PSSI Di Mata Asia

Tempo 8 April 1972. Banyak lawan menjagoi Indonesia untuk keluar sebagai juara pra olimpik 1972 di Rangoon. ketua FIFA menilai permainan Kadir dan kiper Yudo bertaraf internasional. banyak terdapat peningkatan mutu.

SEMENTARA tidak sedikit penggemar sepakbola Indonesia melepas team PSSI ke Turnamen Pra-Olimpik dengan rasa tjemas bertjampur harapan, tidak kurang pula bakal lawan-lawannja jang mendjagoi Indonesia untuk keluar sebagai djuara. Di Inya Lake Hotel, tempat menginapnja para peserta (ketjuali Birma) dan para ofisial FlFA* dan AFC jang menangani penjelenggaraan babak kwalifikasi Olimpik bersama tuan rumah Birma, sorotan terhadap anak-anak Indonesia bagaikan santapan pagi mereka. Dari kasak-kusuk jang mampir ditelinga Redaktur Olahraga TEMPO Lukman Setiawan, ternjata — apapun sikap merendah dikemukakan para pemain Indonesia–sikap tegas dan penuh kejakinan dari Hadji Sjarnubi Said berhasil meradang sampai kesungsum lawan. “Kita akan sapu semua lawan”, pernjataan sang Hadji kepada Pers selesai Managers” Meeting, setelah terlebih dulu didalam sidang tersebut ia menjatakan “No problem” setjara blak-blakan terhadap perubahan sistim pool jang memaksa Indonesia harus bertanding melawan Israel dan India Dan Frans Hutasuit, Wakil Team Manager Indonesia pun sadar bahwa untuk ‘menjapu lawan’ bukan dengan “sapu kaju”, tetapi dengan permainan bersih tanpa meninggalkan permainan keras. Psy-War. Namun agaknja Hutasoit merasa perlu mempertebal mental bertanding anak-buahnja, sambil sekaligus mentjiptakan suasana psikologis jang menguntungkan. Untuk ini rombongan PSSI dibawanja berziarah kemakam Aung San, Pahlawan Revolusi Birma. Dan keesokannja–mendjelang malam pertandingan Indonesia-Muangthai tersiarlah gambar-gambar team Indonesia jang begitu simpatik akan penuh kechidmatan memandjatkan doa dihadapan makam Pahlawan Birma. “Apakah tindakan ini dipandang sebagai psy-war atau bukan, terserahlah”, kata Hutasoit. “tapi pertjajalah keichlasan kami sebagai wakil rakjat Indonesia didalam menunaikan mission nasional”. Dan memang disamping nilai-nilai magis dan mistik jang selalu melekat pada bangsa Timur, rasa religius jang berakar pada para anggota team tidak pula diabaikan. Hari Djumat dan hari Minggu pertama dirantau, hiampir semua anggota rombongan beribadah di Mesjid dan Geredja. Sementara itu, keluara KBRI di Rangoon jang djarang-djarang ditamui oleh saudara-saudaranja dari Tanah Air, melalui Kuasa Usaha lan Pers Atasenja, masing-masing Hartojo dan Moh Arief, berusaha untuk mentjukupi kebutuhan team – Dubes Hartono sendiri baru tiba kembali diposnja dari Tanah Air pada tanggal 26 Maret. Stanley Rouse. Begitulah hari-hari selama di Rangoon dilewatkan. Disamping latihan-latihan seperlunja untuk mendjaga kondisi dan memenuhi djadwal pertandingan, usaha mentjapai final ditempuh dengan segala upaja jang maksimal. Tetapi bagaimanakah sikap 1,8 djuta rakjat Ibukota Birma–disamping mendjagoi Kesebelasannja–djuga mengungguli team Indonesia dan Israel? Agaknja selama dua minggu masa Turnamen ini, hidup mereka terkungkung hanja oleh pagoda dan sepakbola. Meski sesungguhnja Turnamen untuk memperebutkan peluang ke Olimpiade Munich bagi mereka lebih merupakan ukuran untuk mendjadjagi kekuatan sepakbola Asia di dunia. “Dapatkah salah satu kesebelasan Asia tampil sebagai djuara di World Cup?” tanja seorang wartawan Birma pada Sir Stanley Rouse disuatu konperensi pers. Sir Stanley jang dikenal sebagai Ketua FIFA, tidak tjanggung djawabnja: “Bisa sadja. Bola itu bundar. Dan bisa sadja seorang wasit atau pendjaga garis membuat kesalahan”. Namun demikian dalam suatu pertemuan chusus antara Sir Stanley dan Sjarnubi Said selaku Pimpinan PSSI (jang didampingi Jumarsono dan Hutasoit, masing-masing Sekdjen dan Komisaris PSSI) Ketua FIFA itu menundjuk kiri luar Kadir jang boleh ditarafkan dengan pemain pro Eropa dan kepada kiper Judo ia menundjukkan kekagumannja. Terhadap kesebelasan Indonesia jang begitu fanatik untuk memenangkan Turnamen opini publik Birma sederhana: “Kalah menang itu sepakbola”. Dan sikap lunak mereka terpantul pada 40.000 penonton jang selalu memenuhi Stadion Aung San dipusat kota: memihak jang bermain tjemerlang dan mengedjek jang bermain kotor. Kesadaran untuk mentjapai sepakbola jang bermutu amat mendjiwai mereka. Itulah sebabnja mereka lebih-lebih menganggap Pra Olimpik sebagai barometer untuk menilai kesebelasan-kesebelasan Asia ditengah sepakbola dunia — termasuk pula Indonesia. *** Menempatkan diri sebagai petjinta bola Birma neratja PSSI dari tahun 1971 sampai tengah berlangsungnja Pra-Olimpik tersimpul pada data berikut: Indonesia – India 3–1 (Merdeka Games 71, K. Lum) Indonesia – India 1–2 (Pesta Sukan 71 Singapura). Indonesia – India 4–2 (Pra–Olimpik 72, Rangoon). Indonesia – Thailand 1–0 (Asian cup 71, Bangkok). Indonesia – Thailand 0–0 (Aniversary cup 71, Djakarta). Indonesia – Thailand 0–1 (King’s cup 71, Bangkok). Indonesia – Thailand 4–O (Pra-Olimpik 72 Rangoon). Indonesia – Burma 1–3 (Presiden’s cup 71, seoul) Indonesia – Burma 1–1 (Anivesary cup 71 Jakarta). Indonesia – Burma 0–1 (Final Ann. cup 71, Jakarta). Indonesia – Burma 2–2 (Merdeka Games 71, K. Lum). Indonesia – Burma 0–1 (Final Merdeka Games 71, K.L). Indonesia – Burma ? (Pra–Olimpik ’72, Rangoon) *** Sebegitu djauh adakah peningkatan mutu dari kesebelasan Asia (ketjuali Israel)? Sir Stanley Rouse tidak ragu. Djawabnja pasti, meski ia lebih jakin djika program pendidikan coaching FIFA jang baru sadja berachir di Kuala Lumpur dimana ikut pula Aliandu dan Frans Jo dari PSSI–dapat dilandjutkan ditahun-tahun, jang akan datang.

Advertisements

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: