Uang Tidak, Mutupun Tidak (Presiden Cup 1972)

Tempo 21 )ktober 1972. Tim PSSI A yang menjadi juara kedua presiden cup, membuat kecewa. bermain tanpa semangat, PSSI A kalah dari kesebelasan australia 1-4. dalam acara pertandingan segi tiga itu, uang masuk sedikit.

PSSI A seolah minta diuji: “Kami lah runner-up turnamen President Cup!” Memang sebagai juara ke-2 PSSI tidak gagal, meskipun tidak berhasil membuat revans terhadap kekalahannya lawan Burma di pra Olimpik Rangoon setengah tahun yang lalu. Setelah membuat start yang meragukan dengan mengalahkan Singapura 2-1, dalam babak kwalifikasi Indonesia berhasil menahan Burma 1-1. Lalu di luar dugaaan mengalahkan anak-anak Marcos 12-0. Tiba difinal untuk kesekian kalinya Indonesia kembali digasak 1-3 oleh Tin Aung Cs.

Anak-ingusan. Maka untuk meyakinkan bahwa Indonesia tidak gagal dengan prestasi tersebut, agaknya tidak perlu ditambah seorang penasehat hukum lagi mendampingi Kosasih Purwanegara SH yang menyatakan kepada pers bahwa prestasi PSSI lebih baik dari yang sudah-sudah: Di lapangan hijau publik ingin menjadi saksi, sampai di mana kebolehan runner-up President Cup 1972 ini. Tapi apa yang diperlihatkan di sari pertama (7 Oktober) ketika lawan team Australia, PSSI A muncul tanpa Mulyadi. Risdianto dan Waskito. Tapi bukan hanya itu yang menyebabkan mereka dihajar 1-4. Semangat main bolanya memang loyo. Dalam menempatkan Iswadi sebagai kapten kesebelasan semula dinilai cukup bijaksana, andaikata tujuan Endang Witarsa hanya ingin menjinakkan pemain berdarah panas ini. Sebab ia tidak lebih dari sekali menendang kepala lawan dengan teknik karate, pada saat bola tidak dalam permainan. Kentara sekali dalam melayani, permainan licik Australia Indonesia masih anak-ingusan. Mujiadi boleh dijadikan tauladan bagaimana seharusnya tidak bermain kasar, meski hasratnya segede gunung. “Anak-anak cape”, hampir semua komentar tokoh-tokoh PSSI satu nada dan memang sepuluhan ribu penonton ikut juga mendukung pernyataan itu, sehingga di sari pertandingan Indonesia-Selandia Baru 1-1 (11 Oktober) hanya dihadiri 5 ribuan penonton yang agaknya masih penasaran.

“Tanpa Bobby Charlton, Kesebelasan Inggeris tidak bisa main. Tanpa Pele Santos tidak ada artinya. Apalagi PSSI yang rusak 5 pemainnya”, ujar Endang minta pengertian. Konon dari Ibukota Korea Selatan jauh jauh Endang mengetuk kawat supaya “team A jangan diadu”. Tapi kenyataannya acara tidak dapat dirubah dan Endang yang biasanya kaya akan siasat, kali ini harus tunduk pada firasat. “Saya tahu anak-anak tidak bisa menang. Saya instruksikan mereka bertahan”, katanya kepada TEMPO. Tapi rupanya. Rale Racik coach Australia asal Yugo cepat membaca jalan permainan. Dia perintahkan banyak-banyak umpan melambung ditujukan kemuka gawang Ronny Pasta. Dan setelah barisan belakang Indonesia yang kecil-kecil kalau benturan baru ini luar Buyevic mengatur serangan dengan melancarkan bola rendalh. Di saat inilah orang baru maklum bahwa Australia yang datang kali ini bukan itu Australia Barat. Sebab team yang mayoritas terdiri dari pemain-pemain impor yang menetap di New South Wales. Mempunyai mutu dua kelas lebih tinggi dari rekan-rekannya di barat. “Mana bisa Indonesia menang kalau gampang naik darah”, sindir seorang, pimpinan teamnya ketika menjawab pertanyaan tentang peluang Indonesia di pra-kejuaraan dunia tahun, depan di Australia.

Kini soalnya bukan lagi mempersiapkan team untuk pra-kejuaraan dunia yang III mengganggu pikiran, tadi masuknya uang dari pertandingan segi-tiga yang baru lalu itu nampaknya yang bikin, pusing kepala. Tidak heran seorang pengurus (pleno) PSSI menggerutu: “Kalau bayarannya Rp 35 sampai Rp 40 ribu, adakah tidak lebih baik disumbangkan kepada bonden di daerah “untuk pembibitan”. Soalnya memang di samping pembibitan, apresiasi penonton terhadap sepakbola bermutu belakangan ini pun banyak meningkat. Itulah sebabnya ada yang menyarankan agar dalam kampanye pertandingan di Senayan di waktu-waktu yang akan datang, kerjasama perberitaan antara pengurus PSSI dan para wartawan olahraga agaknya perlu “ditingkatkan” pula.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: