Percobaan PSSI Pra Olimpiade

iswadiTempo 4 Maret 1972. Tim PSSI Pra Olimpiade melawan kesebelasan Odense dari Denmark. PSSI bermain jelek, juga Odense. hasilnya 0-0. ketika PSSI bermain dengan Dynamo, berakhir 6-3. kali ini PSSI baru menemukan bentuknya.
INILAH pertandingan “tryout” PSSI jang pertama –melawan Odense dan Dynamo – setelah pimpinah PSSI memutuskan untuk memberangkatkan kesebelasan Nasional ke Prelimpik di Rangoon. Dengan materi pemain jang itu-itu djuga, penampilan formasi penjerang Jacob-Waskito–Kadir didukung oleh penghubung Suaib-Iswadi-Ronny, lebih banjak mengetjewakan penonton. Jacob Sihasale jang mendapat tugas ekstra turun kebawah untuk membuat kombinasi menggiring bola kedaerah pinalti lawan terlalu sibuk disudutnja sendiri. Sehingga menarik pula Waskito jang memang lebih tjondong untuk bermain dipinggir. Sementara gerakan-gerakan terdjadi disudut kanan, daerah pinalti lawan memang kelihatan kosong, ketjuali Kadir jang sekali-sekali masuk kedalam menjambut umpan melambung. Tapi apa jang dapat dibuat Kadir pada posisi runtjing penjerang, djika poroshalang Odense berukuran pemain bola basket.

Ketimuran. Momen-momen demikian bukan satu dua kali terdjadi, malahan sampai ada penonton mengedjek: “Pindahkan gawang itu kemuka Jacob”. Sesungguhnja Jacob sore itu bukan tidak fit. “Tjuma dia bermain dengan kedua kaki tanpa kepala”, komentar seorang wartawan. Lebih-lebih Iswadi dan Ronny jang diharapkan bisa membikin terobosan jang mengagetkan, ikut repot mengkutak-kutik bola. Saat berhadapan dengan pemain-pemain Denmark itu jang sejogjanja boleh didjadikan pasangan berlatih jang haik, tidak dimanfaatkan semestinja dalam mengembangkan kerdjasama barisan penjerang. Mengapa bisa begitu? Inilah antara lain kebiasaan “ketimuran” PSSI: melawan tamu jang sopan dilajani pula dengan tidak kurang sopannja. Dengan kata lain lawan bermain djelek, tuan-rumah djuga bermain sama djeleknja.

Tapi satu hal tak terbantah. Setelah Inendapat gemblengan fisik dan pengawasan dokter setjara intensif selama beberapa minggu di TC, kesegaran fisik anak-anak PSSI boleh dibanggakan. Berkat kesegaran itu kelihatan sekali semangat bertanding menjala-njala, meski pada achirnja sia-sia. Sementara barisan belakang PSSI Juswardi, Anwar, Saleh dan Mudjiadi dan kiper Judo tidak mendapat udjian sebagaimana jang diperlukan untuk menjusun pertahanan jang berdisiplin. Sebab lawan bukan sadja djarang-djarang menembak, terlebih lagi kombinasi dan daja tembaknja tidak berbahaja.

Kosasih Purwanegara SH, Ketua Umum PSSI setelah menjaksikan team pra-Olimpik Indonesia itu mengatakan kepada TEMPO, “mungkin harapan saja terhadap mereka terlampau tinggi”. Tapi apakah kemudian ia mendjadi putus harapan dengan mutu permainan tersebut? “Saja kira mereka terlampau kesusu, ingin mengedjar kemenangan, sehingga lupa bermain setjara wadjar”. Dia benar. Bagaimana bermain setjara wadjar pada waktu itu. itulah sialnja! Kosasih kemudian menjimpulkan komentarnja: “Rasanja tidak pernah saja melihat PSSI bermain demikian lemah. Seolah-olah mereka sudah lama tidak bertanding”.

Keketjewaan penonton terhadap prestasi PSSI ketika berhadapan dengan Odense (0-0) dihiburkan oleh permainan Dynamo jang efisien dan efektif. Agaknja kemenangan kesebelasan asuhan bekas Coach Nasional Sovjet Uni, Katchalin, terhadap Odense (4-2) mengurangi ketegangan “takut kalah” pada anak-anak PSSI. Sebab hampir disemua lini lawan lebih kuat — ketjuali kiper Tomaz. Kerdjasama regu dan skill perseorangan lawan sekelas lebih tinggi. Inilah barangkali jang membikin Judo Cs boleh tidur njenjak. Kegandrungan harus menang tidak lagi merupakan beban psikologis jang mentjekam.

Frustrasi. Dan memang dibawah sorotan pembesar-pembesar Presiden Suharto, Menlu Adam Malik, Gubernur Ali Sadikin dan 60.000 penonton, kesebelasan Indonesia bermain begitu kendor. Sampai-sampai Judo ogah-ogahan memperlihatkan keahliannja. Masuknja Mahful Umar menggantikan Mudjiadi dalam suasana babak pertama tidak menolong banjak pertahanan Indonesia jang bermain kurang berdisiplin.

Sementara itu sorak-sorai penonton jang mengungguli anak-buah Djamiat berubah mendjadi suara trustrasi dan selandjutnja berbalik mendjagoi Kesebelasan Dynamo Tbilisi jang bermain amat tjemerlang. Ketinggalan 0-4 dibabak pertama bukan sadja mengantjam kekalahan jang lebih besar, malahan tidak mustahil keberangkatan ke Rangoon bisa dibatalkan. Judo jang selam ini dipudji-pudji, harus maklum mengapa ia sore itu, ditjatji maki Ada jang mengedjeknja supaja matanja diperiksa dokter. Ada jang bertanja mengapa reflek Judo mendjadi beku. Beginilah nasib pemain bola.

Tapi bukan sang nasib sebenarnja harus dipersalahkan. Pasangan lini depan PSSI dengan menarik Iswadi ketengah nampak sekali kurang mantap. Dan Djamiatpun dibabak kedua merubah ketempat asalnja disajap kanan untuk kemudian menarik Jacob ketengah. Permainan mendjadi hidup. Terobosan Jacob dan Waskito djelas arahnja. Dari sisi kanan Iswadi merobek pertahanan lawan sambil membuat trekbal ketengah. Hasilnja: Jacob, Kadir dan Waskito menemui bentuknja semula.

Taktis. dakah PSSI harus kembali pada formasi lama dilini depannja? Inilah pertanjaan taktis? Dan sudah barang tentu djawabnja harus diberikan sesuai dengan kondisi lawan. Terlalu pagi untuk menarik kesimpulan hanja dari satu pertandingan sadja. Tapi jang djelas perubahan dibabak kedua merupakan titik balik bagi harapan jang telah punah. Dari segi taktis ini orang mengharapkan peranan Djamiat jang berada dipinggir lapangan untuk mengisi inteligensi kesebelasannja.

Skor kik-balik 3-6 setelah terlebih dulu ketinggalan 0-4 sekaligus melegakan suporter PSSI. Potensi barisan depan dan penghubung Indonesia dengan hasil 3 gol dalam waktu 45 menit perlu dipupuk dan dikembangkan setjara lebih mantap. Sementara pertahanan PSSI jang tidak perlu kebobolan 6 gol–andaikata Judo bermain dalam bentuknja jang biasa – benar-benar memeras otak Komisi Teknik untuk membikin sistim pertahanan jang lebih kokoh. Sebab dalam pertandingan melawan Dynamo dibabak kedua berdasarkan tjatatan Katchalin–move-move serangan Indonesia sedikit lebih berbahaja dari Dynamo. Kalau sadja bentuk serupa itu dapat dipertahankan di Turnamen pre-Olimpik bulan depan, tiada seorangpun ragu: Indonesia akan mendapat tiket ke Munchen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: