Setelah Wafatnya Sang Rois

Tempo. 8 Januari 1972. Sepeninggal Wahab Chasbullah yang oleh muktamar dikokohkan sebagai rois aam seumur hidup, NU sibuk membentuk pengurus baru syuriah. Idham Chalid tetap terpilih sebagai ketua umum. Tokoh muda dapat tampil.HANJA empat hari setelah muktamarnja jang ke–25 berachir, NU tiba-tiba di hadapkan pada kemungkinan baru. K.H. Wahab Chasbullah, 87 tahun, jang oleh muktamar dikokohkan sebagai Rois Aam NU seumur hidup, meninggal dunia di Djombang tanggal 29 Desember jang lalu.
Tokoh terachir pendiri NU ditahun 1926 itu bersama-sama dengan wakil Rois, KH Bisjri Sjamsuri oleh muktamar dibebani tugas menjusun pengurus baru Sjurijah satu badan tertinggi dalam partai NU jang mempunjai hak veto. Didalam partai almarhum dikenal sebagai tokoh jang selamanja menekankan agar warga NU berorientasi kepada ulama dan konon didukung oleh tokoh-tokoh tua dalam partai. “Beliau adalah tempat bergantungnja Idham Chalid”, Kata seorang tokoh muda NU di Djakarta kepada TEMPO mingga lalu. Konon ketika muktamar mengumumkan ditetapkannja Wahab Chasbullah sebagai Rois Aam seumur hidup, serang peserta muktamar bersuara dibelakang: “Sekarang Idham Aman!”

Adakah setelah K.H. Wahab Chasbullah meninggal, kedudukan Idham Chalid jang oleh muktamar telah dipilih kembali mendjadi Ketua Umum partai, tiba-tiba mendjadi tidak aman lagi? “Paling tidak kesempatan bagi tokoh-tokoh muda untuk tampil lebih terbuka”, kata tokoh NU jang dikutip diatas. Meskipun demikian ia tidak lupa mengatakan “Kijai Bisjri sebenarnja sama dengan almarhum”. Nampaknja masih terlalu dekat baginja untuk melupakan jang telah terdjadi dalam muktamar jang baru lalu.

Tampil. Apa jang sesungguhnja terdjadi di Muktamar? Meskipun diluar terdengar suara-suara azan jang damai pada saat sembahjang disusul lagu-lagu qasidah diseling-seling lagu-lagu Melaju, tapi suasana sidang dibelakang tiga lapis pintu dibangsal PT Puteri NU Wonokromo itu tidaklah sedamai itu. 545 utusan dari 323 tjabang dan 31 wilajah plus 77 staf PB-NU jang sebagian besar tak pernah melepaskan pitji, selama 6 hari terlibat dalam perbenturan kekuatan-kekuatan jang memang sudah ada dalam tubuh partai. Disana ada kelompok-kelompok jang ditjerminkan oleh Subchan ZE-Chalid Mawardi-Mukaffi Makky disatu fihak, Sjaichu–Machbub Djunaidi-Zamroni disatu fihak pula dan Idham Chalid–Jahja Ubaid–Nuddin Lubis difihak jang lain lagi. Jang pertama menuntut lebih banjak peranan politik dari partai, serta kesempatan tampilnja angkatan muda, jang kedua konon moderat tidak menginginkan terdjadinja polarisasi tua-muda, dan jang ketiga sjahdan berusaha menjingkirkan Subchan & Sjaichu dari kepemimpinan partai.

Tapi Subchan jang meskipun sebelumnja telah memberikan isjarat untuk meninggalkan kegiatan partai, seperti jang djuga terang-terangan dilakukan Jusuf Hasjim, ternjata tampil lagi. Demikian pula halnja dengan Sjaichu jang sesungguhnja mengharap tempat lebih tinggi dari jang sudah didudukinja waktu itu “Saja sama sekali tidak bergairah lagi untuk duduk dalam pimpinan NU”, kata Subchan kepada A. Yassin dari TEMPO, ditengah-tengah sengitnja muktamar. ‘Tapi saja harus bertanggung djawab kepada masjarakat dan mendidik merek”, katanja pula.

Kompromi. Dan Subchan dengan pengaruhnja jang tjukup besar ditjabang-tjabang ternjata bisa berbuat hanjak djuga. Sekalipun 100% suara tjabang-tjabang dan wilajah masih tetap mendukung adanja badan Sjurijah, sekalipun setjara aklamasi pula K.H. Wahab Chasbullah diputuskan sebagai Rois Aam NU seumur hidup dan K.H. Bisjri sebagai wakil Rois, dalam soal pimpinan di Tanfizijah, Idham Chalid dkk ternjata tak bisa lebih banjak mendapat peluang dari sebelumnja. Jang dihasilkan hanjalah suara aklamasi untuk tidak merobah ketua-ketua jang sudah dalam posisinja masing-masing, plus tambahan masuknja sedjumlah ketua-ketua baru sehingga mendjadi 9 orang djumlahnja. Maka Idham Chalid jang sudah 20 tahun dan 4 muktamar djadi Ketua Umum tetap dalam djabatan itu. H. Ahmad Dahlan tetap sebagai Ketua Dewan Partai, Subchan ZE, Sjaichu dan Imron Rosjidi masing-masing tetap sebagai ketua-ketua tanpa nomor urut. Idham Chalid berhasil memasukkan muka-muka baru dalam deretan ketua-ketua ini: K.H. Achmad Siddiq (Djawa Timur), Sjaifuddin Zuhri (Djakarta) dan Nuddin Lubis (Sumatera Utara). Tapi Subchan berhasil pula mendjedjalkan lagi 2 orang ketua pula masing-masing H. Imam Sofwan (Djawa Tengah) dan Drs. Zaidan Djauhari (Sumatera Selatan).

Agaknja memang apa boleh buat bahwa muktamar harus berachir sampai disitu sadja dan tak sempat membitjarakan hal-hal lain jang telah ditjantumkan dalam atjara. Dan meskipun Idham Chalid masih utuh kedudukannja, Subchan dan Sjaichu masih tak kurang utuh kedudukannja seperti sediakala. Tapi djustru itu dan mengingat masih belum terbentuknja susunan pengurus baik Tanfidzijah maupun Sjurijah, seorang peserta setelah muktamar ditutup berkata kepada TEMPO: “Tapi permainan belum selesai”.

Pemimpin rohani. Permainan kabarnja masih akan lebih mengasjikkan ditubuh partai itu dengan meninggalnja K.H. Wahab Chasbullah. Bukan hanja dalam melengkapi susunan pengurus Tan fidzijah, tapi djuga dalam menjusun pengurus Sjurijah jang sekarang otomatis pula berada ditangan K.H. Bisjri sendiri. Dikalangan angkatan muda NU sudah lama terdengar suara-suara jang menginginkan orang-orang seperti Prof. Anwar Musaddad dan K.H. Maskur duduk dalam pimpinan Sjurijah. Untuk periode muktamar mendatang, harapan mereka itu agaknja tak mungkin terlaksana. K.H. Bisjri sudah ada disana melalui keputusan muktamar. Tapi kini masih terbuka kesempatan untuk duduk sebagai pengurus biasa, dan bukan tidak mungkin seorang pengurus biasa atau seorang wakil Rois bisa mendjadi Rois pula tanpa melalui muktamar djika mendapat nasib seperti K.H. Bisjri. Maka perdjuangan untuk mengisi lowongan djabatan-djabatan jang berada dibawah Rois Aam dianggap berguna bagi kelompok-kelompok jang ada. Lebih-lebih mengingat bahwa badan Sjurijah masih tetap penting kedudukannja seperti biasa. Meskipun 2 djam setelah muktamar ditutup Subchan dalam keterangan pers mempertegas lagi sikapnja mengenai kedudukan badan tersebut: “Menghadapi masadepan NU tetap pada sifatnja: Tanfidzijah membawa identitas politik, Sjurijah membawakan identitas ke-Djami’jahan”. Katanja lagi: “Rois Aam adalah pemimpin rochani”. Tapi untuk menjelamatkan perdjuangan politik dalam partai, posisi pimpinan rohani disana masih amat penting. Karena itu bukan mustahil Subchan sendili merasa perlu sibuk kembali dan menunda rentjana kawin dan berbulan madu jang sudah lama diidam-idamkannja itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: