PNI merasa perlu bersatu lagi

Tempo 22 Januari 1972. Majelis permusyawaratan partai (mpp) pni merasa perlu bersatu lagi. dalam kongres di semarang pni pecah, disusul kekalahan besar dalam pemilu. para tokoh dari berbagai sayap lalu bertemu. SETELAH terpetjah dikongres Semarang jang disusul dengan kekalahan besar dalam Pemilu, PNI agaknja merasa perlu kembali bersatu. Hal itu setidak-tidaknja tertjermin dari kongres Madjelis Permusjawaratan Partai (MPP) PNI badan tertinggi dalam PNI – di Djakarta antara tanggal 6–9 Djanuari jang lalu. Persatuan kembali jang diusahakan MPP agaknja tidak hanja terbatas kembali kepada keadaan PNI sebelum kongres Semarang jang dikatjau fihak luar itu sadja. Jang diusahakan MPP bahkan persatuan seperti keadaan PNI sebelum petjah mendjadi golongan Osa–Usep dan Ali–Surachman dulu. Maka kongrespun mendjadilah sematjam reuni dari tokoh-tokoh senior partai jang mewakili berbagai sajap. Tidak hanja Hardi SH jang pernah tidak disukai, akan tetapi djuga nampak tokoh-tokoh seperti Iskaq Tjokrohadisurjo SH, Prof. Sunarjo, Nur Sutan Iskandar, Ruslan Abdulgani, Sudarisman Purwokusumo SH, Sudiro, Tabrani, Nj. Supeni, T.D.Pardede, Dr Ambio, Dul Arnowo. Sementara Ali Sastroamidjojo meskipun tidak hadir konon karena sakit, sempat mengirimkan pesan tertulis. Kehadiran tokoh-tokoh lama partai ini ternjata tidak hanja sekedar menghidupkan suasana persatuan kembali itu. Sebab kongres achirnja mengambil keputusan memasukkan mereka mendjadi anggota Dewan Pertimbangan Partai untuk memperkuat badan jang di ketuai oleh Wilopo SH itu.

Tetap lowong. “Dan itulah keputusan terpenting jang diambil MPP”, kata Mh. Isnaeni, Ketua I DPP–PNI, “karena itu berarti pulihnja persatuan dan kesatuan dalam partai”. Keputusan itu djuga ternjata mendapat tanggapan jang baik dari Hardi SH, orang jang pernah djadi korban dikongres Semarang. “Sebagai manusia, tentu kita tidak dapat melupakan peristiwa Semarang itu sebagai impian buruk”, katanja kepada TEMPO minggu lalu. “Tapi usaha untuk memperbaiki alat perdjuangan tidak dapat dilakukan atas dasar sentimen”. Katanja lagi: “Berpidjak dari iktikad untuk memperbaiki partai sebagai alat perdjuangan, saja dan kawan-kawan menerima dengan ichlas dan djudjur adjakan kawan-kawan dalam MPP untuk membangun persatuan jang kompak”.

Persatuan jang kompak memang amat diperlukan oleh tiap parpol sekarang, suatu kebutuhan jang djuga diperlihatkan oleh NU dalam Muktamarnja jang baru lalu. Menghadapi penjusunan undang-undang Kepartaian dan Keormasan jang akan datang – jang mau tidak mau akan menjangkut eksistensi partai-partai jang ada dimasa depan – suatu konsep jang matang dan sikap jang kompak perlu disiapkan. Dan bagi PNI, tenaga-tenaga tokoh senior itu dapat dimanfaatkan untuk itu.

Dalam hubungan memulihkan persatuan ini MPP agaknja setjara sengadja telah mengelakkan apa jang telah terdjadi dengan PNI dimasa lalu. Tanpa menjinggung-njinggung sebab-sebab kekalahan PNI dalam Pemilu, MPP malahan menerima baik kebidjaksanaan jang telah di djalankan DPP–PNI sedjak kongres Semarang dan mempersilahkan DPP melandjutkan tugasnja sampai kongres mendatang jang direntjanakan akan diadakan tahun 1973. Tapi tidak hanja itu. Dalam masalah organisasi ini, MPP djuga menghindari persoalan jang menjangkut lowongan Ketua Umum jang kosong dengan meninggalnja Hadisubeno. Lowongan itu diputuskan untuk dibiarkan tidak diisi sampai kongres partai jang akan datang, sementara tugas-tugas Ketua Umum akan didjalankan oleh Ketua I tanpa mendapat predikat sebagai Pedjabat Ketua Umum.

Meliwati krisis. Masa enam tahun tanpa seorang Sukarno jang biasa melindungi dan telah membuatnja besar, PNI nampaknja telah kehilangan banjak hal. Ia merosot dengan lenjapnja kekuasaan Sukarno, tempatnja selama sekian puluh tahun bergantung. Dan ketika ia mentjoba meraih tempat bergantung lain jang bernama ABRI ternjata itu bukanlah tempat jang bisa diminta bantuan dengan tjuma-tjuma. PNI harus membajar dengan perpetjahan baru dalam dirinja dan kemudian ia dipukul djatuh dalam suatu pemilihan umum. Akan tetapi proses nasib jang dialaminja ini tidak seluruhnja kesalahan orang lain. PNI tidak punja tradisi hidup tanpa bergantung pada penguasa disamping ia tidak luput dari penjakit umum jang menghinggapi seluruh kehidupan partai politik di Indonesia. Karena itu perobahan politik jang terdjadi telah membawa kegontjangan pada PNI jang djauh lebih besar daripada jang diderita oleh partai besar jang lain. Tapi dengan keputusan keputusan jang diambil kongres MPP sedikit-banjak ada mentjerminkan suatu kesadaran baru disana, siapa tahu itu djuga pertanda PNI sedang meliwati masa krisis dalam dirinja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: