Dari Bali Berkisah Tony Pogacnik

Tempo 21 Agustus 1971.Eks coach sepak bola asal Yugoslavia Tony Pogacnik dianggap orang pertama meletakkan dasar-dasar persepak bolaan modern di Indonesia. Pada tahun 1962 teamnya dapat mencapai standar internasional.

ACHIR-ACHIR ini nama Tony Pogacnik kembali disebut-sebut dalam hubungan dengan keputusan PSSI untuk mendatangkan coach dari luar negeri. Bekas Coach sepakbola asal Jugoslavia ini dianggap sebagai orang pertama jang meletakkan dasar-dasar persepakbolaan modern di Indonesia. Di. manakah dia sekarang dan apa pula kerdjanja? Reporter TEMPO Yusril Djalinus jang ikut meng-cover Pekan Olah raga Peladjar Se-Indonesia di Surabaja sempat mengundjungi suami-isteri Tony di Kuta, Bali. Disana mereka melewati hari-tuanja sambil sekali-sekali mengenang masa lampau selama mengasuh anak-anak sepakbola. Berikut ini laporannja:

“Saja tidak tahu apakah Tony mau bitjara mengenai sepakbola”, kata njonja Zdenka Pogacnik. “Dia sudah lama tidak mengikuti perkembangan sepakbola”, katanja lagi dengan wadjah membajangkan rasa segan. Saat itu Tony sedang pergi ke Denpasar dan perempuan jang kini sudah djadi gemuk dan berusia sendja itu achirnja mengandjurkan kembali sadja sedjam lagi.

Rumahnja besar, pekarangannja luas. Suasana romantis pantai Kuta, 7 km dari Denpasar, tampaknja mengilhami sepasang suami-isteri tersebut untuk mendirikan pension jang diberi nama “Waru Laut”. Wisma turis jang terletak disebelah Kuta Hotel itu menurut pengakuan Tony tidak pernah diiklankan. Namun sales promotion terdjadi dari mulut kemulut.

Ketika berhadapan dengan Tony jang kini berusia 58 tahun, kesan pertama, memang nampaknja ia ingin menghindar kan pertjakapan tentang sepakbola. “Saja sudah tidak tahu mengenai sepakbola”, udjarnja dalam bahasa Indonesia jang fasih, tapi dengan aksen Eropa jang belum luntur. Tetapi siapa jang akan pertjaja akan pernjataannja itu. Dan memang achirnja diakuinja bahwa selama ini ia masih mengikuti perkembangan persepakbolaan nasional dan internasional melalui koran-koran dan RRI. Siang itu bekas poros-halang Kesebelasan Nasional Jugo ini bertjelana pendek tanpa sepatu. Diruang tamu jang berinterior modern dengan motif Bali, ia mentjoba menjelusuri djedjak-djedjak beberapa tahun jang silam, tatkala ia masih aktif mendjadi pelatih PSSI.

Tanpa dasar. Tahun 1954 Tony tiba di Indonesia dan segera melihat bahwa pemain-pemain Indonesia pendek-pendek. Maka permainan harus ditekankan pada ketjepatan reaksi. Tony melihat pula kemauan keras dari para pemain. Tetapi kurang diimbangi dengan pengeta-huan teknis. “Akibatnja sering terdjadi teknik spektakuler jang tidak efektif”. Tony berpendapat bahwa sebaiknja pemain-pemain Indonesia menghindari diri dari permainan keras, sebab “dalam persepakbolaan”, katanja “jang penting siapa jang lebih dulu dalam djarak 5 meter, bukan 100 meter”. Sambil mengangkat kaki-kanannja keatas kursi, ia meneruskan: “Pemain-pemain kita dalam permainan individuil sulit, tapi kalau bermain bersama lebih gampang”. Oleh karena itu dalam menjinggung pola permaman jang tjotjok bagi pemain-pemain Indonesia, ia berkesimpulan: “Bagai-mana keadaan orangnja, begitu pula sepak bolanja”.

Terhadap mereka jang meragukan kemampuan pemain-pemain Indonesia dilevel Internasional dikatakan sebagai “pembitjaraan tanpa dasar”. Sebagai tjontoh ia mengulangi kisah pembentukan Team PSSI ditahun 1961, tatkala ia nendapat tugas menjusun Kesebelasan PSSI untuk Asian Games IV 1962. Pada Maret 1961 sesudah team digem-bleng di TC selama 2 minggu ditjoba melawan Persidja. Ternjata PSSI kalah. Ramailah ketjaman penggemar sepakbola dan pers. “Bagi saja pertandingan itu merupakan sukses besar”, kata Tony mejakin-kan. “Sebab tudjuan pertandingan itu adalah untuk menghadapi Asian Games dan melalui pertandingan “try-out” tersebut terlihat-lah kelemahan-kelemahannja. 5 bulan kemudian mereka dihadapkan dengan Kesebelasan Torpedo jang waktu itu mengadakan kundjungan ke Indonesia. Mendjelang pertandingan, Ketua PSSI Abdul Wahab datang menemuinja dan menanjakan apakah PSSI bisa menang melawan Torpedo? Konon apabila PSSI kalah dalam pertandingan tersebut Pedjabat Presiden Dr Leimena akan djatuh sakit. “Kalau Torpedo ingin menang mereka harus bekerdja keras”, djawab Tony singkat. Hasilnja PSSI dapat menahan Torpedo. Kedjadian serupa hampir terulang ketika PSSI menghadapi Kesebelasan Nasional Jugoslavia. Meski pun hasilnja 3-2 untuk kesebelasan Tamu, namun PSSI menun-djukkan prestasi jang bermutu.

Skandal Senajan. Tetapi disaat optimisme memuntjak mendjelang Asian Games 1962, team jang dibinanja mengalami kehantjuran. Menjinggung pengalaman ini, Tony seperti terhenjak ketjapaian dan terbajang kesedihan pada garis-garis wadjahnja jang keriput. Ia hanja dapat mengangkat kedua bahunja sambil mengarahkan pandangannja kelepas pantai Kuta. “Skandal Senajan” pada awal 1962 atau peristiwa makan suapnja pemain-pemain asuhannja ketika itu, mengachiri semua usaha dan harapannja. Tony terpaksa memulai kembali mentjari pemain-pemain baru. Setelah itu ia minta ber-henti, tapi PSSI tidak mengizinkan. “Kalau sadja tidak terdjadi suap-suapan team itu dapat mentjapai standar internasional”, katanja dengan nada menjesal. Meskipun kemudian ditambahkan bahwa “hal itu bisa sadja terdjadi dimana-mana”.

Sesungguhnja jang mengachiri karier Pogacnik dibidang sepakbola terdjadi pada tahun 1963. Ketika itu ia memimpin Kesebelasan PSSI ke RRT. Disana lututnja tjedera. Setahun kemudian ia dengan resmi minta berhenti. pakah Tony berhasil atau gagal selama melatih pemain-pemain Indonesia? “Kalau pekerdjaan saja di Indonesia dinilai tidak baik, saja akan terima penilaian ini”, katanja dengan perasaan sedih. Pernjataannja itu mungkin disebabkan sikap PSSI dan Pemerintah selama ini terhadap dirinja. “Ketika saja menderita sakit dan dioperasi, tak seorangpun jang datang men-djenguk. Bahkan sampai sekarang selembar suratpun tidak pernah saja terima dari PSSI maupun Pemerintah”. Rupanja Tony sendiri tidak pernah dengar bahwa dalam waktu singkat ini, Pimpinan PSSI akan mengadjukan usul kepada Pemerintah untuk menganugerahi Satya Lentjana kepada beberapa pemain dan pengurus jang dinilai ber-djasa bagi persepakbolaan Indonesia, termasuk Toy sendiri.

Pekerdjaan suatu bangsa. Coach dari luar negeri? “Sebaik ia mengenal dulu kondisi dan situasi sepakbola di Indonesia”. Sebab katanja, kalau pelatih tersebut mentrapkan latihannja dengan prinsip jang dilakukannja dinegeri. Usahanja, Tony kuatir tidak akan berhasil. Kemudian pendapatnja mengenai pelatih nasional seperti Djamiat, Toh menjesalkan keadaan sekarang, “Djangan Djamiat masik kantor, sebab melatih adalah tugasnja. Berikan pekerdjaan administrasi kepada orang lain”. Tampaknja Tony tidak senang apabila pelatih-pelatih jang dapat dikatakan baik seperti Djamiat waktunja ternjata lebih banjak tersita dikantor daripada dilapangan. “Saja harap pelatih jang akan datang tidak akan mengalami kesulitan seperti saja” tambahnja. Maksudnja selama Tony mendjadi pelatih masa TC tidak teratur dan selalu mengalami kesulitan mengawasi pemain apabila mereka telah dikembalikan kedaerah. “Kalau mereka selesai, kembali kedaerah, kemudian kalau mereka dipanggil lagi masuk TC, maka latihan harus dimulai dari nol. Dan sering-sering pemain-pemain jang telah kembali kedaerah tidak main sepakbola lagi”.

Ditanja mengenai PSSI sekarang, Tony mendjawab: “Saja tak bisa memberikan kritik atau petundjuk, sebab analisa saja biasanja didasarkan atas fakta. Kalah atau menang. Djuga mengenai pola permainan, Tony mengulang bahwa “pemain kita harus bermain pendek, kemudian bergerak, over dan pergi”. Kalau Didi (pemain Brasil), menurut Tony. merupakan pemain terbesar didjamanja, karena ia merupakan tipe pemain jang dapat mengatur penjerangan, akan tetapi Pele lebih berhasil sebagai pemain individuil dan berfungsi sebagai pemain jang menarik perhatian lawan untuk membebaskan kawan-kawannja dari lawan. Dan terhadap pemain djenis Pele komentar Tony: Pele merupakan pekerdjaan suatu bangsa”.

Jaya Karta. Mengenai profesionalisme ala Pardedetex, ditolak Tony. Meskipun mengenai prof-nja sendiri Tony berkata: “Banjak orang mengatakan Pardedetex bukan prof, omong kosong sadja. Boleh bilang sama Djamiat omong kosong, itu prof”. Sampai disini Tony memperdjelas utjapannja jang lugu itu: “Prof adalah business. Apa artinja pertandingan 20 kali setahun dan berapa keuntungan jang akan diperolehnja? Tentu Ali Sadikin akan pusing djuga. Sebab di Eropa klub-klub prof mengadakan pertandingan-pertandingan rata-rata sekitar 60 sampai 8O kali. Ini baru akan mendatangkan keuntungan”. Mengenai Jaya Karta di nasihati Tony supaja “pemain-pemain diberi pekerdjaan, misalnja sampai djam 12.00, kemudian sorenja melakukan latihan. Djangan setiap tanggal satu ambil gadji sadja. Kalau begitu profkan sadja sama sekali.

Mendekati Usia 60 tahun nampaknja Tony masih gemar memohon sepakbola. Tidak djarang ia melihat pertandingan-pertandingan antara klub atau peladjaran di Denpasar. “Tetapi saja selalu menghindari duduk ditempat VIP”. Biarlah sekarang ditengah-tengah rakjat”. Tony djuga tidak memikirkan punja kenegerinja. “Saja telah memiliki Indonesia. Lagi pula saja sudah tidak kuat untuk kembali kesana”, katanja. Konon Tony telah mendjadi W.N.I. dan dengan usaha “Walau Laut” nja ia mengharapkan dalam menghabiskan sisa umurnja dipulau Bali.

Advertisements

2 thoughts on “Dari Bali Berkisah Tony Pogacnik

  1. I Made M D March 2, 2012 at 2:12 pm Reply

    Luar biasa, terima kasih untuk postnya. Terima kasih coach Antun Tony Pogacnik, semoga kerja keras dan jasa-jasamu pada bangsamu ini dapat terus diingat, dan menjadi inspirasi bagi TIMNAS Indonesia dimasa yang akan datang. Sekali lagi, terima kasih coach, semoga tenang di alam sana…

    Mewakili Bangsa Indonesia…

  2. TRIPAMUNGKAS April 13, 2013 at 2:16 pm Reply

    i love youuuuu timnas and antun tony POGACNIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: