Bagaimana Menarik Kolor …

Endang WitarsaTempo 1Januari 1972. Tim PSSI B yang dilatih Endang Witarsa kalah melawan kesebelasan Csepel dari Hongaria. Endang mengajar anak asuhannya bermain kasar dan kotor, sampai ke cara menarik kolor. PSSI A lebih baik.

SELAMA masa “tjuti”-nja tiga tahun tidak memegang team PSSI. Dokter Gigi jang lebih banjak berpraktek dilapangan Petak Sinkian daripada dikliniknja, lebih sering mengkritik kegagalan-kegagalan team PSSI diberbagai turnamen internasional. Ia menuntut fasilitas jang sama – seperti jang diberikan kepada rekan-rekan coach PSSI lainnja. Dan is mejakinkan pimpinan PSSI bahwa dengan material pemain dan fasilitas PSSI sekarang dalam waktu 6 bulan is dapat mernbentuk satu team jang paling kurang setaraf dengan team Nasional sekarang.

Maka ketika Sjarnubi Said, Kordinator Komisi Teknik PSSI, membeberkan program pembinaan djangka pendek dan djangka pandjangnja dalam meningkatkan mutu persepakbolaan Indonesia, tersebutlah nama Endang Witarsa jang diberi djatah menangani team B. Sedjumlah 23 orang pemain disediakan antara lain terdapat “veteran” Reny Salaki, Bob Permadi, Risdianto disamping majoritas ex-PSSI Junior seperti Anwar Ramang cs dan pendatang baru seperti Jusuf Bahang, Rany, Soleh, Wibisono dan lain sebagainja.

Impotensi. Prestasi dan reputasi Endang dilevel klub (UMS) tjukup mejakinkan. Tekun, ulet dan selalu tjemerlang dalam menumbuhkan skill dan teknik sepakbola, disamping terkenal sebagai pentjetus pola-pola permainan baru – meskipun ditingkat nasional masih kontroversil. Tapi, kali ini bisakah Endang mentrapkan suksesnja pada team, PSSI B ini? Paling tidak orang mengharapkan bahwa dia dapat membikin beberapa pemain untuk memperkuat team nasional PSSI mendjelang babak kwalifikasi pre-Olimpik.

Dan apa jang terdjadi pada tanggal 19 Desember ketika Team B dihadapkan dengan Kesebelasan Csepel? Kebalikan Endang Witarsa jang lama: tjepat, keras, kotor dan benar-benar mengagetkan! Ia kehilangan paten-nja semula. Djerih-pajahnja selama dua bulan melatih anak-anak muda itu lebih menondjolkan stamina untuk berkelahi. Pola-pola permainan jang dipadjang pada dinding asrama dan latihan-latihan teknik dasar sepakbola hilang bersama meluapnja emosi pemain-pemain muda jang haus kemenangan, tapi kurang pengalaman. Ditimpah oleh permainan lawan jang litjik dan impotensi wasit Muhidin hari depan PSSI B sukar dinilai tjerah. Meskipun sementara penindjau menjesalkan, penampilan Kesebelasan jang baru dilatih dua bulan terlalu pagi untuk ditjoba melawan team profesional Hungaria seperti Csepel.

Tarik kolor. Tapi alasan jang belakangan ini bukan tak disadari Endang. Ia mengadakan kompensasi dibidang mental bertanding, disamping mentjetjer asuhannja dengan latihan fisik dan teknik. 5 hari mendjelang pertandingan ia masih memberi petundjuk bagaimana seharusnja “menarik kolor lawan” dan “menggandjel musuh”. Pendeknja permainan keras dan litjik jang lazimnja mendjadi tjiri-tjiri sepakbola dewasa ini sedapat mungkin dikembangkan pula. “Djangan peduli penonton berteriak-teriak. Itu urusan wasit”, katanja. Kepada Anwar Ramang, Endang mengingatkan semangat ajahnja Ramang dimuka gol. “Kalau latihan djangan sajang badan”, seraja mentjetjer Anwar dengan latihan menembak.

Bagi team B dan Coach Endang, pertandingan lawan Csepel bukan lagi “pertandingan persahabatan”, tapi lebih merupakan satu turnamen besar dimana lawan, jang dihadapi lebih mirip Kesebelasan Muangthai jang mengalahkan Kesebelasan PSSI di King’s Cup IV: Sehingga kesan “balas dendam” sukar dihapuskan. Pagi hari mendjelang kekalahan 4-0 PSSI B dari Csepel, Endang jakin, dengan semangat bertanding seperti jang selalu ditjekoki, “anak-anak dapat bermain menjerang dan bisa membikin dua gol”, seperti katanja kepada wartawan TEMPO.

Ekses. Obsesi tersebut agaknja telah menimbulkan ekses seperti jang disaksikan 25.000 penonton. Dan dalam bentuk ekstrim jang diperlihatkan gelandang Abbas – meskipun tidak dikeluarkan wasit Muhidin – dapat dipastikan is akan diskors PSSI sebagai tindakan “adjar adat”: “PSSI harus segera mengambil tindakan untuk ini dan menindjau kembali dengan teliti sistim TC jang sangat mungkin telah tidak memperhatikan segi pembinaan mental para pemain”, kata Tony Pogacnik kepada Komtek PSSI Djamiat. Tentu sadja bangkit kembali dibenak Tony peristiwa Kesebelasan Indonesia melawan Sovjet Uni digelanggang Olimpik Melbourne 15 tahun jang lalu ketika L.H. Tanoto menghantam Salnikov, sehingga jang belakangan ini mengedjar-ngedjar Him Tjiang jang sebenarnja bukan orang rang melakukan perbuatan itu. Ini berarti anak-anak Endang Witarsa belum mahir memadukan teknik sepakbola dengan permainan litjik seperti jang diperlihatkan poroshalang Csepel Molnar Tibor ketika ia menindju perut Risdianto sewaktu kulit bundar berada diseberang sana.

Tetapi mengapa Tony sampai hati menjinggung-njinggung “gistim TC dan pembinaan mental”? Adakah sistim TC sekarang jang hanja ingin mengedjar sukses, tapi tidak ditopang keuangan jang lajak menjebabkan timbulnja ekses-ekses tersebut? Meskipun pertanjaan ini agak mengada-ada, satu hal perlu ditjatat: selama dua bulan mengurusi team. B, Endang telah mengeluarkan dari sakunja pribadi hampir Rp 200.000 sementara menanti dropping dari Pimpinan PSSI. Meskipun dia tidak pernah mengumbar keluar, paling tidak itu mendjadi buah tutur dikalangan anggota-anggota team B. Dan tidak mustahil keadaan ini menumbuhkan solidaritas negatif dikalangan anak-buahnja. Sehingga petuah sang pelatih – jang kurang pandai bitjara ditafsirkan melebihi makna jang sebenarna.

Kosasih Purwanegara SH, Ketua PSSI, mengakui tentang kesulitan keuangan PSSI jang kumat lagi belakangan ini. “Saja tahu”, katanja, “bukan hanja team B, kesulitan serupa menimpa pula team A”. Tetapi apa jang membikin Ketua PSSI lebih malu adalah “persoalan mental” jang menular kediri Endang. Konon Kosasih setjara resmi memohon maaf kepada Jang Mulia Dubes Hongaria, Molnar, ketika diperoleh kabar bahwa Dubes Hongaria ini dibentak-bentak oleh Coach PSSI B Endang. Meskipun sementara orang tidak sepenuhnja membenarkan tindakan seorang Dubes langsung mentjampuri tetek-bengek sepakbola tanpa menanggalkan pangkat kebesarannja.

Makan orang. Tapi apa kata Coach Endang tentang permainan anak-anaknja? Barangkali inilah pertjikan harapan jang masih boleh dinantikan. “Pertandingan jang kita nanti-nantikan telah selesai. Banjak sekali peladjaran jang kita peroleh dari kesalahan-kesalahan kita. Kesalahan terbesar: terlalu keras dan kasar, sehingga kita hanja melihat orang. Itu semua kita tak inginkam Tapi saja mengerti anak-anak masih muda, bepat marah dan mendjadi panas”. Selandjutnja ia mengakui bahwa “selama dua bulan saja selalu menekankan bermain keras dan litjik seperti jang terdjadi dimana sadja, bahkan di World Cup. Namun mementingkan makan orang, itu kesalahan besar”. Mengenai kelitjikan ia berterus terang bahwa anak-anaknja masih hidjau dibanding dengan lawan. “Kalau wasit sadja tidak pandai melihat, apalagi para wartawan”. Ia menekankan djuga “dalam mewakilkan Indonesia kalian tak dapat berbuat sekehendak hati sadja”. Mengapa Endang tidak berusaha menenangkan anak-buahnja? “Saja ikut meluap ketika melihat lawan mengimbangi dengan permainan litjik. Ini kesalahan saJa”.

Dalam pidatonja dihadapan para pemain itu, ia berusaha memulihkan kepertjajaan asuhannja: “Kita akan TC 2 bulan lagi. Buktikan bahwa kita bisa main bola!”.

Tidak seorangpun menduga “vonnis” PSSI telah didjatuhkan. Ketika team A unggul 1–0 terhadap Csepel dibabak pertama, suara mike mengumandang bahwa pertandingan revanche anara PSSI A dan Csepel akan berlangsung pada sendja Hari Natal –tanpa menjebut lagi PSSI Selection jang diharapkan terdiri dari satu atau dua pemain dari team B. Paling tidak itulah hukuman pimpinan PSSI terhadap team B, sementara tersiar kabar bahwa nasibnja akan ditentukan dalam suatu rapat Pengurus PSSI.

Setelah serangkaian kemenangan-kemenangan Csepel terhadap kesebelasan-kesebelasan PSMS Medan (3–0), Pertamina (2–1), Bulog (4–0), Persib (4–0), Persebaja (7–2) dan PSSI B (4–0), koran-koran muntjul dengan djudul kekalahannja jang pertami, 0–2 dari Kesebelasan PSSI B. Semula dugaan orang setelah menjaksikan bagaimana anak-anak Magyar melajani permainan keras dan kotor dari PSSI B dengan akal litjik – orang mengharapkan akan suatu peladjaran bermain bola jang sesungguhnja. Tapi harapan penonton baru setengah terkabul, mereka bennain terbuka dan banjak menjerang dengan kombinasi rapi tanpa bisa menembus lapisan pertahanan PSSI A. Ini kemudian diakui oleh Kosasih Purwanegara, Ketua PSSI (jang perannja achir-achir ini kurang menondjol), bahwa Kesebelasan Csepel ini lebih baik permainannja dari jang di perlihatkan tahun lalu. Djadi, adakah kemenangan PSSI A itu berarti meningkatnja mutu Kesebelasan ini? Paling tidak orang boleh lega hati dalam menjongsong pembentukan Kesebelasan pre-Olimpik Indonesia.

Dengan permainan back Mahful Umar jang kurang mejakinkan dan ex-Junior Andi Lala sebagai runtjing penjerang jang kikuk, pemain-pemain kawakan Iswadi, Kadir, Jacob dan Ronny berhasil mengimbangi lawan dengan serang-balasan jang mendadak. Dibantu oleh gelandang Anwar Udjang dan Saleh Rama Daud dan back Juswardi dalam vormnja jang tidak terlalu luar biasa, serangan-serangan Csepel jang sekali-sekali tak bendung, achirnja kandas disamber kelintjahan pendjaga gawang Judo.

Obrak-abrik. Seolah-olah bagi Csepel momok permainan PSSI B masih menghantuinja, sehingga kombinasi permainan jang manis tidak berani diriskir oleh penjelesaian achir jang nekad.

Tapi inilah kescmpatan orang untuk menilai Kesebelasan PSSI dengan Andi Lala dan Iswadi sebagai penghubung. Ditarohnja jang pertama ini ditempat Sutjipto jang selama ini sudah diganti Djunaedy Abdillah, memberi kesan akan usaha PSSI untuk merubah langgam permainan dengan tempo jang lebih tinggi. Sementara Iswadi bersama Ronny sebagai, penghubung paling tidak membesarkan hati Anhar bahwa sarannja untuk menempatkan Iswadi sebagai pengumpan dan tukang obrak-abrik pertahanan lawan, tidak sia-sia. Lebih-lebih move Iswadi jang menjamber dan membobolkan gawang Fater barangkali jang terindah selama pengalamannja.

Kalau menang atau kalah dalam pertandingan sepakbola tergantung pada peluang jang ada, itu tak perlu diragukan. Tetapi bagaimana mentjiptakan dan memanfaatkan peluang itu nampaknja selama ini masih mendjadi permasalahan bagi dunia sepakbola – tak terketjuali PSSI tentunja. Umpan dengan timing dan arah jang tepat seperti jang dilakukan Ronny baru bisa menghasilkan gol setelah Jacob memanfaatkan setjara djitu pula. Adakah kemenangan PSSI A terhadap Csepel menundjukkan kematangan dan kemantapan team ini? Kalau begitu, perasaan lega benar-benar diiringi harapan janglebih tjerah: pintu Olim limpiade Munich bisa lebar terbuka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: