaimana ia bisa tidak kangen ditinggal berbulan-bulan? Konon surat-menjuratlah resepnja.

NJONJA MEITY LEEPEL

Meity Lucrezia masih bau pengantin ketika ditemui reporter TEMPO. la menikah dengan Jopie Leepel 15 April jang lalu. Spil PSSI jang kemudian mengangkatnja djadi ‘njonja nomor dua’ setelah Kesebelasan Djakarta Putera, djuara Persidja barangkali tidak pertjaja bahwa tjinta isterinja sesungguhnja bukan “dari mata turun kehati”. Tetapi seperti kisahnja sendiri, “dari kaki langsung kedjantung”. Berpakaian sweater es-lilin dan slack tjoklat susu, Meity mengenang kembali pertemuannja dengan Jopie 6 tahun jang lalu: “Kedua kakinja hidup, lintjah mengolah bola” dan itu jang mungkin sekali mengolah djuga hatinja. Meskipun katanja jang lebih mendjerat: “Orangnja tabah dan sabar”. Kesabaran Jopie diharapkannja sekali hingga ia nanti bisa menjelesaikan kuliahnja di Fakultas Kedokteran tingkat IV. Meity sendiri ternjata penjabar djuga, karena tiba-tiba suaminja ditarik dari keasjikan pengantin baru hingga “bulan madupun harus ditunda”.

NJONJA TUTI SUTJIPTO

“Masalah jang dihadapi isteri-isteri pemain jang ditinggalkan sang suami adalah sama”, kata Tuti Malawati seraja menumpang kaki. “Uang”, sambungnja. la bersungut melihat pers dan masjarakat jang tjuma menginginkan menang “tapi tidak mau, memikirkan nasib keluarga pemain”, katanja pula. Puteri bekas wartawan Antara ini, pernah mengalami zaman keemasan selama 2 tahun bersama bekas kapten PSSI Sutjipto, ketika ikut Pardedetex, “meskipun itu djuga penuh ketjemasan”. la tjemas karena ia tahu betul bahwa sardjanapun bisa ditendang keluar “apalagi Sutjipto”. gumamnja. Untuk itulah barangkali ia mengatur siasat, “Gareng (sebutan suaminja) harus mengundurkan diri semasa masih “tenar”. Siasatnja sukses. Pintu BNI-46 terbuka lebar bagai disebut “sesaam” oleh Ali Baba, sementara mithos “Sutjipto belum ada gantinja di PSSI”, tetap hidup diantara pemadat bola negeri ini.

Kalau dikadji benar-benar hidup Tuti bersama Tjipto, maka selama 9 tahun berumah-tangga, paling tjuma 1 tahun selalu didampinginja. Sisa jang delapan tahun, kalau tidak masuk TC, ja “melawat keluar negeri” bersama isterinja jang pertama jang bernama PSSI binti bola, jang kini telah ditalak satu oleh suaminja. “Tapi itu lebih romantis kalau dia sering pergi”, udjar Tuti, “karena kalau dekat malah sering menimbulkan keributan”. Kini bersama Tjipto ia tengah menantikan selesainja rumah baru mereka di Tjilandak. Barangkali dengan rumah baru itu dan tempat kerdja baru jang mengurus uang seperti BNI-46, akan berachirlah pula kisah lutju, “karena orang merasa lutju sambil bertanja, apakah benar suami saja dapat menghidupi keluarganja dengan sepakbola tok”, katanja pula.

NJONJA RUKMINI DJAMIAT

Mula-mula njonja kelahiran kota Kembang ini merasa ‘seperti dimadu’ setiap kali suaminja melawat keluar negeri, karena nampaknja Djamiat Dalhar, suaminja itu, “mengutamakan anak-anak sepakbola dari anak-anak kandungnja sendiri”. Tapi lambat-laun ia mengerti meskipun masih sering “ketjewa kalau Djamiat tidak makan dirumah”, katanja. Ia berharap suaminja bisa seperti Tony Pogacnik, coach PSSI sebelum suaminja, “walaupun bagaimana sibuknja Tony, dia selalu makan dirumah”, komentarnja. Dengan demikian Rukmini sama dengan ribuan njonja-njonja lainnja.

Tapi dalam soal jang satu ini, kontak dengan pers, ia djauh berbeda. “Tahun 1967 Bapak dikritik habis-habisan oleh pers”, katanja kepada reporter TEMPO seraja bangkit mengambil setumpukan koran tua. “Saja hampir mengirim surat pembatja kekoran-koran itu. Saja betul-betul sakit hati”, luapnja. Apakah mungkin karena dia lebih tahu sepakbola dari kritikus olahraga tingkat koran? Tidak, “tentang bola saja tjuma tahu sedikit-sedikit”, katanja djudjur.

NJONJA SUSANTI KOSASIH

Susanti-pun terlibat dalam soal tetek-bengek bola, hingga seperti kulit bundar itu ketendang, ia ikut melambung keatas bersama suaminja. Kini ia mendjabat Ketua ISWI dan Presiden Women’s International Club. Tentu sadja djabatannja itu ditopang oleh gelar SH-nja. Kepada Yusril Djalinus, reporter TEMPO ia menuturkan bahwa “tjape terasa pula pada dirinja” bila suaminja sibuk dengan kongres ataupun jang ada hubungannja dengan PSSI. Tidak diterangkannja apakah kemudian Kosasih Purwanegara SH setelah itu akan bertindak selaku masseur-nja (tukang pidjat). Ia tersinggung bila pers menjerang, meskipun suaminja terkenal sebagai tokoh kebal kritik. Sebab “saja tahu benar anak-anaknja sesungguhnja mampu bermain baik”, alasannja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: