Kejuaraan PSSI 1971

Tempo 21 Oktober 1971.Kejuaraan sepak bola PSSI tahun 1969-1971 dimenangkan oleh PSMS Medan. PSMS Medan berhasil merebut gelar 3 kali berturut-turut sejak tahun 1967. PSM Makassar menduduki juru kunci “4-besar”.

TAMPILNYA PSMS Medan sebagai Djuara Kompetisi PSSI periode 1969–1971 menggoreskan tinta-emas dihalaman sedjarah PSSI sedjak Proklamasi sebagai satu-satunja Kesebelasan jang berhasil merebut gelar djuara 3 kali berturutturut dari tahun 1967. Dan sedjarah Sepakbola Indonesia pun mentjatat pula momen-momen jang sebelumnja tidak pernah demikian menegangkan sjaraf seperti jang telah berlangsung di Senajan selama 6 hari diawal bulan Oktober ini. Lebih-lebih setelah Djuara bertahan PSMS menjelesaikan pertandingannja jang ke–7 dan terachir melawan Persidja (i-1), nasib mereka tak ubahnja seperti bola “Artex” jang mendjadi bulan-bulanan ke–22 pemain Persidja dan Persebaja jang saling memperebutkan gelar djuara jang pertama hari Rabu minggu lalu.

Orang boleh sadja mengatakan bahwa “bola itu bundar” ketika Persebaja di kalahkan PSMS 2-3, atau Makassar di tahan PSAP Sigli 2–2, atau jang lebih iseng lagi boleh sadja berkomentar bahwa “bola itu londjong” ketika Persipura dari Irian Barat menjabat Persidja dengan 2-1. Tetapi apapun kata orang, itulah kenjataan jang menentukan djalan Kompetisi PSSI tahun ini. (Lihat Box: Hasil Babak Final Kedjuaraan PSSI 1969/1971).

Djibaku. Dan kenjataan tersebut sekaligus merupakan vonnis terhadap obrolan diwarung-warung kopi sampai didiskusi tingkat tinggi dikalangan PSSI, bahwa PSM Makassar jang favorit menduduki singgasana Kedjuaraan, ditakdirkan mendjadi djuru-kuntji “4-besar” kebalikannja PSMS Medan jang notabene ditinggalkan pemain-pemain terasnja dari Pardedetex beroleh nasib mendjadi Djuara-tak–terkalahkan. Adakah dengan demikian faktor-faktor “nonteknis” lebih menentukan?

Anak-anak Medan menjadari bahwa untuk menempuh kedjuaraan melalui kaki Iswadi–Tjipto–Jacob–Kadir atau jang sekwalitas kwartet tersebut seperti halnja dua tahun jang lalu adalah mimpi belaka. Melihat realitas ini kembalilah mereka kepada taktik-taktik tradisionil jang dirintis pada zaman Ramli cs di tahun-tahun 50-an menjerang gawang lawan melalui udara dengan tandukan kepala. Sudah barang tentu siasat ini bare bisa berkembang apabila disertai setnangat “djibaku” tentara Djepang. Dan ternjata peran ini jang diisi oleh Samran Panggabean, Suwarno, Soleh, Nobon, Wibisono dan Tunrsila tidak sia-sia. Baltkan dibawah kawalan pendjaga-Rawank merangkap Kapten PSMS Ronny Paslah, Samtan sesungguhnja telah berbuat sesuatu jang melebihi toganja. Bukan sadja ia pandai bermain bola dengan kepala, tetapi kedua kaki dan tindjunja tidak djarang ikut mententjak tanpa bola. Inilah kelebihan Medan jang berhasil mendjatuhkan mental Harry Tjong dan Judo Hadianto – dua pendjaga-gawang kawakan jang pernah di miliki PSSI.

“Itu sudah instruksi”, kata beberapa tokoh PSSI ketika mereka melihat Tjong terpantjing mengajunkan tindjunaja kepada Sarman sesaat setelah tendangan sudut. Jang disebut belakangan ini memang lihay dalam momen-momen corner-kick, karena sesaat sebelum bola melambung kemuka gawang, ia sempat menjudutkan Tjong dengan tindjunja kelambung Kiper Persebaja ini. Adegan jang hampir serupa terdjadi pula ketika Medan berhadapan dengan Persidja, di mama Sarman, Suwarno dan Solely bergiliran melakukan intimidasi fisik ke alamat Judo.

“ABC tentara”. Adakah itu semua intstruksi atasan mereka? Wartawan 0lah raga Medan M. Sjarifuddin jang ikut nguping dikamar pakaian PSMS mendjelang pertandingan-pertandingan jang menentukan itu, mentjeritakan kepada TEMPO bahwa Gubernur Sumatera Utara. Marah Halim Harahap melepas anakbuahnja dikamar pakaian dengan intruksi tegas: “Saudara-saudara turut untuk membela nama daerah. Kalau mau menang harus menjerang sebanjak-banjaknja. Untuk menenangkan peperangan djangan tjoba-tjoba bertalian”. Gubernur Sumut jang berpangkat Brigdjen ini memang tidak banjak berbitjara tentang abc sepakbola, tetapi agaknja dengan pemain “abc tentara” tersebut ia menghajati inti persoalan jang sedang di hadapi oleh para tjalon djuara: jang menentukan kemenangan bukan kelebihan teknis semata, tetapi oleh kegigihan mental bertanding. Kompensasi inilah jang menempatkan sang Djuara PSMS sebagai lambang “mental dilapangan jang tak kenal menjerah”.

Tetapi kehadiran Gubernur Sumut tersebut bukan monopoli PSMS. Muhammad Noor dan Ali Sadikin djuga hadir di Stadion Utama Senajan menjertai warganja. Sudah pasti alasannja untuk menambah potensi mental mereka. Ali Sadikin jang baru sadja mengikuti “Djawa Barat Auto Rally” tjepat memburu kembali ke Ibukota. Persidja jang berhasil menundukkan Makassar 1-0 masih harus memenangkan dua pertandingan melawan Medan dan Surahaja untuk memantapkan peluang menjadi djuara.

Setengah djam mendjelang Wasit Kosasih meniup peluitnja sebagai tanda di mulainja pertarungan, Ali Sadikin nampak berada dikamar pakaian ditengah-tengah team Persidja. Fruns Hutasoit dan Tjoek Sugiarto ikut mendampingi. Dalam suasana hening dan diliputi ketegangan para pengasuh dan pertama nampak tjuma bisa Baling menatap tampang. Gubernur DCI Djaya jang berpredikat “Pembina – Olahraga Nasional” sempat mengarttat-amati anak-anak Persidja jang scdang her-warning-tip diruangan jang sempit.

Off-the-record. Dua tahun jang lalu Persidja dapat membendung PSMS di Stadion Siliwangi Bandung dengan 1-1. Dan dua tahun jang lalu Tjipto, Iswadi dan Judo berada dipihak kesebelasan Medan membela pandji Sumatera Utara. Adakah kembalinja ketiga anak Betawi ini kedalam tubuh Persidja dapat Menelorkan kentenangan dalam menghadapi Kesebelasan jang pernah dibelanja? Keraguan selain menggoda. Lebih-lebih kekalahan diluar perhitungan dari Kesebelasan Persipura (1-2) masih senantiasa mentbajang. (Dua tahun jang lalu Kesebelasan dari Irian Barat ini didjebol Persidja 3-0 tanpa balas). Rupanja Tjock Sugiarto, Kepala Ditdjora DCl Djaya mengerti betel perasaan jang terkandung didadaAli Sadikin sebagaintana is mentaklurni pula arti kehadirannja di kamar pakaian itu. Maka sempat Tjock menoleh kepada wartawan TEMPO sambil berbisik: “Nanti kalau Persidja djuara ada sesuatu jang surprise!” Apa itu? “Tunggu dulu. Nanti sadja kalau sudah djuara”, sahutnja kontan.

Bahwasanja Persidja dapat keluar sebagai djuara, itu memang bukan surprise. Tetapi pernjataan Tjoek itu tentunja menjangkut “suatu hadiah jang luar biasa” sebagai balas-djasa kepada regu Persidja. Maka, disamping djandji Gubernur jang masih off–the-record atau dirahasiakan itu, tibalah pesannja jang perlu ditjatat dan dilaksanakan digelanggang. “Kita harus sportiff. Tapi kalau lawan mulai sikat-sikatan, ja kita lajani djuga”, katanju dengan suara agak parau. “Djangan sampai penonton menganggap kita anak ketjil jang bisa di permainkan”.

Memang melepas anak-anak Ibukuta kepertandingon jang menentukan ibaratnja menembakkan bidji Jackpot kesasaran. Untung-untungan. Sinjo Aliandu, Coach Persija jang langsung meladeni mereka dilapangan tahu horsy reputasi “angin-anginan” anak-buahnja. Itu pula sebabnja kehadiran dan petuah Ali Sadikin paling tidak memantapkan perasaan para Pimpinan Persidja disamping menambah moral bertanding Kesebelasannja.

“Memedi sawah”, Tetapi sementara orang melihat perombakan dibarisan belakang Persidja dengan memasukkan Bob Permadi, Muljadi dan Iim Ibrahim mendatangkan manfaat, para suporternja toch tidak dapat memitjingkan mata terhadap lakon Sutjipto. Pemain berkaos nomor 9 jang lebih kesohor dengan panggilan Gareng memang membikin through pass mengedjutkan, jang melalui Risdianto membobolkan gawang PSMS dikala pertandingan baru memakan waktu 2 menit. Tapi dimomen lain tidak kurang indahnja ia menjia-njiakan peluang emas – mungkin jang menentukan kemenangan – tatkala ia menerima umpan bebas beberapa meter didepan Ronny Paslah. Neratja Sutjipto selama tiga hari pertandingan lebih tepat di sebut sebagai “mernedi sawah” untuk menakut-nakuti burung. Permainan Salmon Nasuti0n memang sedap dipandang, meskipun tidak djarang temperamennja memuakkan prang,. Ditambah lagi, dengan gaja Harjanto jang “malu-malu kutjing”, setjara keseluruhan melengkapi Persidja sebagai Kesebelasan Salon.

Lain Persidja lain – Persebaja. Arek-arek Surobojo jang diragukan, pertahanannja ternjata setjara kompak dapat mengembangkan semangat bertanding ala Jacob Sihasale. Ini dibuktikan 7 menit mendjelang bubaran, ketika Kapten Djunaedy Abdillah Input mentjeplos kan, bola kegawang Judo. Sernentara Persidja jakin gelar djuara sudah dikantongnja, pemain-pemain Persebaja meningkatkan tempo permainan. Maka tarnatlah “Djuara 2 menit” ini tatkala dalam scrimage didaerah penalti Persidja, Budi Santoso menggetarkan djala gawang Judo. Inilah peristiwa 5 menit mendjelang bubaran jang terlalu tegang untuk dikenang.

Muntjulnja Medan sebagai Djuara I bukan tidak pantas, berapapun orang mengolok bahwa nasibnja sesungguhnja disepatu ke-22 pemain Persebaja dan Persidja. Namun djatuhnja PSM Udjung Pandang kenornor 4, membuktikan bahwa dalil: the best team – seperti penilaim sementara tokoh sepakbola – tidak selalu wins.

Bagaimanapun dengan usainja Kompetisi PSSI periode 1969-1971, satu hal jang menggembirakan bahwa turnamen jang berlangsung dari tanggal 3 September sampai dengan 6 Oktober tidak terganggu oleh protes-protesan seperti dua tahun jang lalu – ketika Persema Malang mengundurkan diri di tengah djalan. Inilah hasil jang patut di banggakan bagi pihak penjelenggara, meskipun diantara para penggemar sepak bola sudah barang tentu masih meragukan apakah-diantara ke — 8 finalis tersehut ada jang semutu Kesebelasan PSMS Medan dua tahun lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: