Tumbal Witarsa

Tempo 12 Februari 1972. Pemberangkatan PSSI A ke Rangoon dibarengi dengan dilepasnya Aang Witarsa sebagai pelatih. Ia digantikan oleh jamiat. Konon, pengunduran-dirinya itu karena rencana kerja yang ia usulkan ditolak oleh PSSI. HIDUP PSSI seperti tjuatja. Mudah berubah seperti musim pantjaroba. Suasana tjerah bisa tiba-tiba berubah gelap: keputusan pemberangkatan team ke pre-Olimpik Rangoon diikuti dengan berita dilepasnja Aang Witarsa dari team PSSI A. Dan dalam suasana gelap ini orang mereka-reka.

Apa jang sebenarnja terdjadi dibalik siaran pers PSSI tanggal 31 Djanuari jang lalu? Benar Pimpinan PSSI dalam batas waktu jang didjandjikan mendjatuhkan pilihannja. Tapi mengapa Aang Witarsa arus diganti Djamiat dan djustru terdjai disaat-saat rampungnja penjusunan team prelimpik Indonesia? Mengapa para rekan Witarsa tidak membela renjana kerdjanja, pada hal mereka tahu Sjarnubi tidak lebih banjak pengetahuan sepakbolanja dari bekas kanan-luar PSSI ini? Adakah karja Witarsa selama melatih PSSI ditahun 1971 dinilai gagal? Ataukah ia hanja korban permainan Sjarnubi jang berambisi keras menduduki singgasana PSSI? Masih banjak lagi jang bisa di tanjakan disekitar persoalan ini, meski djawabnja tidak selalu menggembirakan.

Kangen. “Kangen rumah”, kata Irdjen Polisi Sutjipto Danukusumo, Ketua I PSSI, kepada pers, “Witarsa sudah terlalu lama meninggalkan rumah sedjak Merdeka Games Agustus tahun lalu”. Rupanja itulah djawaban jang sudah di stel dulu untuk menghadapi pers. Karena disamping Ketua I PSSI itu, beberapa Pimpinan lainnja menggunakan sendjata serupa untuk menangkis pertanjaan para wartawan. Dan djika ditanja lebih landjut tentang latarbelakangnja, semua dalam satu koor: “Tidak tahu”. Siapa jang lebih tahu kalau begitu? Witarsa sendiri barangkali. “Tidak, saja tidak mengundurkan diri dari Komtek”, katanja pada TEMPO disuatu pagi di TC Senajan sehari setelah pengunduran dirinja tersiar. “Saja hanja menjerahkan kembali tanggung-djawab. Bukan berhenti dan kalau masih dibutuhkan sebagai pembantu saja tetap bersedia”, tambahnja sambil berusaha mengekang emosi seorang jang masih penasaran. Tapi ketika didesak lebih landjut, Witarsa pun tidak merasa tersudut. “Itu biasa. Djika rentjana kerdja seorang coach tidak dapat diterima, ja lebih baik di kembalikan sadja mandatnja”, katanja seraja mengingatkan bahwa tidak benar ia telah “putus arang” dengan PSSI, sebab “mustahil selama 21 tahun hubungan saja dengan PSSI diputuskan begitu sadja”, seperti katanja lagi.

Konon keadaan asrama TC menjedihkan. Pemain-pemain dalam waktu luang lebih banjak duduk-duduk dibangku darurat dipekarangan, karena diruang tamu kursi tidak mentjukupi. Tiada permainan karambol atau TV seperti jang tersedia diasrama TC PBSI. Makanan sehari-hari diatur menurut “menu Pintu 9” alias makanan Padang–tapi menurut Anhar mulai tanggal 1 Pebruari dimulai dengan makmali chusus untuk TC. Sementara itu lapangan Stadion Utama sedang mengalami perbaikan.

Try out. Dalam suasana jang mendjemukan ini Aang Witarsa mentjoba mentjiptakan keadaan segar: try-out ke Djawa Timur melawan Kesebelasan-kesebelasan setempat. Rentjana ini spontan disambut pemain-pemain sebagai rekreasi jang mengasjikkan, disamping sudah barang tentu pendapatan dari hasil pertandingan dapat meringankan atau paling tidak melantjarkan keperluan duit untuk pembinaan TC. Karena bukan rahasia lagi bahwa uang jang didrop oleh Pimpinan PSSI sering “njangkut” diperdjalanan. Usaha Witarsa jang inkonvensionil ini pun dimadjukan kerapat rutine PSSI dan…. ditolak.

Berita “konon” itu tidak dibantah Sjarnubi. Dalam keterangannja kepada TEMPO. Ketua II PSSI ini mengakui terdjadinja debat sengit sebelum “semua hadirin menjatakan persetudjuannja” termasuk djuga Aang Witarsa. “Tapi setelah mengatakan ja, lalu keesokannja minta mundur, ja silahkan mundur”, katanja, “saja harus mendjaga kepentingan nasional”, tambahnja dengan suara menggeledek. Gaja Sjarnubi berbitjara — tidak dirapat tidak diruang tamu – agaknja membikin setiap anggota Komtek mendjadi kikuk, sehingga mereka memilih sikap “ja” untuk menjelamatkan “kepentingan nasional” itu. Itulah sebabnja barangkali Witarsa tidak memperlihatkan sikap konfrontatif, tapi sebaliknja menjatakan bahwa “tanpa Sjarnubi bisa matjet, tapi tanpa saja toch ada Djamiat”, sambil menundjuk rekannja jang sedang melatih anak-anak PSSI dikompleks Senajan.

Djinak. Sinis atau tidak pernjataan Witarsa, kewibawaan Sjarnubi dikalangan penguasa PSSI belakangan ini terasa sekali. Tapi sadar bahwa bukan hanja kewibawaan jang dapat mendjinakkan anak-anak bola, Sjarnubi memutuskan untuk mendatangkan para keluurga pemain dari daerah – meskipun kemudian pelaksanaannja diganti dengan uang-saku ekstra masing-masing Rp 15.000 bagi jang budjangan dan Rp 20.000 bagi jang berkeluarga.

Soal keuangan bagi Sjarnubi bukan problim, seperti berulang kali dikatakan “Saja belum bosan”. Tapi sadar bahwa dropping uang sering tidak lantjar konon biaja TC seluruhnja meliputi Rp 2 djuta–ia-pun mengaktifkan kembali fungsi Bendaharawan Suharso. Malahan kepada anggota Komtek Anhar ditugas kan untuk mengawasi kelantjaran pelaksanaannja.

Tapi, masih ada satu pertanjaan jang agak prinsipiil. Mengapa achir pekan lalu PSSI mengadakan “try out” keluar kota, meski itu hanja ke Bogor? “Itu bukan try-out, tapi dalam rangka latihan crosscountry dan rekreasi di Puntjak”, djawab Sjarnubi tegas. Konon untuk mengatur ekskursi diachir pekan itu PSSI menjediakan bus dan fasilitas iainnja jang berbeda sekali dengan “try-out ke daerah-daerah jang lazimnja memakan enersi pemain: pindah dari satu kelain hotel, naik turun kendaraan mengangkut koper dan lain sebagainja”.

Fanatik. Sjahdan, ditetapkannja Sjarnubi dan Hutasoit masing-masing sebagai Team Manager dan wakilnja, dapat di mengerti orang. Keduanja tjukup fanatik untuk memompa semangat bertanding dan – jang lebih penting — keduanja merupakan tokoh “insentir” jang kenal kondisi periuk nasi para pemain. Tapi bertanding di Rangoon tidak sematamata dengan “teknik periuk nasi” Itu lah sebabnja orang mengembalikan tanggungdjawab teknis kealamat Djamiat pengganti Aang Witarsa. Dan Djamiat sendiri pernah mengatakan pada MI bahwa “pada achirnja toch ia sebagai Ketua Asistensi bidang pembinaan team jang bertanggungdjawab”. Pada dasarnja garis pembinaan jang sebelumnja dilakukan Witarsa adalah garis kebidjaksanaan Djamiat pula, sehingga “tidak perlu orang mengada-ada dengan penggantian coach PSSI A”. Atas pertanjaan siapakah jang membantunja dalam latihan sehari-hari? Djamiat menundjuk pelatih fisik Drs Sukartono. Ini berarti dia sendiri jang akan terdjun kelapangan mendrill latihan teknik dan taktik PSSI A.

Satu hal orang masih ngeri: kemungkinan terulangnja “peristiwa pengunduran Aang” pada diri Djamiat. Meskipun setjara tabah Sjarnubi menjatakan “Saja lah jang bertanggungdjawab atas team pre-Olimpik”, orang mengharapkan dia tidak mentjampuri soal-soal teknik bola. Hal ini bukan tidak diketahui Djamiat. “Nanti diantara kita bertiga tentu diadakan job description” kata Djamiat.

Kalau begitu gedjaia-gedjala “habis gelap terbitlah terang” menandai persiapan PSSI selandjutnja. Dan orangpun menghibur diri: biarlah Aang Witarsa mendjadi tumbal!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: