Peti Es Atau Peti Mati ?

Majalah Tempo Januari 1971. PSSI kalah dalam pertandingan melawan kesebelasan India pada Asian Games VI di Bangkok. Jamiat Dahlar pelatih PSSI, menilai kekalahan itu disebabkan, antara lain mental para pemain belum mantap.

KINI nasib PSSI bagaikan nasib orang kesasar digang buntu. Terus tak bisa madju, sedang untuk kembali merasa malu. Di Princess Hotel, Suriwong Road, Bangkok 4 pemain Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia itu memperbintjangkan rasa malu jang harus ditanggungnja setelah berhasil merebut kekalahan dari serentetan nomor-nomor pertandingan di Asian Games keenam. Perbintjangan itu berachir tanpa keputusan. Bahkan sebelas djam kemudian ketika mereka harus meninggalkan Bangkok kembali ke Djakarta, keempat pemain tadi masih djuga belum menemukan tjara paling tepat untuk meninggalkan airport. Ronny Pattinassarany, salah seorang pemain lini tengah, djuga tak tahu bagaimana harus mendjawab tjemooh orang Medan jang spontan. Seorang diantara mereka berfikir lehih baik pulang didalam usungan hingga tak perlu menafsirkan lagi tatapan mata orang.

“Tatapan mata itu bisa hangat seperti dalam roman, tapi bisa dingin seperti es” kata Sutjipto Suntoro bertjanda. Dari kapten PSSI inilah barangkali datangnja kata madjemuk: peti es, jang kemudian populer dihotel Kontingen Indonesia. Ketika team Sepakbola Nasional itu kembali pada suatu sore dari Senam Keela, Stadion Utama Bangkok, selesai diengkuk-engkuk oleh team India. seorang bertanja pada Edeng Soelaimdn dari Persidja: “Peti Es atau peti mati?” Petjandu bola jang netjis itu setelah menjunggingkan setjuil senjuman. seperti lajaknja orang Sunda — sambil berlalu berkata: “Jang djelas masuk peti”.

Pot. Orang jang bertanja mengatakan bahwa djawaban itu tidak djelas. Tapi ia tidak bisa memaksa agar Edeng Soelaiman memilih satu diantara dua peti jang disodorkannja. Pertanjaan itu benar, tapi salah alamat. Peti es atau peti mati memang itulah soalnja. Dan soal inilah jang sulit ditjarikan jawaban sampai sekarang, karena tidak seorangpun dari atasan-atasan PSSI jang berani tegas-tegas memutuskan. Dan karena orang-orang PSSI sendiri djuga tidak mau memilih peti mana jang harus dimasukinja, maka tidak ada djalan lain ketjuali segera berkongres untuk menjelamatkan satu-satunja perkumpulan sepakboia Nasionai jang masih kesasar itu. Hanja kapten Sutjipto barangkali jang tahu kemana harus pergi apabila kesasar. Ia meninggalkan PSSI, dan kembali ke klub-nja jang semula. Setia. Ini ibarat kembalinja kaktus kedalam pot: wadah lain jang sedikit lebih ketjil dari peti es.


Di Bangkok, bahkan kabarnja lama sebelum itu, banjak pemain-pemain PSSI sering menggerutu. Bagi mereka masih ada harapan untuk madju, “Asal pimpinan dan pelatihnja djangan jang itu-itu”, kata seorang diantara pemain tengah. Tentu sadja mereka bisa membawakan sekerandjang alasan jang mentjoba mengingat-ingat kembali saat-saat ketika PSSI diasuh Tonny Pogacnik, dimana ketika itu. Korea ia dalam Asian Games keenam djadi matjan lapangan, didjebol gawangnja hanja dengan permainan kop sedjumlah 4 sundulan. Tapi tidak seorangpun diantara mereka jang sanggup menduga-duga apakah Tonny masih akan terus memakai kaki mereka, apabila kepadanja diserahkan tugas menjusun satu team Nasional jang baru. Djamiat Dalhar, pelatih PSSI untuk pesta olahraga Asia jang lalu itu, tidak selamanja bisa disalahkan. Sebagai orang tua dibidangnja, ia kenal tentang kelemahan-kelemahan sistim lama dinegeri ini jang harus dipergunakannja sctiap kali hendak menuju suatu team Nasional.

“Tidak seorangpun diantara mereka jang bisa diduga permainannya didalam setiap pertandingan jang akan mereka hadapi” kata Djamiat diatas bus jang membawa sedjumlah pemain jang kalah. Banjak tjontoh tentang ketidak-stabilan anak-anak bola Indonesia dilapangan. Dalam suatu turnamen di Manila, team Junior Indonesia jang sebelumnja tidak penah main malam hari, berhasil mengalahkan kesebelasan Burma jang sebagian besar pemain intinja, merupakan team Nasional negeri itu. “Saja sendiri tidak pertjaja bahwa mereka bisa menang ketika itu”, kata Djamiat pula.


Balon. Kebanjakan dari keterangan Djamiat tentang kegagalan teamnja berkisar pada masalah mental anak buahnja jang bisa kembang-kempis seperti balon. Djamiat tidak mengatakan bahwa jang dididiknja hanjalah sedjumlah pemain alam, jang tidak bisa lebih dari kemampuan jang dibawanja dari didaerah masing-masing. Ia hanja mengatakan bahwa mereka bisa bermain baik untuk mentjapai suatu titik, dimana setelah itu — seperti digang buntu — tidak bisa lebih, apalagi madju. Walaupun begitu, ia tetap akan mempertanggungdjawabkan kegagalan team tersebut dimuka lembaga tertinggi PSSI. Suatu kesediaan jang sedikit lebih berani dari mereka jang sama sekali mau tjutji tangan. Apa jang akan dipertanggungdjawabkannja sudah barang tentu tidak lebih dari bidangnja sebagai contoh. “Tidak lebih dari itu, karena sebagai coach, setelah memberikan basis-basisnja, teori jang sudah tentu bisa dipraktekkan, taktik dan strategi permainan — maka selandjutnja nasib tergantung dilapangan”. Benar bahwa segalanya itu bisa sadja dilupakan oleh pemain-pemainnya. Meskipun apabila ditetapkan tidak selamanja berarti menang. “Ada satu hal jang harus timbul pada pemain sendiri. Ketjepatan untuk menginterprestasikan permainan lawan dan mengamhil sikap dengan segera pengalaman jang bagaimana jang harus diterapkan untuk menghadapinja’ udjar Djamiat melengkapi.


Suatu pendidikan lain agaknja harus di tempuh pula oleh para pemain sepakbola jakni: ilmu-berpretasi. Ini bukanlah ilmu terachir dari peladjaran jang harus mereka tempuh untuk tidak masuk peti mati. Adakah itu belum terlambat? Agaknja para pengasuh PSSI masih akan memilih terlambat dari tidak samasekali. Maka meskipun waktu berlatih bagi mereka selamanja mepet dengan hari-hari pertandingan, Djamiat tetap memanfaatkan waktu disela-sela latihan itu untuk memasukkan ilmu tersebut. Pada hari ketiga, ketika anak buahnja harus berhadapan dengan kesebelasan India, Djamiat sempat berpesan: “Pergunakanlah kesempatan pada menit-menit pertama”. Sutjipto, Judo, Iswadi dan sedjumlah pemain-pemain lainnja sudah selesai mengenakan kaos bernomor dan bersimbol Garuda ketika Djamiat meneruskan: “Pada waktu menit-menit pertama itu lawan masih bergerak lamban”.

Ruth. Apakah Djamiat jang salah hitung atau ahli horoskop India jang memang lebih pintar ramalannja, karena ada jang terdjadi kemudian benar-benar diluar dugaan. Pemain-pemain India jang merupakan anak setia dari P.K. Banerjee mengamuk bagaikan topan Ruth dari Teluk Bengal — djustru pada menit-menit pertama. Para pemain Indonesia, jang ditengah maupun jang mendek gawang terpontang-panting untuk mendjinakkan tempo permainan lawan. Seorang fotograf Thailand berteriak dalam bahasa Inggeris jang lugu: “He, lihatlah Indonesia seperti itik kehilangan induknja”. Bagi pihak lawan, djustru kebalikannja. Sikh-sikh jang kekar-kekar itu bagai induk itik jang sedang mentjari anak-anaknja. Ajaib Singh Cs permainannja hari itu benar-benar adjaib. Ia labrak gawang Indonesia tanpa hemat peluru. Setiap kans jang sedikit baik dor — ia sabet kegawang Judo.


Menghadapi hudjan bola kegawangnja Judo mengerahkan semua kepandaiannya. Dalam banjak momen ia menjelamatkan beberapa tjalon gol, tapi dalam beberapa momen jang lain jang lebih matjan dari Judo-pun tak ada jang bisa mentjegahnya — ketjuali djala dibelakang gawang. Judopun berusaha untuk lebih ketat dari djala hingga suatu kali ia bagaikan terbang tak dilangit berenang tak diair. Namun, meskipun ia sigap bagai “elang terbang rendah”, gol-gol tak bisa digagalkan. Lama sudah Indonesia tak terkalahkan oleh kesebelasan India. Duapuluh tahun jang lalu dalam Asian Games pertama di New Delhi. PSSI memang pernah kalah 3-0 dari negeri tersebut. Dan sungguh mengherankan bahwa skor jang sama bisa ditjiptakan kembali oleh orang-orang sikh itu 20 tahun kemudian dalam Asian Games jang baru lalu.

Apabila Indonesia kalah dari Korea orang masih bisa memaafkannja. Tapi untuk “kekalahannja terhadap India, tidak ada maaf”, kata Bob T. salah seorang petjandu bola — penggemar Persidja. Mengapa? “Karena dalam pertandingan ini kita bisa menilai perpaduan antara para pemain dan coach Indonesia”, udjarnja pula. Mudah-mudahan bukan penilaian jang keliwat djelek, meskipun argumentasinja kental. Benar bahwa Djamiat berulangkali menundjukkan pada Iswadi agar menjerang dari sajap kanan, sudut terlemah barisan belakang kesebelasan India tapi toch tidak mendapat perhatian dari anak asuhannja itu. Ini bukan untuk pertama kalinja buku Djamiat ditinggalkan diluar lapangan hidjau oleh murid-muridnja. Ketika kesebelasan senior itu menghadapi Iran, pada hari pertama, dimana kaki kedada lebih banjak terdjadi dari kaki kebola, anak-anak PSSI lupa pada pesan untuk tidak “bermain tinggi”. Akibatnja pada setengah permainan jang pertama, Indonesia sering kalah dalam rebutan bola dengan kepala.

Martabak. Difihak lain dimana coach tidak boleh tjutji tangan, kelihatan menondjolnya kelemahan disuatu lini. Basri, Surja Lesmana atau Ronny jang bergilir dilini tengah disamping kurang memenuhi harapan kurang teliti diperhitungkan. Apalagi ketika Tjipto berusaha membantu keduanja dengan turun ketengah — situasi djustru makin tidak tjerah. Permainan semakin semrawut ketika itu, hingga Jacobpun terseret kebawah djuga. Iswadi dan Kadir jang merupakan tombak-tombak Indonesia disajap kiri dan kanan, harus menerima umpan jang melambung setengah matang, jang bagi barisan belakang lawan amat enak untuk disepak bagaikan makan martabak.


Kalah tjepat dalam permainan dan kalah tinggi dalam mutu, membawa pemain-pemain Indonesia selalu ketinggalan kereta. Dalam suatu pertjakapan dengan kolomni olahraga Kadir Jusuf, pertanjaan Lukman Setiawan dari Tempo hanja dapat dikembalikan sebagai pertanjaan: “Siapakah penggantinja kalau toch Judo, Juswardi, Sunarto, Muljadi, Anwar, Basri, Surja, Jacob, Tjipto, terpaksa disingkirkan ?” Membina tunas-tunas muda untuk bisa mentjapai taraf Judo dan Tjipto sadja belum tentu bisa dalam 1 tahun. Itupun masih tergantung pada tjalon-tjalonnja dan coach jang akan mendidiknja. Pada faktor jang terachir inilah agaknya kebimbangan masih mengawan diatas PSSI. Apalagi bagi mereka jang rindu pada pelatih-pelatih asing seperti Tonny jang bisa membawa udara baru untuk persepakbolaan Indonesia.

Kosasih Purwanegara, Ketua PSSI ketika itu beberapa hari setelah Indonesia dilumpuhkan di Bangkok masih tetap jakin pada coach-coachnja. “Mengapa Djamiat harus diganti?” tanjanja kembali. Memang tidak banjak jang berpikir untuk mengusulkan penggantian Djamiat meskipun tidak sedikit jang berharap agar coach jang sedikit pendiam itu bisa dikirim keluar negeri untuk melengkapi pengetahuannja.

“Tentang itu bisa sadja”, djawab Kosasih pula, “sedang tentang mendatangkan coach asing itu memang sudah direntjanakan sedjak lama”, katanja menambahkan. Sudah barang tentu tidak dengan sendirinja pelatih bisa menjunglap pemain-pemain Indonesia djadi Pele atau Reviera dalam sekedjap mata. Sistim tua penjusunan team di Indonesia dimana pemain merupakan tjomotan dari klub-klub jang menondjol dalam satu atau beberapa pertandingan, tidaklah akan mendjamin kontinuitas. Seorang pelatih, meskipun itu pelatih lokal, setidaknja ingin tahu latar belakang tjalon-tjalon anakbuahnja seorang demi seorang. Barangkali hanja pelatih-pelatih jang terpaksa jang mau menerima segerombolan pemain jang kepandaian bermainnja benar-benar tergantung pada “dewi Fortuna”, seperti umumnja anak-anak bola Indonesia.

Obat kuat. Apakah sistim tjomotan itu masih akan terus dipertahankan? Sekalipun PSSI baru menjelesaikan kongresnja dan memilih pengurus baru, banjak jang masih menduga: ja. Akan tetapi Eddy Sihombing, Humas PSSI, berfikir lain. Ia menjatakan perlunja ada pola baru jang dapat membawa PSSI madju. Apa jang dimaksudnja dengan pola baru agaknja bukanlah dengan pengurus baru, karena nama-nama Djenderal Polisi Sutjipto Danukusumo, Inspektur Polisi Sukahar, Letnan Kolonel Sarnubi Said dari Pertamina, Hutasoit dari DCI atau Kosasih Purwanegara sudah bukan baru lagi. Jang mungkin baru adalah ketika orang menjebut-njebut nama Ali Sadikin, Gubernur Djakarta Raya. Nama itu membuat orang djadi optimis, akan tetapi tidak semua. Wakil Gubernur Dr Suwondo misalnja menanggapi pentjalonan Ali Sadikin itu berkata: “Rupanja kita sedang didjangkiti penjakit bapakisme dan tjukongisme”. Bersamaan dengan kebulan asap dari tjangklongnja, keluar lagi utjapannja: “Kalau pentjalonan itu dimaksudkan untuk tjari uang, minta sadja. Tanpa mendjadi ketua, Gubernur toch akan membantu”.

Dr. Suwondo benar, djika masalahnja semata-mata uang. Tapi sukses tidaknja organisasi tidak semata-mata karena uang, melainkan djuga, seperti dikatakan Dr. Suwondo sendiri, “karena dedikasi”. Kalau ini dianggap resep dari Dokter Suwondo, maka dedikasi agaknja ibarat obat-kuat untuk terhindar dari peti mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: