Akhirnya Ejaan Cocok ( EYD )

p36_14144aTempo 19 Agustus 1972. Presiden suharto dalam pidato kenegaraan tanggal 16 agustus 72, mengumumkan pemakaian eyd, demikian juga pm malaysia tun rajak mengumumkan hal yang sama. malaysia & indonesia serentak menjalankan ejaan bersama.
SEORANG anak muda berseru kepada temannja pada suatu sore: “Ajo kita jalan-jalan mengkari tjoba-tjoba sambil mengisap mastjot dan mendengarkan Emilia Tjontessa”. Ini anak muda bisa membuat berang para ahli bahasa jang bersibuk didjalan Diponegoro 82. Tapi kalau lelutjon matjam begituan akan ditanggapi dengan berang, maka bisa djadi bahwa sebelum pemakaian Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dipakai dengan merata, para ahli bahasa sudah pada djadi penderita penjakit tekanan darah tinggi.

Lelutjon jang beraneka ragam itu tidak lain dari buah tjangkokan ketidak mengertian dengan hasrat mengedjek jang konon djadi kebiasaan bangsa kita. Dari kantor Lembaga Bahasa Nasional (LBN) didjalan Diponegoro itu sudah ribuan kali datang pendjelasam Kalau berdjalan-djalan dibatja “berjalan-jalan”, soalnja tentu hanja karena belum biasa. Tapi Coca-Cola adalah nama asing, Mascot djuga demikian, sedang Contessa adalah nama biduan, dan ketiganja sudah dihindarkan dari gusuran EYD.

Soalnja memang tidak mudah, meskipun misalnja Presiden Soeharto sendiri ikut mengurusi masalah tersebut melalui pidato resminja tahun ini. Disamping bahwa EYD memang merupakan barang baru, maka jang dikatakan oleh wakil ketua DPR, Domopranoto, nampaknja tidak terlalu meleset. “Dari pihak eksekutif kurang adanja persiapan jang matang”, begitu pimpinan parlemen itu pernah dikutip pers. Dan dengan ini, ia bermaksud mentjari alasan dari kesimpangsiuran jang terdjadi akibat rentjana pemakaian EYD tersebut.

Matrijs

Tentu tidak seluruhnja Domopranoto benar, sebab ternjata ada djuga uang dari kantornja Menteri Mashuri SH di gunakan untuk membajari kartjis kapal terbang para pemimpin redaksi koran-koran daerah jang diundang ke Djakarta untuk mendapatkan bekal mengenai EYD tersebut. Dan para pemimpin koran tersebut konon telah meninggalkan djandji kepada Menteri Mashuri bahwa koran-koran mereka siap membantu pemakaian EYD. Tapi taruhlah djandji itu dipenuhi dengan tjepat misalnja, soalnja malah tambah rumit. “Edjaan jang baru ini menggunakan banjak huruf Y, sedang persediaan matrijs huruf tersebut pada pertjetakan-pertjetakan kita sangat terbatas”, keluh seorang pemimpin redaksi. Itulah barangkali sebabnja maka Mashuri SH tidak lupa mengundang Djenderal Harsono, sekdjen Deppen, ketika terachir kali wartawan diundang datang bertanja-tanja sambil mendengar pendjelasan Menteri P & K dan seorang ahli bahasa. Tentu sadja Harsono memberi djandji, dan konon orang-orang pers sudah mulai kurang gelisah dengan djandji pembesar jang berkuasa dalam soal bahan baku tjetak-mentjetak itu.

Sekolah memang tidak berurusan langsung dengan matrijs, tapi toch sedikit kegelisahan dikabarkan berdjangkit disana. Meskipun A.J. Soesetyo kepala perwakilan P & K DCI Djakarta menjangkal kalau EYD berpengaaruh terhadap udjian achir tahun ini. Kepala SD Santo Jusuf djalan Kramat Raya, Datus, masih djuga merasa chawatir terhadap nasib murid-muridnja jang bakal ikut udjian negara tahun ini. “Anak-anak bisa djadi gugup karena harus membagi konsentrasi antara edjaan dengan materi udjian”, kata Datus. Tapi kendati demikian, SD Jajasan Vicentius menerima EYD dengan sepenuh hati. “Kami mulai mengadjarkan edjaan baru itu pada murid-murid kelas enam”, kata salah seorang guru disana kepada TEMPO. Alasannja: “Disamping karena anak-anak kelas tertinggi itu daja tangkapnja baik. kita djuga bersiap-siap kalau-kalau memang keluar nanti dalam udjian”.

Djaket

Tapi bagi anak-anak KAPI jang berdemonstrasi beberapa waktu jang lalu, soalnja sama sekali tidak bersangkut paut dengan udjian atau daja tangkap. “Masih ada soal lain jang lebih penting dari soal ejaan (dibatja dengan tjara edjaan lama) baru itu”, kata seoranjg anak muda jang berdjaket lusuh. Anak ini memang warga negara jang baik, dia tahu bahwa memang ada soal lain, bahkan banjak. Tapi buat orang-orang jang hampir seluruh hidupnja dichidmatkan kepada pembinaan bahasa Indonesia, pikiran anak muda jang bermarkas di Salemba Raya ini tidak bisa diterima. “Bahasa Indonesia jang simpang siur sekarang ini harus ditertibkan. Lalu bagaimana nenertibkannja kalau edjaannja sadja tidak beres”, kata seorang ahli di LBN.

Pembakuan bahasa jang meliputi berbagai bidang — peristilahan, ketatabahasaan, dan sebagainja–memang tidak bisa dimulai selama edjaan masih katjau. Dalam kata-kata penjair Taufiq Ismail masalah djadi begini: “Persoalan edjaan itu hanjalah persoalan nomer kesekian bukan jang terpenting dalam kekatjauan bahasa kita”. Memang bukan jang terpenting, tapi jang terpenting tidak bakal terselesaikan sebelum edjaan – jamg merupakan komponen utama tulisan suatu kata – ditertibkan.

Tapi djika akar penertiban terus di gali, tibanja djelas tidak pada Kopkamtib (meskipun tugasnja djuga penertiban) melainkan kembali djuga ke LBN. “Komisi istilah tidak bekerdja lagi sedjak tahun 1967”, kata seorang pedjabat di sana. Nah, kalau begitu. tentu sadja istilah jang menjerah bagaikan air bah di Pilipina, dengan tjepat berkuasa dalan kawasan bahasa kita tanpa suatu sistim jang pasti. Masih mending kalau soalnja tjuma soal sistim, sebab itu berarti bahwa niat mengindonesiakan masih ada. Tapi kalau seorang pembesar memberi tjeramah dengan bahasa jang tidak djelas – Indonesia atau Inggeris atau Belanda atau bahasa gado-gado–tentu lebih berabe lagi. Karena kekatjauan matjam itu semakin lama semakin mendjadi-djadi sadja, lama kelamaan kebutuhan akan penguasaan bahasa jang baik, djuga berangsur padam. Lagi pula apakah bahasa jang baik itu djika tidak ada usaha pembakuan?

Kamus Istilah

Dan usaha ini dimulai dengan penerbitan edjaan. Dengan edjaan jang tertib itulah nanti LBN bakal menerbitkan suatu kamus istilah jang diharapkan mendjadi standar bagi semua pemakai bahasa Indonesia. Apabila orang menjadari pentingnja istilah jang seragam, orangpun segera menjadari betapa butuhnja kita akan suatu edjaan jang – paling sedikit memenuhi sjarat untuk sedjumlah istilah jang djuga makin bertambah dan perlu diberi perhatian.

Perhatian itu memang telah ada sekarang, sehingga tidak lain dari kepala negara sendiri jang iknt kampanje. Dan koran-koranpun tidak tinggal diam. Djauh sebelum Presiden Soeharto setjara terbuka berbitjara tentang EYD, beberapa surat kabar ibu kota telah memulai pemakaian EYD, tidak berbeda banjak dengan saat penggantian edjaan pada nama-nama djalan diseluruh kota Djakarta. Mula-mula memang hanja beberapa berita jang dimuat harian sore Sinar Harapan jang menggunakan EYD. Tapi tiba-tiba suatu sore muntjul pugumuman redaksi bahwa semua naskah jang akan dimuat pada lembaran offset koran ini akan ditulis dalam EYD Kenapa begitu tjepat prosesnja? “Kami ditantang oleh korektor dan zetter mendjawab Aristides Katoppo, redaktur pelaksana koran itu. Kabarnja setelah 2 minggu dengan beberapa berita dalam EYD offset itu sudal merasa siap dengan edjaan baru dan mengusulkan supaja semuanja sadja dengan EYD. Lagi pula buat para korektor akan terasa sulit untuk mengkoreksi sebuah koran dengan 2 matjam edjaan.

Karena itulah, maka konon mulai pada hari proklamasi tahun ini, Sinar Harapan sudah berketetapan untuk memakai EYD pada seluruh halaman-halamannja. Bagaimana dengan iklan jah, para pemasang kita andjurkan untuk djuga memakai edjaan baru itu”. Kata Katoppo. Tapi diakuinja djuga bahwa, andjurannja itu sifatnja bertahap.

Podjok

Beberapa koran lain djuga ada jang mulai mentjoba EYD, meskipun tidak semenjolok SH. Koran-koran itu umumnja memakai EYD pada rubrik-rubrik ketjil seperti podjok ataupun tadjuk rentjana. Dan karena tidak terlalu menjolok itulah maka soal dengan pertjatakan belum pula membutuhkan perhatian. Jang lebih madju lagi kabarnja adalah kantor berita nasional Antara. Tanpa menantikan perintah Menteri Penerangan Budiardjo jang achir-achir ini djuga sibuk dengan dunia pewajangan para reporter dan redaktur telah diwadjibkan berlatih menulis dalam edjaan jang disempurnakan. Disini memang tidak ada soal matrijs ataupun tuntutan korektor, maka itu Antara dengan mudah menerbitkan bulletin mingguan Spektrum dalam EYD.

“Pada mulanja memang terasa lambat”, demikian pengakuan Ismail Jakup, seorang desk di Antara. Katanja kelambatan itu bersumber pada para redaksi jang melakukan koreksi hingga 2 kali. “Pertama jang dikoreksi adalah isinja sudah itu baru edjaannja”. Bahkan menurut Ismail, ada redaktur jang – karena takut konsentrasinja petjah – menuliskan naskahnja kali. “Mula-mula ja, edjaan lama, sudah itu baru dalam EYD”. Kalau terus begini, terang tidak efisien. “Tapi kalau ada kemauan keras. « bulan sadja sudah bisa”, kata seorang pemimpin redaksi dari luar Djawa dengan optimis.

Jang nampaknja kurang begitu optiuus dengan hari-hari mendatang ini adalah para pendjual buku (baik baru maupun bekas). Sementara buku peladjaran jang bakal terbit akan tertulis dalam EYD, maka buku-buku lama dengan edjaan lama masih pula menumpuk digudang. Ini tentu harus berarti bahwa pasaran buku-buku bekas bakal mengalami kelumpuhan. Anak-anak tentu ogah membeli buku-buku dengan edjaan lama – meskipun lebih murah sebab pasti lebih memudahkan kalau buku jang mereka pakai itu menggunakan edjaan jang djuga diwadjibkan sekolah mereka. Tjalon Sardjana Nasib jang kurang baik itu tidak terlalu dianggap penting oleh Hadji Kaharuddin dan Djufri. Siapa kedua orang ini? Nah, para tjalon sardjana (muda atau lengkap) biasanja merupakan kenalan akrab kedua pengusaha pribumi ini. Keduanja mendapatkan nafkah melalui usaha pengetikan skripsi atau paper dalam tokonja didjalan ke Rawamangun, Djakarta. Sampai sekarang memang belum ada pesanan ketikan dalam EYD, tapi kata pak Hadji jang mengaku pernah bermukim di Malaysia selama 11 tahun: “Nanti saja akan minta para pemesan menulis naskahnja langsung dalam edjaan baru, atau saja sendiri jang koreksi”. Selain mendapatkan keterangan melalui penerbitan pers, Hadji ini rupanja mendapatkan sebuah buku merah putih (berisi pendjelasan EYD) dari seorang anggota polisi jang datang mengambil pesanannja ketikannja.

Nampaknja jang berurusan dengan Malaysia bukan sadja Hadji Ibrahim ini, sebab seperti jang pernah dikatakan oleh Adam Malik: “Negara Asean Malaysia mendesak Indonesia supaja persamaan edjaan segera dilaksanakan”. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa selain alasan ilmiah tak kurang alasan politis djuga ikut menjelinap dalam sedjumlah alasan bagi hak lahir EYD. Buat para pembesar dikedua negara tentu soal politis itu memang bukan soal ketjil, tapi bagi penerbit buku di djakarta, penjamaan edjaan tersebut halnja lain lagi. Untuk para penerbit tidak djadi soal benar apakah kita jang mengikut atau Malaysia jang meniru edjaan kita. Jang lebih penting buat mereka adalah soal lalu lintas buku antara kedua negara.

Sementara Presiden Suharto menjatakan sikap terhadap EYD pada pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus ini, di Kuala Lumpur konon Tun Razak djuga diharapkan naik pada salah satu mimbar diibukota keradjaan itu untuk melakukan tindakan jang sama. Saat saat setelah itu tjukup mentjemaskan beberapa penerbit Indonesia. “Apakah ini berarti bahwa Bahasa Malaysia sudah dianggap sama dengan bahasa Indonesia?” tanja seorang penerbit. Ja, ini pertanjaan memang menarik kalau diingat bahwa ditahun 1959, Menteri PP & K bersama Menteri Perdagangan pernah mengeluarkan keputusan bersama (406/M/Perdag dan 7945/S. PP8&K) jang melarang masuknja buku-buku berbahasa Indonesia jang ditjetak diluar negeri. Tapi kalau dipikir-pikir agaknja dalam hal ini orang sedikit mengada-ada. Sebab bukankah telah berulang kali dikatakan bahwa persamaan edjaan tidak dengan sendirinja sama dengan persahaan bahasa.

Menimpa

Namun boleh djuga kita mengikuti djalan pikiran Ajip Rosidi. Penjair, penulis tjerita, dosen sastra dan direktur penerbit Pustaka Jaya ini menulis: “Kalau edjaan mau disamakan, maka konsekwensinja larangan dua orang Menteri 13 tahun jang lampau itu harus ditjabut. Tanpa mentjabut larangan itu persamaan edjaan tidak ada gunanja”. Kesimpulan Ajip ini memang ada alasannja, sebab apakah artinja persamaan edjaan kalau kita tidak bisa tukar menukar batjaan’? Lalu kalau sudah bisa tukar menukar batjaan – karena larangan ditjabut Ajip melihat suatu akibat jang bakal menimpa para penerbit Indonesia. Ia kelihatannja jakin sekali bahwa djika buku Malaysia bebas masuk kemari, oleh harganja jang lebih rendah dan tehnik tjetaknja jang lebih unggul, buku-buku Indonesia akan termakan. Bukan itu sadja, “Para penerbit jang tjerdik tentu akan mentjetak bukunja di Malaysia. Bukan sadja karena ongkosnja lebih murah, tapi djuga pekerdjaannja lebih rapih”, tulis Ajip pada salah satu karangannja jang bernada kurang setudju dengan kebidjaksanaan Menteri Mashuri mengenai EYD. “Sudahkah konsekwensi itu dipikirkan oleh Menteri Mashuri’?”, tanja Ajip pula.

M. Machmud tidak sibuk dengan pertanjaan matjam jang menggoda Ajip Rosidi, sebab pemimpin penerbit Pembimbing Masa jang djuga adalah Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) ini mempunjai keterangan lain. “Buku-buku Malaysia bebas masuk ke Indonesia, petugas Bea & Tjukai tidk mempersamakan bahasa kita dengan bahasa Malaysia”, kata Machmud. “Tapi buku-buku Malaysia itu tetap sadja tidak berhamburan dipasaran”, tambahnja pula. Dinginnja pasaran bagi buku-buku tanah semenandjung disini, antara lain karena perbedaannja dengan bahasa kita masih menjolok, di samping orang memang masih belum senang membatjanja. Ini tentu berlainan nasibnja dengan buku-buku Indonesia jang kabarnja banjak beredar di Malaysia. Atase Pendidikan Malaysia di Djakarta, Khalid Bin Haji Ismail, bertjerita pandjang lebar tentang menjebarnja buku-buku peladjaran agama terbitan Indonesia negerinja (lihat box). “Di Fakultas Sastra Universiti Malaysia, buku-buku Antropologi karangan Prof. Kuntjoronigrat djadi buku pegangan. Dan boleh dibilang, peladjar-peladjar dan mahasiswa Malaysia lebih mengenal karja-karja sastra Indonesia dari pada peladjar Indonesia jang sama sekali kenal sastra Melaju”, kata Khlid pula.

Rezeki

Tentu sadja keterangan Enche Khalid jang terachir itu masih bisa diperdebatkan – sebab terkenal tidaknja suatu karja sastra tentu tidak seluruhnja bergantung pada besarnja peredaran – tapi paling sedikit dengan itu terbantahlah sebagian ketakutan Ajip dan beberapa penerbit Indonesia lainnja. Malahan bisa sebaliknja jang terdjadi, buku-buku Indonesialah jang akan menjerbu Malaysia. Dan kalau ini terdjadi, maka mengalirnja rezeki itu sungguh tidak bisa dilepaskan dari peranan jang dimainkan oleh EYD jang kini masih dj bahan pembitjaraan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: