Goal Untuk Adu Dengkul (Piala Presiden Suharto 1972)

Tempo 23 Desember 1972. Turnamen piala presiden Soeharto di medan diikuti 4 besar, PSMS mengalahkan Persija 1-0 melalui gol nobon. kemenangan Persija atas Persebaya 3-0 membuktikan persiapan team PON VIII dki sudah mantap.

TOLONG sampaikan pada Hutasoit”, pesan seorang wartawan olahraga Medan kepada rekannya dari Jakarta, “belum lagi Medan sempat berfikir, Jakarta sudah kebobolan. Apalagi kalau kami sudah berfikir dua kali”. Anak-anak Medan memang tidak perlu banyak berfikir. Toh dengan otak mereka tak akan mampu mengendalikan pemain-pemain Persija yang kwa teknik dan fisik – diatas kertas — sedikit di atas mereka. Tapi agaknya pernyataan Hutasoit agar “Panggabean harus berfikir dua kali kalau hendak mengalahkan Jakarta”, paling tidak merangsang kelenjar seluruh pimpinan dan pemain PSMS, di samping mengundang pula 50.000 penonton menghadiri pertandingan pertama Turnamen “Piala Presiden Soeharto”. Hormon. Konon Komda Sumatera Utara, Panggabean, sempat membacakan koran yang memuat tantangan Hutasoit di hadapan anak buahnya. “Kuping awak jadi merah mendengarnya”, ujar Sarman Panggabean, yang kemudian menambahkan bahwa “perang syaraf” yang dilancarkan Team Manager Persija itu, ibarat hormon yang menstimulir tenaga ekstra dalam tubuh Kesebelasan PSMS. Dan ditambah dengan instruksi Gubernur Marah Halim, agar “PSMS harus menyerang terus, sebab yang banyak menyerang dialah yang menang”, maka bulatlah tekad PSMS: tidak boleh kalah dari Persija, meski tidak mustahil bisa dikalahkan dalam turnamen 4 besar ini. Untuk ini Kapten Kesebelasan PSMS. Sukiman memberi keterangan khusus mengenai “taktik memukul mental lawan”. (Lihat Box). Gertaksambel. Hutasoit bukan gertak sambal. Trio penyerang Iswadi-Risdianto-Andi Lala segera menyambut peluit pertama Wasit Bachtiar dengan serangan kilat melalui rusuk kiri yang dikawal Tumpak Sihite. Didukung oleh penghubung Andjasmara-Salmon Nasution-Sofyan Hadi, pertahanan Medan dibikin pontang-panting melayani penjelajah Andjas yang pada Senin sore itu bermain amat cemerlang. Dilengkapi dengan deretan pertahanan Rachman Halim-Widodo-Jopie Leepel-Oyong Liza si muka gawang Judo Hadianto, pola permainan 4-3-3 Persija menemui form yang sebelumnya tidak pernah disuguhkan kepada para suporternya. 10 menit pertama, dengan tempo permainan yang dikembanghan kedua belah pihak, nampak benar kelebihan anak-anak asuhan Suwardi Arland meskipun kemudian Coach Persija bekas pemain PSM ini mengeluh kurang sregnya beberapa kombinasi yang langsung menusuk ke gawang Ronny Pasla. Apa yang “kurang sregnya” kombinasi itu, adalah setiap penyelesaian akhir yang seyogyanya membawa hasil gol, ternyata melenceng dari sasaran atau sang bola bersarang dipelukan Ronny. “Sulit untuk mencoba-coba pemain lain dalam kombinasi yang ideal, mengingat kesempatan bermain bersama masih kurang”, tambah Suwardi yang tidak menyukai istilah “kurang mujur” atau “kalah sial”–seperti yang menjadi buah tutur pecandu bola atas kekalahan Persija 0–1 dari Medan. PON VIII. Turnamen 4 besar memperebutkan Piala Presiden ini agaknya mengejutkan Hutasoit dalam mempersiapkan temnya. Sementara tenaga dan fikiran ditujukan kepada pembinaan team PON VIII yang terbagi dalam team A (berintikan Team Junior), team B (berintikan team PON Bayangan) dan team C (berintikan pemain-pemain PSSI) satu kesebalasan yang representatif sudah harus ditampilkan dalam waktu yang relatif singkat. Soal pilihan ini nampaknya menjadi kesulitan utama dibandingkan dengan persiapan daerah yang material pemainnya relatif jauh lebih sedikit. Lebih-lebih tembok birokrasi organisasi seperti yang terdapat dalam Persija, praktis tidak dialami daerah. Inilah soalnya yang oleh sementara peninjau, kelebihan teknik dan fisik Persija masih perlu diisi oleh bara api yang dapat menggelorakan semangat tanding anak-anak Ibukota. Dan bara api yang amat menentukan bagi semangat juang Persija nampak mulai pudar pada diri Salmon Nasution bersama kucuran peluhnya. Ia mengegosi benturan Nobon dalam perebutan bola yang 75% menjadi haknya Sementara sikap mempasrahkan diri pada sang Wasit seperti yang diperlihatkan oleh Iswadi, menandakan betapa pemain PSSI ini ingin menghindarkan story demi merehabilitasi nama baiknya Tapi dalam garis besarnya, itu pun kurang bijak untuk menimbun penyebab kekalahan pada pribadi tertentu, mengingat secara keseluruhan anak-anak Persija telah menghidangkan permainan cemerlang, meski belum berhasil membawa kemanangan. Lebih-lebih kebobolan gawang Judo oleh tembakan Nobon menjadi lebih pahit jika diingat kembali bagaimana bola melejit dari kaki Widodo. Suwendi. Kekalahan Persija lawan Medan (0-1) dan kemenangannya atas Persebaya (3-0) yang sudah diduga sebelumnya memberi gambaran yang cerah bagi persepakbolaan Ibukota. Susunan pemain–dengan catatan Sutan Harahara mengambil tempat Rachman dan Iim Ibrahim menggantikan Salmon waktu melawan Persebaya – memperlihatkan masih terbukanya kemungkinan penyempurnaan di berbagai lini. Meskipun sementara peninjau beranggapan bahwa bobot mempersiapkan team PON VIII DKI Jaya muali sekarang sudah kentara arahnya Kedua back dapat distel menurut kebutuhan, sementara di lini penghubung, Salmon Nasution lebih tepat dipasang untuk menghadapi permainan yang adem. Suwendi, pencetak gol dari Persija Junior agaknya perlu diberi kesempatan untuk bermain sebagai runcing penyerang. Di dalam kelasnya pemain muda yang masih memerlukan banyak pengalaman ini jelas lebih banyak “mujur”nya dari pada “sial”nya dalam penyelesaian akhir di mulut gawang. Dan pola 4-3-3 seperti yang dikembangkan Persija, agaknya terlampau mengandelkan kekuatan barisan tengahnya. Terutama kecermatan dan kecerdasan Andjasmara menempatkan pemain Juara Divisi II Persija ini di atas semua gelandang yang mana pun dalam turnamen 4 besar ditambah dengan rekannya Sofyan Hadi, yang mempunyai bakat menembak dari jauh, lapangan tengah benar-benar menjadi basis penyerangan. Dalam pola 4-3-3 Persija, yang masih kurang nampaknya variasi kedua backnya untuk membantu memberi tekanan dalam serang-balasan. Ruan Gerak. Sementara Widodo – pendatang baru di PSSI – tidak mengecewakan Pemain ini tidak cepat, tapi kuat antisipasinya. Seperti halnya dengan rekannya Jopie Leepel, Widodo membutuhkan ruang gerak yang agak luas. Ia akan mengalami kesulitan dalam mencegat interpass yang pendek-pendek. Itulah sebabnya orang masih mengharapkan kehadiran Mulyadi di barisan belakang Persija. Judo tetap saingan berat bari Ronny Pasla. Akhirnya kisah Hutasoit yang menempatkan Suwardi Arland sebagai Coach bersama ke 4 pemain Jaya Karta dalam Kesebelasan Persija, meski mendapat sorotan tajam, nampanya lebih merupakan keharusan dari pada sekedar perjudian Dan dalam menghadapi PON VIII yang akan datang, agaknya tidak terlalu pagi bagi PSMS untuk berfikir tiga kali, jika mereka ingin mengalahkan Persija dengan semangat bertanding melulu.

Mayor Lelek:Kipas Anjas !

Kapten kesebelasan PSMS Sukiman, 36, dijuluki mayor lelek oleh teman-temannya. ia mengakui kelambanannya menghadapi persija tapi memakai cara mematahkan semangat lawan. ayah 7 anak ini belum siap pensiun.
KETENANGAN seorang pegawai administrasi Perkebunan Karet “Payah Pinang” tergores pada wajah Kapten Kesebelasan PSMS Sukiman. Lahir di Labuan Batu 36 tahun yang lalu (20 4–1936), poros halang ini tak syak lagi merupakan kunci kemenangan kesebelasannya. Rambutnya yang kian menipis, lebih meyakinkan orang sebagai akibat sundulan bola dari pada rontok dimakan usia Sebab untuk menjaga kondisi fisiknya, Sukiman, ayah dari 7 orang anak, berhasil menyusutkan berat badan sebanyak 6 kg. Sehingga dengan ketinggian 1,60 meter dan berat 65 kg, ia merasa sesegar rekannya Namun demikian, ia mengakui kelambanannya jika harus menghadapi para pemuda Persija. “Tapi menghadapi mereka saya tahu caranya” katanya seperti petuah seorang ayah kepada asuhannya, “pukul mental lawan”. Dan cara memukul mental lawan seperti ujar “Mayor Lelek” – demikian gelar kehormatan dari anak-anak bola Medan kepada sang Kapten–bukan dengan bentuk fisik, tapi cukup dengan kata-kata. “Sapu dia! Kipas Anjas” dan ancaman lain sebagainya. “Dengan fisik tidak mungkin. Sebab kita akan gertak itu bukan tidak sering, lutut dan sikut ikut berbicara.

Tri Fungsi. Itulah mengapa Risdianto Iswadi dan Andi Lala sering mengalami “kesialan” sewaktu berhadap-hadapan seorang diri dengan Ronny. “Mereka terganggu konsentrasi nya.” Tapi bagaimana Sukiman dapat membendung serangan lawan dengan tenang, tidak terlampau sulit resep nya’ “Pertama tunaikan tugas saudara di posisi yang telah ditentukan, kemudian baru membantu kawan”.

Pengalaman Sukiman sejak 1958 membela panji PSMS Medan, didahului oleh pemanggilan PSSI untuk mengikuti TC Asian Games 1958 di Tokio. Ia nyaris terpilih bersama Kiat Sek sebagai poros halang, hanya disebab kan “fikiran tidak tenang menjelang kelahiran anak perempuannya yang pertama”. Dan baru pada tahun 1965 ia dipakai PSSI dalam perlawatannya ke Turnamen Junior Asia di Pyongyang. Dalam klub sepakbola pengalamannya cukupan. Semasa SMA (1949) bermain sebagai penyerang tengah di klub “Poslab” Labuan Batu. Pindah ke Medan pada 1959 dan menggabungkan diri pada “Sahata”, kemudian pindah ke “Dinamo” dan sempat bermain untuk “Pardedetex”. Kini menjabat tri-fungsi: pemain, coach dan anggota Komisi Teknik Kesebelasan Deli Putera – milik Kotapraja Medan.

Kegendutan. Dan bagaimana Sukiman dapat bertahan terhadap proses usia, dijelaskan dengan lebih sederhana. “Atur tidur dan makan”, katanya. “Saya tak pernah tidur liwat jam 10 malam dan untuk menjaga kondisi saya terpaksa makan secukupnya.” Meskipun kwa fisik, ia nampak agak kegendutan, namun sambaran kaki kanan-kirinya menunjukkan la paling tidak masih bisa bertahan sampai tahun depan. “Selama rekan-rekan dan pengurus PSMS masih menghargai permainan saya, mengapa saya harus mengecewakan mereka”, ujar sang Kapten yang nampaknya belum siap menerima MPP. Dan memang, kata sementara peninjau, sebelum PSMS mempunyai pengganti Sukiman, Kesebelasan PSMS bak robot tanpa nyawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: