Sebabnya Sebab Kekalahan PSSI

Tempo 4 Desember 1971. Turnamen King’s Cup IV di Bangkok diikuti 6 negara PSSI dipimpin tim manager Anhar mengalami kekalahan. Banyak faktor yang menyebabkan, namun tidak menyebabkan Syarnubi kecewa. untuk pra olimpik belum yakin. KING’s Cup tahun ini mempunjai tjorak tersendiri, paling tidak bagi mereka jang pernah menjaksikan tingkah-laku team Thailand di Anniversary Cup II dan lebih-lebih pernah mendengar berita tentang peristiwa “pembakaran gawang dan perusakan scoringboard” oleh penonton Thai. Peristiwa jang belakangan ini terdjadi diturnamen Queen’s Cup I di Bangkok, dan hanja terpaut sebulan mendjelang perebutan King’s Cup IV.

Rupanja usaha pemerintah dan persatuan sepakbola Thai untuk memadjukan persepakbolaannja memang agak pertjuma Iebih miring kearah ekses-ekses fanatisme daripada menumbuhkan semangat tjinta-bola jang wadjar. Sehingga-djangan kaget apabila penulis sepakbola seperti Kadir Yusuf spontan komentarnja: “Muangthai ini “Argentina”-nja Asia!” (Meskipun sudah barang tentu tanpa skill dan teknik sepakbola Amerika Latin). Solidaritas. Tetapi kesanalah PSSI sudah pergi sebagaimana pula Kesebelasan Korea Selatan dan Kesebelasan Olimpik Malaysia. Dan orangpun tjepat menarik kesimpulan bahwa partisipasi mereka dalam perebutan Piala Radja Bhumipol Abd’uljade, sesungguhnja lebih dipengaruhi oleh pertimbangan “politis” daripada memandangnja sebagai sarana jang efektif untuk meningkatkan pembinaan team. Solidaritas peserta King’s Cup memang diperlukan untuk mensukseskan President’s Cup-nja Korea Selatan, Merdeka Games-nja Malaysia dan Anniversary Cup-nja Indonesia.

Namun, dalam King’s Cup IV jang hanja diikuti oleh 6 negara peserta: Korea Selatan, Malaysia, Vietnam Selatan, Singapura, Indonesia dan Tuan Rumah sendiri telah membuktikan merosotnja arti dan popularitas turnamen itu sendiri. (lihat Box: Hasil Turnamen King’s Cup IV). Dan adakah metropolitan Bangkok dengan latarbelakang tersebut merupakan hambatan psikologis jang membuat prestasi PSSI mendjadi tjemplang? Atau pentjangkokan beberapa pemain “baru” seperti Tumsila, Sarman, Harijanto, Bob Permadi, Mahful dan Ronny Pasla kuran kena? Barangkali Team Manager Anha – bekas wartawan dan anak bola jang tidak betjus? Atau memang tudjuan PSSI tjuma untuk “show of force” menaklukkan Kesebelasan Olimpik Malaysia dan mengukur Djuara-bertahan Korea Selatan? Djawabnja: semua mungkin Kedodoran. Tapi kata “mungkin” nampaknja tidak ada dikamus Coach Drg Endang Witarsa. “Djangan mentjari-tjari alasan, tjarilah sebabnja”, katanja seraja menuding wartawan TEMPO jang ikut menjambut kedatangan Team PSSI disendja “Malam Takbiran” itu, “kini sudah waktunja para wartawan mentjari sebab-sebab kekalahan”.

Coach PSSI-B ini seolah hendak mengudji kelihaian wartawan, pada hal ia maklum bahwa tidak seorang Wartawanpun jang ikut ke Bangkok. Sementara Mangindaan jang turut hadir di lobby Air Port Kemayoran mentjari sumber kegagalan dari persiapan team jang serba kedodoran. Sjarnubi barangkali? Ternjata sore itu dialah jang paling bergairah. Komentarnja atas kekalahan PSSI dari Muangthai dinjatakan sebagai “tidak mengebewakan, bahkan lebih baik dari prestasi tahun jang lalu”. Meskipun bukan rahasia lagi bahwa Sjarnubi telah membatalkan keberangkatannja ke Bangkok untuk menjaksikan sendiri pertandingan anak-anak PSSI disemi-final. Namun optimisme tetap menjelimuti dirinja. “King’s Cup bukan target kita. Jang penting apakah kita berhasil dalam pra-Olimpik di Rangoon nanti”, katanja kepada TEMPO. Salam tempel. Sjahdan, ketika pesawat Thai mendarat tepat djam 17.35 Kordinator Bidang Teknik PSSI itu sudah berada dikaki tangga pesawat menjambut setiap anggota rombongan jang berseragam djas tjoklat-muda dan tjelana tjoklat-tua. Tiada upatjara pengalungan bunga atau pidato-pidatoan sebagaimana lazimnja orang menjambut team jang petjundang. Suasana gundah mentjekam.

Tapi setelah terdjadi “salam tempel” pada setiap anggota rombongan jang konon berisi amplop Rp 20 ribu masing-masing, udara mendung dan hudjan rintik-rintik tidak lagi mempersuram suasana lebaran. (Meskipun kemudian kepada mereka diberitahu bahwa untuk pulang kekampung masing-masing pada hari Djum’at berikutnja tidak mungkin lagi). Dan apa sebab PSSI gagal? Pertanjaan kronis ini kini bergilir menimpa diri Anhar jang nota bene baru pertama kali selama hidupnja memimpin kesebelasan dengan pangkat team manager. Ditiban oleh “malapetaka” ini reaksi Anhar Tanuamidjaja tjukup inkonvensionil:”Saja gagal. Saja tidak ingin bela diri atau melempar tanggung-djawab kepada siapapun djuga”, katanja. Erwin Baharuddin, Ketua KONI Djaya merangkap Pimpinan PSSI jang tiba lebih dulu di Tanah Air, tjoba menghibur kekalahan Indonesia dari Muangthai. “Pertandingan sebenarnja hanja berlangsung 25 menit”. Selebihnja lawan main apa? “Main keras, bukan main bola”. Anhar menambahkan: “Main keras masih kita lajani. Main orang!” Tapi dimana Sarman dan Tumsila, si Tukang Samber? “Eh, belum lagi saja sempat lontjat kuping saja ditumbuknja”, sela Sarman sambil mengusap kuping kanannja. Resiko. Kalau pemain-pemain Korea Selatan sanggup melajani Tuan Rumah jang lebih banjak menjepak dada daripada menggiring bola, itupun menurut Bob Permadi “karena pemain-pemain Korea besar-besar dan kekar-kekar badannja”.

Back PSSI ini menerangkan selandjutnja bahwa bukan anak-anak PSSI takut main keras, “kalau wasit tidak berdaja dan penonton tidak lagi dapat dikuasai petugas keamanan, siapa jang berani menanggung resiko?” Lebih-lebih dalam final Korsel-Muangthai, menurut half-back Ronny, beberapa penonton ikut melempari es-batu kekepala Team Manager Korsel, sementara beberapa penonton lainnja memaksa bendera Korsel berkibar setengah tiang sebagai tanda berdukabita dengan direbutnja Piala Radja oleh Korsel 3 kali berturut-turut, barangkali. Sehingga tersiar berita bahwa anak-anak negeri Ginseng ini tjenderung untuk mengembalikan Piala tersebut kepada Panitia daripada mempertahankan dimedan turnamen tahun depan. Tapi membitjarakan fakta-bernada-tjengeng bukan spesialisasi Anhar, lebih-lebih nivo seorang jang pernah memimpin redaksi suratkabar. Maka kepada Kadir Yusuf dari Kompas (22 Nopember 1971) ia tjoba membeberkan persoalan menurut versinja. Namun sebagai tokoh jang baru diangkat djadi kolomnis “The Asian Sport ” (terbitan Manila) Anhar tidak tjukup membahas persoalan dari gedjala-gedjala, ia berusaha mendalami masalah dari segi hakekatnja, seperti dari hasil wawantjaranja dengan TEMPO lihat Box: Wawantjara dengan Anhar). Down.

Tapi berbeda dengan Djamiat (tidak turut ke Bangkok, tapi hadir menjambut team), apapun alasan “lawan main kasar” jang dikemukakan, persoalan masih harus diteliti dari segi lain. “Mesti ada sesuatu jang membikin down semangat anak-anak”, katanja mengkomentari kekalahan melawan Thai dan Vietsel setelah PSSI menundjukkan prestasi tjukup mejakinkan terhadap Malaysia dan Korsel. Ia tidak tjepat menjebut “sesuatu” itu apa. Tapi menurut pengakuan Anhar, Djamiat pernah menanjakan apakah tidak pernah terpikir untuk memberi instruksi: mengalah lawan Korsel! Setjara taktis rupanja Djamiat lebih berpengalaman. Kalau lawan Korsel kalah berarti Indonesia berhadapan dengan Vjetsel lebih dulu. “Bukan tidak terpikir diotak saja, tapi terus terang setjara formil untuk menginstruksikan demikian saja tidak bisa”, kata Anhar. Maka orang pun menarik hubungannja dengan urung nja keberangkatan Sjarnubi ke Bangkoli jang mendjelang semifinal telah mengetuk kawat memberitahukan maksudnja kepada Team PSSI disana. Ini barangkali jang membikin anak-anak PSSI down semangatnja. “Djandji Sjarnubi jang ada pengaruhnja”, udjar Aang Witarsa, “tapi tidak seluruhnja tepat. Mengapa setelah kebobolan 3 gol oleh Vietnam, anakanak dapat mengembangkan permainan jang sebelumnja tidak pernah saja saksikan dimana sadja”, tambah Coach PSSI A jang keok ini. Lalu PSSI mau diapakan lagi? 3 bulan lagi kesebelasan-kesebelasan Burma, Israel, India, Muangthai dan Sri Langka siap menanti PSSI di Rangoon digelanggang pra-Olimpik.

Tidak mustahil disana akan terulang peristiwa serupa, bahkan lebih nekad mungkim Team A sekarang dirombak? Tiaak mungkin. Membikin team (jang pantas) “tidak semudah menggoreng pisang”. Menggantikan dengan Team B? Inipun spekulasi ngawur. Atau barangkali ditransfusi dengan beberapa pemain dari Team B? Inilah jang paling masuk akal, meskipun masih tanda tanja siapa pemain-pemain Team B jang dipandang tjakap untuk menggantikan beberapa pemain Team A jang tak dapat dipertahankan lagi. Pada bulan-bulan peralihan tahun ini setidaknja merupakan masa jang paling mentjemaskan para penggemar sepakbola disini: rasa ketakutan akan tersisihkan dari pra-Olimpik lebih besar dari kejakinan untuk memenangkannja.

Wawancara Dengan Anhar

Wawancara sekitar hasil King’s Cup & persiapan pra olimpik. King’s Cup gagal karena beberapa faktor, mutu, kecelakaan pemain, dsb. Pra-olimpik disiapkan dengan latihan fisik, teknisi taktis, perangsang.
TANJA: Bagaimana pendapat Saudara tentang mutu Turnamen King’s Cup IV pada umumnja?

Djawab: Menurut pengamatan saja mutunja lebih rendah dari Turnamen Anniversary Cup II dan Merdeka Games 1971. Terutama dilihat dari segi moralitas pertndingan. Maksud saja kesebelasan-kesebelasan jang bertanding di Djakarta dan Kuala Lumpur dengan tenang dapat mengembangkan permainan sebaik-baiknja, tanpa tekanan-tekanan psikologis jang tidak wadjar.

Tanja. Apakah urutan pemenang memang pantas?

Djawab: Terus terang Korea Selatan pantas mempertahankan kedjuaraannja. Kesebelasan ini memiliki incassering-vermogen (daja tahan pukul) jang luar biasa. Muangthai dengan tingkat permainannja selama Turnamen rasanja hanja mampu merebut kedudukan Runner-up dikandang sendiri meskipun bukan tidak ada momen-momen dimana barisan belakang mereka memperlihatkan pertahanan jang fantastis. Vietnam Selatan menundjukkan mutu jang makin meningkat. Sementara berdasarkan penilaian saja Kesebelasan Malaysia merupakan team jang terhormat dan mempunjai sifat fair-play. Kekalahannja terhadap Indonesia tidak dapat diukur sebagai lebih rendah dari Indonesia dan Korea Selatan. Hanja dalam menggunakan peluang-peluang tertentu nampaknja mereka kurang beruntung. Lain kesempatan mungkin sebaliknja.

Tanja: Dimana letak kelemahan Kesebelasan Indonesia jang Saudara pimpin?

Djawab: Ketika lawan Malaysia permainan masih balans. Tapi setelah Kadir mengalami tjedera dipaha kanannja–akibat tabrakan dengan kiper Malaysia – barisan depan agak pintjang. Sementara Waskito jang didjaga ketat oleh dua orang lawan tidak dapat berbuat apa-apa. Ronny Pasla Ok. Ketika lawan Korsel kesalahannja O. Sedang 3 gol Vietsel jang membobolkan gawang Indonesia sesungguhnja tidak bisa di salahkan pada Ronny. Tetapi setelah itu saja tidak pemah melihat permainan Indonesia demikian tjemerlang.

Tanja: Apakah Team jang sekarang dapat dipertahankan untuk pra—Olimpik?

Djawab: Mengapa tidak? Mana bisa merombak team untuk kemudian membentuk jang baru dalam waktu hanja 3 bulan. Mungkin satu sampai tiga pemain akan diganti. Tapi itupun tergantung pada perkembangan Team B. Misalnja Saleh Rama Daud. Ia main baik sekali, sehingga Sabaruddin penjerang Malaysia dibikin tidak berkutik tapi ia menderita tjedera agak parah. Menurut pendapat saja ia harus beristirahat paling kurang sebulan penuh, sebelum aktif latihan lagi. Sarman dan Tumsila tergolong fighter. Jang pertama agak emosionil, jang kedua kalau kondisi fisiknja lebih baik, permainannja dapat ditingkatkan. Keduanja mempunjai prospek baik. Barisan belakang, terutama para back PSSI jang terdiri dari Bob Permadi, Mahful lim Ibrahim dan Mudjiadi mempunjai kekurangan jang hampir sama: kurang mantap dan lamban dalam membalik badan. Tapi kelemahan itu dapat diatasi dengan latihan fisik jang intensif. Jang menggembirakan bahwa di samping Judo, PSSI kini memiliki dua kiper tjadangan, masing-masing Ronny Pasla dan Suharsojo.

Tanja. Bagaimana pendapat Saudara dalam menghadapi pra-Olimpik?

Djawab: Pertama latihan fisik, kedua teknis dan taktis dan djangan lupa soal perangsang insentif). Saja tidak ingin membesar-besarkan faktor jang terachir ini, tetapi saja tidak dapat menutup mata terhadap kenjataan ini.

Tetapi masih ada persoalan jang lebih prinsipiil di samping kita akan berhadapan dengan lawan-lawan seperti Burma jang bermain di kandang sendiri, Israel jang berorientasi pada persepakbolaan Eropa dan team lainnja seperti Muangthai, India dan Sri Langka jang tidak boleh dianggap remeh. Saja kira saudara djuga sudah tahu. Siapapun jang memimpin Team PSSI nanti, baik saja sendiri, Djamiat, Sjarnubi, Aang Witarsa, Endang Witarsa atau barangkali saudara sendiri, saja kira sulit untuk memiliki suatu team jang matang djika pola pembinaannja seperti sekarang. Problim seperti di Bangkok bisa sadja terulang kembali. Kita ini sekarang berada di persimpangan: menudju ke amatir-negara atau profesionalisme. Tidak ada alternatif lain, kalau kita ingin mentjapai stabilitas seperti Burma, Djepang dan Korea Selatan. Apa jang ditempuh sekarang agak konvensionil, !carena lebih digantungkan kepada kebidjaksanaan perorangan, tidak melembaga. Inilah persoalan dunia sepak bola kita jang lebih prinsipiil daripada menghadapi pra-Olimpik semata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: