Setelah Evaluasi Pertama

as_logo_pssi6Tempo 10 Februari 1973. Masalah pssi dibawa ke bina graha membahas tentang tim pssi yang akan diberangkatkan ke pra kejuaraan dunia di australia. kiper, ronny pasla, belum bermain prima dan pssi tak punya jago tembak.
UNTUK kesekian kalinya PSSI dibawa ke Bina Graha. Masalahnya mudah di raba: membicarakan team PSSI yang akan diberangkatkan ke pra kejuaraan dunia di Australia awal Maret nanti. Menang lawan St.Pauli 4-2, kalah lawan Espagnola 1–2, 1–3 dan Bulagria 0–4, pimpinan PSSI nampaknya tidak bisa menerima kekalahan atau kemenangan seperti mereka menerima keuntungan atau kerugian dari penyelenggaraan pertandingan-pertandingan internasional. Sebab, soal duit – sejak Bardosono turun tangan – bukan soal lagi. Tapi untuk membicarakan soal teknis dan pembinaan team dengan mengundang beberapa wartawan olahraga plus kolomnis sepak bola untuk bersama-sama membahas dan menilainya di Bina Graha, mengundang juga perhatian dan rasa prihatin.

 

Istana Negara. Mengapa pertama tidak diadakan di kantor PSSI di kolong Stadion Utama, boleh juga dijawab akan besarnya perhatian fihak pemerintah terhadap PSSI di samping Komisaris Umum nya Bardosono kebetulan berkantor di sana. Meskipun tersirat pula arti pertemuan pada tanggal 6 Pebruari itu di gedung yang bertetangga dengan Istana Negara sesungguhnya ingin menanam kan suasana dan semangat pembangunan seperti yang dilambangkan oleh nama gedung tersebut.

Tapi apa yang harus dibangun dari materi pemain PSSI sekarang agaknya secara gamblang telah didemonstrasikan oleh anak-anak asuhan Endang Witarsa, dalam ke4 pertandingan selama dua bulan ini. Hampir semua pemain yang di godog di TC sudah kebagian giliran memperlihatkan ketrampilannya. “Namun demikian kami sangat mengharap kan kritik dan analisa dari fihak luar juga”, kata Anhar, Wakil- Ketua Proyek Officer Team ke Australia ini. Sementara kata “fihak luar”, membuat evaluasi karya team TC ini dengan membatasi diri pada ke–4 pertandingan percobaan tersebut, lebih layak ditonjolkan segi pahitnya dari pada manisnya.

Untuk Prima. Dimulai dari garis belakang, Ronny Pasla nampaknya belum memenuhi harapan orang akan bentuk primanya. Berapa kali bola tembakan dari jauh muntah dari pelukannya. Kelincahannya menghadapi grebekan-grebekan di daerah pinalti hanya menambah kesan bahwa ia belum dapat menguasai kegugupan yang lazim dialami oleh setiap penjaga gawang yang ingin bermain cemerlang. Kelemahan menyambar bola rendah — dari sisih kanannya terutama — belum terobati. Kalau dalam dua pertandingan terakhir ia kebobolan 7 gol, tcntu saja harus ditengok lapisan di mukanya. Di kiri, Jauhari bermain dengan semangat perang, tapi agaknya dia lupa bahwa seperti dalam perang, teknik dan taktik diperlukan juga. Percuma saja meski ia memiliki senjata kaki-baja dan napas-kuda tapi main hantam kromo seperti orang kehilangan kepala. Di sisih kanan, sekali lagi Sutan Harahara memberi harapan. Tenang dan tahu kapan harus menerkam lawan dan mengimbangi kawan. Tendangan kanan-kiri hidup. Sundulan lumayan. Hanya ia kurang sadar bahwa sering-sering melakukan sliding trackle yang tidak terlalu dibutuhkan, hanya mengundang resiko yang tak diinginkan. Bertahannya Sunarto dan Rahman Halim di posisi yang pernah dicoba Sutan, tidak menggoyah Sunarto dan Rachman Halim di posisi yang pernah dicoba Sutan, tidak menggoyah kan kedudukan pemain muda ini – paling tidak sebagai cadangan. Sebab Sunarto dalam pertandingan yang terakhir jelas kelihatan ketuaannya. Sementara Juswardi tidak sempat memperlihat kan kondisinya karena cedera. Di lini pertahanan tengah, kedua pertandingan lawan Espanogla dan Bulgaria, tidak salah lagi mempakan l,atihan intensif bagi ke dua poros halang Anwar dan Widodo. Dalam situasi di mana intersepsi-intersepsi cepat dan cermat dibutuh kan, kelihatan sekali kelemahan dan kelambanan Widodo — meskipun terus terang bahwa pemain ini jauh lebih safe dibandingkan dengan Jopie Leepel atau Sarman Panggabean di posisi yang sama.

Egoisme. Di garis penghubung, pulihnya Ronny Pattinasarany membangkitkan harapan. Bersama Anjas Mara atau Djunaedy dan dibantu salah seorang penyerang diarik-mundur, medan lapangan tengah cukup terjelajahi. Dengan catatan, memilih Anjas dalam turnannen besar akan berarti lebih besar dinamika barisan depan. Sementara di sayap kiri Kadir belum dapat saingan, meski tidak berarti ia telah menemukan formnya kembali. Egoisme pemain lincah ini terlalu besar untuk mengembangkan penyelesaian-akhir yang efektif. Dan apa yang sesungguhnya mempengaruhi permainan Risdianto yang serba-salah dalam setiap kombinasi di mulut gawang, patut memancing Psikolog PSSI Dr Lim untuk menjawabnya. Iswadi, Jacob Sihasale Waskito dan Tumsila pantas diberi angka: boleh juga. Dengan catatan: Tumsila memang perlu pengalaman lebih banyak.

Apa adanya. Pada umumnya, dengan apa adanya, PSSI bermain tidak jelek, meski lebih cepat jika dikatakan bahwa lawan memang sekelas lebih baik. Tapi ada satu hal yang sulit dimengerti: dua kali hukuman penalti luput diselesaikan Iswadi dan Ronny Patti. Dan buruknya kedua tembakan sama melenceng ke kiri tiang yang terlebih dulu telah ketahan kiper lawan. Adakah ini akibat terlalu seringnya algojo-algojo PSSI dilatih mengambil tendangan penalti di gawang sebelah selatan’? Mungkin saja. Maka tidak terlalu mengada-ada jika ada yang menyarankan agar mereka dibiasakan menendang ke gawang yang ada di selatan – dan juga di ke dua gawang tempat turnamen akan berlangsung. Sebab, tidak mustahil di Australia akan muncul pula wasit pemurah (yang mau menolong PSSI) seperti yang diperbuat Achmad Karim BA dalam pertandingan PSSI-Bulgaria. Dan jangan lupa kalau membikin barikade pelajaran dari bobolnya gol pertama PSSI — Bulgaria di detik-detik terakhir babak pertama, perlu juga di ulang ABC-nya.

Pada akhirnya, menyusun team yang serba merata kekuatan pemaimlya, bukan berarti membuat eksperimen dengan asal main coba. Karena sisa waktu persiapan untuk memungkinkan intensifikasi peningkatan fisik dan stamina, kian mendesak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: