PDI: Maka Selesailah Sudah

Tempo 20 Januari 1973. Kelima partai PNI, IPKI, Parkindo, Partai Katolik, dan Murba mengadakan fusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia. partai yang terdiri dari beraneka latar belakang itu diharap menjadi partai yang kuat.

RABU Wage 10 Januari, pimpinan kelima partai kelompok Demokrasi Pembangunan (PNI, IPKI PARKINDO, Partai Katolik, MURBA j bertemu dalam suatu ruang berukuran 6 kali 10 meter yang terletak dalam kompleks kantor PNI, Salemba Raya, Jakarta. Setelah berembuk selama 4 jam, dengan disaksikan oleh gambar Presiden Soeharto bersama gambar-gambar ketujuh bekas ketua PNI yang juga bergantungan dalam ruangan itu, secara resmi lahirlah Partai Demokrasi Indonesia. Tanpa cap partai, 10 tanda tangan terbubuh pada deklarasi yang dikebk kurang rapi. Para ketua dan sekjen masing-masing partai dengan khidmat telah mendapat kesempatan ikut mengubah sejarah kepartaian negeri yang pemah memiliki hampir seratus partai ini. Tersambung. Seratus Menteri ataupun seratus partai, semuanya itu kini memang sudah menjadi sejarah yang kadangkadang lucu untuk dikenang. Peristiwa larut malam di Salemba Raya itu -meskipun terlambat 7 tahun — tapi akhir nya toh menggembirakan mereka yang secara tulus telah menuangkannya dalam bentuk Tap MPRS dengan nomor 22/66. Karena itulah barangkali maka Drs Beng Mang Reng Say berkata: “Terbentuknya Partai Demokrasi Indonesia adalah klimaks dari suatu proses yang telah berjalan lama”.Kalimat pendek bekas ketua Partai Katolik itu tersambung pula oleh Isnaeni, bekas pemimpin PNI. Katanya: “Penyederhanaan struktur politik seperti yang dimaksud oleh Tap MPIS 22/66 bukan hanya sekedar pengurangan jumlah saja”.

Pendapat Isnaeni tentu. saja tidak salah, meskipun bukan buah pikiran yang istimewa. Orang-orang yang masih ingat keadaan politik dan partai-partai yang banyak di Indonesia sebelum tahun 1966 pasti tahu sekali bahwa kekisruhan politik yang merajalela sejak lama terutama disebabkan oleh banyaknya partai, dan bukan oleh banyaknya konsepsi. Sebuah konsepsi – Marhaenisme, misal nya malahan menjadi rebutan antara PNI dengan Partindo. Karena itulah barangkali maka para anggota MPRS yang bersidang di Istora Senayan pada tahun 1966 akhimya bertekad menyederhanakan struktur politik, dan bukan konsepsi politik. Semua itu kemudian mudah terlihat dalam Tap 22/66.

Masa lalu. Meskipun demikian, tidak pula dengan lancar Partai Demokrasi ini melangsungkan setelah kelahirannya. Berbeda dengan Partai Persatuan Pembangunan yang menggabungkan partaipartai Islam, Partai Demokrasi ini menyatukan 5 partai dengan latar belakang yang cukup beraneka ragam. Isnaeni memang berkata: “Dengan nama Partai Demokrasi Indonesia sekaligus memberi kwalifikasi identitas. Demokrasi Indonesia, bukan demokrasi liberal atau sentral yang sudah terbukti tidak bisa di terapkan kedua-duanya”. Tapi toh masa lalu partai-partai itu tidak dengan mudah mereka lupakan, terutama jika soal itu berhubungan dengan kepentingan mengikat massa. PNI misalnya. Berapa jauhkah keampuhan pimpinannya mengikat sejumlah besar ummat tanpa hubungan sentimentil terhadap “kepala banteng” dan almarhum Soekarno? Yang jelas, GMNI kini sudah melepaskan diri dari PNI.

Entah persoalan ini menjadi bahan pikiran Sukarmadidjaja atau tidak, tapi kepada wartawan ia berkata: “Dengan partai baru ini kita harapkan menjadi partai yang kuat dan berkepribadian”. Tidak sempat dijelaskan oleh bekas ketua IPKI itu apa dan bagaimana yang dimaksudkannya dengan kuat dan berkepribadian. Yang jelas “pertumbuhan partai ini lain dari yang lain”, kata Beng Mang Reng Say dari Partai Katolik.

Soal pertumbuhan ini mlmpaknya memang terlalu pagi untuk diperbincangkan. Maka lebih baik kita salin saja susunan pimpinan pengurus partai baru itu. Sehabis bersidang selama 45 jam dirumah Isnaeni hari Sabtu pekan lalu, para bekas pimpinan kelima partai itu bersetuju untuk menyediakan 25 kursi bagi MPP (Majelis Pimpinan Pusat) dan 11 DPP (Dewan Pimpinan Pusat). Anggota DPP terdiri dari seorang ketua umum dan S ketua,4 sekjen dan seorang sekjen koordinator. Dalam MPP setiap partai mempunyai 5 wakil, sedang ketua MPP sekaligus dipegang oleh ketua DPP, karena seluruh anggota DPP juga menjadi anggota MPP.

Urusan rumah tangga. Untuk kursikursi pimpinan yang tersedia itu, pertemuan di rumah Isnaeni sekaligus menunjuk pula tokoh-tokoh bekas pimpinan kelima partai yang berfusi untuk mendudukinya. Isnaeni sendiri terpilih sebagai ketua umum, dan para ketua adalah: Achmad Sukarmadidjaya, Beng Mang Reng Say, Alexander Wenas, Sugiarto Murbantoko dan Prof Sunawar Sukowati. Sebagai sekjen koordinator ditunjuk Sabam Sirait, dan para sekjen masing-masing: W.A.Chalik, F.G. Wignjosumarsono, Djon Pakan dan Abdul Madjid.

Para pengurus itu sudah mulai bekerja. Sebagai ketua, Isnaeni menyebut 2 tugas yang kini dipikul kepengurusan yang dipimpinnya. Kedalam, pengurus akan menyelesaikan urusan-urusan rumah tangga, seperti menyusun suatu anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Ke luar, selain mempersiapkan pokok-pokok pikiran yang akan dibawa ke sidang MPR mendatang, pengurus juga sibuk melakukan pembagian kerja antara para ketua dan sekjen. Harus tidak dilupakan bahwa pengurus baru itu kini telah pula menyempatkan diri merencanakan pengiriman instruksi ke daerah-daerah. “Komposisi personalia pimpinan daerah tidak harus 25 dan 11 seperti di pusat, tapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di masing-masing daerah”, kata Isnaeni. Juga soal personalia, harus disesuaikan dengan kondisi daerah. “Kalau di daerah itu realitasnya yang kuat Parkindo, ya, biar orang Parkindo yang jadi ketua”, tarnbah Isnaeni pula.

Apa ada rencana kongres nasional? “Hal itu tentu akan diadakan”, jawab Isnaeni dengan cepat. Sudah itu menyusullah alasan-alasan – yang masuk akal juga — sehingga pertemuan nasional semacam itu belum bisa dilaksanakan segera. Selain alasan teknis dan administratif, seperti umumnya akhir-akhir ini, semuanya baru dapat berlangsung setelah bulan Maret berlalu. Maka paling sedikit sampai bulan Maret terhlmpau itulah masa kerja pengurus sekarang yang penggantinya baru bisa diketahui setelah kongres nasional berlangsung entah kapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: