Dekat Mendekati, Di Cipayung

Tempo 29 Januari 1972. Empat organisasi mahasiswa HMI, GMKI, GMNI dan PMKRI mengadakan pertemuan. mereka berhasil mengadakan dialog dengan mayjen ali murtopo, aspri presiden & pejabat lainnya. pembicaraan sekitar aksi mahasiswa.”Kalau sipilnja tidak mati, militernja jang mendekat, kalau militernja tidak mau, sipilnja jang mendekat”:KATA-KATA itu diutjapkan lajdjen Ali Murtopo. Ia berbitjara tentang hubungan sebaiknja antara generasi muda sipil dengan generasi muda ABRI dimasa-masa datang – jang agaknja berlaku djuga buat masa kini. Hari itu Kamis malam di Tjipajung. 20 Djanuari minggu lalu. Diruang pertemuan Wisma Agraria jang dihadiri sekitar 45 orang, usaha dekat-mendekati antara mahasiswa dengan penguasa memang sedang dilakukan. Pertemuan jang di selenggarakan 4 organisasi mahasiswa (HMI, GMKI, GMNI dan PMKRI) hingga Sabtu malam itu bertema “Indonesia Jang Kita Tjita-Tjitakan”. Sesungguhnja, suatu ichtiar merumuskan masa depan. Meski begitu, djelas bahwa diskusi jang mengundang Majdjen Ali Murtopo, Djenderal Sumitro, Sudjatmoko, Emil Salim dan Harry Tjan Silalahi itu diliputi soal-soal jang masih gelap dihari-hari ini.

Keempat organisasi mahasiswa itu, bersama gerakan-gerakan lain, beberapa minggu sebelumnja ikut dalam diskusi dan pernjataan-pernjataan sekitar projek Miniatur Indonesia Indah. Pidato Presiden Soeharto 6 Djanuari dipembukaan RS Pertamina jang setjara keras menanggapi aksi-aksi pemuda & mahasiswa itu ikut mengedjutkan, dan agaknja djuga memasgulkan mereka. “Dari persoalan Miniatur itu kami tergerak mengadakan pertemuan sematjam ini”, kata Chris Siner Kay Timu, Ketua Umum PMKRI “meskipun konsultasi antara organisasi organisasi jang kami wakili disini sudah berdjalan sedjak lama setelah KAMI tak hidup lagi”. Dan Akbar Tandjung, Ketua PB HMI mendjelaskan: “Lain kali pertemuan sematjam ini akan kami selenggarakan dengan peserta Jang lebih luas”. Keterangan Akbar nampaknja perlu mengingat di Tjipajung itu tak hadir orang-orang SOMAL, organisasi-organisasi mahasiswa lokal, GMSOS dan djuga PMII, jang berafiliasi dengan NU. PMII memang dua hari sebelumnja minta disertakan, tapi tak bisa. “Karena alasan teknis”, kata tokoh GMKI Binsar Sihanipar. Seorang peserta sementara itu mendjelaskan: “Soalnja djuga karena PMII belakangan ini tak pernah muntjul dalam kegiatan bersama”.

Ketjewa. Betapapun, pelbagai kelompok mahasiswa jang tak diwakili di Tjipajung agaknja tak perlu merasa ketjewa. Pertanjaan dan pendapat jang dikemukakan disana, sebagian besar menjangkut soal kebebasan kritik dan ruang gerak generasi muda setelah pidato Presiden 6 Djanuari dan larangan Kopkamtib terhadap “aksi-aksi ekstra-parlementer”, kurang-lebih sama dengan isi hati banjak mahasiswa lain. Jang tak begitu puas malah mungkin para hadirin di Tjipajung sendiri. Majdjen Ali Murtopo memang datang sendiri. Seraja sesekali mengutjapkan terima-kasih kepada pertanjaan-pertanjaan kritis–meskipun hati-hati jang dikemukakan mahasiswa, Aspri Presiden itu memang mengesankan hadirin sebagai orang jang tahu banjak, dan lebih penting lagi: ia berbitjara dengan profil merendah, tapi jakin. “Tapi waktu terlalu sedikit bagi kami” kata moderator sidang berikutnja setelah Ali Murtopo pergi, “hingga banjak jang tak sempat bertanja”. Karena itulah agaknja pertanjaan-pertanjaan disiapkan buat pembitjara esok harinja: mereka menunggu Djenderal Sumitro. Harapan tjukup besar diantara hadirin bahwa perwira tinggi penting dari Hankam Kopkamtib itu akan datang. Sebab, kata Harry Tjan, bekas pemimpin PMKRI dan Partai Katolik, “suatu kemenangan moril bagi saudara-saudara karena berhasil mengundang tokoh-tokoh besar kepertemuan.

Ternjata esok harinja Djenderal Sumitro berhalangan. Sebagai wakilnja ialah Majdjen Poerbo S.Soewondo, dari G-5, Asisten Teritorial Hankam. Berdjas dan berdasi abu-abu, perwira jang belum banjak dikenal ini (“karena saja djarang masuk suratkabar atau TV”, seperti di katakannja sendiri) membatjakan teks tjeramahnja dengan nada rendah. Ia mengulangi beberapa prinsip jang sebelumnja telah dinjatakan fihak Kopkamtib, terutama tentang keharusan menjalurkan pendapat lewat DPR, Universitas dan pers, dan larangan “aksi-aksi ekstra parlementer”. “Kalau jang saja kemukakan ada jang kedengarannja berbeda dengan jang sudah dikemukakan Pak Mitro dalam pertemuan dengan pers beberapa hari jang lalu, harap beritahu saja dulu sebelum dimuat dalam koran”, katanja kepada wartawan-wartawan jang hadir. Majdjen Poerbo memang tjukup berhati-hati. Seluruh tanja-djawab di rekam oleh adjudan, dan ia berusaha mendjawab sesuai dengan kedudukannja. Ia djuga minta agar para penanja menjebutkan namanja, lengkap dengan nama organisasinja–jang menjebabkan para mahasiswa tertawa, sampai Majdjen Poerbo menjatakan seraja senjum halus: “Saja bukan informan”.

Betot. Dan pertanjaan-pertanjaanpun, atau pernjataan, datang santer. “Interpretasi Pemerintah tentang stabilitas tak sama dengan interpretasi generasi muda”, kata Theo Sambuaga dari GMNI. Ia nampaknja mengharapkan adanja tjara-tjara jang tepat buat menghubungkan kehendak pemuda dengan Pemerintah, sebab “dimanapun djuga tak mesti hanja DPR jang mendjadi salurannja”. Seperti menjambung itu, Ato dari HMI menjatakan pula: “Kalau ada delegasi” – maksudnja tentulah sedjenis aksi “ekstra-parlementer”–“jang mendatangi fihak Pemerintah itu tak berarti bukan mereka tak ingin mempergunakan saluran jang ada, tapi soalnja karena dengan tjara itu daja betotnja lebih efektif”. Djuga nampaknja peran universitas sadja tak dianggap tjukup. Seperti dikatakan Abdullah Puteh dari HMI: “Sasaran pembangunan ialah masjarakat. Mahasiswa sebagai kader pembangunan harus punja kegiatan-kegiatan masjarakat”. Dan kata Chris anak Timor: “Terhadap kegiatan ekstra parlementer, Pemerintah terlalu menitik beratkan tindakan jang terlalu pagi. Padahal kegiatan itu masih ada dalam batas-batas. Tidakkah Pemerintah diliputi ketakutan jang berlebih-lebihan? Seolah fihak keamanan tidak jakin bisa menanggulangi penunggangan”.

Dari semua itu nampak ada ketjemasan bahwa kebebasan gerak generasi muda akan habis, dan hilanglah benih-benih kepemimpinan karena “ketjurigaan penguasa terhadap radikalisme. Seperti dinjatakan Ketua Umum GMNI Soerjadi “Radikalisme sangat diperlukan, dalam rangka sekolah kepemimpinan dimasjarakat. Ini termasuk penting buat pembangunan, djuga pembangunan ekonomi sebab kita tak tjukup dengan teknokrasi”. Bagi Soerjadi, radikalisme memang mungkin sadja ditunggangi, tapi tidak hanja radikalisme sadja jang bisa di tunggangi “Pidato Presiden didepan RS Pertamina dan instruksi Kopkamtib mungkin memang ada dasar untuk ketjurigaan”, kata Soerjadi pula, “tapi djangan memvonnis, djangan mengedjut kan hendaknja. Sebaiknja tempatkan kewaspadaan-dulu, baru ketjurigaan”. Lagipula, seperti ditanjakan Tigor Siagian dari GMKI seolah-olah menggugat, “apa batasan ekstrim dan tidaknja suatu gerakan?” “Tidak bidjaksana kalau ruang gerak generasi muda terlalu dibatasi”, kata Tigor pula. “Itu akan menimbulkan frustrasi, dan apakah itu menguntungkan, sebab kalau frustrasi jang tertahan-tahan itu terus, bisa timbul kebakaran”. Ia menundjuk tjontoh Pakistan.

Tapi seperti jang sebenarnja sudah bisa diduga, pernjataan pernjataan deras sematjam itu tak semuanja bisa terdjawab. Waktu dihari Djum’at itu buat Majdjen Poerbo terlalu singkat, dan ia pun sudah menjatakan lebih dulu sebelumnja angan over estimate saja”. Bagaimanapun pembitjara dari Kopkamtib itu menjatakan: “Idealisme tidak di matikan, sebab kalau begitu kita sudah runtuh”. Ia mengulangi lagi perlunja forum komunikasi seperti diskusi Tjipajung itu. Meskipun, persis sewaktu tjeramah Majdjen Poerbo, panitia didatang polisi dan harus menghadapi Kodim jang menanjakan surat idjin diskusi hari itu nampaknja para mahasiswa harus pertjaja bahwa usahanja tidak akan sia-sia. Majdjen Ali Murtopo semalam sebelumnja berkata: “Friksi-friksi itu baik karena bisa menudju kearah perbaikan, asalkan semua fihak bisa menahan diri”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: