Menilai Produk Witarsa & Co

Tempo 27 Mei 1972. PSSI dipersiapkan menghadapi anniversary cup dengan tim campuran tua & muda. setelah 3 minggu diasuh witarso & co PSSI tampil melawan bulgaria b. kerja sama lebih teratur dan serangannya mantap.

BAIK atau buruk, berhasil atau gagal dalam turnamen, PSSI harus djalan terus – meski agak timpang. Modal Rp 30 djuta, perbaikan-perbaikan nasib pemain, pengasuh serta penertiban organisasi jang selama ini ditjapai Pengurus tahun 19711975, tidak boleh kendor oleh alasan apapun. Agaknja pertimbangan tersebut membikin PSSI jang sedang groggy (oleh kegagalan di Rangoon dan Turnamen Junior Bangkok) tjepat bangkit kembali – seperti petindju jang terburu nafsu bangun kembali setelah dipukul djatuh, tanpa memperhatikan hitungan wasit karena sudah linglung. Gado-gado. Menghadapi Turnamen Aiversary Cup “dipertengahan Djuni nanti, Kordinator Bidang Teknik PSSI dibawah Sjarnubi berichtiar dengan Mission Impossible”nja (TEMPO, 6 Mei 1972). Pemain-pemain Surja Lesmana, Basri, Muljadi, Sunarto, Budi Santoso di tjampur dengan pemain-pemain PSSI B seperti Wiwin, Risdianto serta dilengkapi dengan Budi Santoso dan Sutrisno (Malang) dan pendatang baru Parlin dari Sumatera Utara, digodog dalam satu wadjan bersama dengan team PSSI jang lama. Waktu lebih kurang tiga minggu jang diperlukan oleh kedua Witarsa & Co (Aang dan Endang dibantu oleh Sukartono, Coach Fisik), tidak terlalu lama untuk menampilkan produk team “gadogado”–boleh djuga disebut “tjaptjay” – jang dihidangkan kepada 25.000 penonton Senajan dalam pertandingan pertjohaannja jang pertama 17 Mei jang lalu. Suporter PSSI jang tidak sabar lagi menjaksikan kebangkitan Kesebelasan favoritnja dilapangan hidjau, boleh merasa puas dengan hasil 3–3 ketika berhadapan dengan Kesebelasan Bulgaria B Meski djika dilindjau dari mutu permainannja tidak lebih membesarkan hati dari team PSSI Rangoon. Kesan ini paling tidak timbul dari mutu lawannja, Kesebelasan Bulgaria, jang djelas tidak semulus Kesebelasan Dynamo atau Cruzeiro. Ditambah lagi oleh peranan Wasit Rinto Sahali dari Subang, mengurangi kadar pertandingan untuk didjadikan bahan pengudji bagi keberhasilan team PSSI ini. Hidjau. Meskipun begitu, Sunarto dan Risnandar masing-masing back kiri dan kanan tidak mengetjewakan. Sunarto tidak banjak mengalami kesulitan untuk membendung permainan kanan luar Jiwkov, jang terlemah dari lini penjerang dan muka baru Risnandar agaknja masih terlalu hidjau untuk menguasai ketrampilan kiri luar Slavtschev. Surja (28 tahun) nampaknja belum dapat menghilangkan kesan “ketuaannja”. Tepat 17 hulan terhitung sedjak Asian Games VI di Bangkok, Desember 1970–tidak pernah turun melakukan pertandingan internasional, Surja hanja tersisa oleh pengalaman dan tekad sadja. Latihan selama 3 minggu belum dapat memulihkan terobosan-terobosan tadjam dan umpan-umpan matang jang biasanja dapat ia lakukan. Sehingga untuk membuat kompensasi, ia tidak segan-segan menerdjang dan menghadang lawan dengan tjara-tjara jang masih asing bagi gaja permainannja. Apa jang masih boleh di andelkan pada dirinja adalah tjara ia mengisi posisinja dalam fungsi seorang penghubung jang berhadapan dengan “delapan pendjuru angin” — meski pada achirnja kelemahan-kelemahan seperti tersebut duluan tidak menopang usaha “come back”nja kebentuk masa djajanja. Tentu sadja titik-titik lemah Surja bermuara pada satu sumber: stamina. Tahu diri. Lain halnja dengan Basri djuga absen sekian bulan dari pertandingan internasional. Ia lebih tahu diri. Setelah beberapa kali usahanja gagal unluk berkombinasi dengan operan-operan menusuk kedaerah gawang lawan, Basri lebih mementingkan berdjaga-djaga di kandang. Kebenderungan untuk tidak melibatkan diri pada situasi gawat jang tidak perlu, menempatkan Basri lebih berhasil dari rekannja Surja. Bermain sederhana dan lugas, ia selalu menguasai posisinja. Ketjerdasannja membatja antjaman lawan dan tahu saat-saat jang tepat untuk menghadang, menampilkan Muljadi sebagai pemain jang paling mejakinkan untuk bertahan dalam satu atau dua tahun sebagai inti pertahanan PSSI. Kekurangannja jang menjolok: sabetan kanan-kirinja tidak selegit tempo dulu. Barangkali jang paling berhasil dalam penampilan Kesebelasan Gado-gado ini adalah kiper Ronny Pasla. Meski ia belum mendjangkau ketrampilan Judo dimasa djajanja, ia berhasil mengatasi kelemahan Judo dalam tembakan terarah dari djarak djauh. Ketiga gol jang dibuat lawan lebih banjak terdjadi atas kelengahan pemain belakang. Temtama dua gol berturut-turut dimenit ke 51 dan ke–5, lebih banjak mengingatkan pada pepatah bidjak: Selalu meningkatkan kewaspadaan pada 10 menit awal dan achir pertandingan ! Prima. Berhadapan dengan Kesebelasan Bulgaria B jang mudah terpantjing oleh situasi panas, nampaknja pemain muka Indonesia menemukan formnja kembali. Sudah barang tentu jang paling menjenangkan adalah pulihnja Abdul Kadir. Ketiga gol jang dibuat meski jang pertama berbal off-side – menundjukkan kiri-luar ini benar-benar dapat memanfaatkan gerakan-gerakan Waskito dan Jacob untuk mentjipakan peluang. Dua penjerang jang belakangan ini nampaknja lebih berhasil djika mereka menempatkan diri agak berdjauhan — dengan Jacob turun agak kedalam, menghindari gerombolan pertahanan lawan di muka gawang: tapi dengan tjatatan ikut melakukan penetrasi kilat sewaktu Waskito membuka melebar atau bersiap-siap mendjaga muntah dribel Iswadi jang djuga turun agak kebawah. Kwartet penjerang Indonesia ini masih prima, ketjuali Iswadi nampak agak lemah dengan posisi jang tertarik kebawah. Dalam situasi back kanan lawan kurang mejakinkan, Iswadi nampaknja lebih berbahaja djika ia menempatkan diri agak dipinggir kanan, sambil sekali-sekali mendribel masuk atau menarik konsentrasi pertahanan lawan kesajap kanan. Apa jang diperlihatkan dengan posisi kemarin tidak lebih dari seorang komandan jang kehilangan arah tjelingak-tjelinguk seperti pengemis belum sarapan meski harus diakui gol pertama PSSI adalah hasil thrugh-pass kanan luar ini jang tepa sekali disambut Kadir. Barangkali, karena Iswadi sering “nganggur”, ia tergoda untuk memakan tulang-tulang Stefanov suatu prestasi kedjorokan Iswadi jang kedua, setelah 4 tahun jang lalu ia meretakkan kaki kanan Mahful Umar sewaktu pertan dingan Medan-Makassar di Stadion Persidja. Simpang. Apa jang baru dari produk TC PSSI adalah pola kerdjasama jang lebih teratur dan serangan-balasannja jang dengan sekali gendjot nampak lebil herhasil membikin panik pertahana lawan. Adakah kemantapan ini dapat di pelihara dan tempo permainan (jang pada umumnja lamban) dapat ditingkatkan dimasa jang akan datang andaikata PSSI berhadapan dengan lawan jang lebih kuat? Pertanjaan ini agaknja bagi Endang Witarsa tidak mendjadi soal jang mendesak. “Siapa jang bisa membuat pertahanan PSSI jang kuat, dia akan berhasil”, kata Drg Endang kepada TEMPO sesaat usai pertandingan PSSI–Bulgaria. Dalam menjusun pertahanan jang kuat, nampaknja Endang berada dipersimpangan: pilihan antara Surja/Basri dan Ronny Patti/Suaib. Pasangan Surja/Basri seperti terlihat pada pertandingan Indonesia-Bulgaria nampaknja kurang memuaskan. Maka Endang-pun dalam pertandingan pertjobaan berikutnja ingin mendjadjal Ronny/Suaib. Dan bukan tidak mungkin Iswadi djuga akan “di hukum” untuk menjerahkan tempatnja kepada Risdianto. Dalam tahap penjusunan team “Anniversary” sekarang memang lebih bidjaksana untuk membuat berbagai eksperimen dengan pemain jang serba “borongan” – meski terlalu gegabah untuk menurunkan Parlin atau Sutrisno misalnja. Demikian pula melatih Suaib mendjadi back tidak lebih dari membuang energi sadja–sebab terang-terangan penggantian Risnandar oleh Suaib lebih merepotkan Anwar daripada lawan. Gigi. Konon dokter gigi jang ahli dalam memasang gigi-palsu ini dihinggapi hobby bongkar-pasang posisi pemain mudah-mudahan tidak berdjangkit pada Aang dengan asumsi semua pemain harus serba-guna. Dalam situasi ini kiranja fungsi team manager Anhar dan nasehat Aang diperlukan meski sesungguhnja dalam sepakbola dewasa ini orang tjenderung mendjalankan sistim pembinaan coach-tunggal. Berbagai pertimbangan agaknja berketjamuk dibenak setiap anggota Komisi Teknik PSSI–tak terketjuali Kordinatornja Sjarnubi. Sehingga mereka – oleh dorongan program “djangka pendek” dan “djangka padjang” kehilangan tempat berpidjak jang selama ini dibinanja. Karena dari pengalaman team Junior Bangkok bukan sadja memberikan peladj

aran berharga, terlebih lagi menampilkan pemain harapan – seperti jang dikemukakan Kadir Jusuf di Kompas. Apalah salah mengikut sertakan Andjas Asmara, Sofjan Hadi (gelandang) dan Sutan Hara Hara, Makmun (back) kedalam TC Witarsa & Co. Paling tidak mereka ada harganja untuk didjadikan mata rantai program “djangka pendek” dan “djangka pandjang” PSSI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: