Yashinisme Di Atas Leninisme

Majalah Tempo 1971. Lev yashin, 42, penjaga gawang kesebelasan dynamo, rusia, mengundurkan diri. perpisahannya dimeriahkan pertandingan kesebelasan internasional. ia memuji penjaga gawang pssi, yudo hadianto.

BETAPAPUN Yashin ingin bertahan di bawah mistar gawang Kesebelasan Dynamo, namun hasrat rupanja tak kuat melawan sang kodrat. Dalam mengindjak usianja jang ke-42 tahun bekas Pendjaga-gawang Rusia ini menjatakan “selamat tinggal” dengan tjara jang tidak ada duanja dalam sedjarah Sepakbola. Rekan-rekannja jang sezaman seperti Bobby Charlton (Inggeris), Kalman Mezoly (Hongaria), Lubanski (Polandia), Beckenbauer dan Seeler (Djerman Barat), Fachetti (Italia) dan lainnja berhimpun kembali dibawah pandji Kesebelasan Internasional memberi “penghormatan terachir” kepada Yashin dan Kesebelasan Dynamo-nja jang telah dibela lebih dari 25 tahun. Ditengah-tengah 103.000 penonton Moskow, Sir Stanley Rouse, Ketua FIFA (Federasi Sepakbola Dunia) mengutjapkan sepatah dua kata perpisahan. Sementara seluruh Stadion bergema dengan keluhan penonton jang menjambut penganugerahan “Lentjana Buruh” kepada Yashin. Pertandingan pada tanggal 27 Mei 1971 memang bukan untuk menentukan kekuatan.

Terpeleset. 18 tahun jang lalu dunia pernah mentjatat “Pertandingan Abad Ini” Match of the Century) ketika Kesebelasan Hongaria menumbangkan Kesebelasan Inggeris (5-3) dikandangnja sendiri di Stadion Wembley pada tanggal 25 Nopember 1953. Tetapi senilai dengan peristiwa itu adalah pertandingan perpisahan pada tanggal 27 Mei 1971 itu, meskipun jang pertama untuk menentukan kekuatan, sedang jang belakangan untuk menggali kenangan.

“Saja ingin datangnja hari tua lebih lambat lebih baik”, djawabnja kepada seorang wartawan ketika Yashin singgah di Djakarta bulan Maret tahun lalu. Bersama dengan Kesebelasan Dynamo ia berhasil mengalahkan Tjipto Cs dengan angka 1-0. Sore itu tanggal 14 Maret 1970,90.000 penonton di Stadin Utama Senajan lebih dikesankan oleh pribadinja daripada kegesitannja. Pendjaga gawang jang sudah setengah umur ini ingin memperlihatkan tekadnja untuk “selalu kelihatan muda”. Walaupun penonton Djakarta jang terkenal “kedjam” mengetjalnnja sebagai “matjan bola jang telah kehilangan terkamannja”. Duakali ia terpeleset ketika hendak memetik bola dengan lengket. Dan dua botol air soda dipinggir gawang disediakan untuk membasuh tenggorokan. Memang udara sore itu panas dan Yashin hampir tidak henti-hentinja berbitjara selama pertandingan-pertandingan berlangsung.

Mengenai soal “banjak bitjara” ini Yashin mendjelaskan kepada jang belum mengerti. “Saja banjak bitjara untuk membantu pemain belakang kami. Mereka sudah lelah, apalagi udara panas dan lembab”, katanja. Tetapi apa sebabnja Yashin berani mengambil posisi di garis daerah penalti? “Ini memudahkan saja berkomuni-kasi dengan pemain belakang dan berdasarkan pengalaman saja posisi tersebut jang paling baik. Makin djauh permainan dari daerah penalti, makin terdjamin keselamatan gawang”. Taktik pengawalan gawang seperti jang dikemukakan itu sudah barang tentu tidak mutlak keharusannja, karena seperti kata Yashin pula: “Hal itu tergantung pada pribadi pendjaga-gawang masing-masing”. Namun demikian dibalik “taktik” itu tersembunji sebuah “falsafah” seorang pendjaga-gawang besar.

Komunikasi. Pada tahun 1945 ketika ia pertama kali berlaga dinegeri nenek mojang Sepakbola, Inggeris, lawannja Kesebelasan Arsenal merasa rikuh untuk menembus gawang Kesebelasan Dynamo. Pandangan penjerang-penjerang Arsenal mendjadi sempit. Gawang jang hendak ditembus seolah mendjadi lebih ketjil. Maka sedjak itu Yashin telah melahirkan sebuah teori jang kebenarannja dipraktekkan sendiri oleh Yashin. Posisi jang ekstrim dalam arti berani meninggalkan gawang sewaktu pemain-pemain lapangan menjerang, memudahkan komunikasi dengan barisan belakang. Komunikasi ini berarti kekompakan.20.

Mendjebolkan atau kebobolan gol merupakan karya bersama. Seperti katanja kepada Saleh lahang, Pendjaga-gawang PSSI Junior jang kebobolan 8 buah gol oleh Kesebelasan Dynamo, bahwa “kesalahan jang pertama dimulai dari barisan muka jang mendjalar kebarisan belakang dan achirnja bobollah gawang”. Oleh karena itu komunikasi selama 90 menit dengan pemain lapangan perlu dipelihara. Sudah barang tentu faktor kegesitan dan ketjekatan seorang pendjaga gawang ikut menentukan pula. Terhadap kwalitas jang terachir ini ia buat memudji pendjaga gawang PSSI, Judo Hadianto. “Dia adalah pemain jang akan tidur paling njenjak malam ini”. komentarnja setelah Judo berhasil membendung serangan gencar dari Kesebelasan Dynamo. Kelantjaran Judo mengingatkan masa mudanja. Apalagi diakui Yashin bahwa sepakbola dewasa ini lebih menjulitkan seorang pendjaga gawang. Karena pertahanan jang ketat di garis belakang benar-benar menuntut daja antisipasi dan reflek jang spontan. Kendatipun dalam Kedjuaraan Dunia tahun lalu ia tidak lebih dari “maskot” kesebelasan Sovjet Uni, namun kehadiran Yashin ditengah-tengah pemain angkatan muda amat besar pengaruhnja. Bagi kalangan sepakbola diluar Sovjet Uni, pribadi Lev Yashin membajangkan “kedaulatan Radja Bola” jang belum tertumbangkan diareal seluas 10 X 20 meter. Dan didunia sepakbola kultus “Yashinisme” nampaknja akan tumbuh terus melebihi kultus “Marcisme- Leninisme” jang dianut oleh Sovjet ini sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: