Rosihan Boleh, Mengapa Cipto Tidak !

Tempo 6 Mei 1972. Tuti Sucipto istri pemain PSSI Sucipto memprotes ketua PSSI agar suaminya tak lagi dapat panggilan dari PSSI. menurut Tuti hal tersebut untuk kepentingan keluarga & kondisi Sucipto yang tidak memungkinkan. KETIKA PSSI berniat memanggil pemain-pemain lama untuk kembali menendang bola, agaknja Tuti adalah orang jang paling sibuk. Pernah menghubungi Kosasih, bahkan sempat sampai didepan kantor Pertamina, Djalan Perwira meng hadap Sjarnubi, tapi gagal bertemu. Maksudnja hanja satu: memberitahu kan bahwa Sutjipto tidak lagi ber main bola. Benar atau bohong pernjataan Tuti itu bahwa suaminja tidak menendang bola lagi tidak merupakan hal jang penting bagi dia. “Sudah tjukup 10 tahun, sekarang giliran keluarga”, kata Tuti kepada TEMPO. Isteri Tjipto memang tidak main-main menjebut “giliran keluarga”. Djumat siang minggu lalu ia sedang sibuk mempersiapkan hiasan-hiasan untuk ulang tahun ke-8 anak tertuanja Tantri. Maka ultimatumnja lumajan: “Pokoknja kalau PSSI minta Tjipto, djangan dikasih deh”, katanja kepada salah seorang Pimpinan BNI dimana suaminja bekerdja. Meski tidak disertai sanksi tegas, dan meski Tuti berulang kali emoh mempergunakan kata “tjerai” – djika suaminja memilih PSSI – namun tidak mustahil Tuti akan berpisah (selama-lamanja) dengan Tjipo. “Saja sudah merasakan betapa tidak enaknja kalau suami tukang bola,” keluh Tuti dengan nada kesal, “djam 11 siang pulang dari TC, tidur-tiduran sebentar djam 2 siang kembali lagi ke TC” – meski sesungguhnja di lupakan bahwa atas prestasinja sebagai “tukang bola”, Tjipto beroleh sebuah kaveling dari Pemerintah DCI Djaya. Dalam perang terhadap PSSI dan melawan hasjrat Tjipto untuk kembali berkaos nomor 9, Tuti pasang kuda-kuda: “Boleh pilih, keluarga atau bola”. Tapi bagaimana kalau si Gareng pilih bola ? “Tidak mungkin,” kata sang isteri jakin, “kalau saja bilang tidak, Tjipto tidak akan main bola”. Kalau Pemerintah jang minta?” Pak Hugeng menolak djaba tan dutabesar, Rosihan Anwar djuga menolak mendjadi dutabesar di Hanoi, tapi nggak apa-apa, apalagi Tjipto jang bukan apa-apa”, kata anak bekas wartawan Antara. Tapi Tuti bukan tidak mengerti kalau sang suami punja hobby bola, karena itu ia berpendapat, bahwa untuk hobby “tjukup diklub Setia sadja”. Agaknja disamping itu semua, jang membikin Tuti merasa prihatin atas panggilan PSSI itu adalah kondisi Tjipto sendiri, “Permainannja tidak akan sebagus dulu,” katanja jakin seraja mengingatkan edjekan penonton terhadap Judo ketika PSSI melawan Dynamo. “Sedih hati saja melihat nasib Judo. Bagaimana kalau terdjadi pada diri Tjipto ?” tanja Tuti pula. Langkah pengamanan pun diambil. Pada hari Minggu jang lalu, sehari mendjelang deadline PSSI “ja atau tidak”, Tuti berhasil menggiring Tjipto menemui Drs. Sukahar, Ketua Persidja. Lalu kepada TEMPO Tuty menjampaikan pertelepon: “Tjipto tidak memenuhi panggilan PSSI”. Berita kemenangan Tuti kini tidak lagi didasarkan “kepentingan keluarga”, tapi “kondisi fisik suaminja memang tak memungkinkan”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: