Mutunya: Eeeeh !

Tempo 3 Februari 1973. Mutu kesebelasan PSSI mengkhawatirkan. Dari kesebelasan daerah tak ada pemain yang dapat diharapkan. Ini dapat dilihat dalam pertandingan ketiga kesebe lasan: PERSIB, PERSEMA dan PSIS yang mutunya rendah.

KALA ketrampilan memamerkan dasar-dasar sepakbola, agaknya kejuaraan “3 sedang” – Persib — Persema — PSIS – minggu lalu dapat disejajarkan dengan anak-anak Gawang. Tidak seorang pun yang menonjol. Kecuali penunjukkan pada publik bahwa Max Timisela, Sonny Sandra dan beberapa nama tua lainnya belum menggantungkan sepatu bola. Mungkin hanya itu yang mengundang 15.000 penonton menyaksikan pertandingan pembuka awal tahun 1973. Lain tidak. Namun harapan pencandu sepak bola mengenai memungkinan tampilnya pendatang baru yang akan menggantikan Iswadi, Abdul Kadir atau Jacob Sihasale — pemain teras PSSI – masih belum terpenuhi. Meski nama-nama: Iwan Santoso, Halilintar dan Awi Rusprawito, dulu merupakan bakat-bakat yang di harapkan. Sementara Risnandar dan Wiwin Darmawan — pemain PSSI B-yang boleh dianggap terbaik diantara pemain-pemain 3 kesebelasan, juga belum dapat berbuat banyak untuk meloncat kedalam barisan PSSI A. Tentang Waskito pilihan Endang Witarsa untuk memasukkannya kedalam TC Pre World Cup ternyata tidak keliru. Hanya itu. Uang kas. Jika untuk menilai pola permainan masing-masing kesebelasan, haik Persema atau Persib yang menempati posisi ke –5 dan 6 dalam “8 Besar” PSSI, maupun PSIS masing-masing pun tampil dalam sistim 1-1-8 atau sistim pertahanan massal. Dan tidak jarang pula berbalik bentuk menyerang bersama. Kendati hal yang lucu dalam pola semacam itu bukan tidak ditemui, di samping kemampuan pemainnya memang sebegitu. Suatu ketika Aman kanan luar Persema berhasil meliwati pertahanan Persib, tapi dengan bola di kaki memasuki area penalti ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Ia seolah lupa si kulit bundar akan di tendang pakai kaki kiri atau kanan. Dan keluguan yang serupa sering terulang, sehingga suka mengundang sorak cemooh penonton. Lantas PSSI mau bicara apa tentang mutu dalam permainan yang serupa? Meskipun pertandingan ini menghasilkan tambahan uang kas. Tapi cukupkah hanya dengan itu saja, tanpa meningkatkan mutu-mutu kesebelasan daerah yang selama ini menunjang kehidupan PSSI? Masalah ini sudah lama diperdebatkan, namun hasil garapannya yang belum kelihatan. Kalau keadaan ini dibiarkan berlarut-larut bukan tidak mustahil persepak-bolaan Indonesia hanya sekedar mengenang masa kejayaan Ramang dan kawan-kawan saja. Setelah itu: nol. Jangan kan dimata dunia, di Asia saja PSSI belum tentu disegani lawan. Tentang PSIS tidak perlu diperdebat kan. Sebagai kescbelasan di luar “8 Besar”, mereka telah menunjukkan semangat bertanding yang lumayan Paling tidak mereka punya kefanatikan untuk menyatakan bahwa kesebelasan diluar yang 8 tidak patut untuk diremehkam Setelah kalah tipis 3-2 melawan Persema, mereka berhasil menahan Persib dalam kedudukan 1-1, yang kemudian menempatkan PSIS sebagai juara ke-2. Atau lebih baik daripada nasib Persema yang menjadi juru kunci. Secara keseluruhan idee PSSI ini cukup berhasil untuk menghibur masyarakat Semarang yang suatu ketika memang kepingin melihat kesebelasannya main di Senayan, disamping memberikan tontonan harga murah untuk masyarakat Ibukota. Sementara “3 Kecil” PSSI dengan tarif yang sama segera muncul dalam memberi rasa dan kesegaran lain bagi pencandu sepakbola Jakarta yang telah jenuh dengan berbagai pertandingan “bermutu”. Tidak lebih dari itu. Sebab kalau ditanya-tanya juga mereka akan menjawab: Eeeeeh!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: