PSSI: Dimana Kau Kini ?

Majalah Tempo. 10/I 08 Mei 1971.Karena pondasi sepak bola Indonesia rapuh, PSSI tetap berada di kelas taman kanak-kanak. menurut Jamiat, permainan berkembang menurut intelegensi, daya imajinasi pemain. kini mencipta gaya Indonesia.

BISA sadja mereka jang sudah muak bilang, bahwa PSSI kini masih tetap dikelas taman kanak-kanak. Sesungguhnja kalaupun itu benar, bukanlah karena pemain-pemain perkumpulan sepakbola itu akalnja ketjantol ditali sepatu, tapi karena fondasi sepakbola Indonesia sendiri masih rapuh. Tehnik dasar main bola belum sepenuhnja dikuasai. Katakanlah setelah pembinaan tiga tahun pertama setjara terentjana, seorang pemain baru dapat dikatakan lulus dari buta huruf tentang bola. Maka bila ia melandjutkan penguasaan tehnik dasar jang didapatnja dikelas “PBH” itu, ia akan naik — katakanlah kemudian dibidang kelabu (lihat gambar). Pada fase ini biasanja perkembangan pemain memperlihatkan suatu bentuk. Bakat jang dimilikinja, ditopang dengan pengalaman-pengalaman dan petundjuk-petundjuk dari pelatih akan membuat sebagian dari tubuhnja, setidaknja kakinja, mahir. Menurut Djamiat, coach PSSI, tingkat persepakbolaan di Asia ini baru sampai pada level abu-abu, namun tidak stabil. Katanja: “Bisa pasang bisa surut”, seperti air laut. Sebab umumnja tidak disangga dengan dasar-dasar jang sekuat beton.

Seperti Indonesia, sewaktu-waktu bisa melondjak mendjadi djuara, namun pada kesempatan lain melorot kebawah lagi seperti pengalamannja di Asian Games Bangkok. Bahkan tenggelam lagi kedasar jang hitam legam. Gelap nasibnja. Djadi pemain-pemain jang dilatih sekarang ini di TC, harus kembali mengkadji alif-ba-ta sepakbola, ibarat beladjar nulis lagi pakai batutulis dan grip (anak batutulis). Maka harapan untuk melondjak ketingkat putih, dimana dalam gambar diibaratkan seluruh tubuh pemain sudah kampiun bola (professional), “ngimpipun belum tentu”, katanja. Problem pokok jang dihadapi PSSI terlalu sederhana. Bagaimana bisa membawa sedjumlah pemain jang sebentar panas sebentar dingin itu, mentas dari kelas hitam kekelas abu-abu. Karena itu debat jang timbul diantara idealis-idealis bola sesaat setelah pertandingan PSSI lawan Frem Denmark, seperti tulisan Tanu TRH (Sinar Harapan), Kadir Jusuf, Endang Witarsa (Kompas) dan sedjumlah lampu sorot lainnja, kurang menarik kuping kaum bola di PSSI. Mereka soalnja bitjara tentang sistim serta variasi kesebelasan Inggeris, Brazil, Italia dan lain sebagainja, jang sudah mendarah daging dengan bola dan sudah duduk dikelas VIP, untuk kemudian dibanding-bandingkan dengan PSSI jang (maaf-maaf), “masih dikelas kambing”. Apa jang dibitjarakan penulis-penulis itu, kata Djamiat:.”Penulis-penulis itu bitjara tentang higherfootball untuk anak-anak” jang baru kemarin bisa nendang bola. Pada tingkat sepakbola dunia, menurut Djamiat pula, permainan berkembang menurut intelegensi pemain-pemainnja, daja imaginasi mereka, dan segala-galanja. “Pada kelas ini pula dapat dihimpun pemain dunia”, tambahnja lagi.

Tepat kata Djamiat. Disuatu hotel di Kensington, London, seorang wartawan bertanja pada coach Fernando Riera jang tengah mengumpulkan sisa-sisa pemain dunia untuk suatu team jang akan dihadapkan dengan kesebelasan Inggeris, ketika jang terachir ini ulang-tahun dikampung halamannja. Apa jang ingin diketahui sang wartawan tjuma satu, apakah untuk menjatukan pemain-pemain dari 8 negeri jang berbeda bahasa dan tradisi, tidak dibutuhkan seorang penterdjemah supaja mereka nantinja bisa bermain kompak? “Penterdjemah tidak kami butuhkan”, kata Riera, “bola adalah penterdjemah kami”, sambungnja. Bagaimana itu bisa terdjadi? Soalnja “intelegensi, seni bola jang akurat, keahlian bergerak tanpa bola”, kata Denis. Law penjerang dari Skotlandia. Djelas jang menggerakkan mereka dilapangan bukan teriakan teman, tapi imaginasi.

Itulah sebabnja Djamiat tidak mengatjuhkan tulisan-tulisan jang mentjoba menginterpretasikan permainan anak asuhannja sebagai permainan club dunia ini atau itu. “Itu tidak tertjerna oleh pemain-pemain PSSI sekarang”, katanja mendjelaskan. Menurut coach tersebut, jang perlu sekarang ini mentjiptakan suatu “sepakbola gaja Indonesia”, jakni suatu penterapan sistim dimana pemain-pemain meskipun tidak dilahirkan ibu mereka sebagai spiler, bisa untuk suatu saat diorbitkan keatas. Manifestasi soccer character watak sepakbola seperti tertjermin dari individu-individu setan bola dunia jang menondjol sekali gaja universilnja, memakan waktu lama, dan Indonesia bisa tidak sabaran menunggu. Tapi orang jang djuga mengerti, melihat bahwa apa jang dimaksudkan Djamiat dengan “gaja Indonesia” nja bagai perisai untuk membela diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: