Improvisasi Jenuh Di Rangoon

Tempo 15 April 1972. PSSI gagal menjuarai pra olimpik di Rangoon. Peristiwa kadir dianggap awal dari kegagalan. Kesebelasan Indonesia lemah pada pertahanan dan penghubung. Syarnubi Said akan mengundurkan diri.
Kelesuan akibat kegagalan team sepakbola Indonesia dalam turnamen pra-olimpik di Rangoon rupanja tak terobati dengan kemenangan Rudy Hartono dkk dalam tjabang bulutangkis di London, Djum’at siang minggu lalu, suasana djauh dari meriah seperti ketika menjambut Rudy dkk beberapa hari sebelumnja, ketika team PSSI tiba kembali di lapangan terbang Kemayoran. Tak ada keterangan resmi dari Djamiat maupun Hutasoit, sementara H. Sjarnubi, Said jang telah pulang lebih dahulu dan sedianja akan memberikan keterangan pers pada saat kedatangan team, tidak terlihat muntjul menjambut. Konon akibat kegagalan di Rangoon itu, Sjarnubi Said akan mengundurkan diri dari PSSI. Tentang kegagalan PSSI itu sendiri Lukman Setiawan, Kepala Desk Olahraga TEMPO menitipkan laporannja dari Rangoon jang dimuat berikut ini Lukman sendiri memisahkan diri dari rombongan, untuk bertugas pula mengikuti Grand Prix jang diadakan di Malaysia minggu ini.

WASIT H.S. Dillon dari Singapura menghantarkan kulit bundar ketititik putih. Itu terdjadi dimenit 53 (babak kedua), sesaat Rosen menjambut sambaran kepala Jacob jang berusaha membobolkan gawang Vissoker. Kehilangan keseimbangan, pembabat dari Israel ini tidak kurang akal: ia membendung ladju bola dengan tangan. Pelanggaran ini memperoleh gandjaran penalti dititik putih. Dan 40.000 penonton jang memenuhi Stadion Aungsan malam itu merasa lega. Dukungan mereka jang melimpah-limpah kepada Kes Indonesia sedjak peluit pertama awal pertandingan, menantikan pelaksanaan hukuman jang dapat menjamai kedudukan kedua Kesebelasan mendjadi 1-1.

Skor 1–1 ini bagi Indonesia keramat. Sebab bukan sadja Indonesia dapat keluar sebagai djuara Pool – dengan demikian menghindarkan Birma disemi final – malahan pertandingan ini mempunjai arti historis. Tidak pernah sebelumnja kedua kesebelasan ini bertemu digelanggang turnamen jang sepenting ini — meski ditahun 1967 diarena kedjuaraan Junior Asia kesebelasan PSSI Junior pernah dipukul 0-3 oleh Israel.

Tapi. Siapa jang akan diberi tugas algodjo untuk penalti tersebut? Kadir, kiri-luar PSSI jang bergelar Olahragawan Terbaik 1971, setjara pasti menempatkan diri dimuka pendjaga gawang Vissoker, kiper kelas dunia Israel jang sebelumnja berhasil menjelamatkan tendangan penalti pemain Sri Langka dalam babak pendahuluan. Berhadapan dengan gawang lawan disebelah selatan, hembusan arah angin jang berlawanan nampaknja tidak menggojahkan kejakinan Kadir akan peluang semata wajang ini. Dan antjang-antjang 3 meter seperti kebiasaannja–pun diambil Kadir. Peluit hukuman dibunjikan. Dan seperti kebiasaannja pula 6 langkah-langkah lintjah merapat kemangsanja. Begitu tjepat momen itu terdjadi, sehingga semua hadirin jang terbawa oleh arus langkahnja, ikut teperdaja ketika ia mendadak berhenti sekedjap dimuka bola. Vissoker ikut terketjoh. Kekiri reaksinja. Dan semua penonton mendjadi saksinja – termasuk pula algodjo PSSI ini. Disaat Kadir hendak mengajunkan kaki kanan (bagian dalam), sajup-sajup bisik Iswadi menembus telinganja: “Kekanan Dir !” – maksudnja kekiri gawang, kearah sebaliknja Vissoker bergerak. Disaat pelaksanaan ini bola dengan lunak ditembakkan rendah kesudut jang 100% tidak bisa didjangkau kiper Israel lagi. Tapi disini perlu tapinja — Dewi Fortuna agaknja membelakangi simpati penggemar bola Birma jang sudah siap melepas keluhannja menjambut kedudukan 1–1 skor jang memungkinkan Indonesia bertemu dengan Birma difinal: dengan perhitungan Indonesia bisa menang dari Thailand dan Birma dari Israel. Bola melentjeng beberapa senti dari tiang gawang dan lenjap pula segala tjerita “ketidak mustahilan” jang kemudian diikuti oleh berbagai “andaikata”.

Tetapi masih ada djalan bagi Wasit Dillon – jang selama pertandingan tersebut banjak membantu fihak Indonesia – untuk mengulangi tendangan penalti itu. Karena djika Iswadi sempat melihat Vissoker bergerak kekiri pada saat Kadir berhenti sebelum kaki kanannja menjentuh bola, bukankah itu suatu pelanggaran? Atau kemungkinan lain: Vissoker terketjoh bagian badannja tanpa menggeser tapak sepatunja. Baru pada saat Kadir menendang bola, kiper Israel ini kehilangan keseimbangan dan sepenuhnja bergerak kekiri.

Bengong. Kekalahan 0–1 dari Israel memang tidak menundjukkan kelebihan menjolok dari Kesebelasan jang pernah terdaftar dalam daftar 16 besar di Kedjuaraan Dunia Meksiko 1970. Namun “Peristiwa Kadir” itu menghantui derap PSSI menudju babak semi-final, meski sesungguhnja peluang untuk mengalahkan Burma diatas kertas masih tertulis 50%–5070. “Saja bengong”, reaksi pertama Djamiat atas kegagalan Kadir. ‘The beginning of an end’, keluh Hutasoit dalam bahasa Inggeris – seolah kurang kena kalau diutjapkan dengan bahasa dewek –meski komentar tersebut baru dinjatakan setelah Indonesia disisihkan Burma 0–3.

Adakah “Peristiwa Kadir” merupakan “awal dari suatu achir”? Tidakkah terlalu kedjam untuk mendjatuhkan vonis demikian? Inilah sepakbola. Dan kisah kekalahan tidak selalu kurang menarik dari tjerita kemenangan, meski Team Manager Hadji Sjarnubi Said mengembalikan peristiwa itu sebagai “apa boleh buat djika kehendak dan usaha maksimal anak-anak diputuskan lain oleh Tuhan”.

Berhenti. Sjahdan disiang mendjelang malam pertandingan Indonesia Israel, suasana tegang mentjekam InyaLake Hotel. Di lobby tingkat 4, Djamiat mengadakan briefing pada asuhannja. Sementara Coach Israel Smilovitz melatih anak-buahnja dipekarangan Hotel. Agaknja Djamiat sadar bahwa 3 penalti terdahulu–satu untuk India ketika berhadapan dengan Indonesia dan dua lagi masing-masing untuk Israel dan Sri Langka ketika mereka saling berhadapan-tidak satupun menemui sasarannja. Melihat pengalaman tersebut, mungkin sekali Djamiat diperas otaknja untuk tidak mengulang peristiwa kegagalan tendangan penalti itu. Dan Djamiat-pun jang pernah membobolkan gawang kiper dunia secara dari Jugo dalam tendangan 12 pas, mengemukakan taktik klasiknja. “Setelah antjang-antjang, tjepat lari dan berhenti didekat bola”, diterangkan Djamiat lengkap dengan tjontoh geraknja, lalu lihat dulu gerak kiper, lalu tembak”. Begitulah djadinja: gerak Kadir merupakan duplikat adjaran Djamiat, sementara Vissoker djuga terpedaja reaksinja. Hanja rupanja finishing touch Kadir tidak sedjurus dengan bidikannja.

Latarbelakang jang tak pernah tersingkap dihadapan 40.000 petjandu bola Birma ini ternjata mempunjai kisah tersendiri bagi Kadir. Seingatnja selama diberi kepertjajaan membereskan penalti, tak pernah ia meluputkan sasaran baik dalam latihan maupun dalam pertandingan – ketjuali di Merdeka Games 1970, ketika ia gagal menembus gawang Chee Kiong, karena bola mandek digenangan air. Tapi untuk melakukan taktik penalti seperti itu baru pertama saja lakukan”, kata Kadir mendjelaskan. Dan mengapa pemain kawakan seperti dia tidak menolak sadja, atau paling tidak tinggal tetap pada kewadjarannja? Pertanjaan ini sampai sekarang – terlebih lagi setelah Indonesia tersisihkan dari peluang ke Munich – mendjadi bahan diskusi jang tambah berlarut dan makin kusut. Seolah kelangsungan hidup sepakbola Indonesia dipertaruhkan disepatu Kadir.

Hutasoit Disaat-saat team Indonesia terombang-ambing oleh momok “kesialan” itu, disaat-saat mawas diri atas kegagalan dipersempit hanja oleh pertandingan Indonesia-Israel, Hutasoit pun berusaha menempatkan proporsi persoalan. “The beginning of an end atau the end of a beginning?” Hanjanja pula kepada para wartawan. Disinilah djantung persoalan. Dan alangkah naifnja kegagalan Indonesia dalam suatu turnamen seperti Pra-Olimpik ditindjau dari suatu puntjak peristiwa, sehingga hasil pembinaan oleh kegagalan Kadi mentjeploskan tendangan penalti merupakan “achir dari suatu awal”. Kala demikian halnja, hidup PSSI tidak lagi lebih tragis. Semua upaja jang pernaah ditjapai PSSI sebelumnja ikut tenggelam bersama usaha take off-nja di Turnamen Pra Olimpik. Tetapi dengan tenang pula Hutasoit kemudian mendjawab pertanjaan para wartawan bahwa dia masih jakin untuk meneruskan pembinaan PSSI dengan kondisi seadanja PSSI dewasa ini. Tentu dengan tjatatan melakukan koreksi disana-sini untuk menudju perbaikan.

Dimanakah letak kelemahan dan ke kurangan PSSI jang perlu dipermak? Pada pertanjaan inilah orang perlu menengok hasil Turnamen (lihat box) dari lingkup jang lebih luas berikut Cuma faktor jang mempengaruhi proses kelangsungannja.

Strategi. Indonesia mengawali babak pendahuluan digrup “A” bersama Israel dan India, setelah terlebih dulu mengalahkan Thailand 4-0. Kemenangan ini sukar dibikin tidak menjolok. Thailand turun tanpa beberapa pemain intinja dan dengan permainan sedang-sedang sadja Indonesia memang pantas memperoleh ke menangan tersebut. Prinsip “memenangkan seluruh pertandingan” seperti jang pernah dikemukakan Team Manager Sjarnubi Said, agaknja didjadikan strategi memenangkan turnamen. Andaikata Indonesia mengalah terhadap Thailand, djalan turnamen mungkin akan berubah Perhitungan mendjadi: Indonesia–Burma–Sri Langka digrup “B” dan- Thailand-India-lsrael digrup-“A”. Dan kemungkinan Indonesia tidak berhadapan dengan Burma disemi-final setjara mutlak dapat dipastikan.

Tetapi strategi sematjam ini akan membawa implikasi psikologis, baik bagi mental bertanding anak-anak PSSI maupun dukungan publik Burma jang mendjagoi Indonesia. Terlebih lagi bahwa kematangan turnamen team PSSI–terus terang–masih diragukan. Mereka sukar distel “kendor kentjang” sesuai dengan kemauan. Setiap usaha kearah itu tidak mustahil akan mengurangi kewadjaran standar prestasi mereka jang pernah diperlihatkan di Djakarta ketika berhadapan dengan kesebelasan-kesebelasan luar negeri. Itulah sebabnja mentjari latar belakang kesalahan dengan mentjari kambing hitam dari segi strategi agaknja kurang kena.

Teknis. Israel dengan pemain-pemain “World Cup”-nja seperti Vissoker, Bar, Shwager, Rosen, Sphiegel, Shum dan Spiegler pada umumnja setjara teknis dinilai sebagai kesebelasan jang paling sempurna. Team-work jang berpolakan 4-3-3 amat luwes pelaksanaannja. Djika perlu mereka akan berubah setjara otomatis dengan menempatkan seorang sweeper (Rosen). Ini diperlihatkan mereka sewaktu membendung serangan kwartet Iswadi Jacob-Waskito -Kadir. Skill perorangan mereka demikian matang, sehingga dalam menghalau serangan lawan dari daerah penalti tidak dilakukan setjara destruktif. Dengan Sphiegler sebagai otak penjerang, daerah tengah dikuasai dengan baik. Sphiegler harus ditjatat sebagai pemain kidal jang paling berbahaja dan bertemperamen. Kelemahan kesebelasnnja akan “ketjepatan dan gigitan” speed and bite) untuk mentjiptakan peluang berhasil diatasi dengan gerakan-gerakan indah dari pemain berkaos nomor 10 ini. Tapi agaknja watak profesionalisme team Israel tidak berhasil merebut simpati penonton maupun wasit. Memperlambat djalan pertandingan, memperpandjang waktu setiap kali permainan berhenti untuk memperbaiki posisi, memprotes wasit dan berbagai gimmick lainnja, merupakan spesialisasi pemain-pemain Israel. Meski setjara rasionil Israel akan menempatkan diri difinal, namun pengaruh emosi penonton (dan wasit) berhasil menjisihkannja.

Buktinja ketika berhadapan dengan Thailand jang bermain dengan pertahanan jang paing destruktif-disemi-final, Israel tidak pula merebut hati penonton. Bahkan gol Sphiegler jang djelas tidak off-side dianulir Wasit Alvarez dari Filipina, setelah ia melihat kibasan bendera pendjaga garis Nguyen Quang Toai dari Vietsel. Tidak pertjuma Sir Stanley Rous sebelumnja pernah berkata: “Bisa sadja salah satu Kesebelasan Asia keluar sebagai djuara di World Cup, mengingat bola itu bundar dan bisa sadja wasit atau linesmen membuat keputusan salah”.

Burma. Sang Djuara Burma memang pantas mewakili Asia ke Munich. Pada kesebelasan ini terdapat homogenitas. Permainannja meningkat terus selama Turnamen, ketjuali difinal ketika berhadapan dengan Thailand. Dengan bentuk permainan jang agak gugup dan kesusu, Burma njaris dari undian penalti seperti jang terdjadi pada pertandingan Thai-Israel. Anak-anak Thailand membuktikan dengan bertahan selama 90 menit dan perpandjangan waktu 2 x 15 menit, tiket ke Munich dapat ditjapai bukan dengan permainan, melainkan dengan undian. Untuk ini mental (destruktif) dan kegigihan Narong dkk harus mendapat penghargaan.

India. Tidak pertjuma Coach Banerjee menampilkan kombinasi pemain muda dan tua. India memiliki penghubung terbaik dari semua penghubung jang dimiliki team-team Asia: Mohan Singh. Kapten Mohamad Habib dan Ghosh Dastidar dengan bantuan Mohan Singh merupakan pemain depan jang berbahaja. Tapi barisan belakang mereka terlalu lemah untuk memberi saham kemenangan. Team India jang masih hidjau ini dalam waktu singkat memastikan diri untuk mendjadi salah satu team terkuat di Asia dalam waktu pendek. Publik opini berpendapat bahwa India lebih lajak masuk disemifinal menggantikan Thailand Sementara Sri Langka jang tersisihkan dengan perbandingan gol 1-13, tidak lebih dinilai sebagai kesebelasan jang sportif dan perlu peningkatan disegala lini.

Indonesia. “Bagaimana kami dapat membendung keempat anak panah kalian, tanja Banerec atas kekalahannja lawan Indonesia 2-4 Dan ulasan-ulasan terhadap kehebatan kwartet penjerang Indonesia inipun mendjadi bahar, pembitjaraan penggemar bola di Rangoon. Tetapi apa jang mentjemaskan fihak Indonesia disamping kelebihannja itu, adalah kelemahan dibarisan penghubung dan pertahanan. Judo menundjukkan grafik menurun. Dua gol oleh Burma paling tidak dapat diamankan djika ia tepat reaksinja. Berpalinglah orang akan Ronny Pasla jang selama pertandingan pertandingan try-out di Djakarta menundjukkan permainan tjemerlang. “Setelah melakukan beberapa pertandingan saja sendiri merasa kurang safe”, di akui Judo kepada wartawan Pedoman Zaini Hamid, “mungkin konsentrasi saja sudah mengurang akibat usia saja”. Judo kemudian setelah babak pertama konon pernah mengusulkan kepaa Djamiat supaja diganti sadja, tapi “main sadja, kita lihat dulu”, udjar Djamiat. Baru setelah kedudukan 0-3 Judo diganti Ronny jang berhasil mengamankan gawang Indonesia dari serangan Burma jang bertubi-tubi.

Kelemahan pertahanan dan penghubung oleh Djamiat hendak diatasi dengan pola permainan 4-4-2. Dengan perhitungan djika lawan dapat ditahan pada menit-menit pertama, tempo permainan mereka jang tjepat akan membuat mereka panik dan kesusu. Iswadi dan Kadir turun membantu Sarman dan Suaib. Jacob dan Waskito tinggal dimuka sebagai runtjing penjerangan. Tetapi Burma pada malam itu berhasil mengembangkan permainan baik. Aye Maung I dan Aye Maung II mendjeladjah dibagian tengah lapangan dan turut merobek-robek pertahanan Indonesia jang kekuatannja sudah maksimal.

Kemana Saleh Ramadaud dan Ronny Pattinasarany? Tanpa Saleh jang mengalami tjedera sewaktu lawan India, kebotjoran memang lebih sering terdjadi. Saleh selama pertandingan lawan Thailand dan India tidak diragukan adalah bintang barisan pertahanan Indonesia. Dan Ronny Patti jang bermain « pertandingan lawan Thailand kumat lagi otot pahanja. Jang belakangan ini pernah diturunkan dibabak kedua menggantikan Saleh, sewaktu lawan India namun permainannja agak timpang nampaknja. Tanpa Ronny sebenarnja lumpuh sudah barisan penghubung. Semua serangan jang dilakukan kebanjakan dilantjarkan dari belakang tanpa via permainan tengah lapangan. Sedang Djunaedy jang ditjoba ketika melawan Israel paling kwang telah menjia-njiakan dua peluang. Praktis ia tidak dalam bentuk semula setelah ditjutikan selama hampir dua bulan akibat tjedera lututnja.

Coach Fisik Sukartono mendjelang pertandingan melawan Burma konon pernah memberi penilaiannja terhadap Ronny dan Saleh. Dikatakan bahwa Saleh dapat diturunkan penuh, tapi Ronny mampu bermain setengah. Mengapa Djamiat tidak memanfaatkan nasehatnja? Agaknja djarak 7 hari dari pertandingan lawan India sampai Indonesia berhadapan dengan Burma tiak memberi kepastian mengenai kondisi kedua pemain itu. Dan diatas kertas sulit dipertaruhkan material seadanja terhadap Kesebelasan Burma jang kwa team-work dan semangat bertanding lebih mejakinkan.

Dalam pertandingan melawan Birma Dubes Sumartono menjatakan kesan nja bahwa kesebelasan Indonesia kalah dalam soal stamina. Sebagai seorang olahragawan motor-boating jang pernah memenangkan medali emas di PON VII Surabaja atas nama Kalsel mengingatkan akan persiapan team Burma jang digembleng setjara kontinju selama 7 bulan. Dan ia memang patut mengemukakan pendapatnja – meski diakuinja seorang awam dalam sepakbola mengingat usaha seluruh keluarga KBRI disana jang membantu PSSI dengan maksimal supaja tertjipta kondisi fisik dan psikologis jang diperlukan.

Tapi berdasarkan penilaian Sukartono, “anak-anak paling banjak baru mengeluarkan 70% dari potensi fisiknja”. jadi dimana letak udjung pangkal kegagalan Indonesia?

Djenuh. Setelah semua usaha dikerahkan, baik jang materiil dan moril maupun jang teknis dan taktis, nampaknja material pemain dan coach PSSI sudah mentjapai puntjaknja. Dalam pelaksanaan dilapangan hidjau ketika melawan Burma, keadaan serba djenuh. Tiada improvisasi jang dapat dilakukan penghubung maupun penjerang Indonesia untuk membuka peluang meski sekali-sekali terdjadi terobosan-terobosan jang mendebarkan hati.

Kegagalan PSSI di Pra-Olimpik tidak mengurangi martabat Indonesia sebagai negara sepakbola terkemuka di Asia. Namun untuk mendobrak suasana djenuh dan memulihkan kepertjajaan kepada para pemain jang petjundang merupakan problem chusus bidang pembinaan. Adakah kegagalan PSSI ini merupakan “achir dari suatu awal” seperti jang dikemukakan Hutasoit? Pasti ja, andaikata semua pimpinan dan pengasuh PSSI mempersempit dunia sepakbola hanja pada tjakrawala turnamen Pra-Olimpik. Ketjenderungan terdjadinja hal seperti tersebut diatas tidak mus tahil. Terlebih lagi ketika Sjarnubi Said setjara ksatria mempersiapkan pernjataan pengunduran dirinja setelah anak buahnja gagal. Sikapnja akan rasa tanggung-djawab jang besar memang patut dipudji, meski terlalu gegabah untuk dibenarkan, apalagi dinilai sebagai tindakan untuk mendobrak kedjenuhan team PSSI. Sebab semua orang tahu bahwa njelonongnja tokoh Sjarnubi diputjuk pimpinan PSSI bukan untuk menjunglap ketrampilan teknis dan peningkatan kondisi fisik PSSI. Agaknja proporsi persoalan terletak pada kelandjutan pembinaan, berdasarkan landasan jang telah digariskan rentjana kerdja PSSI sendiri.

***

HASIL TURNAMEN PRA-OLIMPIK RANGOON 20 Maret s/d 4 April 1972 ==================================== Babak Pendahuluan:

Indonesia – Thailand 4–0 Burma – India 4–3 Israel – Sri Langka 3–0

Penjisihan Grup:

Burma – Sri Langka 5–1 Indonesia – India 4–2 Thailand – Sri Langka 5–0 Israel – India 1–0 Burma – Thailand 7–0 Israel – Indonesia 1–0

Semi Final:

Thailand – Israel 4–2 (setelah perpandjangan 2 x 15 menit dan skor hasil undian penalti) Burma – Indonesia 3–0

Final :

Burma – Thailand 3–0

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: