Lambat, Tapi Tidak Selamat

Eusebio158x158Tempo 9 September 1972. PSSI A, kalah 2-4 melawan kesebelasan Benfica. pertandingan di stadion Senayan, ditonton 50.000 orang. PSSI main tanpa Ronny Patti dan Basri dinilai lamban. dalam 30 menit, kebobolan 4 gol.
BETULKAH tanpa Ronny Patti dan Basri PSSI bermain lambat dan tidak cermat? Paling tidak itulah kesan pertama 50.000 penonton Stadion Senayan yang menjadi saksi bagaimana PSSI A kebobolan gol dalam waktu hanya 30 menit. 1 September yang lalu menghadapi Benfica dengan Eusebio, Nene serta kiper Bento yang lincah PSSI berlenggang-lenggok bagaikan bermain dalam pertandingan-latihan. penugasan Surya Lesmana untuk menerkam si Macan Hitam Eusebio bukan saja lebih banyak luputnya, malahan merepotkan Mulyadi dan Sunarto, sehingga kanan-luar Nene dengan mudah mengobrak-abrik daerah penalti PSSI. Dan celakanya baru setelah Eusebio sempat melepaskan 3 kali tendangan gledek masing-masing dengan kaki kiri dan kanannya ditambah dengan sabetan setengah salto beberapa meter di muka Ronny Pasla, sadarlah Endang Witarsa yang segera mengganti Surya dengan Budi Santoso. Tapi kedudukan sudah menunjukkan 3–0 untuk Benfica. Satu gol lagi hasil kerjasama pimpinan Eusebio menutup babak kedua dengan tanda-tanya: berapa gol lagi akan lahir dari kaki Eusebio.

Waskkito. Permainan lambat yang dikembangkan PSSI di babak kedua meningkat tempo dan mutunya. Waskito masuk menggantikan Jacob yang cedera lututnya. Risdianto, Kadir dan Iswadi menemui langgamnya, sementara Eusebio dikuntit terus oleh Budi. Saking kesalnya akan godaan Budi Macan Mosambik ini terlihat sekali mencambak rambut Budi yang gondrong, menjewer pula kupingnya dan beberapa kali meludahinya – tanpa kelihatan Wasit Samsudin Hadede tentunya. Sekali Budi dituding-tuding Eusebio, tapi centeng PSSI ini tenang tenang saja menghimpit terus. “Taktik menempel sudah kuno”, ujar Eusebio setelah pertandingan usai – meskipun semua orang mengakui tanpa gangguan Budi, Macan Hitam Benfica ini akan lebih sibuk mencari mangsanya.

Dua gol balasan Indonesia di babak kedua pada ahirnya mengembalikan kepercayaan pada suporternya bahwa team ini memang pantas menjadi Juara Pesta Sukan. Meskipun kemudian ada suara-suara yang mengecam: bukan saja team ini lambat menyesuaikan diri dengan permainan lawan, bahkan para pengasuhnya, terutama Endang Witarsa, terlalu lama mengambil putusan.

Soal cepat atau lambat mengambil putusan ini sesungguhnya membongkar kelemahan para pengasuh, bahwa mereka kurang menjajagi keadaan lawan. Sehingga strategi dan taktik permainan langsung diatur dari pinggir arena pertandingan yang salah-salah bisa menimbulkan salah pengertian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: