Kesebelasan “Pro” Jaya Karta …

Tempo 21 Oktober 1971. Frans Hutasoit, kepala direktorat II DKI yakin bahwa pembinaan basis klub dapat meningkatkan mutu. Timbul pro & kontra di kalangan PERSIJA & penggemar sepak bola. PERSIJA takut pemainnya dipreteli.

UTJAPAN atau ramalan Helenio Herrera-jang mendjadi kenjataan di Italia (lihat box: Musim Semi Sepak Bola), setahun jang lalu diulang kembali oleh Frans Hutasoit. Kepala Direktorat II DCI ini bukan tidak tahu: lain Indonesia lain Italia. Dan betapapun reaksi orang terhadap utjapan klise itu, Hutasoit jakin benar bahwa djalan untuk meningkatkan mutu persepakbolaan di Ibukota dan Indonesia umumnja tidak bisa lain ketjuali melalui pembinaan dari basis klub.

Ditopang oleh “instruksi” Gubernur Ali Sadikin jang beberapa tahun ini amat memperhatikan olahraga–Hutasoit tak ajal lagi mengkontak Djamiat dan Rais. Perundingan tidak bertele-tele. Diotak mereka masih hidup adegan bagaimana “Garuda Mas Veem” diachir tahun 50-an menghimpun pemain-pemain top diklub BBSA dan peran Pardede dengan Kesebelasan Pardedetex nja. “Namun semua itu tjuma semusim sadja dan paling banter hanja mendjamin stabilitas djangka pendek”, kata Rais menerangkan kepada TEMPO tentang asal-muasal ide pembentukan Persatuan Sepakbola Jaya Karta. “Jang dibutuhkan dewasa ini adalah pembinaan jang kontinju dan melembaga”, tambah Djamiat. Trio ini madju selangkah terbirit-birit: menjusun Anggaran Dasar dan setjara formil menjatakan herdiri pada tanggal 17 Oktober 1970 meskipun Jajasan Jaya Raya jang membiajainja baru resmi terbentuk pada tanggal 29 Nopember 1970. Tetapi untuk mendjamin status P.S. Jaya Karta dinjatakan bahwa “Jaya Carta adalah bagian atau tjabang persepakbolaan dari Jajasan Jaya Raya” (Pasal 2 Anggaran Dasar P.S. Jaya Karta). Dan orangpun berkesimpulan bahwa lahirnja Jajasan Jaya Raya sebenarnja didorong oleh kebutuhan menelorkan Kesebelasan Jaya Karta, meskipun jajasan itu beberapa bulan kemudian berhasil meningkat kan usahanja dibidang atletik dan penerbitan. Divisi II.

Tapi ketika kesebelasan itu dalam kandungan, kontroversi timbul. Seperti biasa timbul suara pro dan kontra dari lingkungan Persidja dan penggemar sepakbola lainnja. Jang kontra tjukup pedas komentarnja: “Mentjabut pemain dari lingkungan Persidja sendiri tidak akan menolong sepakbola Ibukota”. Dan ada pula jang mentjap Jaya Karta sebagai “biang kerok jang sengadja merusak perkumpulan lain dengan uang Ali Sadikin”. Bahkan seorang Ketua dari Klub Divisi I Persidja pernah mengingatkan bahwa berbeda dengan BNI–46, Pertamina dan Pardedetex, Jaya Karta jang di pandang sebagai klub profesional ini langsung dibiajai dari anggaran Pemerintah DCI, sehingga kesan “tidak fair” meradjalela dimana-mana.

Apapun kata orang, awal kisah memang penuh prasangka. Setelah dalam pertandingan testing (sebagai sjarat untuk mendjadi anggota Persidja) melawan Indonesia Putera dimenangkan Jaya Karta 1–4, Jaya Karta diterima mendjadi anggota Persidja di Divisi II pada tanggal 30 Mei 1971. Anggota-anggota Persidja lainnja baru merasa lega bahwa pemain-pemain “pro” jang dihimpun Hutasoit dan Djamiat ternjata bukan antjaman langsung bagi mereka. Sebab untuk mengedjar standar Kesebelasan Djakarta Putera, UMS atau POP misalnja, bagi Jaya Karta sungguh tak mudah, tidak semudah orang mengedjar rezeki di kasino. Hasilnja hampir mengetjewakan. Budiman Kusika dari Jajasan Jaya Raya jang ikut menjaksikan pertandingan testing itu, melontarkan komentar jang tjukup menusuk kuping: “Dengan mutu sematjam ini apa jang diharapkan? Lebih baik dibubarkan sekarang daripada membikin malu nanti !”

Betapapun, debut Jaya Karta dalam testing di Divisi II Persidja tersebut dengan mutu jang diperlihatkan menjebabkan orang maklum: tuntutan “masa 3 tahun” Hutasoit dan pengeluaran biaja jang tjukup besar memang masuk akal untuk memungkinkan Jaya Karta ikut bitjara dalam persepakbolaan tingkat tinggi. Dilain fihak, tampilnja pemain-pemain jang masih hidjau dalam testing menjebabkan terhibur pula para pengasuh klub-klub anggota Persidja jang tadinja melihat lahirnja Jaya Karta dengan penuh ketjemasan: takut kalau pemain-pemain top mereka dipreteli satu persatu. Sementara itu fihak pimpinan Jaya Karta diudji pula bagaimana membina team sonder memakai taktik konvensionil: menggoda dan menarik pemain lawan dengan uang.

Uang dan Management.

Semendjak pemuntjulan pertama 27 Maret jang lalu, Jaya Karta seolah mendapat tjuti besar diasrama mereka Djl. Senen Raya 135, gedung bekas kantor P.T. Pembangunan Jaya (lihat box: Benteng Senen). Jaya Karta tidak lagi merupakan topik dikalangan bola.

Tiba-tiba pada awal bulan Desember ini dalam konperensi pers jang pertama untuk menerangkan program Jaya Karta selandjutnja setelah genap setahun, Hutasoit melantjarkan berita jang tjukup menggemparkan. “Setiap pemain dengan segala biaja overhead-nja diperkirakan sekitar Rp 80.000” katanja gamblang di hadapan wartawan-wartawan SIWO. Kontan besoknja mang Usil di Podjok Harian Kompas (4 Desember 1971) “mengutjapkan selamat”, sambil tidak lupa menambahkan, “Hanja rupanja jang membuat ngiler olahragawan-olahragawan lain adalah anggaran untuk setiap pemain perbulannja Rp 80.000”.

Anggaran tersebut klop benar dengan djumlah jang harus dikeluarkan oleh Jajasan Jaya Raya per bulannja, sebesar Rp 2 djuta (Rp 80.000 x 25 pemain). Tapi pantaskah biaja sebesar itu untuk pembinaan P.S. Jaya Karta? “Setiap bulan saja harus menagih iuran dari para anggota Jajasan dengan menahan rasa malu. Ada jang Rp 100.000 ada pula Rp 200.000”, kata Ketua Jajasan, Ir Tjiputra dalam pertemuan dengan para pemain diasrama Djl. Senen Raya. “Saja hanja mengharapkan apabila saudara-saudara kelak sudah mendjadi djuara, djangan sekali-sekkali mendjadi sombong. Bersikaplah seperti sekarang dan djangan lupa pada Jajasan jang memelihara saudara seperti ajah dan ibu saudara sendiri”. Anggaran sebesar itu memang tidak patut dilupakan.

Tetapi menurut ekonom Rais anggaran tersebut sudah meliputi biaja tetekbengek: ongkos dspur, pendidikan, pemeliharaan asrama berikut air dan listrik, transpor, kesehatan dan tabungan di samping uang saku (batja: gadji) kepada ke–25 pemain serta biaja untuk Board of Management (Dewan Pengurus) jang terdiri dari 10 orang. Tapi, kata Rais selandjutnja, “dari anggaran 20 djuta jang telah disediakan sampai Desember ini baru terpakai Rp 16,8 djuta dan plafond Rp 80.000 per orang sebulannja tidak pernah habis lebih dari Rp 40.000” dalam soal keuangan jang tjukup peka ini, Rais jang mendjabat Wakil Manager merangkap Asisten Manager Umum dan Administrasi menekankan pula: “Sedapat mungkin Board of Management tidak ingin langsung melibatkn diri pada soal finansiil jang amat sensitif. Kami hanja minta kas ketjil untuk keperluan sehari-hari”.

Berapa djumlah nominal jang diterima setiap pemain sebulannja? (lihat box: Kisah Tiga Pemain J.K). Dan berapa pula jang diterima Manager Jaya Karta seperti Djamiat Dalhar? “Jang djelas untuk pemain disediakan masing-masing Rp 80.000, honor untuk Manager tidak melebihi djumlah tersebut”, kata Ardi Sjarief, anggota Board of Management bidang Dokumentasi dan Publikasi. “Persisnja Rp 75.000 jang tertinggi dan Rp 25.000 jang terendah.

Pasar Minggu.

Ibarat baji Jaya Karta baru berupa djanin jang masih perlu dipupuk terus. Untuk mundur sudah terlandjur, mau madju berarti duit lagi. Sebab, betapa pun enaknja di Senen Raya 135, dekat dengan Projek Senen, sentral kemanamana, toch suasana asrama lebih mirip hotel. Paling tidak kesan orang adalah Jaya Karta “in de kost” pada perumahan Elpiji jang berkantor dilantai bawah, itu perusahaan gas jang djuga djadi salah satu dari sekian anggota “Jaya Group” jang menghidupi Jajasan Jaya Raya.

Hal tersebut disadari benar baik oleh impinan Jaya Karta maupun Jajasan. Oleh karena itu pengasramaan jang telah berlangsung lebih dari setahun itu ditjap “sementara”. Lalu jang permanen di mana? “Semula kami rentjanakan di Pulo Mas, tapi biaja uruk tanah sadja sudah makan djutaan rupiah”, kata Ir Sukrisman, Wakil Ketua P.S. Jaya Karta jang sehari-hari lebih dikenal sebagai Direktur P.T. Pembangunan Jaya. Berunding bersama Djamiat, Tjuk Sugiarto dan Wurjanto (keduanja dari Persatuan Atletik Jaya Karta) dikantornja, Sukrisman memperlihatkan rentjana baru pembangunan asrama dan lapangan diatas tanah seluas 8 hektar di Pasar Minggu. “Pertimbanan kami disesuaikan dengan urgensi. Lagi pula lebih murah, segar dan djuah dari kesibukan kota. Apalagi kalau diingat 10 tahun mendatang. Dengan adanja Djagorawi, kompleks diPasar Minggu itu dapat ditingkat mendjadi stadion”, tambah Sukrisman. Biaja pembangunan kompleks asrama plus lapangan jang makan Rp 26 sampai Rp 30 djuta pada tahap pertama, tidak lagi mendjadi persoalan.

Maka pada suatu sore berangkatlah Tjiputra dan Budiman Kusika masing-masing selaku Ketua dan Wakil Ketua Jajasan Jaya Raya untuk mengadakan penindjauan ditempat. Letak tjalon kompleks berada dibelakang kawasan Margasatwa Ragunan. Untuk mentjapainja orang harus berdjalan kaki 500 meter sepandjang tepi pagar Kebun Binatang. Suasana chas Pasar Minggu dengan pohon-pohon rambutan, djambu, nangka dan semak-semak seketika membebaskan orang dari suasana hiruk-pikuk kota. Apabila pembangunan tahap pertama selesai pada kwartal ke-lI 1972, maka seluruh P.S. Jaya Karta akan bermukim disana meskipun bagi sementara orang masih teka-teki apakah iklim dan suasana Ragunan jang tjotjok untuk margasatwa bisa tjotjok pula bagi warga sepakbola.

Tapi tjotjok atau tidak untuk bertetangga dengan margasatwa bukan persoalan dibenak Tjiputra. “Sebab tugas saja membangun camp jang lajak, sehat dan modern untuk 25 orang plus Rp 2 djuta sebulannja”. Adakah selama setahun hidup Jaya Karta mendapat penilaian positif oleh Ketua Jajasan ini? “Tjukup puas, meski iuran Rp 100.000 tjukup berat bagi anggota “pemegang saham” Jajasan. Memang tugas klub harus memberi djaminan hidup kini dan nanti. Saja mengerti waktu tiga tahun diperlukan untuk djadi kesebelasan top. Tapi kalau Hutasoit merasa dapat mentjapai lebih tjepat, tentu saja lebih puas”, kata Tjiputra. Kalau gagal? “Kalau belum berprestasi dan umpama kata mereka gagal, tanggungdjawab moral saja bagaimana?” tanja Tjiputra kembali. “Biaja dan fasilitas telah diberikani alasan apa lagi untuk gagal?” rengek Tjiputra pula dengan suara agak parau.

Untuk tahun depan atau bulan depan anggaran Jaya Karta menurut rentjana akan ditingkatkan sampai Rp 4 djuta. Sebagian pemain jang ada sekarang akan mendjadi “senior” dan perlu diisi dengan “Junior”, sehingga tidak terdjadi gap. Darimana lagi uang itu? “Sauna dan jackpot kita kuras untuk itu”, djawab Tjiputra.

Djamiat

Namun bila uang sudah tak djadi soal, bagaimana dengan soal pembinaan teknis sepakbola? Perkembangan pembinaan teknis selama setahun “tjukup memuaskan, tapi jang lebih memuaskan tentunja suasana persaudaraan dikalangan anak-anak jang berasal dari berbagai daerah se lndonesia”, kata Hutasoit kepada TEMPO. Bagi Ketua Jaya Karta ini prestasi anak-anak dalam pertandingan-pertandingan didalam dan diluar kota memang memuaskan. “Sampai-sampai saja ingin supaja anak-anak lebih sering mengalami kekalahan. Supaja mereka tahu bagaimana harus menanggung perasaan team jang kalah. Supaja nanti tidak mengalami shock kalau mengalami kekalahan dalam pertandingan besar”. Lantas Ketua Jaya Karta ini mendjelaskan lagi bahwa dalam serangkaian pertandingan dari tanggal 27 Djuni sampai dengan S Nopember 1971: dari 31 kali bertanding, 29 kali menang, satu kali seri dan satu kali kalah dengan perbandingan memasukkan gol 134 gol dan kemasukan 19 gol. Djadi nilai rata-rata setiap pertandingan sama dengan 134 – 19: sama dengan 3,7. Gol terbanjak diperoleh dari pertandingan lawan Kesebelasan Ganeca Muda 13-0 (Divisi II Persidja). Seri lawan Bond Jogja PSIM 2–2 dan kalah lawan Persidja 2–1. Satu hal jang tak terbantah bahwa pengaruh Jaya Karta dilingkungan Persidja mulai tertanam. Dalam pertandingan persahabatan untuk memperingati “Hari Armada” di Surabaja barubaru ini, pemain Jaya Karta jang dipakai Persidja tidak kurang dari 8 orang-djumlah majoritas jang mejakinkan.

Bagaimana penilaian Djamiat Dalhar, jang sehari-hari di Jaya Karta bertindak sebagai Team Manager? “Ketika saja mengadjak teman-teman untuk membina Jaya Karta, fikiran kami bukan tertudju pada sepakbola nasional, tapi pertama jang kami fikirkan adalah sepakbola pada dasar klub”. Ia nampaknja berusaha menghilangkan minded jang selama ini mentjekam kehidupan sepak bola Indonesia, dan mengalihkan pada strategi “klub sebagai dasar pembinaan”. Sebagai seorang Team Manager sudah barang tentu ia menolak bahwa tjuma uang jang menentukan kemadjuan satu team. “Anggapan itu keliru, soal management tidak kurang pentingnja!”

Meskipun begitu sementara orang jang berdekatan dengan Jaya Karta menjimpulkan bahwa management team jang dilakukan Djamiat Iebih banjak “di kantor”, sedang coaching sehari-hari di lapangan diserahkan sepenuhnja kepada Suwardi Arland dan Arlis. Padahal potensi Djamiat bukan sadja hanja untuk penggaris beleid teknis. Ia lebih diharap kan untuk mengadjarkan dasar-dasar sepakbola. Tony Pogacnic, bekas pelatih PSSI, konon mendjadi ketjewa dalam menilai Djamiat jang kini lebih banjak mengurusi soal-soal jang bersifat administratif. “Kalau saja masih semuda Djamiat, saja akan turun kelapangan langsung”, kata Tony. Adakah dwifungsi managership dan coaching tidak dapat didjalankan Djamiat serentak karena alasan kesehatan? Barangkali. Tapi orang mengharapkan kelak ia akan mendjalankan kedua tugas itu setjara full home. Dan memang figur Djamiat mendjadi garansi suksesnja Jaya Karta di arena pertandingan. Manager Jaya Karta jang merangkap Asisten Bidang Pembinaan Team PSSI ini bukan tidak tahu persoalan jang sedang dihadapi Jaya Karta. “Prestasi satu kali bisa ditjiptakan dengan tjara inkonvensionil, tapi prestasi jang konstan hanja bisa ditjapai sedjadjar dengan kehidupan diluar lapangan sepak bola”, kata Djamiat pada TEMPO. Maka apabila Djamiat ingin meletakkan dasardasar elementer sebagai manusia untuk para pemain diatas peladjaran abc sepak bola, arahnja adalah itu: prestasi konstan.

Militer.

Prestasi jang konstan nampaknja masih harus diudji. Material pemain jang di miliki Jaya Karta “lebih dari lumajan”, seperti komentar beberapa penonton di Stadion Menteng. Kesimpulan itu tentu dilihat dari segi teknis dan fisik ,nereka. Tetapi adakah tjiri-tjiri kemahiran teknis dan ketahanan fisik otoma tis mendjamin Jaya Karta mendjadi djuara Persidja kelak? Paling tidak peluang itu ada. Tapi untuk memastikan mendjadi djuara, “banjak tergantung dari mental bertanding satu kesebelasan” kata Anwar Dado pada TEMPO. Djustru menurut pendapat Team Manager Djakarta Putera (Djuara Persidja) ini, “tjiri-tjiri teknis dan fisik harus didukung dengan semangat-djoang jang fanatik”. Itu memang bukan omong kosong, karena Djakarta Putera sendiri dari segi teknis dan fisik tidak lebih baik dari Kesebelasan UMS, misalnja. Maka Dado-pun menurunkan nasehatnja: “Kalau perlu mereka dilatih setjara militer!”

Kalimat terachir ini mengingatkan bahwa tidak mustahil Jaya Karta jang dibina setjara lux bisa mengarah pada kesebelasan “salon”. Dan tjelaka-dua belas kalau jarg diperlihatkan nanti adalah gaja balerina jang enak ditonton, tapi gersang kemenangan. Mendengar komentar Dado ini, Suwardi jang paling dekat pada anak-anak Jaya Karta kontan memberi reaksi: “Djangan sembarangan memberi instruksi” katanja dengan logat Bugis, “suruh mereka pukul, jang dilakukan membunuh”.

Apapun pudjian dan ketjaman orang terhadap pemain-pemain Jaya Karta sekarang, untuk mendjadi djuara semua sependapat: disamping fasilitas jang kontinju, dibutuhkan waktu. Dan waktu 3. tahun dapat dipastikan akan menempatkan Jaya Karta sedjadjar dengan Djakarta Putera, UMS, POP, Indonesia Muda dan lain sebagainja, meskipun untuk mendjadi Djuara Persidja orang tidak berani bertaruh. Dan apa pula komentar seorang bekas Kiper, Kapten dan Ketua PSSI Maulwi Saelan tentang pembinaan klub ala Jaya Karta? (lihat box: Lima Fondasi Maulwi Saelan).

Terpukau .

Sampai disini seolah orang terpukau oleh tuntutan sang waktu untuk mengedjar gelar djuara, sementara melupakan jang tersirat pada Anggaran Dasar Jaya Karta sendiri. Disana dinjatakan bahwa tudjuan kesebelasan ialah “Menjebarkan dan meratakan arti sportivitas jang sebenarnja dikalangan penggemar sepak bola dan masjarakat umumnja” (Pasal 5 ajat 2) dan “Menggerakkan dan meningkatkan mutu persepakbolaan dikalangan masjarakat” (Pasal 5 ajat 33).

Apa djadinja kalau Jaya Karta mendjadi Djuara, sementara mutu klub-klub lainnja tinggal melempem? Inilah kondisi jang amat mentjemaskan. Rais menjata kan, bahwa usaha jang dirintis Jaya Karta djika tidak ditopang oleh lingkungan sekelilingnja, toch tidak akan mentjapai tjita-tjita jang diperdjoangkan.

Adakah usaha Jaya Karta mendapat response dari rekan-rekannja di Persidja dan induknja PSSI? Dan merangsang Pertamina, BNI-46 dan perusahaan-perusahaan raksasa lainnja untuk mengikuti djedjak Jajasan Jaya Raya menjusun program pembinaan djangka pandjang meskipun dengan kedok sales promotion? Tanpa efek sampingan, jang positif kehadiran Jaya Karta bakal pertjuma sadja. Tidak lebih dari miniatur “Sepakbola Indah” jang banjak makan biaja tapi sedikit memberi faedah.

Benteng Senen

Asrama Jaya Karta menempati lantai atas kantor Elpiji. Benteng dengan 7 ruang itu ditempel gambar-gambar & foto-foto yang diambil dari majalah. Menu cukup baik, masakan tionghoa tidak ada.

DARI luar dia kelihatan sepert benteng jang ditinggalkan. Dua menara pendjagaan jang berdiri dikirikanan dalam keadaan kosong. Tetangga disekitar mengenalnja sebagai bekas hotel Tjeng Eu dan baji dari kantor PT Pembangunan Jaya jang sekarang berada d Projek Senen. Pada malam hari teritisnja mendjadi tempat penginapan gelandangan dan pedagang jang kemalaman. Djalan jang membudjur disebelahnja merupakm djalan jang selalu simpang-siur dilalui betjak dengan membawa muatan berlebihan. Kuli-kuli dengan kereta muatan memengkol dipodjok bangunan itu dan menghilang kepasar Senen.

Letak bangunan itu persisnja di Djalan Senen Raya nomer 135 dan sekarang mendjadi kantor dan gudang “Elpiji”. Tak banjaklah jang menjangka bahwa ditengah-tengah kesibukan demikian lantai atas dari bangunan tersebut didjadikan asrama anak-anak bola Jaya Karta. Orang selalu mengidentikkan sebuah asrama sepakbola dengan perumahan dipinggir kota serta lapangan hidjau. Disini tak ditemukan setelempap tanah kosongpun. Djuga tak ada pohonan, ketjali. sebatang pohn liar jang turnbuh dihalaman tetangga dan hanja kelihatan kalau diintai dari atas.

Berlajar. Masuk keasrama itu bukan melalui pintu depan, tapi dari sebuah pintu ketjil jang terdapat disamping. Tangganja terbuat dari kaju, dialas karet biru loreng-loreng putih. Dapur terletak dibawah, sedang seluruh kamar tidur, ruangan makan dan kantor terletak diatas. Berada didalam asrama itu berasa seperti diatas kapal: bau dapur tak pernah lepas.

Senam untuk perorangan dilakukan dilantai teratas, tempat jang djuga digunakan untuk mendjemur bola dan pakaian. Kalau mau mengambil perumpamaan untuk kapal jang sedang berlajar, maka lantai ini seperti palka lajaknja.

Tudjuh ruangan tersedia untuk pemain. Sudah barang tentu didinding mereka tetap tertempel foto-foto pemain sepakbola dunia, terutama Pele. Tjuma foto-foto itulah jang membedakan mereka dari pemuda-pemuda petjandu musik pop. Sebab foto-foto John Lenon, Mack Jagger serta vokal-vokal group seperti Bee Gees, Beatle dan Shocking blue jang digunting dari madjalah-madjalah musik pop djuga berserakan ditembok, minus gambar wanita telandjang.

Bakmi. Sekalipun mereka datang dari berbagai daerah tapi “soal selera makanan tak banjak repot”, kata kepala dapur Daenar Nenen Anwar, 50 tahun, asal Sumatera Barat. Tiap harikah rendang Padang dihidangkan? “Oh, tidak. Tjukup sekali-sekali sadja. Tjuma goreng ajam atau ikan selalu disediakan. Masakan jang begitu sudah tentu disenangi semua orang”. Pagi-pagi mereka memperoleh susu dan telor, untuk sarapan boleh pilih nasi putih atau nasi goreng. Makan siang dan sore dengan lauk tiga matjam. Ajam goreng dan sup daging tetap disadjikan. Masakan Tionghoa tidak termasuk dalam daftar menu. “Kalau kita pingin makan bakmi boleh tjari diluar”, seorang pemain keturunan Tionghoa mendjelaskan. Mentjari bakmi tidaklah sukar didaerah itu.

Sebuah laporan wartawan dari TC PSSI di Senajan pernah mengatakan bahwa makanan jang disediakan tak seimbang untuk latihan-latihan jang harus didjalani para pemain. Tapi disini, di “Benteng Jaya Karta”, untuk keperluan latihan tampaknja para pemain jang masih muda-muda itu tidak perlu memeras tenaga tulang. Karena, seperti jang dikatakan Machful Uma

Lima Fondasi Maulwi Saelan

Wawancara TEMPO dengan Maulwi Saelan tentang lima fondasi yang diajukan saelan dalam merangsang pertumbuhan klub yang kuat. Puskas membutuhkan 3 faktor team-spirit, team-work & unity. Pelaksanaan perlu sponsor.

MINGGU pagi 5 Desember 1971 itu, dalam pakaian preman sebagai tuan-rumah dikediamannja Djalan Bendungan Djatiluhur 111, keangkeran seorang Kolonel sedikitpun tak terpantul dari pribadinja. Barangkali pudar sudah oleh sang waktu selama hampir lima tahun dalam tahanan. Dan sang waktu itu sebaliknja memberi hikmah djuga kepada bekas kiper Kesebelasan Nasional ini: 6 bundel map hasil tjorat-tjoret jang nantinja akan berubah mendjadi buku dengan djudul “Sepakbola Indonesia dan Prospeknja”

Alkisah pertemuan tersebut diawali dengan peristiwa jang tak terduga-duga: Saelan tiba-tiba disuatu sore muntjul dipinggir lapangan untuk menjaksikan suatu klub jang sedang latihan di Senajan. “Dalam diri saja sepakbola sudah mendarah daging” reaksinja. Djika sudah “mendarah daging”, apa jang hendak dikatakan Saelan sebagai veteran persepakbolaan Indonesia? Agak terpodjok, ia tertegun sedjenak lalu terdjadilah appointment wawantjara dengan Redaktur Olahraga TEMPO. Dengan sjarat tentunja: “Saja hanja ingin bitjara sepandjang menjangkut olahraga sepakbola”.

Dengan modal bundel tjalon buku jang sedang disusunnja, Saelan pun pulih dari ketjanggungan, dan terpantjarlah kewibawaan seorang jang pernah mengemudikan kesebelasan dan induk organisasi PSSI dimasa lalu. Apa sadja jang akan mendjadi topik dalam buku itu? “Semua masalah jang kita hadapi bersama”, katanja bersemangat. Membitjarakan masalah tanpa memberi pedoman djalan keluarnja sudah barang tentu tidak mentjiptakan iklim tjerah. Maka berkatalah ia: “Dari 26 propinsi diseluruh Indonesia terdapat 500 sekian kabupaten jang terbagi dalam 3300 sekian desa. Andaikata setiap desa mempunjai 4 sampai 5 klub, betapa besar potensi sepakbola kita”.

Issue kompetisi antara-klub belakangan ini memang amat santer, paling tidak lebih menjegarkan dari pembinaan dengan sistim TC. Namun untuk membuktikan bahwa gagasan itu bukan baru, Saelan sempat membuka mapnja dan memperlihatkan struktur kompetisi setjara skematis. Ia mengambil tjontoh tentang sepakbola di Eropa dengan European Cup, Cup Winner’s Cup dan Fair’s Cup misalnja, sehingga dalam satu tahun serangkaian kompetisi dapat berlangsung bagi semua lapisan. Pada tingkat ini klub-klub berarti berkembang dari bawah. “Dulu sewaktu saja mendjadi Ketua PSSI saja sudahmentjoba merubahnja kearah kompetisi antara klub, meskipun masih belum berhasil”.

Ini berarti struktur organisasi dan sistim pembinaan sekarang harus menjesuaikan diri. “Itu benar”, udja Saelan, “apa jang dirasakan sekarang ialah seolah-olah klub melajani bond dan bukan sebaliknja. “Alangkah baiknja disamping Kedjuaraan PSSI antara bond, dirintis pula Kedjuaraan antara djuara bond”.

Seperti lajaknja penganut “klubisme”, Saelan pribadi mempunjai dasar pemikiran meski bersifat aksiomatis jang tjukup orinisil merangsang pertumbuhan klub. “Kalau Puskas mengatakan untuk mengembangkan satu team jang kuat dibutuhkan faktor: team-spirit, team-work dan unity, maka sesuai dengan kondisi kita disini masih diperlukan faktor iklim dan interest”, katanja.

Jang dimaksud dengan iklim, tidak lain adalah suasana jang mendorong tumbuhnja kegairahan bersepakbola. Otomatis meliputi djaminan dan fasilitas seorang pemain. Dengan faktor interest dimaksudkan perhatian dan kepentingan jang positif dalam hasrat berkompetisi. Tanpa kedua fondasi ini jang pada umumnja tidak mendjadi persoalan lagi di Eropa sulit untuk mendjurus ke team-spirit (semangat team), teamwork (kerdjasama) dan unity (kesatuan). Dan bagaimanakah memulai sebuah klub dengan kelima fondasi itu? “Pada fase sekarang perlu adanja sponsorship seperti jang dilakukan diluar negeri. Itulah sebabnja saja taruh perhatian besar pada Jajasan Jaya Raya jang mensponsori Jaya Karta. Dan saja pertjaja kelima fondasi tersebut akan tertanam dengan baik diklub ini”.

Apa jang lebih menggembirakan Saelan adalah bahwa Jaya Karta tidak langsung mengambil pemain jang sudah djadi. Sebab katanja: “Prestasi satu team adalah produk pembibitan dan pembinaan jang tepat”. Meskipun untuk menilai Jaya Karta dengan predikat tersebut, bagi dia masih diperlukan waktu.

Pendjaga Gawang.

Sebagai pemain jang pernah mendapat pudjian sebagai kiper terbaik ditahun 50-an, Saelan, 45 tahun, tidak terlalu mengistimewakan kedukan pendjaga gawang. “Tjuma”, katanja, “kalau pemain-lapangan bola membuat kesalahan, tidak demikian dengan kiper. Dan setjara ilmiah tugas kiper lebih berat dari pemain-lapangan”. Mengenai fungsi pendjaga gawang ia menambahkan: “Sering pengertian kita tentang kiper kabur. Dulu semua pemain tjenderung ingin mentjapai kemenangan dengan menjerang. Barangkali itu sudah mendjadi naluri manusia. Tapi perkembangan taktik membuktikan tanpa seorang pendjaga-gawang kekalahan lebih mudah terdjadi daripada kekurangan seorang pemain-lapangan”. Berdasarkan pengalamannja berdiri dibawah mistar gawang ia memberi kesaksian: “Kiper mempunjai keuntungan untuk melantjarkan serang-balasan sewaktu menguasai bola dan dapat melihat djalan pertandingan sambil memberi nasehat kepada pemain-lapangan”.

Untuk mengatasi kesulitan mendapat seorang kiper berbakat ia mengambil tjontoh pada dirinja sendiri: “Dulu saja penjerang tengah. Mengapa tidak diusahakan mentjari kiper dari pemain-lapangan?” Akan kernbalikah Saelan didunia sepakbola? Itu diramalkan pasti. “Tapi sementara ini saja belum mau terikat. Saja hanja mau membantu klub-klub jang benar-benar mau madju”. Dan jang pasti buku “Sepakbola Indonesia dan Prospeknja” jang kini sedang diolah bersama Drs Rais akan merupakan bahan diskusi jang berharga untuk meningkatkan sepakbola Nasional.

Kisah Tiga Anggota Jaya Karta

Mahful Uumar, 26, menjadi anggota PSM th ’65, kemudian ikut kejuaraan PSSI. Sutan Harahara, 17, pelajar SMA Satria turunan Yahudi sebagai pemain gol. B. Sumirta bersama adiknya Sukanta dari Tunas Jaya.

MAHFUL Umar bermula bersepakraga–seperti lazimnja pemuda Sulawesi Selatan – Mahful tjepat beralih kesepakbola bersama team IPI (Ikatan Peladjar Indonesia) dikota kelahirannja Pare-Pare. Pada tahun 1965, dalam usia 20 tahun, Mahful Umar terpilih mendjadi anggota team PSM Makassar.

Nama Mahful mulai mengisi koran-koran pada Kedjuaraan PSSI 1968 di Stadion Menteng, ketika tapak sepatu Iswadi (PSMS Medan) mampir ditulang kering kakikanannja. Sembuh dari retak tulang 6 bulan kemudian, poroshalang ini makin berguna disegala lini belakang.

Apakah jang dikedjarnja dengan sebagai anggota tertua di Jaya Karta? “Masa depan saja”, djawab pemain “Golongan A” dengan “gadji” Rp 12.500 sebulan ini. “Sebab hidup ini tak mungkin disokong dengan main bola terus”. Lebih-lebih dengan gelar lulusan STM, Mahful kini berada diambang hidup baru: menikah tahun depan dengan seorang guru modiste di Udjung Pandang. Tjintjin emas didjari manis kirinja merupakan djaminannja. Konon untuk menghadapi masa hidup baru itu PT Pembangunan Jaya, tulang punggung Jajasan Jaya Raya, membuka pintunja lebar-lebar buat bekerdja.

SUTAN Harahara terdampar kebenteng Senen Raya dengan kisah lain. Pemain termuda (lahir 9 Agustus 1954) berkulit gelap dan bertampang semit boleh ber-Alhamdulillah, ketika pada tahun 1930 seorang pedagang Jahudi, Harahara, meninggalkan negeri Israel dan berkelana di Nusantara. Sebab kemudian lahir Umar Harahara, ajah Sutan jang mempersunting seorang wanita keturunan Maluku.

Kehadiran Sutan ditengah-tengah “warga-bajaran” disangka orang untuk mentjari uang. Ia menjangkal. Bagi Sutan, peladjar kelas I SMA Satria, “setjara materiel hidup saja rumah atau diasrama sama sadja”. Lalu apa jang menarik Sutan di Jaya Karta? Pemain “Golongan B” inipun berterus terang: “Untuk hobby dan saja jakin prestasi akan tjepat naik dengan latihan-latihan jang teratur”. Kalau sekedar untuk hobby sebulannja dapat mengantongi uang-saku Rp 10.000 itu paling tidak “lumajan benar” bagi Sutan. Karena, “andaikata memungkinkan”, udjar Sutan, “tahun depan ia berniat melandjutkan peladjaran ke Amsterdam untuk mendjadi seorang ahli ekonomi”. Meskipun ditambahkannja bahwa disamping niat mendjadi ekonom, ia tidak akan mengurangi semangatnja bermain bola.

**

TOP scorer alias pentjetak gol terbanjak ini, Sumirta, anak Betawi Asli. Terpaksa meninggalkan bangku STM kelas II karena kesulitan ekonomi, meskipun untuk sepakbola ia pantang mundur. Barangkali karena terlalu sering “merongrong” Kadir Yusuf dan L.H. Tanoto dua orang pimpinan P.S. Tunas Djaya-Mirta dan adiknja Sukanta, dilepas ke Jaya Karta. Tapi untuk melepas kedua anak itu “kami terpaksa berunding 6 djam dengan Bang Djali, ajah Sumirta”, kata Kadir Yusuf jang berusaha mejakinkan bahwa masa depan di Jaya Karta sudah pasti lebih tjerah dari di Tunas Djaya. Ramalan itu memang mendjadi kenjataan paling tidak untuk sementara. Mirta madju pesat permainannja dan beroleh honor Rp 10.000 disamping bisa meneruskan peladjarannja di STM. Genap berusia 21 pada tanggal 8 bulan Nopember jang lalu, Mirta bersama Kanta setiap bulannja tidak lupa menjumbang orang tua dan 10 orang saudaranja dengan 100 kilo beras sebulannja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: