Dari Januari Kelabu Ke Desember …

Tempo 30 Desember 1972. Berita-berita penting selama th 1972. Konflik pemuda dengan pemerintah. Segolongan kecil intelektuil dituduh hendak menguasai negara. Diskusi tentang pewarisan nilai. Golkar khawatir kehilangan simpati.
TAHUN 1972 bagi Indonesia agak nya bukanlah tahun yang santai. Di tengah masih sibuknya pembangunan yang harus berjalan serta berhasilnya Presiden mengadakan lawatan ke luar negeri sampai 3 kali (Pebruari, Mei dan Nopember –masing-masing ke negara-negara tetangga Australia, Selandia Baru dan Pilipina, Jepang dan kemudian ropa Barat)–namun semua itu tidaklah menyembunyikan kenyataan bahwa keadaan di Indonesia tahun 1972 cukup panas dan menegangkan. Kemarau yang panjang dan teramat kering dengan akibat-akibatnya pada panen yang gagal, paceklik listrik dan air tawar, serangan wabah eltor dan kolera, kebakaran di kota dan hutan, memang dapat dicatat sebagai faktor yang telah turut mengeruhkan suasana di tahun 1972.

Tapi di luar faktor alam yang memang tak terelakkan banyak dijadikan kambing hitam itu, ketegangan sosial dan juga politik namun yang timbul silih berganti tahun ini sebab-sebabnya masih tetap pada kenyataan-kenyataan yang tidak alamiah alias buatan atau setidak-tidaknya karena keteledoran manusia juga. Sepanjang masa kekuasaan post Soekarno, tahun 1972 memberikan gambaran paling jelas telah timbulnya ketegangan-ketegangan sosial dan juga politik di tengah-tengah proses pembangunan ekonomi yang telah menunjuk kanhasil-hasil secara makro.

Ketegangan-ketegangan itu jika tidak bisa diartikan sebagai pertanda adanya langkah-langkah yang kurang tepat dalam upaya pembangunan ekonomi itu sendiri, setidak-tidaknya ia memberikan isyarat jelas masih tercecernya perhatian terhadap penumbuhan kehidupan sosial dan politik di bawah tingkat yang telah dicapai oleh bidang ekonomi itu. Belum lama ini Menteri Perdagangan Sumitro mengumumkan tentang lebih meningkatnya penerimaan dari ekspor dibandingkan tahun lalu, sementara sudah lebih dari sekali gubernur Bank Sentral Radius Prawiro mengumumkan suksesnya program Tabanas dan Taska, sudah berpuluh-puluh helai pita yang putus digunting Menteri PUTL Sutami menandai selesainya suatu proyek pembangunan prasarana, dan begitu pula halnya dengan berpuluh-puluh pabrik yang telah diresmikan oleh Menteri Perindustrian M. Yusuf. Toh tahun 1972 juga harus ditutup dengan kegoncangan dan ketegangan yang telah membuat Presiden selama berminggu-minggu tak nampak tersenyum akibat naiknya harga beras secara menyolok dan tak terduga-duga. Dan mengapa sampai tak terduga-duga, tidak lain karena Bulog, sebagai badan yang dipercayakan mengurus pengadaan beras dalam negeri dan menjaga stabilitas harga — telah membuat laporan yang tidak cocok dengan kenyataan. Kasus ini memberikan gambaran terakhir paling jelas betapa masih belum berhasilnya pemerintah memperbaiki aparatnya, notabene pada salah satu blind spot yang langsung berada di bawah Presiden seperti halnya dengan Pertamina.

Pejah Gesang

Namun tahun 1972 bukan saja telah ditutup dengm suasana muram karena tingginya harga beras yang telah melonjak sejak Oktober, tetapi juga telah di awali dengan ketegangan yang bersumber pada gagasan nyonya Tien Suharto untuk membangun proyek yang dinama kannya Indonesia Indah. Proyek non budgetair yang sejak Desember 71 telah melahirkan kelompok-kelompok gerakan protes seperti Gerakan Penghematan dan Gerakan Penyelamat Uang Rakyat di Jakarta, Gerakan Akal Sehat di Bandung dan berbagai nama lainnya lagi yang muncul di berbagai kota-kota besar di Indonesia, mendapat tantangan bukan lah karena ide pembangunan proyek itu sendiri, melainkan karena waktu pembangunannya yang dinilai kurang tepat sekarang dan cara pengumpulan dana yang akan ditempuh untuk membangun proyek tersebut. Tapi proyek ini rupa nya bukan saja ternyata harus membawa korban luka-luka pada sejumlah pemuda yang mendapat serangan gerombolan yang tak dikenal secara tiba-tiba ketika mereka akan menyampaikan petisi kepada ketua Yayasan Harapan Kita di kantor Yayasan yang terletak di jalan Matraman Jakarta. Reaksi Presiden Suharto melalui pidatonya pada peresmian RS Pertamina di Kebayoran Baru di minggu pertama Jamlari dengan menyebut-nyebut gerakan anti proyek Indonesia Indah dimaksudkan untuk mendongkel kedudukan Presiden bukan saja mengejutkan tapi sekaligus juga menyadarkan adanya jurang komunikasi antara fihak penguasa dan – generasi muda. Seakan telah kehilangan harapan dan putus-asa, malam itu juga, 6 Januari, beberapa orang pemuda dan mahasiswa itu menulis sebuah pernyataan yang mereka beri judul Januari Yang Kelabu: “Dengan berlinang kami lambaikan tangan kami kepada Pak Harto: Selamat .. “, tulis mereka diakhir pernyataan. Untuk pertama kalinya setelah mereka mendukung kepemimpinan Jenderal Suharto sejak 1966, para pemuda mahasiswa dan cendekiawan seakan terpukul hebat setelah sekian lama mereka mencoba menumbuhluaskan kemerdekaan kritik. Dan seakan tak mendapatkan jalan lain selain melakukan sindiran terbuka, keesokan harinya beberapa pemuda telah menyebarkan pamflet-pamflet yang antaranya berbunyi: Pejah Gesang Nderek Pak Harto Hitam kata Pak Harto – Hitam kata Rakyat – tepat ketika nyonya Tien Suharto memberikan penjelasan tentang proyek gagasan nya itu dihadapan para pengusaha di gedung Kartika Chandra dengan didampingi Prof. Wijoyo, Ali Murtopo dan Ali Sadikin. Diskusi

Diskusi Cipayung

Tapi kejadian ini rupanya belum merupakan buntut peristiwa. Reaksi keras Presiden itu bukan saja segera sekali lagi melahirkan larangan demonstrasi dari Kopkamtib, tapi juga peringatan keras dari jenderal Sumitro bahwa terhadap Arief Budiman dkk akan di ambil tindakan tegas. Sebelumnya tindakan pemanggilan telah dilakukan oleh satgas inte Kopkamtib terhadap managing editor Sinar Harapan Aristides Katoppo karena dituduh harian itu telah membocorkan isi briefing Kepala Bakin kepada pers yang lebih dahulu telah diperingatkan tidak untuk disiar kan. Tindakan tegas yang dijanjikan itu memang dialami Arief Budiman, H.J. Princen dan lain-lain ketika terhadap mereka ini dilakukan penangkapan. Dengan itu maka suhu protes yang sudah mulai mendingin, tiba-tiba meningkat kembali. Beberapa orang pemuda – di antaranya Elviera Nasution – mendatangi kantor Komdak Jaya minta di tahan sebagai tindakan solider mereka terhadap penahanan Arief dkk. Dan ketika permintaan ini tidak bisa dikabulkan, aksi solider ini melakukan aksi duduk di luar halaman Komdak dengan tekat “tidak akan berhenti sebelun Arief dkk dibebaskan”. Kelompok ini telah menarik banyak perhatian. Setelah lebih dari 2 minggu mereka akhirnya berhasil dihalaukan dari sana dengan memunggahkan mereka keatas mobil dan melarikan mereka dari sana.

Konflik yang eksplosif ini bagaimana pun di fihak lain telah membawa para pemuda dan mahasiswa kembali merenungkan apa yang sesungguhnya sedang terjadi serta eksistensi mereka dan gambaran masa depan yang mereka inginkan. Pemikiran inilah agaknya yang telah membawa 4 organisasi mahasiswa ekstra – HMI, GMKI, GMNI dan PMKRI mengorganisir suatu pertemuan diskusi di Cipayung dengan mengambil tema: Indonesia Yang Kita Cita-Citakan. Meski pun pertemuan tidak berhasil mengundang kehadiran Wapangkopkamtib jenderal Sumitro yang sangat diharap-harapkan untuk memberikan pandangan-pandangannya, tapi hadirnya tokoh ABRI seperti Ali Murtopo dan sejumlah tekhnokrat pemerintah sedikit banyak telah menyegarkan kembali hubungan antara tokoh-tokoh pemuda dan mahasiswa yang mengundang dengan fihak tamu. Terutama antara fihak tehnokrat pemerintah dengan fihak pemuda dan mahasiswa, pertemuan tersebut telah memperjelas posisi masing-masing dan bagian yang harus dimainkannya-di tempatnya masing-masing. Dari pertemuan Cipayung pertama ke-I di bulan Januari ini, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan Cipayung ke-II di bulan April dengan peserta yang diperluas. Dengan tema baru: Perencanaan Masyarakat dan tanggung-Jawab Geerasi Muda mencapai Indonesia Yang Kita Cita-citakan pertemuan ke-II ini bermaksud mencari bentuk implementasi dari prinsip-prinsip yang telah disepakati pada pertemuan ke–I.

2 Amir

Melihat semangatnya, pertemuan-pertemuan yang telah menghasilkan rumusan-rumusan tertulis itu diduga akan menonjolkan kembali generasi muda dengan peranannya yang baru. Tapi dengan berlalunya bulan April, jejak pertemuan-pertemuan itu tak pernah terdengar lagi. Tidak mengherankan jika banyak orang berkesimpulan bahwa apa yang disebut-sebut sebagai peranan generasi muda itu, sesungguhnya tak banyak lagi bisa diharapkan. Bukan karena peranan generasi muda itu tidak penting dan tidak ada, tetapi seperti juga generasi tua, mcreka juga sudah terlalu terpecah dalam berbagai kepentingan dan perbedaan pandangan dalam menilai masalah-masalah yang timbul, sementara di fihak lain penguasa sudah terlatih awas untuk memberikan ruang-gerak yang terlalu longgar kepada mereka. Ketika di bulan Pebruari Menteri Amirmachmud tiba-tiba mengeluarkan larangan terhadap pemuda-pemuda yang tergabung dalam WAY-Indonesia untuk turut mengadakan kegiatan pembangunan langsung di desa-desa, nyatalah yang lebih dipertimbangkan oleh fihak penguasa bukanlah apa peranan pemuda dan mahasiswa itu melalaikan terutama siapa yang telah turut mengambil peranan itu. Kecurigaan terhadap generasi muda tidak hanya tercermin pada tindakan seperti itu, akan tetapi juga dalam sinyalemen-sinyalemen. Dari Semarang Panglima Widodo mensinyalir adanya golongan yang disebutnya “kaum kiri baru ” yang berciri-ciri “anti dwi fungsi ABRI, memberontak terhadap segala yang sifatnya eslablished dan tidak menyukai segala kultur yang normal yang dibina oleh masyarakat yang luas”. Sementara itu dari Sarangan, mayor jenderal Amir Murtono di hadapan Mubes ke-III Kosgoro di bulan Juni menyebut-nyebut adanya “segolongan kecil intelektuil yang hendak menguasai negara” dan kemudian mengatakan bahwa kedudukannya di golkar “bukan karena dipilih melainkan karena didrop langsung oleh Presiden”. Dimana segolongan kecil intelektuil yang dimaksud Murtono, dan tindakan-tindakan yang bagaimana yang dimaksudnya bahwa mereka “hendak menguasai negara” tidaklah dijelaskan. Namun, berbeda dengan sinyalemen Widodo, ucapan Murtono dinilai sebagai refleksi dari konflik-konflik yang sedang berkembang dalam golkar sendiri.

Tapi dakwaan yang dirasakan secara lebih luas, sekali lagi datangnya di Menteri Amirmachmud yang menuduh Universitas-Universitas sebagai sarana subversi disenafaskan dengan tuduhan yang sama yang dilancarkannya terhadap PT Suburi serta Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Tuduhan “melakukan kegiatan subversi mendiskriditkan pimpinan nasional” terhadap PT Suburi itu sendiri melalui pidato Amirmachmud di Ngawi yang direkan TEMPO, tidak saja pada akhirnya mengakibatkan terusirnya John di Gregorio pimpinan PT tersebut di bulan Oktober. Akibatnya yang lebih jauh terasa pada terhentinya banyak kegiatan reseach ilmiah di desa-desa yang dilakukan oleh berbagai lembaga dan perorangan karena takut di tuduh melakukan subversi. Petrov & Beras RRT. Meskipun demikian, bahaya subversi yang banyak dikuatirkan itu bukanlah tidak memperlihatkan gejala-gejalanya yang nyata di tahun ini. Terjadinya penyebaran pamflet gelap secara merata di daerah Kalimantan Barat di bulan Mei, disusul penangkapan sejumlah perwira TNI, misteri hilangnya star kedutaan Soviet di Jakarta Petrov bersama dengan kepergian bekas dubes Volkov kembali ke Uni Soviet, bukanlah kejadian-kejadian kebetulan. Peristiwa yang pertama merupakan keteledoran yang menyolok pada penguasa Kodam I Tanjungpura sementara peristiwa kedua sedikit banyak menunjukkan terdapatnya jaringan mata-mata asing dalam aparat pertahanan kita. Dalan hubungan ini ide netralisasi Asia Tenggara –seperti yang juga disebut-sebut dalam pembicaraan Nixon–Chou In–lai bulan Februari di Peking, serta gagasan yang kuat dari Indonesia dan Malaysia menempatkan Selat Malaka bukan sebagai perairan internasional merupakan langkah-langkah penting bagi bidang keamanan baik untuk Indonesia maupun untuk seluruh kawasan Asean. Ke selatan, hubungan dengan tetangga Australia bukan saja telah dipererat dengan kunjungan Presiden ke sana di bulan Pebruari serta kunjungan balasan PM Mc Mahon ‘di bulan Juni, akan tetapi juga dengan realisasi kerjasama di bidang militer. Dan sebagaimana telah dinyatakan oleh pengganti McMahon, hubungan kedua negara agaknya tidak akan menyusut dengan naiknya Partai Buruh memegang pemerintahan di Australia sekarang.

Ini memang tidak bisa lain menunjuk kan bahwa peranan Indonesia dikawasa ini dipandang amat penting. Pengakua semacam itu tercermin juga dalam kepercayaan negara-negara Asean menunjuk Indonesia untuk mewakili semua negara anggota dalam menghadapi pembicaraan-pembicaraan dengan negara-negara Pasaran. Bersama Eropa, Yang agaknya belum banyak memperlihatkan kemajuan adalah hubungan Indonesia dengan RRT. Sementara Indonesia dalam masa paceklik beras harus menerima masuknya beras asal RRT liwat perantara Hongkong tanpa dapat menarik imbalan keuntungan ekonomi pula dari RRT, sementara berbagai negara berlomba-lomba menjalin hubungan dengan Peking sejak suksusnya kunjungan Presiden Nixon kesana, kedua negara agaknya masih tetap seperti 2 tetangga yang saling menunggu siapa yang akan menyapa lebih dahulu setelah berkelahi. Tapi malang juga bagi Indonesia, karena paceklik beras tahun ini telah memaksanya menerima masuknya beras RRT liwat perantara Hongkong tanpa dapat menarik keuntungan balasan.

Jago Keliru

Terdesak oleh kebutuhan tambahan kredit baru, membawa kunjungan “tidak resmi” Presiden ke Jepang di bulan Mei. Kunjungan itu agaknya telah diatur di luar saluran-saluran Deparlu, sebab hanya 2 hari sebelum kunjungan itu berlangsuIlg, Menlu Adam Malik masih ngotot membantah adanya rencana kunjungan Presiden itu. Tapi di balik kebutuhan akan kredit baru, maksud kunjungan sebenarnya adalah untuk memantapkan sikap Jepang di masa depan terhadap Indonesia sekiranya nanti PM Sato yang hampir habis masa jabatannya telah digantikan oleh tokoh yang lalu. Malangnya Indonesia ternyata telah salah menilai kemungkinan perkembangan di sana sehingga memilih jago yang keliru. Indonesia mengharapkan Fukuda salah seorang dari klik Sato dengan siapa hubungan baik Indonesia telah dijalin selama ini. Tapi ternyata rakyat Jepang sendiri memilih Tanaka, seorang lawan terkuat Fukuda, menggantikan Sato. Dan akibat kekeliruan ini kemudian terlihat sikap aneh-aneh pejabat-pejabat Indonesia dalam menghadapi Jepang. Di bulan Juli misalnya, Menlu Adam Malik tiba-tiba mengeluarkan pernyataan bahwa Indonesia telah diperas oleh perusahaan-perusahaan Jepang yang turut dalam tender proyek Asahan. Indonesia menghendaki agar pembangunan proyek itu merupakan satu paket pembangkit listrik tenaga air dan pabrik peleburan aluminium tapi fihak kontraktor Jepang konon hanya mau membangun pabrik aluminiumnya saja. Padahal soal sebenarnya adalah karena fihak swasta Jepang sendiri telah menjadi korban kampanye Tanaka–yang telah menjanjikan akan segera mendrop kredit 2″ milyard dollar AS jika ia terpilih. Tapi begitu Tanaka terpilih, program perioritasnya adalah berjabat tangan dan membagi senyum dengan tokoh-tokoh Peking, sementara negara-negara lain yang butuh bantuan Jepang termasuk Indonesia boleh menunggu dulu dalam arisan antrian. Giliran Indonesia agaknya baru tiba di bulan Desember ketika beberapa waktu yang lalu tiba di Jakarta delegasi dari perusahaan kelompok Mitsubishi yang keperluannya juga antara lain untuk memastikan pembangunan proyek Asahan. Tapi pengalaman yang tidak enak dari Jepang itu sudah cukup alasan bagi pemerintah Indonesia untuk membina hubungan-hubungan lebih erat dengan negara-negara donor Indonesia antara lain. Agaknya dalam rangka inilah. Dapat dinilai kunjungan Presiden keberbagai negara ropa Barat di bulan Nopember kemarin.

Heboh Warisan

Pergolakan-pcrgolakan sejak Maret menentang peraturan SPP yang dikeluarkan oleh Menteri P & K Mashuri menunjukkan betapa dunia pendidikan di Indonesia masih membutuhkan perhatian yang lebih besar. Disamping soal SPP, polemik yang muncul dari keputusan Menteri P & K adalah pelaksanaan pemakaian ejaan baru. Tapi dengan aba-aba yang diberikan oleh Presiden, dalam pidatonya tanggal 16 Agustus serta kerjasama yang diberikan oleh pers, polemik mengenai ejaan baru itu tidak sempat berlarut-larut. Diskusi yang berlangsung lama juga adalah mengenai apa yang disebut “pewarisan nilai-nilai 45”. Masalah ini muncul dari seminar ke-III Seskoad di Bandung di bulan Maret yang memang mengambil tema: Pewarisan nilai-nilai Perjuangan Angkatan 45. sponsornya, tentu saja, adalah fihak Hankam, dan kegiatan-kegiatan lanjutannya kemudian memang lebih banyak hanya terlihat dalam kalangan Hankam. Itu tidak berarti bahwa kalangan sipil tidak tertarik, tapi secara umum banyak pertanyaan masih dilontarkan: Apakah yang harus diwariskan itu? Benarkah nilai-nilia perluangan bisa diwariskan’? Dan bagaimana cara pewarisan itu harus dilakukan? Bahkan ada yang Sampai bertanya: Apakah pewarisan itu juga perlu dilakukan dihadapan notaris? Mengapa pertanyaan-pertanyaan seperti ini sampai timbul, agaknya karena bertolak dari pemikiran bahwa salah satu pewarisan yang terbaik adalah memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari masa kini sama sekali sudah berbeda dengan masa revolusi fisik 20 atau 25 tahun yang lalu, dan mayoritas generasi muda Indonesia bukanlah militer atau yang hidup dalam disiplin militer melainkan orang orang sipil. Sehingga sasaran yang terpenting sesungguhnya generasi muda yang sipil inilah, sementara generasi muda yang militer sudah tak perlu dipersoalkan karena mereka memang telah terikat dalam tata-kehidupan dan disiplin militer. Tapi generasi muda yang harus menerima warisan, dalam kehidupannya sehari-hari telah menyaksikan banyak tindak-tanduk mereka yang disebut generasi Angkatan 45 itu baik dalam kalangan sipil maupun militer– tak memperlihatkan segi-segi nilai-nilai perjuangan yang pahit diwarisinya. Diskusi yang ramai itu agaknya berputar-putar disini.

Demokrasi MPR

Tahun 1972 Indonesia mencatat dilantik MPR pertama hasil Pemilu tanggal 1 Oktober yang lalu. Pelantikan ini sudah sejak lama dibayangi oleh pembicaraan yang ramai di luar tentang siapa yang kelak akan menjadi calon Wakil Presiden mendampingi Suharto yang sudah dipastikan akan memperpanjang masa jabatannya sebagai Presiden. Pada akhirnya nama-nama yang dulu disebut-sebut seperti Idham Chalid, Adam Malik dan entah siapa lagi, telah lenyap dari pasaran ketika golkar liwat ucapan Ali Murtopo tegas-tegas mencalonkan Sri Sultan Hamengkubuwono. Yang banyak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam masyarakat dari pelantikan MPK itu adalah, mengapa MPR ini tidak melakukan timbang-terima dengan Pimpinan MPRS’? Kemana Nasution ketika upacara pelantikan itu? Jawabannya ternyata tidak sedramatis yang disangka. Pimpinan MPRS memang sudah dianggap tidak berfungsi sejak dilantiknya DPR hasil Pemilu dan dengan dilaksanakannya rencana membuat Pimpinan MPR dirangkap Pimpinan DPR, maka masaalah timbang-terima antara Pimpinan MPRS dengan Pimpinan MPR sudah menjadi tidak penting tidak relevan dan tidak perlu di tanya-tanyakan. Tapi perhatian orang toh tertarik kembali kepada nasib para Pimpinan MPRS yang telah tersingkir itu, ketika di bulan Nopember, fihak Mabak melakukan penyitaan terhadap buku Laporan Pimpinan MPRS 1966–1972, suatu buku yang merupakan pertanggungjawaban pimpinan legislatif tertinggi itu selama mereka menjalankan tugas di sana Sejak 1966. Sampai kini tidak jelas apa alasan penyitaan itu, tapi diduga karena laporan tersebut “mendiskreditkan kedudukan Mandataris MPRS. Tapi MPR yang baru itu sendiri ternyata harus segera memperhatikan kelemahan-kelemahannya sebagai lembaga demokrasi tertinggi justru sejak hati-hari pertama. Ketika diadakan rapat-rapat untuk membentuk Badan Pekerja, bukan saja masaalah jumlah BP itu menjadi perdebatan yang hangat tap calon dari fraksi Persatuan Pembangunan yaitu CH. Ibrahim dari PSII telah ditolak karena orang ini dinilai mempunyai pandangan-pandangan yang terlalu keras. Dan barangkali alasan yang sama pula yang telah mengakibatkan pimpinan PSII yang diketuai Ibrahim itu, diakhir Desember ini tiba-tiba dikup oleh suatu kelompok dalam partai yang menamakan dirinya Penyelamat kaum PSII.

Kekwatiran Golkar

Dan masalah menyelamatkan partai atau setidak-tidaknya menyelamatkan diri dalam partai, memang merupakan kegiatan yang menonjol pada parpol-parpol terutama parpol-parpol Islam tahun ini Dari Partai NU di bulan Pebruari. tiba-tiba terdengar keputusan PB Syuriah yang memecat Ketua PB-NU hasil Muktamar Surabaya bulan Desember, Subahan E, dari kepengurusan-satu tindakan yang akibatnya ternyata tidak melemahkan yang dipecat melainkan melemahkan NU sendiri. Ucapan Presiden bahwa dalam pemilu tahun 1976 nanti hanya akan tinggal 2 atau 3 bendera, tak bisa tidak telah diartikan sebagai isyarat ketetapan hati fihak penguasa untuk memperkecil jumlah partai-partai politik yang ada. Sehingga dari daerah terlihat gerakan-gerakan untuk melaksanakan fusi menurut kelompoknya masing-masing — mendahului inisiatif dari pusat Toh target jadwal fusi akhir Desember 1972 yang semula di-sebut-sebut, ternyata belum juga menjadi kenyataan sampai tahun 1972 menutup usianya untuk selama-lamanya.

Berbeda dengan parpol, masaalah yang dihadapi golkar agaknya kekuatiran akan kehilangan simpati masyarakat, terutama dari kelompok-kelompok sosial ataupun perorangan. Yang terakhir ini agaknya merupakan hal yang penting, karena simpati dan dukungan mereka terhadap golkar waktu pemilu yang lalu lebih disebabkan karena simpati terhadap orang-orang yang duduk atau akan didudukkan disana daripada terhadap golkarnya sendiri sebagai suatu organisasi. Agaknya dalam memelihara rasa simpati inilah besar artinya suara-suara simpatik yang diperdengarkan wakil-wakil golkar di Parlemen dalam menanggapi berbagai masaalah yang timbul dalam masyarakat. DPR memang terlalu muda usianya masih kurang independen anggotanya, untuk dapat diharapkan memainkan peranan lembaga demokrasi yang patut. Tapi dengan kegiatannya menampung masalah proyek Indonesia Indah, tanggapannya terhadap kenaikan harga beras, pernyataan-pernyataannya sekitar soal kepastian hukum, dan lain-lain sepanjang tahun 1972 bolehlah dicatat sebagai pertanda yang baik bagi perkembangan badan ligislatif itu selanjutnya.

Eksplosif

Upaya terpenting pemerintah dibidang penyehatan aparatur negara di tahun 1972 agaknya adalah penggantian kepala Bea Cukai Padang Sudirjo dengan mayor jenderal Slamet Danudirjo yang dikenal sebagai orang Bappneas. Penertiban dan pembersihan yang dilakukan oleh Slamet dalam instansi yang gemuk selama ini dianggap tabu untuk dijamah itu, agaknya telah diperlancar pula dengan terbongkarnya penyelundupan mobil-mewah yang telah berlangusng selama bertahun-tahun liwat pelabuhan itu. Sebab, terjadinya penyelundupan semacam itu tak akan mungkin terjadi tanpa kerjasama dari pejabat-pejabat yang berhubungan dengan pengeluaran barang-barang dari pelabuhan. Tapi di fihak lain, pembongkaran skandal penyelundupan yang dilakukan oleh para warga negara keturunan Cina itu seakan kian membakar persoalan pribumi & non-pribumi yang memang sudah hangat sejak lama sebelumnya. Bertolak dari kenyataan sehari-hari banyak tuduhan dilontarkan kealamat pemerintah bahwa pembangunan ekonomi yang sekarang lebih banyak hanya mengutungkan cukong-cukong turunan Cina yang memang banyak terlihat punya hubungan-hubungan usaha dengan pejabat-pejabat tinggi pemerintah sipil dan terutama militer. Berbagai pabrik-pabrik yang baru diresmikan baik dalam rangka PMDN maupun PMA, memang kebanyakan terlihat modal non-pribumi didalamnya, sementara di lain fihak – seperti yang terjadi pada usaha pertenunan rakyat di Majalaya — pengusaha-pengusaha pribumi yang bermodal kecil satu demi satu gulung tikar karena kekurangan modal dan tak berdaya menghadapi persaingan. Meskipun sinyaleman Ir Sanusi bahwa pemerintah telah membagi-bagikan kredit dalam rangka PMDN sampai 200 milyard rupiah kepada non-pribumi adalah sinyaleman yang tak berdasarkan fakta dan berlebihan-lebihan, tapi keangkuhan yang diperlihatkan oleh berbagai pengusaha non-pribumi seakan-akan mereka kebal hukum–seperti misalnya yang terjadi dengan kasus Tjokrosaputro, pemilik perusahaan batik Keris – memang hal-hal yang bisa membawa hubungan pribumi dan non-pribumi ini menjadi ekplosif. Bagaimanapun, masalah yang peka ini belum juga selesai dan jika tiada langkah-langkah perbaikan yang diambil untuk meluruskan kepincangan ini, bukan mustahil di tahun depan dan tahun-tahun seIanjutnya konflik pribumi dan non-pribumi ini akan muncul lagi dalam bentuk yang lebih tajam dan membahayakan.

Sensasionil

Di luar masalah-masalah yang menimbulkan ketegangan sosial dan politik itu, tahun 1972 Indonesia juga mencatat kejadian-kejadian sensasionil yang menarik perhatian luas juga. Di bulan Juli tiba-tiba tersiar berita tentang pernikahan antara Megawati binti Soekarno dengan Gamal Hasan, bekas diplomat Mesir di Jakarta berusia 35 tahun. Pernikahan ini mungkin tidak akan menjadi berita besar jika tidak tiba-tiba kakak Megawati, Guntur, menggugat penghulu Suka bumi yang telah menikahkan Mega dan Hasan dengan alasan bahwa perkawinan itu tidak syah karena suami Mega belum resmi dinyatakan meninggal. Pengadilan Agama di Jakarta yang menyidangkan perkara ini ternyata memenangkan Guntur dan kemudian menyatakan perkawinan antara Hasan dan Mega batal. Kejadian ini bukan saja agaknya telah membuka kenyataan yang selama ini terjadi bahwa banyak pasangan telah dinikahkan oleh penghulu-penghulu tanpa menuruti prosedur yang wajar, akan tetapi juga telah menimbulkan polemik yang ramai juga dikalangan pemuka-pemuka agama Islam tentang hukum pernikahan dalam Islam. Kejadian sensasionil yang lain terjadi dibulan April. Seorang pemuda bernama Herman, tiba-tiba secara berani melakukan pembajakan terhadap pesawat Merpati Nusantara yang ditumpanginya dari Surabaya. Motif pembajakan ini semata-mata uang. Tapi belum sempat Herman menikmati hasil usahanya ini, ia telah lebih dahulu berhasil ditembak mati oleh petugas-petugas dilapangan terbang Adisucipto Yogya. Peristiwa ini tidak anya merupakan pembajakan udara yang pertama di Indonesia, akan tetapi juga merupakan kejadian pertama di dunia yang kian banyak udara ini bahwa seorang pembajak telah berhasii ditewaskan selagi menjalankan aksinya.

Dan apa yang akan terjadi di tahun 1973 ? Barangkali: A.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: