Protes Tostao & Disiplin Katchalin

bra_tostaoTim sepak bola Brazil, Cruzeiro bertemu Dynamo dari Soviet. Cruzeiro menampilkan keterampilan individu dan kebebasan improvisasi. tim Soviet, sebaliknya, amat berdisiplin. Cruzeiro menang 3-1.HALO Tostao, berapa gol anda mau tjetak sore ini?”Disapa dimuka umum dilobby Kartika Plaza, Tostao jang pendiam bangkit djuga temperamen Amerika Latinnja. Sambil mengernjitkan keningnja jang lebar spontan ia berusaha memberi djawaban. “Tersendat-sendat dalam bahasa Inggeris, ia melingkarkan ibu-djari dan telundjuknja. “Zero!” katanja. Edeng Sulaeman jang bertugas mengurusi team-team luar negeri PSSI mendjelaskan kepada TEMPO bahwa Tostao mengerti bahasa Inggeris, tapi sulit mengutjapkannja.

Dan dokter kesebelasan Cruzeiropun turun membantu, melantjarkan komunikasi. “Bagaimana anda dapat memperhitungkan djumlah gol jang akan ditjetak, padahal ia belum mengenal situasi pertandingan”, udjar dr. Edison de Maton Paixco Filho–nama terpandjang diantara nama-nama anggota team Cruzeiro. Edison benar. Soal mentjetak gol tergantung pada situasi. Seperti pula ketika Tostao membobolkan gawang Dynamo dengan tembakan menari-nari seperti daun gugur. Bola menjambar gawang dengan arah jang sulit diduga. Demikian pula ketika kiri luar Rinaldo membuat voorset banana kick – arah bola melengkung seperti pisang – jang kemudian disambut Eduardo dengan terdjangan kepala kegawang Tomaz. Voorset konvensionil melambung keatas, sedang voorset Rinaldo membikin bola melajang setinggi pinggang dengan garis parabol. Dan jang terpenting ia menjesatkan antisipasi lawan, dan tepat sekali tiba dititik pertemuan jang diperhitungkan Eduardo.

Shooting dan passing jang dipertontonkan pemain-pemain Cruzeiro benar-benar menakdjubkan 100.000 penonton. Berhadapan dengan anak-anak Katchalin jang bertubuh lebih besar dan segar, Cruzeiro mengimbangi dengan permainan pendek dan rendah. Makin ketat pertahanan. Tbilisi jang berpolakan 4-3–3, makin halus dan “sopan” permainan Tostao dkk. Tjara mereka menerobos kedaerah penalti lawan tidak dengan kekerasan, tapi djika perlu sebagai gantinja dipergunakan kelitjikan. Pola permainan 4–2-4-nja demikian demokratis pengetrapannja, sehingga setiap pemain lapangan diikut sertakan untuk memberi saham membuka “tirai besi” Asatiani dkk. Kerdjasama unit per unit dari lapangan tengah kedaerah penalti sendiri sekalipun, dilakukan dengan tjermat dan akurat. Dengan kata lain ketrampilan dan seni sepakbola perorangan dibiarkan berkembang untuk mendjalin usaha gotongrojong membuka benteng Dynamo.

Dan dalam tjara membuka pintu itu, Cruzeiro mengundang Dynamo berlaga dilapangan tengah. Begitu pintu kelihatan terbuka, terdjadilah gerakan kilat. Langgam permainan sematjam ini berhasil memantjing keluar pemain-pemain Uni Sovjet dari pola permainan jang dogmatis. Asatiani dan Guzaev, masing-masing gelandang-penghubung dan kanan luar, memang bisa mengimbangi dengan berbagai variasi permainan individuil, tapi apa jang dapat dibikin kalau rekan-rekan lainnja tidak sehebat mereka. Setiap usaha untuk mengikuti tempo permainan tik-tak Cruzeiro, selalu berachir dengan kerdjasama tak terarah.

Profesional. Itulah sebabnja Asatiani kemudian diganti Katchalin dengan Mchedlishvili dengan tudjuan untuk mempertinggi dan memperkeras tempo permainan. Skor 3–1 untuk Cruzeiro bukan lagi angka kemenangan semata, malahan ia menjatakan nilai-nilai sepakbola Amerika Latin jang melekat pada Tostao, Perfumo (dibeli Cruzeiro dari Argentina dengan $ 100.000), Piazza dan Fontano (tjadangan Piazza di World Cup Meksiko). Istimewa pada back kiri Vanderley. Tjara ia membendung djago dribel Guzaev begitu halus (dan litjik), sehingga jang belakangan ini tidak tahu apa jang sebenarnja telah terdjadi. Sikap dan tingkah-laku profesional ini merupakan tjiri-tjiri sepakbola dewasa ini jang bagus atau djelek harus diterima sebagai kenjataan. Batas-batas melanggar tidaknja terserah pada wasit. Dan pada bidang inilah terlihat kelemahan Wasit R. Hatta jang mendapat kehormatan memimpin pertandingan jang djarang-djarang terdjadi di Asia–meski pada umumnja ia telah menunaikan tugasnja dengan baik.

Sjahdan, Coach Dynamo Katchalin bukan orang asing dalam tipe permainan orang Brazil. Berkata dia pada TEMPO mendjelang pertandingan jang menjangkut kehormatan bangsa: “Pengalaman saja di Meksiko mengadjarkan bahwa sepakbola jang ideal adalah kombinasi dari dua mazhab: Eropa dan Amerika Latin”.

Scientific Soccer in the Seventies oleh Roger Mac Donald dan Eric Batty mengetengahkan bab “Gavril Katchalin” dan menurunkan komentar: “Permainan sepakbola Rusia biasanja tjepat, keras dan bertekad – sebagaimana pula tjorak permainan sepakbola Inggeris ditahun 1950-an. Tapi, beberapa tahun ini titik beratnja mulai berubah–sebagaimana pula jang terdjadi di Inggeris. Orang Rusia kini mulai membentuk image baru melalui pemain-pemain muda jang berbakat: Muntian, Bishovets, Asatiani dan Puzach. Mereka tergolong pemain-pemain terbaik di Eropa..”.

Nasib. Kegagalan Rusia di Meksiko menimbulkan kritik hebat pada diri Katchalin. Dan “itu sudah nasib seorang coach”, kata bekas coach Nasional Uni Sovjet ini dengan penuh pengertian. “Tapi”, komentar buku itu lebih landjut “djika mereka kembali pada Katchalin, Uni Sovjet dapat menghadapi Kedjuaraan Dunia 1974 dengan kepertjajaan melebihi kedjuaraan-kedjuaraan sebelumnja”.

Ketika Tony Pogacnik mendjawab pertanjaan Djamiat (jang kemudian mentjeritakan lagi kepada TEMPO) tentang kwalifikasi Katchalin, ia hanja mengutjapkan tiga patah kata: “Dia orang pintar”. Ketika didesak lebih landjut, Tony mengatakan, “tapi sajang” Apa jang disajangkan Tony? “Sajang dia orang Rusia”, katanja. Sebagai orang Rusia Katchalin tidak bebas melakukan apa jang dikehendaki. Dan tidak mustahil-djika turnamen dilakukan dengan kondisi di Meksiko – mazhab baru akan lahir: kombinasi sepakbola Eropa dan Amerika Latin dengan pola (agak ekstrim) 3-3-4, 3 back, 3 penghubung dan 4 penjerang. Sebab kata Katchalin, organisasi jang disiplin pertahanan ala catenaccio akan termakan oleh kekerasan alam dan bertentangan sekali dengan naluri menbetak gol.

Agaknja kondisi alam di Indonesia meski tidak seburuk di Meksiko misalnja, bukup membuat Katchalin prihatin. Namun jang amat terasa oleh sementara penindjau adalah kurang bebasnja Katchalin (sebagai orang Rusia) memberi instruksi “main keras”. Ini terlihat djelas bagaimana pemain-pemain Rusia dihinggapi restriksi: takut menimbulkan keonaran. Sebab, simpati bisa hilang. Dilihat dari segi ini Dynamo menang. Pertandingan skor 3–1 untuk Cruzeiro, tidak mengurangi simpati 100.000 penonton.

Falsaht. Benar tidaknja ada restriksi sebagai faktor kekalahan Dynamo, kini giliran Edison, dokter Cruzeiro, untuk membahasnja. “Mereka gila, lari-lari tak keruan”, kata sang Dokter. Sistim 4-3-3 Dynamo polanja mati. Dan iapun mengungkit lagi falsafat hidup dan temperamen orang Brazil jang ingin melakukan sesuatu dengan penuh kebebasan, dimana manifestasi perorangan mendjadi prestasinja. “Kita main bola bukan untuk tidak kalah, tapi untuk menang. Dan kalau menang 1–0 atau seri 0–0 bukan hasil jang menggembirakan. Kalau menang kita mau menang sebanjaknja”. Dengan kata lain konsekwensinja kalau kalah, kalah dengan djumlah banjak gol. “Bukankah kita hidup untuk menang?”, tanja Edison.

Ia kemudian menjingkap latar belakang kehidupan sepakbola Brazil. Pemain-pemain Brazil pada umumnja melampaui “masa Pelada” masa anak-anak seperti “Gawang”. Pada masa itu mereka bermain bola tanpa badju dipinggir djalan atau dilapangan terbuka. Pada waktu itulah mereka beladjar menendang dan menguasai teknik dasar sepakbola tanpa guru –dengan guru dianggap dapat mengurangi kegairahan bermain. Baru pada saat mereka bersepatu-bola, bimbingan setjara sistimatis mulai diberikan. “Tapi”, diingatkan oleh Edison, “mereka tidak dididik bermain dengan posisi ini dan itu seperti lazimnja di Eropa”. Lalu apa jang diadjarkan? “Mengolah bola, menjepak dengan segala posisi dan variasi dan jang lebih penting bimbinglah mereka mentjari bentuknja sendiri-sendiri’. Hal kebebasan ini amat penting. Sebab kata Edison, hanja dengan kebebasan seorang pemain dapat melakukan improvisasi-tjiri utama sepakbola Amerika Latin. “Dan begitulah seharusnja sepakbola”, tambahnja lagi, “kreativitas taktik dan teknik jang bersumber pada improvisasi tidak ada habis-habisnja dan selalu berubah menurut situasi”.

Bagaimana soal fisik? “Ini amat penting”, djawabnja terkedjut, mendengar pertanjaan seolah faktor kesegaran djasmani bagi pemain-pemain mereka tidak mendjadi soal. “Tapi harus diingat, pertandingan lawan Dynamo terdjadi pada waktu kami telah 46 hari dirantau. Kami masih akan bertandingan sekali di Kuala Lumpur, 2 kali di Bangkok, 2 kali di Teheran dan 3 kali di Roma sebelum tiba kembali di Brazil. Itulah sebabnja mereka harus membagi-bagi tenaga”. Dengan kata lain, djika keadaan menuntut lebih dari itu, merekapun bukan tidak mampu melakukan. Tjuma, agaknja dalam memupuk kesegaran fisik, faktor-faktor psikologis–berpakaian, bergaul, berambut gondrong dan ber-rekreasi sekalipun – djuga mendapat tempat utama. Buktinja Tostao dan beberapa rekannja jang gondrong-gondrong – konon sebagai protes terhadap salah seorang ofisialnja – sempat menikmati “massage dan steambath” disekitar Djalan Blora. Hasilnja njata: Tolstao membobolkan gawang Ronny Pasla 2 kali tanpa balas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: