Menggarap “Suratin Cup”

Tempo 26 Agustus 1972. Turnamen yunior PSSI berlangsung di stadion Persija, diadakan 2 th sekali untuk memperebutkan piala suratin. turnamen cup dijadikan ukuran masa depan PSSI. saham sepak bola remaja daerah kurang.
MINGGU ini mendadak Ir Suratin (1898-1959) terkenang. Turnamen Junior PSSI jang memindjam nama Pendirinja untuk kedjuaran remadja (sampai 19 tahun), kini sedang berlangsung dibawah sorotan lampu Stadion Persidja. Bidjak sekali, orang bilang, bahwa sedjak PSSI gagal di Rangoon dan berhasil merebut djuara dan runner-up Pesta Sukan (TEMPO, 19 Agustus 1972), djasa dan tjita-tjita jang diperdjuangkan almarhum patut diisi dengan tindakan njata: menampilkan tunas-tunas harapan jang selama ini agaknja tenggelam dalam kesibukan kakak-kakaknja.

Topi. Meskipun selama ini Pula Para pembinanja, seperti Jusuf Antha, Tanu TRH ditingkat PSSI dan Joel “Bung” Lambert ditingkat persiapan (Gawanel kurang menjukai publikasi besar-besaran namun sedjak pertama kali Kedjuaraan Junior Nasional ini diadakan pada 1966. sedjak itu PUN Turnamen “Suratin Cup didjadikan ukuran masa depan PSSI. Dan kepada para pengasuh tersebut topi diangkat tinggi-tinggi, disamping kritik tadjam dilontarkan kepada PSSI dan anggotanja (bond) jang kurang dapat menjalurkannja. Karena porsi sepakbola junior dirasakan lebih sedikit daripada kontribusi – berupa pemain-pemain muda – jang diberikannja kepada PSSI. Di samping sudah barang tentu, kenjataan inipun mengungkapkan kurangnja saham Para anggota PSSI didaerah dalam kegatan sepakbola remadja.

Tapi, apapun jang telah terdjadi di tahun-tahun lalu, Turnamen setup dua tahun memperebutkan Piala Suratin kini memasuki tahap baru. Dengan terbentuknja PSSI Team A dan Team B nja, praktis para pemain muda kelas nasional terkuras habis. Sementara orang bertanja: sampai kapan Team A sekarang dapat bertahan dan Team B dapat dimatangkan atau dengan mengatjungkan djari, berapa diantara pemain B sekarang jang dapat tnengisi beberapa veteran Team A?

Ladang. Pada pertanjaan ini nampaknja Persidja jang paling siap mendjawabnja, meskipun Bond jang terkenal sebagai “ladang bolawan” masili harus membuktikan sekali lagi kebolehan pemain-pemain mudanja di Turnamen “Suratin Cup” 1972.

Djuara tahun 1970 – diikuti runnerup. Semarang, Medan dan Udjung Pandang, masing-masing djuara III dan IV Persidja Jr belakangan ini baru sadja mengalami bongkar-pasang teamnja. Perlawatannja bulan lalu ke Djawa Tengah meski memberi gambaran positif untuk mengulang kuntji kemenangannja seperti dua tahun jang lalu, terpaksa tampil tanpa Wirjanto (poros-halang), Sutan Hara Hara (back) dan Jeffrey (penjerang). Prinsip Persidja, menurut Team Manager dang Sulaiman, bukan sadja mempertimbangkan usia, tapi memperhitungkan pula pengalaman para pemainnja–sesuai dengan ketentuan formil PSSI. Wirjanto dan Sutan Hara Hara meski tergolong masih 19 tahun, tapi pengalamamja di PSSI B paling tidak meminta kerelaan jang bersangkutan untuk memberikan tempatnja kepada pemain lainnja. Sedang Jeffrey–putera bekas kanan luar PSSI, Wiempi – terpaksa ditjoret lantaran pernah bermai sekali untuk Persib. Tapi dengan material baru: Salam dan Maman (back), Makmun dan Ali Tukarya (keduanja halfback), Toto, Sumarto dan Undang (penjerang), tidak terlalu pagi untuk meramalkan bahwa Persidja Jr paling kurang akan terbilang “3 besar” Turnamen. Lawan satu-satunja Menado – jang berhasil menjisihkan Udjung Pandang diwilajah timur – agaknja jang akan merepotkan anak-anak Ibukota. Konon kelebihan pemain-pemain Sulut itu di samping besar sekali semangat bertandingnja, besar pula bangun tubuhnja. Sementara Medan – salah satu dari 6 finalis – belakangan ini agak mengalami patjeklik bibit-bibit, sebab sebagian besar sudah tertanam di Kesebelasan PSMS dan PSSI B.

Minim. Sjahdan, mengasjikkan sekali berkenalan dengan team Suratin Persidja dalam pertandingan “segi-tiga” lawan Kesebelasan Uni (Bandung) dan Perrsi (Sukabumi) baru-baru ini. Bukan karena kemenangannja sadja tjukup mejakinkan (masing-masing 2-1 terhadap Uni dan 6–0 terhadap (Sukabumi) tapi mutu permainan jang diperlihatkan anak-anak asuhan Hasan dan Jopie Timisela ini. Ketrampilan dalam pengolahan, membagi dan menembak bola sama menondjolnja dengan kekurangan mereka dalam menggunakan peluang dan melakukan kombinasi jang terarah. Bakat perorangan kentara sekali ketika mereka berhadapan dengan Sukabumi–jang nampaknja tjuma memiliki Levy Dom, bekas pemain Junior PSSI ke Manila tahun 1970. Tapi berhadapan dengan Uni jang lebih kompak, permainan Persidja Jr hanja dapat berkembang pada batas jang minim.

Dibarisan muka mereka penjerang tengah Suwendi memperlihatkan kelebihan dalam membuat terobosan-terobosan, sementara Wahju, gelandang kiri merangkap Kapten Kesebelasan mejakinkan sekali dengan tjara ia membatja dan mengatasi situasi untuk keuntungan regu. Pemain bergaja Salmon Nasution — tanpa termperamen djeleknja –diramalkan dalam waktu dekat akan ditjomot PSSI.

Halma. Dibarisan belakang poros-halang Ali Tukarya mempunjai gaja sendiri: sundulan bola tjermat, kanan-kiri hidup dan ia tahu kapan keluar memotong lawan. Kelemahan djustru terletak pada bek kanan Salam jang postur djasmaninja memiliki unsur-unsur seorang back: badan kekar, tendangan pulen, tapi kurang gesit mengatur posisi dikala keadaan gawat. Ia agaknja perlu banjak-banjak diadjar main Halma -bagaimana menambal lobang-lobang akibat kojakan penjerang lawan.

Masih ada jang membikin orang penasaran Permainan bersama Persidja Jr ini agaknja masih mentjari-bari bentuk – atau memang mereka di-instruksi-kan untuk bermain dengan pola jang samar’? Mereka terlampau banjak melakukan gerakan-gerakan, jang meskipun indah tapi tidak produktif. Dan djustru type permainan Suwendi lebih tjondong untuk menjelesaikan umpan jang tidak melalui djalan jang bertele-tele–atau biarkanlah ia jang bertele-tele melakukan solo-run, kemudian melepaskan tembakan kegawang lawan.

Usaha menutupi kelemahan dengan kelebihan mereka itulah jang sebenarnja kuntji kemenangan di Turnamen Suratin Cup ini. Dan kepada siapa harus dialamatkan kalau bukan pada Hasan dan Jopie. Sebab Team Manager Edeng sendiri pernah mengatakan bahwa “soal disiplin dan mental saja tidak meragukan soal teknik kita semua sudah saksi kan”. Dan faktor terachir ini sesungguhnja merupakan modal utama seluruh pemain “Suratin Cup”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: