Alternatif Positif Dari 4 Besar

Tempo 6 Januari 1973. Ketangguhan PSSI yang pemainnya diambil dari empat daerah teruji. Penyerang Anjasmara dan Tumsila bermain kompak. Ketika bermain melawan ST Pauli dari Jerman Barat PSSI tak mengecewakan, menang 4-2.

KALAU main bola cuma menyepak menahan, menggiring, menyundul serta membuat kerjasama yang sedap dipandang, maka Kesebelasan St. Pauli boleh diberi cap “berhasil”. Bahkan ketrampilan mereka dalam mempamerkan dasar-dasar sepakboIa, agaknya boleh disejajarkan dengan disiplin dan kerapian serdadu Jerman yang sedang berbaris. Tak seorangpun yang menonjol, kecuali kiper Larsen. Dia bermain seperti anak “Gawang” yang baru pertama kali ditonton puluhan ribu penonton. Tapi kalau mau bicara soal gol dan semangat bertanding maka Kesebelasan “4-Besar” PSSI paling tidak mempunyai kefanatikan itu.

Tahun Pelita I. Tahun 1972 seolah “tahun Jerman (Barat)”. PSSI memhuka kalender 1972 dengan pertandingan internasionalnya yang pertama melawan Hamburg SV dan menjelang akhir 1972, PSSI mengunci Tahun Pelita I dengan St. Pauli. Namun berbeda dengan Kesebelasan Hamburg yang agresif dan memiliki pemain seperti Uwe Seeler dan Willy Schulz , St. Pauli lebih banyak menyuguhkan sifat-sifat seorang “santo” kalau tidak mau dikatakan “pa’ul”. Ketinggalan 0-4 sampai tiga-perempat jalan pertandingan tidak pula mengobarkan semangat mereka. Baru ketika Coach Endang Witarsa memberi jatah kepada beberapa pemain cadangan untuk dicoba, St, Pauli kelihatan diberi peluang mencetak gol. Agaknya dalam pertandingan Minggu sore, 24 Desember di Stadion Senayan yang megah itu, lebih tepat jika dikatakan bahwa St. Pauli-lah yang membayar PSSI dari pada sebaliknya.

Klop. Tapi apa yang mengundang lebih kurang 50.000 penonton menyaksihan pertandingan pada penutup tahun itu, agaknya tidak lain adalah keinginan mereka menilai Kesebelasan PSSI yang disusun dari materi pemain 4 daerah yang baru saja mengakhiri turnamen Piala Presiden Suharto. Dalam hal ini para suporter maupun pimpinan PSSI berhasil menjalin suatu komunikasi yang klop keraguan orang mengenai kondisi Abdul Kadir dan Jacob Sihasale – yang selama ini penyerang teras PSSI terhapus oleh permainan Andjas dan Tumsila. Terutama ketika Andjas menyelusup dari sayap kiri dan berhasil menempatkan diri dalam posisi menembak di daerah penalti, ia seolah bimbang melakukan penyelesaian terakhir. Tapi ketika bola dengan tepat ditrek lewat seorang pemain belakang lawan kepada Iswadi, maka terbangunlah sementara peninjau akan keindahan permainan Andjas. Gol ke-2 yang dicetak Iswadi ini sekaligus mengungkapkan pula kebesaran Andjas. Sebagai pemain junior ia bijak sekali memanfaatkan momen yang dapat menolong rekamanya yang lebih senior untuk memainkan kepercayaannya. Dan orang pun teringat akan peristiwa-peristiwa besar pada diri di Stefano dan Puskas pada zaman jayanya Kesebelasan Real Madrid. Tidak jarang dalam momen-momen kritis di mulut gawang, mereka saling menyodorkan biji longkong yang menjadi haknya hanya untuk menguji kelihayan masing-masing.

Alternatif, Pendatang baru di barisan muka tak perlu diperdebatkan lagi adalah Tumsila. Pemain cadangan team Pra-Olimpik Rangoon ini menemukan harinya di bulan Desember ini. Ia mulai nampak konsisten sejak Turnamen 4 Besar. Gerakan-gerakan melebar maupun penetrasi ke sarang lawan hampir selalu mengandung ancaman langsung.

Ditambah dengan kepandaiannya mengolah dan menyundul bola, menempatkan Tumsila sebagai penyerang yang menuntut kepercayaan lebih besar dari pengasuh PSSI untuk memasangnya dalam pertandingan-pertandingan besar.

Secara keseluruhan, Kesebelasan “4-Besar” PSSI — minus Waskito, Mudjiadi dan Harsojo yang semuanya dari Malang — memberi alternatif positif dalam persiapan Pra Kejuaraan Dunia di Australia bulan Maret yang akan datang.

1/2 Lusin Untuk PSMS

Kesebelasan PSMS Medan kalah 0-6 dari kesebelasan St Pauli dari Jerman Barat. PSMS Medan tumpul tanpa menurunkan Tumsila dan Anwar Ujang. Faktor ketrampilan teknis membuat prestasi PSMS labil.
SETELAH menundukkan Persebaya Surabaya 4 — 2, Kesebelasan St. Pauli nampaknya berhasil memulihkan gengsi sepakbola Jerman dengan menembus gawang PSMS Medan yang dikawal Ronny Pasla dengan setengah lusin gol tanpa balas. Bagaimana Kesebelasan Jerman Barat yang tidak meyakinkan ini setelah dikalahkan PSSI 2-4 di Senayan — bisa menghajar Juara PSSI dan Pemenang Piala Presiden Soeharto di kandangnya sendiri memang merupakan suatu fakta sepakbola yang biasa terjadi di mana-mana. Tanpa menurunkan penyerang Tumsila dan poros-halang Anwar Ujang (yang dipasang sebagai kanan dalam) agaknya serangan barisan muka Medan menjadi tumpul dan benteng pertahanannya menjadi rapuh. Sementara digantinya penjaga gawang Larsen oleh Lange ditambah oleh taktik permainan pendek yang mulus St. Pauli berhasil menjinakkan Sukiman dan kawan-kawan.

Bobot. Adakah Kesebelasan PSMS tanpa dua pemain inti tersebut menjadi kehilangan bobot? Mungkin, meskipun beberapa peninjau beranggapan bahwa setelah Juara Piala Presiden Soeharto ini diguyur oleh pujian atas prestasinya dalam Turnamen “4 — Besar” dan di cekoki dengan berbagai perangsang (inceintive) sebagai imbalannya, anak-anak Medan menjadi jenuh dan jemu bersepakbola. Dan ada lagi satu faktor yang nampaknya lebih dekat pada kebenaran: semangat pertandingan “persahabatan” agaknya kurang bisa memhangkitkan anatisme daerah — faktor yang selama ini amat menentukan Kesebelasan Medan bermain dengan kegairahan dan haus kemenangan.

Kekalahan 6 gol tanpa balas ternyata lebih tepat dinilai sebagai pelajaran ulangan bagi Kesebelasan PSMS bahwa semangat dan kemauan bisa mengimbangi teknik untuk mencapai suatu kemenangan, sementara teknik yang rendah tanpa semangat dan kemauan yang keras hanya lebih tepat menjadikan PSMS mangsa lawan. Dan faktor ketrampilan teknis inilah yang agaknya menempatkan Kesebelasan PSMS tidak konsisten dalam prestasi internasionalnya – baik di dalam negeri maupun di luar negeri sebagai wakil PSSI.

Advertisements

One thought on “Alternatif Positif Dari 4 Besar

  1. Iya PSSI di jaman 1070-an memang benar2 dashyat dan perkasa ! Insya Allah di masa2 sekarang hingga mendatang PSSI segera bangkit dan mengulangi prestasinya lebih jaya dari pada yang pernah dibuatnya di masa lampau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: