Cetusan Bukan Dari Subchan

Tempo 24 Februari 1973. Susunan dpp partai persatuan pembangunan mendapat kritik, karena dianggap tanpa proses musyawarah. cetusan itu berasal dari imron rosyadi terutama terhadap pimpinan partai, idham chalid.

ADA pula yang terjadi dalam diri Partai Persatuan Pembangunan hasil fusi eks-parpol-parpol Islam itu? Hanya beberapa hari setelah DPP Partai Persatuan rnelapor pada Presiden Soeharto dan mengumumkan susunan personalianya, mulai titnbul beberapa tanggapan. Sebelumnya beberapa orang, seperti Imron Rosyadi dan M.Ch.Ibrahim, sudah memperingatkan agar pembentukan DPP hendaklah melalui musyawarah, paling tidak Dewan Partai dari masing-masing eks-parpol diajak berunding. Alasannya cukup pula. Kabarnya beberapa waktu sebelumnya beberapa orang tokoh dalam Presidium Kelompok Persatuan sudah mejanjikan musyawarah seperti itu. Berlandas pada janji-janji, maka berdatanganlah utusan beberapa wilayah Partai Persatuan dengan maksud mendesak dan sekaligus mengikuti musyawarah tadi. Namun, tak disangka sebelum permufakatan serupa itu berlangsung, DPP sudah terbentuk dan sekaligus dilaporkan ke hadapan Kepala Negara – sesuai dengan adat istiadat politik sejak masa Soekarno.

 

Susunan DPP itu sendiri hampir 100% cocok dengan perkiraan banyak orang sebelumnya. Nama K.H.Idham Chalid, lalu Mintareja, Anwar Cokroaminoto, Rusli Halil serta K.H.Mansyur tercantum pada deretan teratas sebagai Presiden dan wakil-wakil. Tetapi perkaranya mulai menggelisahkan, terutama di kalangan NU, ketika melihat nama Mintareja termaktub pula sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat. G.Z. Abidin sebagai Ketua Kelompok Persatuan clan Sekretaris NU Sulawesi Utara – yang sedang berada di Jakarta karena mengira akan ada musyawarah – menilai kedudukan Mintareja dari eks-Parmusi dalam jabatan ketua Umum (eksekutif) sebagai sesuatu yang – gol. Alasannya, dengan membandingkan jumlah massa dan wakil masing-masing eks-parpol yang ada di DPR, mana NU mempunyai kursi dan suara jauh lebih banyak dibanding eks-parpolnya Mintareja.

Mengelabui. Tetapi bagi Abidin, sumber ke-tak-pantasan itu tetap berpulang pada Idham Chalid yang “melalaikan prinsip-prinsip musyawarah” sebelumnya. Dasarnya dikembalikan pada putusan Muktamar NU di Surabaya beberapa tahun silam: amanat untuk fusi di tujukan kepada PB-NU secara kolektif dan bukan kepada Idham Chalid pribadi. Hampir, sejalan dengan ini, lmron Rosyadi SH berkata: secara “agamis” dan kepartaian Idham Chalid telah meninggalkan azas musyawarah. Maksudnya, taroklah susunan DPP Partai Persatuan hasil perundingan Idham dengan orangorang eks-parpol lainnya, tetapi amanat Muktamar Surabaya ditujukan kepada seluruh anggota PB-NU clan tidak kepada Idham sendiri. Tetapi “memang rupanya ldham tidak man melakukan nya” kata Imron. Lalu diceritakannya pula tentang janji janji tokoh tua NU itu untuk mengajak musyawarah antar anggota PB. “Yang terakhir dijanjikan waktu malam tahlilan Subchan, tetapi ternyata dibatalkan pula tanpa/alasan” ucapnya kepada TEMPO. Imron Rosyadi kemudian mengakui dia telah melaku kan kritik terbuka terhadap persoalan intern eks-partai NU, “tetapi ini jalan situ-satunya, sebab selama ini Idham tak pernah man diajak berunding”.

Karena, itu Imron khawatir, jangan-jangan persatuan yang hendak dicapai dengan adanya partai baru itu hanya usaha beberapa orang saja untuk mengefabui Pemerintah. “Saya tak ingin duduk dalam pengurus Partai Persatuan” kata nya, “tetapi yang saya inginkan adalah persatuan yang kuat dan berwibawa agar benar-benar menjadi potensi untuk membantu Pemerintah”. Diakuinya DPP yang baru-baru ini diumumkan sebagai bersifat sementara, seperti di janjikan Mintareja, yaitu sampai menunggu musyawarah dan muktamar setelah sidang MPR. Tetapi kapan? Itulah soalnya. Sebab bagi Imron Rosyadi menunggu artinya dapat diulur-ulur sampai waktu yang tak terbatas.

Taqwa-taqwaan. Masih berbicara tentang musyawarah dan muktamar, Imron cukup merasa curiga bahwa itu tidak akan benar-benar dilaksanakan sesuai dengan permintaan kebanyakan anggota. “Yang pasti pengurus OPP sekarang kebaniyakan hanya main tunjuk, yaitu mereka yang dapat” dikuasai oleh oknum-oknum tertentu. Sehingga tidak mustahil desakan-desakan kearah permufakatan resmi itu akan tertunda terns”, tambah wakil ketua eks-partai NU tadi. Imron menyatakan tidak mencurigai seluruh personalia DPP Partai Persatuan, tetapi menurut dia untuk menjadi pemimpin ummat hendaklah memenuhi berbagai persyaratan. Syarat utama, kata nya, tentulah bukan mereka yang pernah menyeberang ke fihak Belanda, di masa Revolusi Kemerdekaan dulu dan bukan pula mereka hanya memperalat partai hanya untuk berdagang. “Mereka boleh saja berbicara tentang taqwa, tetapi ternyata kita sering dikibuli mereka dengan istilah itu” katanya.

Dan kata Imron Rosyadi pula: “Banyak yang mempunyai penilaian sama dengan saya terhadap kepemimpinan Idham Chalid, tetapi selama ini tak ada yang berani berbicara secara terang-terangan”. Kata atau sikap semacam ini beberapa waktu yang lalu biasanya herasal dari almarhum Subchan GE, tokoh NU yang digeser antara lain oleh Imron Rosyadi sendiri. Tetapi, apakah ikhwal yang sedang dialami Imron dalam hubungan dengan Partai Persatuan sekarang lama halnya dengan yang pernah terjadi terhadap diri almarhum Subchan semenjak muktamar NU di Surabaya dulu? Belum jelas benar. Namun kata seorang simpatisan Subchan: “Andaikata Subchan masih hidup, dia akan tersenyum melihat Imron Rosyadi sekarang”. Meskipun itu cuma “andaikata”, menarik jugs bahwa Imron – yang terkenal sebagai kawan baik penguasa selama ini – dalam menghadapi Idham Chalid dan Mintareja bergabung dengan M. Ch. Ibrahim, orang PSII yang baru-baru ini tergeser gara-gara dituduh memperlambat proses fusi dan kurang kooperatif dengan penguasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: