Samba! Pele! Samba!

pele5Tempo 10 Juni 1972. Pele dianggap mutiara hitam brazil karena dapat mengangkat nama negara dalam 4 x kejuaraan sepak bola dunia. filsafatnya tak perduli lawan. usia 30, ia meninggalkan sepak bola, hidup dengan istri & 2 anak.
SAMBA, samba !” tempik sorak suporter Brasil. Gemertjik hudjan g membasuh Stadion Rasunda, Stockholm, tidak mengurangi final Kedjuaraan Dunia 1958. Kedudukan turun minun untuk keunggulan Brasil (2-1) melalui kaki Vava, penjerang tengah Brasil, serentak membujarkan harapan Swedia bahwa “anak-anak Amerika Latin ini akan mendjadi panik setelah mereka terlebih dulu ketinggalan O–1”.

Apa jang terdjadi kcmudian memang tak bisa diramalkan, meski agaknja sudah merupakan suratan takdir kini giliran lakon “baji adjaib” mengisi atjara di babak kedua.

Sang “baji” alias Pele. Ia sebelumnja tidak pernah mengalami publikasi besar-besaran – hanja pemah disinggung se pintas oleh Team Manacr Brasil Vincente Feola bahwa “sekarang atau besok akan terdjadi apa-apa dengan tjadangan kiri dalam Brasil”. Dan apa jang diramalkan Feola tidak kurang meragukan: Pele tjadangan kiri-dalam Dida jang diturun kan dalam pertandingan penjisihan Pool lawan Rusia, belum memenuhi djandji Feola — meski kelinbahan pemuda 17 tahun ini berhasil memudarkan ketjemerlangan kini-dalam Rusia, Igor Netto. Dua gol kemenangan Brasil atas berkat ketrampilan penjerang tengah Vava. Dalam perempat final berikutnja – pertandingan Pele kedua–ia baru mentjatat gol tunggal jang menentukan kemenangan teamnja terhadap Wales. Dalam pertandingan perempat final berikutnja penentuan untuk menudju final, Pele meningkatkan produksinja mendjadi 3 gol, melengkapi skor 5-2 untuk menjisihkan Perantjis. Dan komentar orang masih belum semantap permainan Pele: itupun akibat tjederanja poros halang Jonquet jang terpaksa digotong keluar pada menit-menit permulaan pertandingan. Agaknja apa jang dituntut para penindja tidak lain adalah kisah dibalik angka gol jang dibikin pemuda hitam ini.

Mutiara Hitam.

Dipenghudjung bulan Djuni itu, ketika berlangsung final antara Brasil dan Tuan Rumah Swedia (5- 2), kesempatan Pele berkisah dibalik angka gol kemenangan Brasil, benar-benar terbuka. Bola melambung djatuh didaerah penalti, di sambut Pele dengan sebelah-pahanja.

Pada saat itu ketika bola berpantul, poros halang Swedia Gustavsson, seperti lajaknja seorang pemain kaliber Dunia, membuat refleks dengan perhitungan waktu tepat untuk menjergap bola. Tapi perhitungan Pele lebih tjepat dan tepat dan berhasil menjontek bola melalui kepala lawannja. Bola kini berada di balik punggung lawan dan Pele berada dalam posisi berhadapan dengan gawang Svensson. Belum lagi kulit bundar menjentuh bumi, sekali gendjot bereslah momen indah ini. Pele berdjoget terus, sementara pemain belakangan Swedia meningkatkan kewaspadaannja pada ke dua kakinja jang lintjah.

Tapi bagi Pele bermain bola tidak dengan kaki melulu. Sekali peristiwa ketika voorset Zagalo memasuki daerah penalti jang sesak oleh pertahanan lawan, tiba-tiba Pele melontjat dan menanduk bola kesasaran. Kedua gol ini, masing-masing dengan kakidan kepala tak tertuang dengan kata-kata. Tapi dengan itu stempel chusus telah diberikan bagi Pele: si Mutiara Hitam.

Turnamen Kedjuaraan Dunia jang di adakan sedjak tahun 1930 menbatat Kesebelasan Brasil beberapa kali njaris merenggut Piala Jules Rimet. Tapi dengan Kedjuaraan jang pertama ini – dengan Mutiara Hitam Pele Brasil telah membuka mata dunia. Sepakbola Amerika katin jang tadinja kurang mendapat publikasi pers Eropa, dewasa itu mulai merampas sebagian besar kolom-kolom olahraga mereka. Nama Pele menggeser bintang Alfredo di Stefano, itu penjerang tengah Real Mdrid , Djuara Eropa beberapa tahun berturut-turut: Kopa, Rial, di Stefano, Puskas dan Gento terpaksa bersembunji dibawah ketenaran Garrincha, Didi, Vava, Pele dan Zagalo. Kini berbitjara tentang sepakbola tanpa menjebut Brasil bak tjerita tanpa thema. Dan menjinggung Brasil sonder Pele, ibarat nonton film tanpa pelaku utama.

Tertimbun Pudjian.

Maka orangpun mulai menjusuri kehidupan Pele jang bermula dengan nama komplit: Edson Arantes do Nascimento. Lahir dikota ketjil Tres Coracoes 3 Oktober 1940 didjantung propinsi Minas Gerais (terkenal sebagai sumber djago-djago bola berkulit hitam), Edson mulai menjentuh boa sewaktu kedua kakinja pandai melangkah. Klub Noroeste di Bauru tertjatat sebagai klubnja jang pertama. Konon dalam usia 10 Edson sudah mendjadi pemain inti remadja. Pada waktu itulah tjampur tangan bekas kiri-dalam Brasil, Waldemir de Brito, ikut menentukan karier sepak bola sibotjah ini. Edson dilatih dan pada usia 16 tahun ia dititipkan Brito di Klub Santos jang terkenal. Setahun kemudian Edson diperkenalkan Santo pada Feola dan Team Manager Brasil ini dengan pertimbangan “mentjoba-tjoba” menampilkan pemuda ini untuk pertandingan internasional-nja jang pertama melawan Argentina. Dan seperti Djuara Rudy Hartono, Pele menarik perhatian dunia sewaktu ia belum genap berusia 18 tahun dengan permainan jang tiada taranja di Kedjuaraan Dunia 1958 Stockholm.

Brian Glanville, itu penulis dan pengarang sepakbola Ingeris tidak malu memmbun Pele dengan pudjian melebihi semua jang pernah diberikan kepada pemain Inggeris seperti Sir Stanley Mathews atau Tommy Lawton. Ia melukiskan anak ini sebagai pemain jang perawakannja tidak tergolong besar meski kekar dan berotot. Tapi bintang baru jang selalu terselubung dengan wadjah seorang jang belum pernah tersentuh oleh kesuksesan kelak akan tumbuh mendjadi seorang pemain terbaik dunia dan barangkali jang paling berbakat dalam segala zaman” ramalnja. Menjaksikan Pele digelanggang Kedjuaraan Dunia 1958, Glanville melandjut kan tuturnja: “Kita mendapatkan dia sebagai pencetak gol, pandai menerima bola, menguasai dan melepaskannja dari segala posisi. Dia dapat menjetop bola dengan paha, mendjinakkan dengan dada dan melontjat seperti Koesis atau Lawton dan tetap tegak ditengah amukan serbuan lawan. Ia agaknja tjenderung menjendiri sesuai dengan seleranja akan ruan dan waktu. Dia adalah “manusia karet”: Anda dapat membikin dia djatuh, tapi dia sudah bangkit kabur sebelum anda pulih. Anda boleh menugas kan 3 orang menahannja didaerah gawang, namun dia akan masih dapat menjulap, berputar dan mentjetak gol. Matanja jang hitam lagi lebar mentjerminkan kegagalan tidak mungkin berlaku bagi dirinja dan setiap rintangan apapun tidak bisa tidak diatasinja”

Adakah karier sepakbola Pele jang baru seumur djagung tidak terkubur oleh timbunan sandjungan” Ada alasan untuk bertanja begitu.

1,5 Miljar Rupiah.

Di Kedjuaraan Dunia Tjili 1962, Pele tjuma muntjul dua kali–lawan Meksiko 2–0 dan Tjeko 0-0. Selandjutnja Pele nongkrong dipinggir lapangan sebagai akibat tjedera otot. Tempat kiri dalam jang semula dianggap monopoli si “Mutiara Hitam”, diisi tjadangannja Amarildo. Dan seperti sudah takdir Amarildo mengalami nasib jang serupa seperti Pele 4 tahun lalu di Swedia. Ia adalah kuntji kemenangan Brasil untuk mempertahankan Piala Jules Rimet. Kemudian Amarildo dibeli salah satu klub Italia dan konon masih bermain untuk Klub AC Roma. Tetapi mithos Pele tidak tumbang oleh muntjulnja bintang-bintang baru di World Cup 1962, malahan setelah Kedjuaraan itu, ia di kenal sebagai djutawan termuda diantara para pemain sezamannja.

Pele menjertai Kesebelasan Brasil di Kedjuaraan Dunia 1966 di Inggeris. Tapi nasibnja tidak lebih baik dari tahun 1962. Setelah mengalahkan Bulgaria 2–0, masing-masing oleh Pele dan Garrincha, untuk pertama kalinja sedjak “The Battle of Berne” 1954, Brasil di tundukkan Hongaria 1–3 – tentu sadja tanpa Pele jang tidak fit waktu itu. Dalam pertandingan penjisihan Pool berikutnja, peluang Brasil dipertaruhkan dikaki Pele. Tapi rupanja lawannja, Kesebelasan Portugal, tidak bodoh kalau tidak mau dikatakan kotor. Morais, back-kanannja ditugaskan “mematikan” Pele. Tugasnja berhasil baik. Satu sabetan dilutut Pele menamatkan riwajat -“King” Pele (untuk sementara). Tanpa Pele ramalan orang tidak meleset: Brasi masuk peti-es. Eusebio “The Black Panther” dari Portugal penjerang-tengah jang memborong 9 gol menggeser popularitas Pele–meski jang belakangan ini masih tertjatat rekor asuransi sebesar Rp 312,5 djuta .

Kalau tahun 1966 bagi suporter Brasil adalah hari naas Pele, bagi si “Mutiara Hitam” sendiri awal tahun Kedjuaraan Dunia itu merupakan saat-saat termanis. la mempersunting Rosemary dos Reis Cholby, guru sekolah dan puteri buruh pelabuhan dari Santos. Kini mereka telah menggondol 2 orang anak: masing-masing Kelly Crestina, perempuan dan Ebson laki-laki. Ketika Pele dan isteri berbulan-madu di Erop dibulan April, tersiar kabar bahwa “Radja Minjak” Angelo Moratti, Ketu Klub Inter Milan jang terkenal, menjodorkan tawaran kepada Klub Santo sebesar o 1,5 djuta atau sekitar Rp 1,5 miljar (dengan perhitungan o 1 = RF 1.000) untuk memiliki Pele. Santo diduga tidak dapat menahan Pele dari godaan itu. Tapi njatanja sampai saat ini tidak seorang atau sebuah klub jang mampu membeli Pele. Apa sebabnja? (lihat box).

Pedagang Kopi.

Ketenaran Pele merembes kesetiap lapisan masjarakat. “My Name Is Pele karya otobiografinja jang menambah popularitasnja diluar lapangan bola. Ia djuga main film. Dan dengan kekajaan dari bersepakbola, Pele mendjadi pedagang kopi besar, disamping mendjadi pengusaha Real Estale di Brasil. Namun ia tidak pernah absen dari Klub Santos dan Kesebelasan Nasional Brasil. Ini dibuktikan dengan produksi gol Pele jang ke-1.000 di Stadion Maracana pada tanggal 29 Nopember 1969, ketika ia mewakili Kesebelasan Santos menjelesaikan penalti kegawang Vasco de Gama dalam suatu pertandingan kompetisi di Brasil.

Di Kedjuaraan Dunia 1970, untuh keempat kalinja dia mewakili Kesebelasan Brasil dengan Team Manager/ Coach bekas rekannja Zagalo. Pele djuga merupakan satu-satunja pemain Brasil jang dapat bertahan dalam 4 kali Kedjuaraan Dunia–dan berhasil mentjetak gol ke-100 (ketika final Brasil-ltalia) selama ia mewakili Brasil di pertandingan-pertandingan Kedjuaraan Dunia.

Selamat Tinggal.

Eksistensi Pele dalam 4 kali World Cup memang hebat. Tapi lebih hebat djandjinja – dan terpenuhi – untuk menjimpan Piala Jules Rimet dimuseum Brasil selama-lamanja. Sebab dalam Kedjuaraan Dunia Meksiko 2 tahun lalu mendjelang Pele genap 30 tahun, ia menjatakan selamat tinggal pada Turnamen terbesar ini dengan meninggalkan kenang-kenangan berupa permainan jang sampai sekarang mendjadi bahan perbintjangan para ahli sepakbola. Lihat box). Pertandingan perpisahan itu sendiri terdjadi pada tanggal 18 Djuli 1971 di Stadion Maracana dengan di saksikan 120.000 penonton. Lawannja adalah Kesebelasan Jugoslavia dan berachir seri 0-0.

Gaja, inteligensi taktis dan teknis sepakbolanja benar-benar tahan udji terhadap setiap perubahan zaman dan usia. Ia ber”samba” ketika sistim permainan 4-2-4 atau 4–3-3 sedang mode dan ia pandai pula ber”soul” untuk mendobrak sistim catenaccio Italia jang terkenal keras dan ketat pertahanannja. Hukum se Pakbola jang memutuskan menang-kalah berdasarkan perbedaan gol, ditrapkan Pele (dan Kesebelasan Brasil umumnja) dengan filsafat “tidak peduli lawan mentjetak beberapa gol, asalkan kita dapat membuat lebih banjak”.

Dalam sepakbola modern, dimana tidak djarang kekerasan dan kekotoran di praktekkan disamping pertahanan dengan disiplin badja, permainan ala Pele selalu memberi prospek tjerah Oleh karenanja untuk mendjamin keutuhan sepakbola, orang tidak perlu membikin sematjam “Konvensi Djenewa”. Sebab kekuatiran Ron Greenwood, penindjau FIFA dalam World Cup 1970 bahwa bahaja taktik sepakbola modern, betapa pun sophisticated dan efektif, akan mentjekik permainan itu sendiri – tidak mempan membunuh unsur-unsur permainan jang pernah diperlihatkan Pele kepada dunia.

Fragmen Abadi Pele

Dalam membawa bola lewat lawan, pele tak suka aneh. namun ia mempunyai insting kuat untuk mengetahui posisi lawan. makanya ia unggul dengan keadaan bagaimanapun gawatnya. matanya punya daya lirik tajam.
FRAGMEN berikut terdjadi di babak kedua pertandingan semifinal antara Brasil-Uruguy (3–1), 17 Djuni 1970 di Guadalajara Meksiko.

Peristiwa terdjadi ketika Rivelino (11) tanpa ragu-ragu mengirim bola ketengah, pada waktu mana Tostao (9) bergerak menarik lawan jang membajanginja. Pada saat ini Pele (10) menerobos kedaerah penalti lawan mengedjar bola jang dilepas Rivelino. Pele mendapatkan dirinja berhadap-hadapan dengan kiper Mazurkiewics-jang agak kebepatan meninggalkan daerah gawang. Pada momen ini Pele membikin dia terpaku: dengan gerak tipu seolah melalui dari kanan, ia dengan sengadja membiarkan ladju bola itu melunbur tanpa disentuh. Lalu masuklah Pele dari sisi kirinja, membuat sprint mengedjar bola jang melebar kekanan. Pele berhasil menguasai bola dan dari sudut tadjam mengirim tembakan menjilang. Bola njaris masuk kegawang.

Roger Macdonald dan Eric Batty, pengarang bersama “Scientific Soccer in the Seventies”, tidak banjak meng komentari peristiwa tersebut. Tjuma, kata mereka, andaikata Tostao dapat memberi tindak landjut seperti jang dilakukan dalarn pertandingan Brasil –Peru (4-2) diperempat final, tidak mustahil akan lahir satu gol.

Tapi rupanja bukan kemungkinan lahirnja sebuah gol jang mendjadi perbintjangan. Roger dan Eric sepakat untuk mengetengahkan peristiwa itu setjara visuil (lihat diagram), supaia pembatjanja dapat membajangkan betapa kekuatan “magnetis” Pele jang dapat menjesatkan lawan.

Drg. Endang Witarsa, Coach PSSI Team Anniversary, jang djuga menjaksikan pertandingan tersebut memberi kesaksian pendek: “Saja lihat djelas, tapi saja tidak mengerti”. Kemudian Endang menambahkan bahwa Pele memang suka membuat gerakan jang aneh-aneh: mendorong bola melewati lawan dengan djarak antjang-antjang jang tak mungkin diperbuat pemain lain, melontjat dengan timing jang tak terdjangkau lawan, berlari-lari seperti kidjang meski kelihatannia malas. Sementara penindjau luar negeri berpendapat bahwa disamping insdnk sepakbola kuat, Pele memiliki mata jang mempunjai daja-melirik melebihi siapapun djuga, Itulah sebabnja, menurut mereka kombinasi ini membikin dia lebih unggul dalam situasi jang bagaimana gawatpun. Dan itu pula sebabnja dalam usia berangkat tua, Pele tidak dapat mengkompensir ke kuatan fisiknja dengan daja improvisasi jang tak kundjung habis.

Pele

Pele ditawari bayaran tinggi di klub eropa. namun ia tetap bertahan di klub santos. pemerintah brazil menyatakan pele milik bangsanya. makanya ia tetap pada status pemain nasional brazil.
BERAPA penghasilan Pele dari sepakbola setahun? Orang harus berbitjara dalam pound-sterling atau dollar. Djumlah persis masih ditjari wartawan. Tapi banjak orang berspekulasi bahwa pendapatannja diatas 1 djuta dollar. Kontraknja dengan Santos tidak pernah mengungkapka djumlah jang pasti.

Ketika Pele melakukan pertandingan jang ke-1.000 untuk Santos di Paramaribo pada tanggal 28 Djanuari 1971, orang mengira rahasia penghasilan Pele segera akan terungkapkan. Sebab Santos nampaknja tidak dapat menahan din dari godaan klub-klub Eropa, apalagi djika diingat bahwa Pele sudah makin tua.

Tapi rupanja Pele bertahan terus dengan Santos hingga ia resmi menarik diri dari Kesebelasan nasional Brasil dalam satu pertandingan perpisahan lawan Jugoslavia di Stadion Maracana (Djuli 1971).

Setelah itu datanglah tawaran dari Klub Paris-St.Germain kepada Santos. Sekitar ? 680.000 (Rp 680 djuta dengan kurs ? 1 = Rp 1.000 ditawar kan uang kuntji untuk Pele, andaikata ia bersedia menanda-tangani kontrak tiga tahun dikhlub Perantjis itu. Apa jang membikin orang ngiler adalah sjarat-sjarat tambahannja: Pele tidak akan ditransfer keperkumpulan lain. Dengan perktaan lain “Mutiar Hitam” ini hanja “dipindjamkan” kepada Paris–St. Germain. Masih ada lagi: antara bulan Djuni dan Agustus Pele boleh bennain untuk Santos dalam pertandingan-pertandingan persahabatan, ketjuali tidak melebihi 3 pertandingan selama djangka waktu itu. Dan masih ada lagi: andaikata Paris-St Germain berhasil keluar dari babak kwalifikasi Turnamen Kedjuaraan Eropa (European Cup) pada musim gugur tahun 1973, Pele dan Santos masing-masing akan diberi bonus 1 djuta Francs (Rp 83 djuta) dan 2 djuta francs lagi untuk Pele pribadi, djika Klub Perantjis ini kehlar sebagai finalis Kedjuaraan Eropa itu.

Sampai Agustus 1971, tulis Roger Macdonald di World Soccer, usaha untuk memiliki Pele dari berbagai klub di Eropa — sebelum datang tawaran dari Paris–St.Germain selalu digagalkan Santos. Klub Juventus dari Italia menjodorkan ? 500.000. Inter-Milan ? 600 000 dan Real Madrid dari Spanjol ? 250.000, dengan tjatatan djumlah seperempat djuta ? dipasaran Spanjol tertjatat sebagai uang transfer jang amat raksasa.

Penolakan Santos terhadap setiap tawaran-tawaran emas tidak berarti Klub ini tidak menlgalami kesulitan keuangan. Namun untuk merangkul Pele, Klub jang didirikan pada tahun 1912 ini terpaksa mendjalankan peran sirkus berdjalan Harlem Globe Trotters of Association Football jang mengutamakan semangat pertundjukan daripada kewadjaran berkompetisi jang lazim dalam pertandingan. Untuk menstabilkan keuanganja maka Santos terpaksa melakukan hampir 100 kali pertandingan setahun didalam dan luar negeri. Jang berarti pukul rata setiap tiga setengah hari melakukan sekali pertandingan. Perdjalanannja ke Thimur Djauh (Indonesia) tahun ini djuga dalam rangka program tjari duit Santos. Bajaran $ 45.000 (termasuk $ 5.000 ekstra) dari PSSI tertjatat sebagai djumlah terbesar dalam sedjarah. Real Madrid dizaman djajanja pada permulaan tahun 1960 hanja mentjapai bajaran $ 40.000 untuk sekali bertanding di Mesir.

Untuk mengatasi problem keuangan itu, antara lain untuk mendjamin Pele, Santos disamping sering-sering melakukan pertandingan persahabatan, terpaksa melepas beberapa pemain kenamaannja Tahun 1970 Santos mendjual Toninho, salah seorang tukang tjetak gol, kepada saingannja Klub Sao Paolo, sementara Carlos Alberto, Kapten Kesebelasan Dunia Brasil, “disewakan” untuk 4 bulan kepada Klub Botafogo Djalan ini di tempuh untuk menghindari Santos dari kebangkrutan.

Apa jang sesungguhnja mengikat Pele pada Santos? Konon disamping unsur kesetiaan jang mendjadi watak Pele, rasa hutang budi kepada perkumpulan jang membesarkannja di gelanggang sepakbola. membikin Pele kebal terhadap godaan uang.

Itulah sebabnja orang bilang bahwa harga Pele adalah harga Santos tanpa dia Santos bisa bubar.

Tapi bagi pemerintah Brasil sendiri Pele bukan sadja sebagai lambang devisa negara, malahan Pele didjadikan “harta karun” negara. Pemerintah Brasil dengan resmi menjatakan Pele sebagai milik hangsa dan negara – satu-satunja pemain bola jang pernah mendapat kehormatan itu. Agaknja, “nasionalisasi” ini jang menggugurkan setiap budjukan uang terhadap kiri-dalam Santos ini, meski klub-klub Eropa barangkali tidak mengetahui status Pele atau memang sengadja bensaha merebut “harta karun” Brasil dengan pertaruhan uang.

Advertisements

One thought on “Samba! Pele! Samba!

  1. Worl Cup 1962: World Cup April 11, 2010 at 5:38 am Reply

    […] Samba! Pele! Samba! « SEPAKBOLA INDONESIA […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: