Menuju Pra Olympic Rangon

Tempo 18 Maret 1972. Tim pra olimpik Indonesia 1972, dengan 20 pemain, berangkat ke Rangoon, Burma. tak ada yang berani memastikan Indonesia menjadi pemenang. tim ini diperkuat oleh Ronny Pattinasarani dan Waskito. DARI Istana Merdeka bergema suara bola: Indonesia mesti menang di Pra-Olimpik Rangoon. Tanggapan Presiden Suharto jang tak dinanti-nantikan itu – setelah menjaksikan Kesebelasan PSSI lawan Dynarno dan Cruzeiro agaknja membangkitkan kenangan diaman Ganefo, dikala slogan dibutuhkan membakar semangat bertanding jang menjala-njala. Namun demikian, harapannja jang dikemukakan kepada Pengurus KONI Pusat 1971-1975 tersangkut pula restu djutaan suporter PSSI jang ikut melepas keberangkatan team Pra-Olimpik Indonesia pada tanggal 17 Maret ini.

Adakah harapan itu akan mendjadi kenjataan? Pertanjaan ini berserakan dimana-mana, tanpa seorangpun berani bilang “itu pasti”. Sudharto Sudiono Ketua Bidang Pembinaan KONI, selesai pertemuannja dengan Presiden memberi komentarnja pada Pers bahwa “barisan belakang PSSI harus dapat memberi umpan kepada pemain-pemain dan harus pula dapat menempel pemain depan lawan jang berusaha membobolkan gawang”. Pernjataan tjalon Chef de Mission Team Olimpik Indonesia ini agaknja tidak lebih naif dari harapan Presiden tentunja – meski sementara petjandu bola berkeinginan bahwa penilaian sematjam itu lebih tepat djika keluar dari mulut Kosasih Purwanegara atau Djamiat Dalhar.

Saatnja take-off.

Tapi inilah faktanja: senang atau tidak senang dengan tjampur tangan “orang luar”, sepakbola bukan monopoli PSSI. Ia dirasakan sebagai milik seluruh Bangsa dan pada hari-hari ini, semua orang tidak mau ketinggalan menggunakanhak (dan kewadjiban)-nja: menilai dan mengkomentari dengan penuh harapan. Seperti pula komentar Sjarnubie Said, Team Manager Team Pra Olimpik Indonesia, kepada TEMPO. “Setelah saja mengikuti perkembangan terachir, terutama dalam pertandingan PSSI lawan Dynamo dan Cruzeiro, saja jakin mereka pasti dapat diandelkan”. Sjarnubie, Ketua II dan Kordinator Bidang Teknik, jang dikenal sebagai pembaru PSSI menambahkan: “Sekarang saatnja kita melakukan take-off, baik dibidang pembinaan team, organisasi dan management-nja”. Memang, djika dilihat dari segi organisasi dan management PSSI madju beberapa langkah (lihat box) Namun kedua unsur jang merupakan faktor integral dari keberhasilan pembinaan suatu team, pada achirnja toch perlu dibuktikan oleh prestasi PSSI dilapangan hidjau.

Itulah sebabnja dibalik “harapan” dan “team jang dapat diandelkan”, mata orang ditudjukan ke Rangoon–tempat Turnamen tersebut berlangsung (dari tanggal 20 Maret sampai dengan 3 April 1972). Dan tidak ada salahnja – seperti kata orang bidjak–didalam memfokuskan pandangan kedepan, kenangan lama digali kembali.

Sedjarah bola sedjak Proklamasi Kemerdekaan memberi tjatatan bahwa pada tahun 1956 di Olimpiade Melbourne PSSI pernah tertjatat dalam daftar team jang memasuki babak final. Dibawah asuhan Coach Tony Pogacnik jang mulai menangani pada tahun 1954, harapan dan keandelan team tersebut tidak kurang dari jang dimiliki PSSI sekarang.

Material pemainnja terdiri dari: Maulwi Saelan (kiper), Chaeruddin, Thio Him Tjiang, Rasjid (back), Rukma, Ramelan, Arief Kusnadi, Sidhi, L.H. Tanoto, Kasmuri (halfback), Januar Pribadi, Ade Dana, Ramang, Witarsa, Djamiat Dalhar, Danoe, Arifin, Ramli dan Jusron (penjerang). Beberapa diantara pemain ini tertjatat sebagai “pemain-pemain jang dilahirkan zaman”.

Dinilai sebagai perpaduan antara pembinaan dan bakat, Kesebelasan Olimpik Indonesia 1956–meski beruntung tidak melalui kwalifikasi Pra-Olimpik, karena seluruh pesertanja tidak lebih dari 14 team – dalam debutnja sudah harus berhadapan dengan tjalon Djuara: Kesebelasan Soet Uni. Namun kedjutan terdjadi. Indonesia berhasil menahan anak buah Katchalin (Coach Team Sovjet Uni waktu itu) 0-0, meski setelah diperpandjang 2 x 15 menit. Baru dalam pertandingan ulangan. Indonesia ditundukkan 0–4. Seingat Drg. Arief Kusnadi dalam pertandingan pertama, Tony mendjalankan siasat dengan sistim 14-2-3, disamping pendjaga gawang Saelan. Susunan Kesebelasan terdiri dari Arief sebagai Poros halang jang bertugas “menjapu”, Rasjid, Rukma, Tanoto, Chaeruddin belakang), Januar Pribadi, Him Tjiang (penghubung) dan Witarsa, Ramang dan-Danu (penjerang).

Inspirasi.

“Taktik pertahanan Tony banjak menjulitkan saja”, kata Kathalin jang baru-baru ini memimpin Dynamo Tbilisi ke Indonesia. Sementara bagi penggemar-penggemar sepakbola Indonesia peristiwa Olimpiade 1956 selalu merupakan sumber inspirasi bagi pembinaan team nasional. Empat tahun kemudian mendjelang Olimpiade Roma 1960, PSSI mengalami titik surut. Dalam babak kwalifkasi Pra-Olimpik, dua kali dipukul India, Sekali di Ikada 0–2, dan sekali lagi di New Delhi 2 4. Usaha masuk ke “16 besar” pesta olahraga dunia diperdjuangkan terus. Mendjelang Olimpiade Tokyo 1964, situasi politik menguasai seluruh sektor kehidupan Bangsa Dan PSSI terpaksa mesti konsekwen dengan slogan “go to hen with IOC.

Setelah memasuki orbit Orba, PSSI bersama-sama dengan induk-induk organisasi lainnja mentjoba merehabilitasi pergaulannja ditengah keluarga olahraga dunia Tahun 1968 usaha “kembali ke Olimpiade” di Meksiko–seperti biasa-didului oleh pertandingan babak Pra-Olimpik. Di Bangkok, Kesebelasan PSSI dengan pemain-pemain (jang kemudian mendjadi inti Kesebelasan Pardedetex Indonesia) bersama Irak dan Thailand tuan rumah) terlibat dalam turnamen segi-tiga dengan kompetisi penuh. Prestasi Tjipto dkk dalam pertandingan-pertandingan jang berlangsung dibulan Djanuari itu masih segar dalam ingatan: Irak – Thailand 4–0, Indonesia – Irak 2–1, Thailand – Indonesia 1–0, Thailand – Irak 2–1, Indonesia – Irak 1–1 dan Thailand – Indonesia 2-1. Pra-Olimpik Meksiko menampilkan Thailand sebagai pemenang dengan runner-up Irak dan “djuru kuntji” Indonesia.

Tidak dapat njlenong.

Tahun ini mendjelang Olimpiade Munchen, Indonesia tak dapat njlonong seperti ditahun 1956. Pendjatahan “16 besar” jang terdiri atas: 12 team dari Eropa, 3 team dari Afrika, 2 team dari Asia dan 1 team tuan rumah harus ditjapai dengan Pra-Olimpik lagi.

Dengan muntjulnja dua tokoh baru Sjarnubie dan Hutasoit, management dan organisasi PSSI mengalami penjegaran. Keuntungan jang ditjapai sebesar Rp 22 djuta lebih melapangkan induk organisasi ini untuk melakukan take-off — meski, sekali lagi, keberhasilannja masih perlu dibuktikan di Rangoon.

Sjahdan, efek psitif dari kemadjuan dikedua bidang tersebut belum lagi memberi pengaruh psikologis jang merata dikalangan sepakbola. Ini dapat dimaklumi. Sebab penilaian dan estimate mengenai teknis kekuatan PSSI, disamping ditindjau dari prestasi (pertjobaan), tidak luput dilihat dari kekuatan para tjalon lawannja: Burma (tuan rumah), Israel, India, Thailand dan Sri Langka. Malahan ada sementara penindjau jang tjoba membanding-bandingkan team Pra-Olimpik Indonesia sekarang dengan Team Melbourne tempo hari.

Bertanja Tanoto, bekas pemain nasional, pada TEMPO: “Apa jang membedakan seorang pemain nasional dengan pemain lainnja, pada hal biasanja permainan mereka hampir sama baiknja?” Ia kemudian mendjawab sendiri bahwa pada pemain jang berpredikat nasional, akan terlihat kematangannja dalam menghadapi situasi tertentu dalam pertandingan atau turnamen besar. Tanoto kemudian memperintji lagi tentang kelebihan seorang pemain nasional jang “didjaga mati”, tapi dengan inteligensinja dapat merubah situasi untuk keuntungan regu. Demikian pula bagaimana peranan barisan belakangnja. Apakah mereka dapat mendjalankan instruksi Coach untuk melaksanakan organisasi dan disiplin pertahanan jang ketat? “Djangan Pimpinan PSSI merasa takabur dengan hasil pembinaan team Pra-Olimpik ini”, diingatkan Tanoto. “Sebab”, tambahnja lagi “anak-nak dapat bermain baik, lantaran pemain belakang lawan tidak mendjalankan taktik man-to-man marking”

Pandai mengembara.

Setelah menjaksikan PSSI bermain lawan Odense, Dynamo dan Cruzeiro, ia berkesimpulan bahwa “Team Pra-Olimpik Indonesia masih perlu memperlihatkan kematangan jang dituntut oleh pertandingan besar atau turnamen”. Meski Tanoto tidak menjebut-njebut bahwa tjalon-tjlon lawan Indonesia di Pra-Olimpik tidak lebih kuat kalau tidak mau dikatakan lebih rendah mutunja dari Dynamo atau Cruzeiro–ia menundjuk beberapa pemain PSSI jang berpotensi besar. Ronny Patti, katanja, memiliki ball feeling kuat, pandai mengolah bola, tjepat membatja djalan pertandingan, tapi djika berada dalam posisi dan situasi menentukan, ia ragu dan apa jang diiakukan Ronny hanja main asal tendang. “Seharusnja ia jakin dan dengan penuh tekad mengambil putusan: tembak kegawang atau menjodorkan umpan bagi kawannja” Partnernja Suaeb pandai mengembara, tapi sering melupakan “rumah”. Waskito menarik perhatiannja sebagai penggempur jang tjepat dan berpotensi besar sebagai pentjetak gol. “Jacob”, katanja, “djangan diberi tugas lain ketjuali menjelesaikan umpan dari kawannja”. Ia menilai Jacob tidak lebih dari tukang pukul”. “Ada kalanja bola jang dianggap lawan lebih membahajakan diri Jacob daripada gawangnja, akan diterdjang Jacob dan berachir dengan gol”.

Dalam bidang teknis permainan, umumnja dedengkot bola Djamiat tidak berbeda djauh dari pandangan Tanoto. Ini dapat dilihat dari tanja-djawab TEMPO dengan pelatih tersebut:

Tanja : Apakah perbedaan Team Olimpik 1956 dan Team PSSI sekarang? Apa sebab bis terdjadi?

Djawab: Problem jang dihadapi ditahun 1956 berbeda dengan sekarang. Demikian pula eksesnja.

Tanja : Problemnja?

Djawab: Misalnja keadaan sosial-ekonomi. Pengaruhnja terhadap problem keluarga sangat terasa. Kwalitas pemain: dulu dan sekarang djuga lain. (Djamiat agaknja mengelakkan soal ekses. Barangkali ia sudah djemu membitjarakan persoalan jang sudah mendjadi umum)

Tanja : Beda kwalitasnja?

Djawab : Soal peng-realisasi-an dilapangan (istilah chas Djamiat). Untuk diterangkan dalam bahasa populer begini: Pemain tahun 1950-an tidak tahu banjak teori, tapi rupanja mereka lebih instruktif melakukan apa jang harus diperbuatnja. Suruh mereka terangkan mengapa harus begini, mengapa harus begitu, mereka tak dapat merumuskan dalam teori. Lain dengan pemai-pemain sekarang. Mereka lebih banjak pengetahuannja bagaimana harus bermain bola dengan baik diluar lapangan. Dengan kata lain mereka sudah siap dengan suatu teori. Tapi ketika tiba pada saat peng-realisasi-annja mereka mendjadi bingung dan tak stabil.

Tanja : Apa sebabnja bisa terdjadi demikian?

Djawab: Banjak.

Tanja : Antara lain?

Djawab : Masih harus mengalami riset sebelum didjadikan kesimpulan ilmiah. (Sampai disini nampak Djamiat akan kebentur dengan lingkaran-maut. Ia kembali mengulang lagi kurang konsistensinja permainan. Sekali kombinasi permainan berkembang bagus, lain kesempatan ngawur tak terarah dan lain sebagainja).

Darah tinggi Djamiat

Sadar akan kwalitas pemain PSSI sekarang dan kelebihan kesebelasan-kesebelasan lawan — antaranja Israel dan Burma dianggap lawan terberat–Djamiat nampak setiap sore turun melatih mereka di Stadion Utama. Para pemain sendiri dipagi hari mendapat latihan fisik oleh Drs. Sukartono dan pengawasan medis Dokter Duhantoro –bekas pemain PSSI Junior ditahun 60-an.

Adakah peningkatan fisik, teknis dan mental selama diasuh Djamiat? Jang pasti 2 minggu mendjelang pertandingan Indonesia-Thailand (20 Maret), tekanan darah Djamiat (45 tahun) meningkat sampai 160/95, “batas maksimal bagi seorang jang kesehatannja normal”, udjar Suhantoro jang setiap sore mentjek kesehatan anggota Team. Tak usah diragukan nasehat dr. Suhantoro. Sebab ekses “darah tinggi” Djamiat, bukan sadja bisa mengganggu kesehatan dirinja, terlebih lagi bisa mengurangi keseimbangan temperemennja didalam mengasuh dan menjusun siasat untuk Team–meskipun kemudian orang merasa bahwa hal itu menjatakan keprihatinan Djamiat terhadap kondisi anak buahnja.

Hari-hari ini, sementara koran-koran mengulas tentang kehebatan para tjalon lawan Indonesia di Ibukota Burma dan berusaha memberi resep untuk mengatasinja, suasana di asrama Senajan ikut mendjadi tegang. Tak terketjuali Frans Hutasoit, Wakil Team Manager Team Pra-Olimpik, ikut terlanda arus ketegangan. Tidak seperti biasa ia mau mengobral komentar. “GTM” adalah djawabnja terhadap pertanjaan Pers. Mengapa Frans harus mendjalankan gerakan-tutup-mulut mendjelang “Operasi Burma”? “Itu perintah Pak Sjarnubie !” udjarnja. Sjarnubie tidak salah. Disiplin harus dimulai dari atas. Terlebih lagi disiplin GTM perlu dipatuhi mulai dari sekarang. Bukan terhadap Pers melulu, tapi terhadap sesama pimpinan Team jang sukar menahan emosinja dikala pertandingan berlangsung.

Menghindari Kiamat

Setelah fasilitas dilimpahkan kepada pembinaan team dan setelah orang menjaksikan prestasi PSSI selama ini, suksesnja PSSI di Turnamen Pra-Olimpik agaknja lebih banjak tergantung dari team pimpinan. Hutasoit kembali pada “GTM”-nja ketika ditanjakan siapa jang berhak menjusun kesebelasan – satu masalah jang paling peka mendjelang pertandingan. Namun orang pertjaja bahwa Djamiat akan memegang teguh tanggung-djawabnja selaku Coach dan Ketua Asistensi Bidang Tehnik. Dan itulah perlunja team Pimpinan mengadakan pembagian tugas seperti jang pernah disinggung Djamiat (TEMPO, 12 Pebruari 1972) –meski setjara keseluruhannja tanggungdjawab berada ditangan Sjarnubie Said.

Selama 42 tahun sedjarah PSSI (didirikan 1930), nampaknja tidak pernah persiapan menudju turnamen dilakukan sebesar sekarang. Disamping ke-18 pemain dan coachnja (lihat box) .Serta Pimpinan Team, ikut pula Aang Witarsa sebagai Sekretaris Team. Joemarsono, Sekdjen PSSI bersama dr. Suhantoro pada tanggal 15 Maret berangkat lebih dulu ke Rangoon untuk mempersiapkan kedatangan rombongan disana. Belum lagi para anggota pengurus PSSI lainnja, jang bersama dengan para wartawan konon berdjumlah 37 orang.

Dan begitu besar pula harapan dilimpahkan kepada Team ini–seolah hanja dengan memenangkan Turnamen Pra Olimpik Rangoon, sepakbola Indonesia terhindar dari kiamat.

Ke Burma Dengan Tanda Tanya

Tim pra olimpik Indonesia berangkat ke Rangoon, Burma. tak seorang pun dapat memastikan Indonesia akan menjadi pemenang. persiapan turnamen terbesar selama 42 tahun.
DARI Istana Merdeka bergema suara bola: Indonesia mesti menang di Pra-Olimpik Rangoon. Tanggapan Presiden Suharto jang tak dinanti-nantikan itu – setelah menjaksikan Kesebelasan PSSI lawan Dynarno dan Cruzeiro agaknja membangkitkan kenangan diaman Ganefo, dikala slogan dibutuhkan membakar semangat bertanding jang menjala-njala. Namun demikian, harapannja jang dikemukakan kepada Pengurus KONI Pusat 1971-1975 tersangkut pula restu djutaan suporter PSSI jang ikut melepas keberangkatan team Pra-Olimpik Indonesia pada tanggal 17 Maret ini.

Adakah harapan itu akan mendjadi kenjataan? Pertanjaan ini berserakan dimana-mana, tanpa seorangpun berani bilang “itu pasti”. Sudharto Sudiono Ketua Bidang Pembinaan KONI, selesai pertemuannja dengan Presiden memberi komentarnja pada Pers bahwa “barisan belakang PSSI harus dapat memberi umpan kepada pemain-pemain dan harus pula dapat menempel pemain depan lawan jang berusaha membobolkan gawang”. Pernjataan tjalon Chef de Mission Team Olimpik Indonesia ini agaknja tidak lebih naif dari harapan Presiden tentunja – meski sementara petjandu bola berkeinginan bahwa penilaian sematjam itu lebih tepat djika keluar dari mulut Kosasih Purwanegara atau Djamiat Dalhar.

Saatnja take-off.

Tapi inilah faktanja: senang atau tidak senang dengan tjampur tangan “orang luar”, sepakbola bukan monopoli PSSI. Ia dirasakan sebagai milik seluruh Bangsa dan pada hari-hari ini, semua orang tidak mau ketinggalan menggunakanhak (dan kewadjiban)-nja: menilai dan mengkomentari dengan penuh harapan. Seperti pula komentar Sjarnubie Said, Team Manager Team Pra Olimpik Indonesia, kepada TEMPO. “Setelah saja mengikuti perkembangan terachir, terutama dalam pertandingan PSSI lawan Dynamo dan Cruzeiro, saja jakin mereka pasti dapat diandelkan”. Sjarnubie, Ketua II dan Kordinator Bidang Teknik, jang dikenal sebagai pembaru PSSI menambahkan: “Sekarang saatnja kita melakukan take-off, baik dibidang pembinaan team, organisasi dan management-nja”. Memang, djika dilihat dari segi organisasi dan management PSSI madju beberapa langkah (lihat box) Namun kedua unsur jang merupakan faktor integral dari keberhasilan pembinaan suatu team, pada achirnja toch perlu dibuktikan oleh prestasi PSSI dilapangan hidjau.

Itulah sebabnja dibalik “harapan” dan “team jang dapat diandelkan”, mata orang ditudjukan ke Rangoon–tempat Turnamen tersebut berlangsung (dari tanggal 20 Maret sampai dengan 3 April 1972). Dan tidak ada salahnja – seperti kata orang bidjak–didalam memfokuskan pandangan kedepan, kenangan lama digali kembali.

Sedjarah bola sedjak Proklamasi Kemerdekaan memberi tjatatan bahwa pada tahun 1956 di Olimpiade Melbourne PSSI pernah tertjatat dalam daftar team jang memasuki babak final. Dibawah asuhan Coach Tony Pogacnik jang mulai menangani pada tahun 1954, harapan dan keandelan team tersebut tidak kurang dari jang dimiliki PSSI sekarang.

Material pemainnja terdiri dari: Maulwi Saelan (kiper), Chaeruddin, Thio Him Tjiang, Rasjid (back), Rukma, Ramelan, Arief Kusnadi, Sidhi, L.H. Tanoto, Kasmuri (halfback), Januar Pribadi, Ade Dana, Ramang, Witarsa, Djamiat Dalhar, Danoe, Arifin, Ramli dan Jusron (penjerang). Beberapa diantara pemain ini tertjatat sebagai “pemain-pemain jang dilahirkan zaman”.

Dinilai sebagai perpaduan antara pembinaan dan bakat, Kesebelasan Olimpik Indonesia 1956–meski beruntung tidak melalui kwalifikasi Pra-Olimpik, karena seluruh pesertanja tidak lebih dari 14 team – dalam debutnja sudah harus berhadapan dengan tjalon Djuara: Kesebelasan Soet Uni. Namun kedjutan terdjadi. Indonesia berhasil menahan anak buah Katchalin (Coach Team Sovjet Uni waktu itu) 0-0, meski setelah diperpandjang 2 x 15 menit. Baru dalam pertandingan ulangan. Indonesia ditundukkan 0–4. Seingat Drg. Arief Kusnadi dalam pertandingan pertama, Tony mendjalankan siasat dengan sistim 14-2-3, disamping pendjaga gawang Saelan. Susunan Kesebelasan terdiri dari Arief sebagai Poros halang jang bertugas “menjapu”, Rasjid, Rukma, Tanoto, Chaeruddin belakang), Januar Pribadi, Him Tjiang (penghubung) dan Witarsa, Ramang dan-Danu (penjerang).

Inspirasi.

“Taktik pertahanan Tony banjak menjulitkan saja”, kata Kathalin jang baru-baru ini memimpin Dynamo Tbilisi ke Indonesia. Sementara bagi penggemar-penggemar sepakbola Indonesia peristiwa Olimpiade 1956 selalu merupakan sumber inspirasi bagi pembinaan team nasional. Empat tahun kemudian mendjelang Olimpiade Roma 1960, PSSI mengalami titik surut. Dalam babak kwalifkasi Pra-Olimpik, dua kali dipukul India, Sekali di Ikada 0–2, dan sekali lagi di New Delhi 2 4. Usaha masuk ke “16 besar” pesta olahraga dunia diperdjuangkan terus. Mendjelang Olimpiade Tokyo 1964, situasi politik menguasai seluruh sektor kehidupan Bangsa Dan PSSI terpaksa mesti konsekwen dengan slogan “go to hen with IOC.

Setelah memasuki orbit Orba, PSSI bersama-sama dengan induk-induk organisasi lainnja mentjoba merehabilitasi pergaulannja ditengah keluarga olahraga dunia Tahun 1968 usaha “kembali ke Olimpiade” di Meksiko–seperti biasa-didului oleh pertandingan babak Pra-Olimpik. Di Bangkok, Kesebelasan PSSI dengan pemain-pemain (jang kemudian mendjadi inti Kesebelasan Pardedetex Indonesia) bersama Irak dan Thailand tuan rumah) terlibat dalam turnamen segi-tiga dengan kompetisi penuh. Prestasi Tjipto dkk dalam pertandingan-pertandingan jang berlangsung dibulan Djanuari itu masih segar dalam ingatan: Irak – Thailand 4–0, Indonesia – Irak 2–1, Thailand – Indonesia 1–0, Thailand – Irak 2–1, Indonesia – Irak 1–1 dan Thailand – Indonesia 2-1. Pra-Olimpik Meksiko menampilkan Thailand sebagai pemenang dengan runner-up Irak dan “djuru kuntji” Indonesia.

Tidak dapat njlenong.

Tahun ini mendjelang Olimpiade Munchen, Indonesia tak dapat njlonong seperti ditahun 1956. Pendjatahan “16 besar” jang terdiri atas: 12 team dari Eropa, 3 team dari Afrika, 2 team dari Asia dan 1 team tuan rumah harus ditjapai dengan Pra-Olimpik lagi.

Dengan muntjulnja dua tokoh baru Sjarnubie dan Hutasoit, management dan organisasi PSSI mengalami penjegaran. Keuntungan jang ditjapai sebesar Rp 22 djuta lebih melapangkan induk organisasi ini untuk melakukan take-off — meski, sekali lagi, keberhasilannja masih perlu dibuktikan di Rangoon.

Sjahdan, efek psitif dari kemadjuan dikedua bidang tersebut belum lagi memberi pengaruh psikologis jang merata dikalangan sepakbola. Ini dapat dimaklumi. Sebab penilaian dan estimate mengenai teknis kekuatan PSSI, disamping ditindjau dari prestasi (pertjobaan), tidak luput dilihat dari kekuatan para tjalon lawannja: Burma (tuan rumah), Israel, India, Thailand dan Sri Langka. Malahan ada sementara penindjau jang tjoba membanding-bandingkan team Pra-Olimpik Indonesia sekarang dengan Team Melbourne tempo hari.

Bertanja Tanoto, bekas pemain nasional, pada TEMPO: “Apa jang membedakan seorang pemain nasional dengan pemain lainnja, pada hal biasanja permainan mereka hampir sama baiknja?” Ia kemudian mendjawab sendiri bahwa pada pemain jang berpredikat nasional, akan terlihat kematangannja dalam menghadapi situasi tertentu dalam pertandingan atau turnamen besar. Tanoto kemudian memperintji lagi tentang kelebihan seorang pemain nasional jang “didjaga mati”, tapi dengan inteligensinja dapat merubah situasi untuk keuntungan regu. Demikian pula bagaimana peranan barisan belakangnja. Apakah mereka dapat mendjalankan instruksi Coach untuk melaksanakan organisasi dan disiplin pertahanan jang ketat? “Djangan Pimpinan PSSI merasa takabur dengan hasil pembinaan team Pra-Olimpik ini”, diingatkan Tanoto. “Sebab”, tambahnja lagi “anak-nak dapat bermain baik, lantaran pemain belakang lawan tidak mendjalankan taktik man-to-man marking”

Pandai mengembara.

Setelah menjaksikan PSSI bermain lawan Odense, Dynamo dan Cruzeiro, ia berkesimpulan bahwa “Team Pra-Olimpik Indonesia masih perlu memperlihatkan kematangan jang dituntut oleh pertandingan besar atau turnamen”. Meski Tanoto tidak menjebut-njebut bahwa tjalon-tjlon lawan Indonesia di Pra-Olimpik tidak lebih kuat kalau tidak mau dikatakan lebih rendah mutunja dari Dynamo atau Cruzeiro–ia menundjuk beberapa pemain PSSI jang berpotensi besar. Ronny Patti, katanja, memiliki ball feeling kuat, pandai mengolah bola, tjepat membatja djalan pertandingan, tapi djika berada dalam posisi dan situasi menentukan, ia ragu dan apa jang diiakukan Ronny hanja main asal tendang. “Seharusnja ia jakin dan dengan penuh tekad mengambil putusan: tembak kegawang atau menjodorkan umpan bagi kawannja” Partnernja Suaeb pandai mengembara, tapi sering melupakan “rumah”. Waskito menarik perhatiannja sebagai penggempur jang tjepat dan berpotensi besar sebagai pentjetak gol. “Jacob”, katanja, “djangan diberi tugas lain ketjuali menjelesaikan umpan dari kawannja”. Ia menilai Jacob tidak lebih dari tukang pukul”. “Ada kalanja bola jang dianggap lawan lebih membahajakan diri Jacob daripada gawangnja, akan diterdjang Jacob dan berachir dengan gol”.

Dalam bidang teknis permainan, umumnja dedengkot bola Djamiat tidak berbeda djauh dari pandangan Tanoto. Ini dapat dilihat dari tanja-djawab TEMPO dengan pelatih tersebut:

Tanja : Apakah perbedaan Team Olimpik 1956 dan Team PSSI sekarang? Apa sebab bis terdjadi?

Djawab: Problem jang dihadapi ditahun 1956 berbeda dengan sekarang. Demikian pula eksesnja.

Tanja : Problemnja?

Djawab: Misalnja keadaan sosial-ekonomi. Pengaruhnja terhadap problem keluarga sangat terasa. Kwalitas pemain: dulu dan sekarang djuga lain. (Djamiat agaknja mengelakkan soal ekses. Barangkali ia sudah djemu membitjarakan persoalan jang sudah mendjadi umum)

Tanja : Beda kwalitasnja?

Djawab : Soal peng-realisasi-an dilapangan (istilah chas Djamiat). Untuk diterangkan dalam bahasa populer begini: Pemain tahun 1950-an tidak tahu banjak teori, tapi rupanja mereka lebih instruktif melakukan apa jang harus diperbuatnja. Suruh mereka terangkan mengapa harus begini, mengapa harus begitu, mereka tak dapat merumuskan dalam teori. Lain dengan pemai-pemain sekarang. Mereka lebih banjak pengetahuannja bagaimana harus bermain bola dengan baik diluar lapangan. Dengan kata lain mereka sudah siap dengan suatu teori. Tapi ketika tiba pada saat peng-realisasi-annja mereka mendjadi bingung dan tak stabil.

Tanja : Apa sebabnja bisa terdjadi demikian?

Djawab: Banjak.

Tanja : Antara lain?

Djawab : Masih harus mengalami riset sebelum didjadikan kesimpulan ilmiah. (Sampai disini nampak Djamiat akan kebentur dengan lingkaran-maut. Ia kembali mengulang lagi kurang konsistensinja permainan. Sekali kombinasi permainan berkembang bagus, lain kesempatan ngawur tak terarah dan lain sebagainja).

Darah tinggi Djamiat

Sadar akan kwalitas pemain PSSI sekarang dan kelebihan kesebelasan-kesebelasan lawan — antaranja Israel dan Burma dianggap lawan terberat–Djamiat nampak setiap sore turun melatih mereka di Stadion Utama. Para pemain sendiri dipagi hari mendapat latihan fisik oleh Drs. Sukartono dan pengawasan medis Dokter Duhantoro –bekas pemain PSSI Junior ditahun 60-an.

Adakah peningkatan fisik, teknis dan mental selama diasuh Djamiat? Jang pasti 2 minggu mendjelang pertandingan Indonesia-Thailand (20 Maret), tekanan darah Djamiat (45 tahun) meningkat sampai 160/95, “batas maksimal bagi seorang jang kesehatannja normal”, udjar Suhantoro jang setiap sore mentjek kesehatan anggota Team. Tak usah diragukan nasehat dr. Suhantoro. Sebab ekses “darah tinggi” Djamiat, bukan sadja bisa mengganggu kesehatan dirinja, terlebih lagi bisa mengurangi keseimbangan temperemennja didalam mengasuh dan menjusun siasat untuk Team–meskipun kemudian orang merasa bahwa hal itu menjatakan keprihatinan Djamiat terhadap kondisi anak buahnja.

Hari-hari ini, sementara koran-koran mengulas tentang kehebatan para tjalon lawan Indonesia di Ibukota Burma dan berusaha memberi resep untuk mengatasinja, suasana di asrama Senajan ikut mendjadi tegang. Tak terketjuali Frans Hutasoit, Wakil Team Manager Team Pra-Olimpik, ikut terlanda arus ketegangan. Tidak seperti biasa ia mau mengobral komentar. “GTM” adalah djawabnja terhadap pertanjaan Pers. Mengapa Frans harus mendjalankan gerakan-tutup-mulut mendjelang “Operasi Burma”? “Itu perintah Pak Sjarnubie !” udjarnja. Sjarnubie tidak salah. Disiplin harus dimulai dari atas. Terlebih lagi disiplin GTM perlu dipatuhi mulai dari sekarang. Bukan terhadap Pers melulu, tapi terhadap sesama pimpinan Team jang sukar menahan emosinja dikala pertandingan berlangsung.

Menghindari Kiamat

Setelah fasilitas dilimpahkan kepada pembinaan team dan setelah orang menjaksikan prestasi PSSI selama ini, suksesnja PSSI di Turnamen Pra-Olimpik agaknja lebih banjak tergantung dari team pimpinan. Hutasoit kembali pada “GTM”-nja ketika ditanjakan siapa jang berhak menjusun kesebelasan – satu masalah jang paling peka mendjelang pertandingan. Namun orang pertjaja bahwa Djamiat akan memegang teguh tanggung-djawabnja selaku Coach dan Ketua Asistensi Bidang Tehnik. Dan itulah perlunja team Pimpinan mengadakan pembagian tugas seperti jang pernah disinggung Djamiat (TEMPO, 12 Pebruari 1972) –meski setjara keseluruhannja tanggungdjawab berada ditangan Sjarnubie Said.

Selama 42 tahun sedjarah PSSI (didirikan 1930), nampaknja tidak pernah persiapan menudju turnamen dilakukan sebesar sekarang. Disamping ke-18 pemain dan coachnja (lihat box) .Serta Pimpinan Team, ikut pula Aang Witarsa sebagai Sekretaris Team. Joemarsono, Sekdjen PSSI bersama dr. Suhantoro pada tanggal 15 Maret berangkat lebih dulu ke Rangoon untuk mempersiapkan kedatangan rombongan disana. Belum lagi para anggota pengurus PSSI lainnja, jang bersama dengan para wartawan konon berdjumlah 37 orang.

Dan begitu besar pula harapan dilimpahkan kepada Team ini–seolah hanja dengan memenangkan Turnamen Pra Olimpik Rangoon, sepakbola Indonesia terhindar dari kiamat.

Tim Pra Olimpik Indonesia 1972

Daftar 20 pemain PSSI yang memperkuat tim pra olimpik Indonesia 1972. pemain yang menonjol a.l.: Ronny Pattinasarany. ia memiliki naluri yang kuat, pandai mengolah bola. Waskito sebagai penggempur yang cepat.
DJUNAEDI ABDILLAH:

Ampenan, 21 Pebruari 1948. Karyawan PN Pertamina. 1964: TC Salatiga. 1966: Benteng, Surabaja. 1967: PSSI dan Persibaja. Sekarang: PSAD (Persatuan Sepakbola Angkatan Darat). Islam. Budjangan.

JACOB SIHASALE:

Ambon, 16 April 1944. Karyawan PN Pertamina. 1960: PS Benteng, Ambon. 196l: Assjabab dan Persibaja. 1962: PSSI. Protestan. Kawin.

ABDUL KADIR:

Denpasar, 27 Desember 1948. Karyawan PN Pertamina. 1963: Persaba, Denpasar dan Bond Bali. 1965: PSSI. 1968: Assjabab dan Persibaja. Islam. Budjangan.

SALEH RAMADAUD:

Ceram, 4 Mei 1950. Karyawan KBN (Kantor Bendahara Negara). 1966: Taruna Djaja. 1970: PSSI. Islam. Kawin.

RONNY PATTINASARANY:

Makasar, 9 Pebruari 1950. Karyawan BNI 1946 1967: POM, Maluku. 1969: PSAD dan PSM. 1970. PSSI. Protestan. Budjangan.

JUSWARDl

Medan, 2 Djuli 1945. Pegawai Inspeksi Padjak. 1962: Medan Putera. 1964: PSMS. 1966: PSSI. Islam. Budjangan.

MUDJIADI:

Blitar, 17 April 1948. Karyawan PT Phillips Morris. 1964: Blitar. 1965: Indonesia Muda dan Atomcy. 1967: PSSI. 1971: PT Phillips Morris. Islam. Kawin.

RONNY PASLA:

Menado, 15 April 1948. Karyawan BNI 1946. 1966: Dinamo, Medan.1967: Bintang Utara dan PSMS. 1968: PSSI. Protestan. Budjangan.

JUDO HADIJANTO:

Solo, 19 September 1943. Karyawan PN Pertamina. 1955: Pelita Persatuan Pemuda, Solo. 1957: Persis Solo. 1959: UMS. 1965: Maesa. 1968: Setia. 1960Persidja dan PSSI. Protestan. Kawin.

ANWAR UDJANG:

Tjikampek, 2 Maret 1945. Karyawan PN Pertamina. 1960: Pesat, Tjikampek dan Bond Persita, Krawang. 1965: Maesa, Persidja dan PSSI. 1969: Pardedetex dan PSMS. 1970. Bintang Utara, Medan. Islam. Kawin.

WASKITO:

Ponorogo, 29 Djanuari 1949. Karyawan PT Philip Morris. 1966: TC Salatiga. 1967: PSSI. 1971: PT Philip Morris. Islam. Kawin.

ANDI LALA:

Bone, 17 Agustus 1950. Mahasiswa Akademi Bank Nasional 1966: Persibone, Bone. 1969: PSAD, Makasar. 1970: PSM. 1971: Jayakarta dan PSSI. Islam Budjangan.

ISWADI:

Kotaradja, 18 Maret 1948. Karyawan BNI 1946. 1957: MBFA (Merdeka Boy’s Football Association) Djakarta. 1963: Indonesia Muda. 1965: Persidja. 1968: PSSI. Islam. Budjangan.

TUMSILA:

Bindjei, 18 Agustus 1948. Pegawai Inspeksi Padjak. 1966: Medan Putera. 1967: PSMS. 1968: PSSI. Budha. Budjangan.

SARMAN BENO PANGGABEAN:

Pematang Siantar, 7 Maret 1948. Karyawan P Pertamina. 1966: Srinaga, Medan. 1968: PSSI. Sekarang: Medan Putera. Protestan. Kawin.

SUAEB RIZAL:

Bone, 10 Oktober 1947. Karyawan BNI 1946. 1965: Persis, Makassar. 1967: PSSI. Sekarang: PSAD (Persatuan Sepakbola Angkatan Darat. Islam. Kawin.

MACHFUL UMAR:

Pare-Pare, 10 Oktober 1945. Karyawan PT Pembangunan Jaya. 1962: PS Ikatan Peladjar Indonesia. 1965: PSM. 1966: PSSI. 1971: Jayakarta. Islam. Kawin.

SUHARSOJO:

Malang, 13 Agustus 1947. Karyawan PT Philips Morris. 1964: Indonesia Muda. 1966: Banteng. 1967: PSSI. 1968: Atomcy. 1971: PT Philip Morris. Islam. Kawin.

DRS. SUKARTONO:

Blora, 1933. Pelatih fisik, eks Pendjaga gawang Persib dan dosen STO Bandung. Islam. Kawin.

MOH DJAMIAT DHALHAR:

Jogja, 15 Nopember 1927. Coach dan eks pemain nasional. Team manager Jayakarta. Islam. Kawin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: