Jawilan “Anni” Yang Manis

Tempo 26 Juni1971. Anniversary Cup II merupakan kias buang sial bagi kesebelasan Indonesia yang akan melawan Malaysia dan Burma. Malaysia dapat dikalahkan, dan kemenangan Burma bukan berarti mutunya lebih baik dari Indonesia

KETIKA Abdul Kadir menusuk dari sajap kiri berposisi kanan dalam, Budi Santoso jang menerima umpan dari Juswardi sempat mendribel beberapa langkah kemuka. Ia membuat trekbal manis. Kadir siap dan menjambut dengan sundulan diagonal kearah sudut kiri gawang Lim Sak. Bola meluntjur melengkung melampaui djangkauan kiper kesebe-lasan Khmer Ja bermain tjemerlang malam itu. Memang gol jang di tjiptakan dibabak kedua pada menit ke-32 itu tidak seindah ketika Kadir mendjebol gawang Tin Aung dalan babak penjisihan sebelum-nja. Namun gol tersebut disambu 90.000 penonton sebagai klimaks Turnamen “Anniversary Cup II” dan sekaligus merupakan kias “buang sial” bagi kesebe-lasan Indonesia jang akan bermain melawan Kesebelasan Malaysia dan …. Burma.

Di Tribune VIP, Ali Sadikin tak dapat menguasai emosi. Dipeluknja Ketua Organizing Committee Sjarnubi Said dan digendongnja pula. Momen itulah jang ditunggu-tunggu puluhan ribu penonton jang dengan setia mengikuti sepakterdjang Kesebelasan Indonesia sedjak dari babak penjisihan sampai di-perempat final.

Gendong. Dalam pertandingan terdahulu Indonesia memukul Singapura 3-0, tapi bertanding seri melawan Thai (0-0) dan Burma (1-1 ). Siapa jang berani mengetjam Indonesia bermain djelek, terutama dalam dua pertandingan terachir. Indonesia telah memperlihatkan bentuk permainannja dengan segala kelihayan dan kesialannja. Untuk faktor jang belakangan ini Pimpinan PSSI dan seluruh suporternja menunggu kapan berachirnja. Dan umpanja neratja kans Kadir mendjebolkan gawang lawan sama besarnja dengan djumlah sialnja — sebelum ia membobolkan gawang Khmer setjara inkonvensionil dengan kepala. Jacob Sihasale menjabut peristiwa “baku gendong” antara dua pembesar itu sebagai “duit gendong duit”. “Tapi apa jang bia dibikin kalau kita selalu dihadang kesialan”, tambahnja. Maksud pemain jang berkaos nomor 14 ini, hahwa “kondisi bertanding” tidak sadja perlu ditopang oleh djaminan materil jang kuat, tetapi dibutuhkan pula kehadiran Dewi Fortuna. Demikian pula komentar Judo, Kapten Kesebelasan Indonesia: “Di President’s Cup dan kita bermain dalam bentuk jang sama, tetapi kalau toch tidak bisa djadi djuara, apa jang mau dikata?”

Pimpinan PSSI bukan tidak tahu unsur kemalangan ini. Seminggu mendjelang Turnamen “Anniversary Cup II” dibuka, Team PSSI dibawa berziarah kemakam Ir.Suratin, Pendiri PSSI. Untuk sekedar memohon restu tentunja. Mereka teringat kembali pada tahun 1962, ketika PSSI berhasil mendjadi Djuara Merdeka Games, merekapun berziarah dulu kemakam Bapak PSSI di Bandung.

Bau. Pertjaja atau tidak, setelah Kadir menentukan kemenangan Indonesia terhadap Khmer, djalan nasib memang bembah. Pada menit ke-90, detik-detik terachir pertandingan disemifinal antar Indonesia-Malaysia, Djunaedi jang tidak kurang malangnja malam itu seperti orang jang ketiban pulung. Si kulit bundal dengan djinak mampir dikakinja. Antara kaget dan kalem. Djunaedi jang berposisi sedikit didalam daerah penalti mengirim lob-bal menjelang kesudut kanan gawang Lim Fong Kee. Kiper Malaysia ini tidak berdaja, meskipun dari wadjahnja kentara sekali ia berusaha “naik banding” atas keputusan Wasit Khim Young Yin dari Korea. Heningnja kesebelas pemain-pemain Malaysia di tengah tempik sorak 75.000 suporter Indonesia sampai saat ini tidak mengurangkan “gol tersebut berbau: off-side. Budi Prasetya Ketua Komisi Wasit PSSI. sempat berbisik kepada wartawan TEMPO “Djangan ditulis berbau off-side lho. Nanti pembatja kalian marah”. Tetapi Laturiuw, Wasit Persidja jang sering mendapat kritik, menjesalkan para wartawan-foto meloloskan momen tersebut. Untuk peladjaran tentunja. Supaja pada menit-menit terachir pertandingan para wasit dan djuru-garis tidak menjibukkan diri mendjadi budak sang waktu. Dan andaikata gol serupa terdjadi digawang Judo’? Jang djelas rezeki djangan ditampik, meskipun boleh diperdebatkan kemudian.

Tetapi adakah faktor “non-teknis” lebih relevan untuk menilai prestasi PSSI selama 6 bulan pertama tahun 1971 (lihat box). Inilah merupakan bahan jang tak kundjung padam dibitjarakan suporter PSSI selama Turnamen “Anniversary Cup” II berlangsung. Dan djustru faktor inilah jang menambah daja tarik sepakbola. Tetapi bagi sementara penindjau jang menjaksikan dengan mata-kepala sendiri selama 10 hari Turnamen berlangsung mutu Kesebela-san Indonesia tidak kurang dubiusnja seperti mutu permainannja. Masih dituntut adanja perbaikan dilini penjerang-tengah jang berfungsi sebagai “otak’ dan “algodjo” sekaligus. Dilini penghubung masih dibutuhkan Suaib dengan “kelas Surja Lesmana” untuk mendampingi Ronny Pattinasarany jang selama Turnamen bermain tjemerlang dengan tjatatan tanpa “temperamen”-nja jang destruktif. Dilini pertahanan kiper Judo tetap masih kuat kedudukannja, sedang kedua poros halang jang saling diisi oleh Anwar Udjang, Jopie Leepel dan Saleh Rama Daud masih perlu dipoles sesuai dengan bentuk jang diinginkan. Dengan tjatatan bahwa Anwar bisa bermain lebih baik apabila disiplin bertahan lebih diutamakan daripada hobbynja untuk turut mendjeladjah dilapangan tengah. Kedua posisi back jang diisi bergiliran oleh Juswardi, Sunanto dari Mudjiadi tak ada alternatif lain, ketjuali harus diterima dengan segala segi positif dan negatifnja.

Israel. Dan standar Turnamen “Anniversary Cup” II sendiri? Dari segi penjelenggaraan suatu sukses ketjuali “Saptu jang ritjuh” itu. Chusus mengenai finansil, modal Rp 40 djuta tertutup, bahkan masih ada sisa beberapa djuta rupiah. Tetapi adakah ia mentjer-minkan standar “Sepakbola Asia” diluar Israel, Arab dan Iran? Coach Burma U Sein Hlaing tegas pernjataannja: “Tidak diragukan. Bahkan lebih tinggi levelnja dari King’s Cup”. Mengenai absennja Kesebelasan Djepan, tidak muntjulnja Seaga kias “buang sial” beberapa pemain inti dari Team jang bertanding dan diturnamenkan-nja Kesebelasan Korea Selatan jang kedua, tidak untuk didjadikan ukuran. “Karena dewasa ini hampir semua negara sedang dalam masa transisi untuk meremadjakan teamnja”. Team Manager Malaysia Dato Teoh menilai Turnamen “Anni” sebagai sarana untuk negara-negara sepak bola di Asia membentuk beberapa team jang seimbang kekua-tannja. “Dengan adanja berbagai Turnamen seperti Anniversary Cup, King’s Cup, President’s Cup, Merdeka Cup, Asian Cup, kita di rangsang untuk mengadakan pembinaan atau kontinu dan intensif”. katanja. Chusus untuk menjoroti final Burma-Indonesia (1-0), Redaktur Olahraga TEMPO Lukman Setiawan, mengadakan wawantjara eksklusif dengan Coach Burma, U Sein Hlaing. Berikut ini adalah pendapat Coach Burma tersebut:

Rangsang. Kesebelasan Burma melakukan taktik pertahanan jang salah. Pertahanan massa didaerah penalti dengan 8 sampai 9 orang tidak dapat berlangsung terlalu lama. Mereka harus segera berpentjar membantu serang-balasan Ini berarti mereka menjimpang dari strategi umum jang telah digariskan 50% menjerang, 50% bertahan. (maksudnja inisiatif menjerang seimbang dengan fre-kwensi serangan lawan — Red.) Takik ini diperhitungkan berdasar-kan penilaian bahwa pemain-pemain Burma lebih fit dan kokoh (fitter and solid). Menjimpangnja mereka dari strategi umum mungkin disebabkan terlalu exciting (terangsang). Satu hal jang biasa terdjadi pada pemain-pemain muda jang masih kurang pengaaman bertanding. Untuk mengatasi situasi ini biasanja di andalkan pada kiper Tin Aung, Kapten Kesebelasan Burma. Dalam beberapa momen harus diakui “nasib” tidak berpihak pada Indonesia.

Kesebelasan Indonesia memiliki dua pemain sajap jang amat berbahaja. Terutama Kadir. Tetapi untuk menempatkan dia bersama Jacob Sihasale sebagai tukang tembak dibutuhkan seorang pemain “otak” seperti Sutjipto. Pemai seperti tipe jang belakangan ini perlu untuk mengadakan improvisasi merobek pertahanan jang ketat. Tetapi rupanja Indonesia hanja mengandalkan kepada: kedua pemain tersebut (Kadir dan Jacob) jang mudah terbatja gerak-geriknja. Dilini tengah pemain-pemain PSSI terlampau showy (mempertun-djukkan keindahan). Memberi umpan melambung kepada Jacob dengan tjara itu-itu djuga lebih banjak sia-sianja daripada hasilnja. Dalam sepakbola dewasa ini menjusun pertahanan setjara ilmiah dengan sistim pertahanan massa” lebih mudah dilaksanakan dengan pemain-pemain jang berdisiplin. Tetapi untuk memetjahkan pertahanan tersebut lebih banjak tergantung dari ketjerdasan individu. Sulit diatur diluar lapangan. Pemain-pemain jang tjerdas ini nampaknja masih harus ditjari Indonesia dan Burma. Kekalahan Indonesia terhadap Burma tidak memperlihatkan bahwa mutu Kesebelasan “Tuan Rumah” lebih rendah dari Burma, Korea Selatan, Djepang, Khmer dan Malaysia. Dua Kesebelasan jang belakangan ini mentjapai bentuk jang setingkat dengan Indonesia dan Burma. Dengan material sekarang Kesebelasan PSSI dalam waktu dekat tidak sulit untuk mentjapai bentuknja seperti jang diperlihatkan dalam Turnamen-turnamen ditahun 1968-1969.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: