Dicari Pengganti Seeler : PSSI vs Hamburg FC

Tempo 15 Januari 1972. Pemain terbaik Jerman Barat Uwe Seeler bersama kesebelasan Hamburg bermain di Senayan. ia mendemonstrasikan kebolehannya walau baru 50%. ia akan mundur, karena kontraknya dengan Hamburg habis. DJIDAT dan ubun-ubunnja sudah mendjadi satu. Dibawah sorotan lampu Stadion Utama pemain berambut pirang itu nampak lebih botak dan lebih tua dari usianja 34 tahun. Dengan tinggi badan kurang dari 1,70 dan berat badan jang nampaja agak overweight, pemain nasional Djerman Barat, dunia dan Kapten Kesebelasan Hamburg, Uwe Seeler paling tidak memperkenalkan dihadapan 60.000 penonton Senajan dengan tjiri-tjiri djasmani tersebut.

Menambat. Kesan pertama jang tertanam pada penonton, ketika ia memimpin Kesebelasannja memasuki lapangan menjambut peluit Wasit Sundoro dari Bandung, tidak menimbulkan reaksi sehebat seperti jang diberikan kepada Lev Yasin, pendjaga gawang “Dynamo” dari Soviet Uni. Namun bagi sementara penonton jang lebih tjandu dari pada awam, gelar “Pemain Terbaik Djerman jang pernah direbut Seeler pada tahun 1960, 1964 dan 1970 – melebihi gelar jang sama jang diperoleh Frans Beckenbauer ( 1966, 1968) dan Gerd Muller (1967, 1969) – menambat djuga perhatian mereka untuk menilai penampilannja jang pertama dan penghabisan bersama Kesebelasan Hamburg di Senajan.

Menghadapi pertahanan PSSI B dengan lini: Sutriono (kiper), Jusuf Bahang, Reny Salaki (back), A. Rany dan Martin Burwas (poroshalang) jang bermain tjukup baik, tidak menjulitkan Seeler untuk mendemonstrasikan gerakan-gerakan dari jang rutine sampai jang akrobatis. Langkahnja pendek-pendek dengan variasi tempo tjepat, sedang dan lambat menurut kebutuhan lajaknja. Dan ia madju mundur dengan setia pada garis lurus antara titik penalti dan titik tengah. Dari situ dia merentjanakan penjerangan melalui kedua sajap dengan memberi umpan pada setiap kesempatan pertama ia menguasai bola. Barangkali kesederhanaan inilah jang membikin Bob Permadi merasa tidak perlu menempel Seeler terlalu rapat. Tapi, seperti lajaknja pemain kaliber dunia, pada setiap kali bola djauh dari kakinja, kepala Seeler kini bekerdja menguasai medan. Ditambah oleh pengamatannja jang awas. ia menghampiri daerah penalti seperti seorang pentjuri.

50%. Mara-bahaja baru terasa sewaktu ia melontjat menjundul atau menjepak kulit bundar. Bukan sadja disebabkan kemampuannja menggunakan kepala atau kedua kaki sama baiknja, lebih-lebih ia dapat melakukan hampir dari segala posisi. Pada menit ke-5 kerikil Seeler berada diposisi kiri gawang, kepepet oleh garis ia membuat tendangan djungkir-balik, setelah lebih dulu mengganggu keseimbangan Rany dengan benturan tepat.

Kisah tentang karier pemain pro utama ini dalam Kedjuaraan SepakboIa Dunia di Meksiko pada Djuni 1970, bukan sadja masih berkesan dikalangan penonton, lebih-lebih merupakan sugesti untuk mengharapkan permainan jang betul-betul qemerlang dari Seeler. Itulah sebabnja beberapa penindjau berkesim pulan bahwa apa jang dipertundjukkan pemain dunia ini baru 50, dari seluruh potensinja sesuai dengan kebutuhan tentunja.

Adakah ketrampilan Uwe telah rontok dimakan usia hanja oleh masa dua tahun setelah Kedjuaraan Dunia Meksiko? Kalau begitu, pembatja perlu mendengarkan apa komentar Helmut Schon, Team Manager Djerman Barat jang berhasil menempatkan Kesebelasannja dalam tiga-besar dunia (Brazil, Itali dan Djerman).

Abnormal. “Saja sadar tanpa Haller jang tjidera, situasi dilapangan tengah mendjadi kritis”, kata Schon ketika ia mengingatkan bahwa medan pertempuran di mid-field adalah jang paling buruk, mengingat keadaan abnormal dari ketinggian kota Meksiko. “Dalam hal ini saja memperhitungkan Fitchel dan Overath sanggup menguasai daerah jang lebih luas dan bersama Beckenbauer hubungan antara daerah-tengah dan pertahanan dapat dikuasai dengan baik”. Tapi bagaimana hubungan antara lapangan tengah dan barisan penjerang? “Inilah mata rantai jang hilang”, kata Schon menandaskan. Dan untuk mengisi lowongan itu ia menarik Seeler agak kebelakang: bukan sebagai gelandang, tapi berperan setengah penjerang, setengah penghubung. ‘Sungguh menakdjubkan, seorang jang berumur tigapuluhan seperti Seeler dapat menghadapi kondisi seburuk di Meksiko. Ia membuktikan kemampuannja membuat prestasi lebih baik dari pemain manapun dari Kesebelasan kami. Seeler sungguh merupakan Inspirasi bagi pemain-pemain muda lama”.

Selandjutnja dalam pengakuannja jang dituturkan dalam “Scientific Soccer in the Seven ties” karya bersama Roger Ma. Donal dan Eric Batty, Schon memudji kehebatan stamina Seeler selama enam pertandingan sampai penentuan kedudukan ke-3 dan 4, sehingga “memungkinkan kami beroperasi dengan 4 pemain dilapangan-tengah dan tiga penjerang setjara simultan Sjahdan, stamina bekas Kapten Kesebelasan Djerman Barat ini memang tidak terudji Djum’at malam itu. Tapi temperamen dan kewibawaan seorang pemain kaliber dunia djelas terpantjar setiap kali ia memberi petundjuk-petundjuk terhadap kesalahan kombinasi jang dibuat rekan-rekannja. Pada saat-saat mendjelang berachirnja kontrak Seeler dengan Hamburg- jang konon akan mengundurkan diri — membikin Coach Klaus Ochs mendjadi tjemas. “Kami belum dapat menampilkan pemain muda untuk penggantinja”, katanja kepada TEMPO. Lalu bagaimana? “Kami merentjanakan membeli pemain baru”. Tapi ketika ditanja siapa gerangan pemain baru itu? “Itu masih rahasia, belum dapat diumumkan sekarang”. Barangkali untuk membeli seorang pemain kaliber Seeler dimasa djajanja, tidak semudah ia melatih team Hamburg sekarang. Nampaknja itulah rahasianja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: