“Cap Mau” Untuk PSSI B

Tempo 7 Oktober 1972. PSSI B baru kembali dari india mendapat julukan “cap mau”. itu gara-gara, ketika pertandingan berlangsung di sana, permainan menjadi kasar. para pemain PSSI pun tidak mundur melayani permainan lawan.
SETELAH berada di rantau 3 minggu lebih – untuk mengikuti beberapa turnamen di India Team PSSI B tiba kembali di kandang dengan memboyong Assam Football Association Silver Jubilee Cup. Kemenangan pada turnamen HUT ke-25 Persatuan Sepakbola Assam itu sebenarnya hanya merupakan acara ekstra di samping Turnamen tradisionil untuk merayakan Kemerdekaan India di Kalkutta. Dan memang pada turnamen utama ini PSSI B pulang dengan gelar baru. “PSSI B menurut bahasa awak bolehlah disebut cap mau” ujar Sarman Panggabean, anak Medan yang menjadi Kapten Kesebelasan PSSI B. Sarman yang pernah menjadi pemain inti PSSI ke pra-Olimpik Ranoon pun menceritakan apa yang terjadi di balik “cap mau” itu.

Lembek. “Peraturan lembek, permainan meningkat kasar. Dan lebih celaka lagi wasitnya tidak berdaya”, kata sang Kapten yang sebagai pemain PSMS Medan bukan tidak terkenal dengan permainan keras, malahan kasar sewaktu-waktu. “Jika di Indonesia, mungkin sudah banyak pemain mereka dikeluarkan wasit, tapi karena wasit tidak bertindak kami pun tidak mundur melayani mereka”, sambungnya, “pokoknya kami ini cap mau ! “Barangkali dengan semangat “cap mau” itu PSSI B berhasil menundukkan Kidderpore 1–0 dan Aryan ymkhana 2-1, tapi tak kuasa melindungi gawang Suharsojo dari kebobolan 0-3 ketika berhadapan di semi-final dengan Mohun Bagan (Juara Turnamen). Di semi-final ini puncak insiden terjadi. Back kanan lawan dengan sengaja menghunjamkan kedua kakinya kearah lutut kanan Andi Lala. Lala cedera dan “anak-anak tak dapat menguasai diri”. Terjadilah baku-hantam yang menurut Sarman “tak dapat dihindarkan karena emosi sudah tak terarah”. Dan apa yang bisa meredakan luapan emosi anak-anak tidak lain adalah mangkok-mangkok sirih (terbuat dari tanah liat) yang melayang kearah pemain-pemain Indonesia. “Kami jadi takut, karena tak mungkin penonton dilawan”.

Medan Bagaimana kalau Medan yang menghadapi mereka? “Medanpun takut kalau menghadapi permainan tanpa peraturan”, komentar Sarman, “mungkin kita harus bawa semua pemain model Jacob yang tahan banting”. Kesimpulannya sederhana: untuk pembinaan, lain kali tak usaha PSSI belajar dari sana — meski kemudian diakui juga, bahwa pengalaman di India boleh juga dijadikan bekal untuk melayani anak-anak Muangthai dalam Turnamen King’s Cup Nopember yang akan datang.

Dari kasar permainan beralih ke lembek. Di Assan PSSI B dengan melalap Kesebelasan India (pilihan) 4-0 dan mengalahkan Malaysia (Selangor) 3-0 sebelum tampil sebagai juara. Kemenangan tersebut, menurut Sarman, terutama disebabkan ‘pemain-pemain tingkat nasional lebih mengerti peraturan dan tahu permainan sepakbola yang sebenarnya”. Adakah ini pertanda PSSI B meningkat dewasa ataukah hanya gejala-gejala penyakit “salon semata?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: