Revans Suwardi-Ramang

Tempo 24 Juni 1972. Kesebelasan blitar putra berhasil sebagai juara porade (pekan olah raga antar departemen). kemenangannya didasari semangat. juara ini berhadapan dengan jayakarta & garnisun djaja di stadion menteng.

AWAL Pebruari djang lalu, kesebelasan Blitar Putra mendjadi bulan-bulann pembitjaraan petjandu bola diibukota. Kesebelasan Jayakarta dari Djakarta dipukul 1–5 dalam perlawatannja kesana. “Saja akan mengambil revans terhadap kekalahan itu”, kata Suwardi Arland, pelatih Jayakarta. Tentu sadja utjapannja ditudjukan kepada Pelatih Blitar Putra Ramang – bekas teman sepermainan dimasa djajanja PSM Udjung Pandang. Pada tanggal 30 Djuni sampai dengan 2 Djuli, pertandingan revans tersebut akan berlangsung dibawah sorotan tjahaja lampu Stadion Persidja Menteng. Dan penggemar sepakbola Ibukota diberi kesempatan pula untuk menilai Kesebelasan Garnisun Djaya (POLGAB) jang akan ikut memeriahkan pertandingan segi-tiga ini. Berikut adalah laporan Atjin Yassin mengenai Kesebelasan Blitar Putra: DJUM’AT tanggal 4 Pebruari, barangkali adalah suatu hari jang tak akan terlupakan bagi anak-anak PS Jayakarta. Ketika dilapangan Pakis Lor, Blitar mereka ditjukur habis oleh tuan rumah dengan angka mejakinkan 5-1. Andjas “si Gondrong” Asmara, motor penjerangan Jayakarta kali ini tak berkutik untuk meliwati barisan belakang PS Blitar Putra jang didjaga ketat oleh trio: Oesman Arya, Rauf Ramang dan M. Jusuf. Sementara Mamid Effendy (Jayakarta) cs djuga tak dapat berbuat banjak dalam membendung serangan kwartet: Rofii, Martono, Anwar Hadi (eks PSSI Jr. 1968) dan Erwin Sumampouw. Dengan kekalahan Jayakarta terdjawablah suatu persoalan bahwa pembinaan suatu klub dengan djaminan jang tjukup belum merupakan andalan untuk menang. Sebab Blitar Putra–klub jang terdiri dari pegawai kantor kabupaten — telah membuktikannja bahwa dengan “semangat” mereka bisa djuga membina prestasi, meski bukan berarti kemenangan jang mereka tjapai itu hasil modal dengkul. Sakit. Bermula 5 tahun jang lalu, sewaktu Lekol. Sanusi Prawirodihardjo ditundjuk untuk memangku djabatan Bupati di Blitar. Kemudian lahirlah ambisinja untuk memiliki satu klub sepakbola jang boleh dibanggakan, setelah melihat perkembangan dunia per-sepakbola-an didaerah Djawa Timur jang kian lama makin sakit-sakitan. Ambisi sang Bupati ditopang oleh Njonja Sanusi jang djuga petjandu bola, sehingga lahirlah djabang baji PS Blitar Putra jang ditjukongi oleh suatu perusahaan swasta dengan nama jang sama. Tampaknja Sanusi merasa perlu untuk menjatakan tekadnja dengan kehadiran PS Blitar Putra: “Klub kami inilah jang akan mendjawab tantangan, chususnja dibidang sepakbola jang selama ini masih bersifat Djakarta centris”, katanja kepada koresponden TEMPO Atjin Yassin. Tantangan jang telah terlontarkan, segera mengundang Sanusi untuk mentjari seorang pelatih dan mengumpulkan pemain-pemain jang punja kebolehan. Seperti: Martono (PSIM Jogja), Rofii (Persekap-Pasuruan), Slamat Pramono (Atomcy-Malang), Murdianto (Persis-Sala) dan beberapa pemuda Udjung Pandang dari klub Teruna Djaya, Mahesa dan PSAD. Untuk pelatih pilihan Sanusi djatuh pada bekas pemain nasional Ramang jang kini berbesan dengan orang Blitar, atas perkawinan anaknja Rauf Ramang. Semangat Walaupun Ramang baru muntjul sedjak Agustus 1971, namun hasil godogannja tjukup boleh dibanggakan. PS Blitar Putra berhasil mendjadi djuara umum. PORADE (Pekan Olahraga Antar Departemen) dengan mengungguli: kesebelasan-kesebelasan: Gelora Senajan (13–0), Irian Barat (8-0), P & K (7–0), Departemen Pertanian (5–0), Hankam (4–0), Depkes (4–0). Dengan kebolehan Blitar Putra ini segera nengundang orang ramai untuk berpihak kepada tuan rumah, ketika mereka mendengar anak-anak Jayakarta akan melawat kesana jang djuga belum terkalahkan selama lawatannja kedaerah Djawa Timur: “Kemenangan Blitar Putra sudah dapat diramalkan, sebab mereka djuga di-TC-kan?”, kata seorang pengundjung. Dan memang begitulah kedjadiannja. Suwardi Arland jang mengasuh PS Jayakarta mengomentari kekalahan anak-anaknja sebagai berikut: “Setjara teknis Blitar Putra belum begitu sempurna, tapi mereka punja semangat bertanding jang hebat”. Nampaknja apa jang disebut semangat itulah jang masih kurang dipunjai anak-anak Jayakarta. Sebab setjara teknis ia telah melatihnja dengan tekun dan memberi segala apa jang diketahuinja. Sedangkan Ramang tidak sampai sedjauh itu ia bekerdja: “Saja bukan pelatih, karena sjarat untuk itu tidak ada pada saja”, katanja kepada TEMPO. Lantas apa sadja jang dilakukan bekas “matjan bola” ini “Saja tjukup djadi pengasuh. Untuk perkara teknis dibantu oleh Anwar Hadi dan Martono” tambahnja kemudian. Rasanja pernjataan Ramang itu telah mendjawab pertanjaan tentang bagaimana kemampuan teknis anak-anak Jayakarta, karena kita tahu siapa Anwar Hadi dan siapa Suwardi Arland. Go-tjeng. Sebetulnja keunggulan Jakarta bukan hanja dalam soal teknis, dalam biaja pembinaan mereka djuga lebih atas. Selain masing-masing pemain mendapat wang saku plus tambahan-tambahan lain, biaja untuk TC sadja dikeluarkan Rp 1,2 djuta perbulan. Sementara untuk Blitar Putra, Hardito jang mengurus soal logistik menerangkan biaja jang mereka keluarkan berkisar sampai Rp 200.000 perbulannja. Dan sedikit tambahan “uang lelah” dari Sanusi untuk setiap goal jang ditjetak. Berapa djumlahnja? “Akan tergantung dari besar ketjilnja prestasi itu sendiri”. udjar Sanusi. Meski angka jang pasti ti dak diberikan, tapi seorang pemain bertjerita bahwa ia pernah menerima gol 13-0. “Uang lelah” seperti itu memang tidak ada dikamus Jayakarta, sebab jang mereka terima sudah lebih dari itu. Lantas apakah jang mendjadi kelebihan PS Blitar Putra, sehingga mereka berhasil menanamkan daja djuang bagi setiap pemain. Adakah karena kebanjakan anak-anak Blitar Putra telah begitu mengenal Ramang, sehingga komunikasi antara mereka berdjalan lantjar boleh djadi. Tapi ketika anak Jayakarta ditanja masalah ini, mereka djuga tjukup paham apa jang disampaikan Suwardi Arland kepada nnereka. Barangkali resep Ramang ini jang belum mereka punjai: Sepakbola itu adalah tjampuran ketekunan, hobby dan disiplin dan apa jang disebut “semangat” bertanding, baru timbul setelah ketiganja berpadu. Jayakarta boleh mawas diri, bagian manakah jang belum tertjakup dalam diri pemainnja. Sebab dengan teknis jang mereka punjai sadja, sepakbola bermutu sebagaimana jang mereka tjita-tjitakan tidak akan tertjapai, tanpa satu kata: semangat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: