Mencari Sebab-Sebab Kegagalan

Tempo mei 1971 Pimpinan KONI, Yonosewoyo dan MF Siregar, menerima alasan-alasan kegagalan PSSI yunior dalam kejuaraan yunior Asia di Tokyo. alasan tersebut merupakan lagu lama. faktor team manager & seleksi jadi penyebab.

TIADA jang baru dari hasil pertemuan antara Pimpinan Team PSSI Junior ke Kedjuaraan Junior Asia di Tokyo dan Pimpian KONI Pusat. Keterangan resmi jang disampaikan oleh Humas KONI. Zuhri Husein, kepada para wartawan jang menunggu diluar ruang pertemuan digedung KONI Senajan membuat mereka ketjele. Pimpinan KONI seperti Jonosewojo dan M.F. Siregar jang sebelumnja diduga akan memberi reaksi keras terhadap pertanggungan-djawab Team Manager Dr. Abdul Djalal jang gagal di Tokyo, ternjata dapat menerima alasan-alasan kegagalan. Meskipun bagi kebanjakan wartawan dan penggemar-penggemar sepakbola alasan-alasan tersebut merupakan “lagu lama” jang mendjemukan. “Faktor iklim, fasilitas latihan, kurangnja bantuan KBRI dan lain sebagainja bisa sadja dikemukakan”, guman seorang wartawan. “Apalagi menuduh pemain-pemain muda lemah mentalnja”, kata seorang wartawan lain menambahkan. Sementara itu Kosasih Purwanegara S.H., Ketua PSSI, agaknja lebih berpihak kepada wartawan, sebab katanja: “Mengapa Kesebelasan Kuwait dari negeri padang pasir tidak mempersoalkan iklim. Kalau kalah, ja akui sadja kekalahan”.

Kuda Hitam. Tahun jang lalu dalam Turnamen jang sama di Manila, Team PSSI Junior dibawah Team Manager Djamiat berhasil keluar sebagai Runner-up. Bahkan Indonesia tertjatat sebagai satu-satunja Team jang berhasil mengalahkan Kesebelasan Burma, Djuara Turnamen tersebut dengan angka 1-0. Tahun ini lawan Kuwait si Kuda Hitam dari negeri minjak, PSSI dikalahkan satu nol. Menghadapi Muangthai anak-anak PSSI ini tidak dapat berbuat lebih dari bertahan dengan angka 1-1. Kalau menghadapi dua Kesebelasan tersebut Kesebelasan PSSI Junior tidak mampu berprestasi lebih dari itu, apalagi bertarung dengan kesebelasan Iran jang sudah punja nama. Kekalahan 0-2 tidak terlalu mengedjutkan.

Maka bertanjalah orang kembali tentang sebab musabab tersisihnja kesebelasan Junior ini. Dr. Djalalpun setjara tegas memperkuat pernjataannja bahwa pengaruh faktor-faktor tersebut atas prestasi anak-anak asuhannja dapat dipertanggung djawabkan setjara ilmiah. Tetapi apakah itu semua luput dari perhitungan dan tidak dipersiapkan sebelum keberangkatan. Lalu bagaimana pula dimasa jang akan datang? Merubah iklim (dengan air conditioning barangkali) atau meningkatkan kondisi fisik, apabila diakui sendiri oleh Dr. Djalal bahwa “kwa tehnis anak-anak kita tidak dibawah mereka”. Soal mental? Inipun lebih mudah diutjapkan daripada diterangkan, meskipun terang-terangan anak-anak PSSI kurang semangat djuang. Sementara topik kegagalan mendjurus ke “debat kusir”, Drs. Rais nampak lebih pandai menempatkan persoalan pada proporsinja. “Sesungguhnja dengan kondisi seperti PSSI Junior ini kita membutuhkan seorang strateg”, katanja sambil menambahkan: “Maksud saja seorang jang pandai membatja djalan pertandingan dan mengambil putusan jang tegas dalam situasi tertentu”. Disamping itu bekas pengasuh “PSSI Remadja” ini lebih tjenderung untuk memilih pemain-pemain dari Indonesia Timur “jang lebih menjala semangat djuangnja, meski tehnik bolanja tidak seberapa”. Kalau demikian, maka persoalan mendjadi lebih djelas. Faktor team manager dan seleksi merupakan sumbernja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: