Berita Kalah Dari Australia

Tempo 05/III 07 April 1973. Pemain PSSI mengalami kekalahan 2-3 dari kesebelasan Irak waktu bertanding di Australia. berarti Indonesia tersingkir untuk masuk ke-16 besar kejuaraan dunia. sebelumnya PSSI mempunyai harapan.

DENGAN derap langkah tantara tertawan kesebejasan PSSI memasuki kamar pakaian. Suasana hening. Semua terdiam. Beberapa pemain duduk di lantai – terkulai. Iswadi membaringkan diri di balai pasien, seolah minta pertolongan yang pertama. Jeruk jeruk yang terkupas dibiarkan tak terjamah. Kostum merah putih yang berlambang Bhinneka Tunggal Ika basah kuyup dibasuh-keringat bercarnpur air hujan – tidak pula memburu mereka berganti pakaian. Usainya pertandingan’ ke-5 dengan skor klasik 2,-3 untuk kemenangan Kesebelasan Irak bukan saja berartj tersingkirnya Indonesia dari peluang untuk menanjak ke “16 besar” Kejuaraan Dunia. Malahan – leliih pedih lagi — mengungkit sekeranjang kenangan. “Suasananya seperti di, Rangoon saja”, gumam Suaib membangkitkan kembali saat-saat pahit dari kekalahan ‘Indonesia terhadap Israel setahun yang sham (TEMPO, 15 April 1972).

Di lain sudut Jacob Sihasale duduk membungkuk. Kedua tangannya menutup mukanya. Sendat tangis pemain yang berkaos nomor 20 ini seolah meratapkan nasib masa depannya. Sementara di pojok lain Sutan Harhara berusaha menyembunyikan wajahnya dari tatapan para rekannya. Pemain muda ,yang dinilai berhasil dalam team PSSI ini nampaknya menyesalkan perbuatannya. la memberi peluang bagi wasit Hongkong Luk Tat Sun melalui kaki K. Hamid untuk memperawani gawang Ronny Pasla dengan hukuman tendangan penalti yang pertama selama turnamen berlangsung. Pil penenang. “Mengapa berdiam saja. Hayo bergembira!” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Team Manager Hutasoit memang sudah ditunggu-tunggu, meski diucapkan dengan muka murung. “Kalian telah berusaha sekuat tenaga. Kalah menangkan biasa”. Komentarnya ibarat pil penenang, meski nampaknya tidak mempan memulihkan, keseimbangan.

Coach Endang Witarsa sendiri nampak solider duduk terpaku di lantai. Sementara dokter Gani berkemas-kemas mengajak para pemain bersalin’ untuk meninggalkan stadion. Dan seperti biasa, semua anggota rombongan – menang atau kaah menutup setiap acara pertandingan dengan memanjatkan doa menurut kepercayaan masing-masing. ‘ Apa yang menyayat perasaan, tersisihnya Indonesia dari turnamen justru terjadi pada scat-scat harapan memenangkan turnamen sedang memuncak. Sejak pertandingan pertama, mereka mencari tempat berpijak. Pertandingan pertama lawan Selandia Baru 1-1 belum lagi berhasil menetralisir kritikkritik pers di Tanah Air – terhadap “Team Prihatin” ini (TEMPO, 3 Maret 1973). Apa lagi menjawab pertanyaan “Apakah sesungguhnya Indonesia bisa bermain bola?” – seperti yang dikemukakan beberapa oficial Federasi Sepakbola Australia kepada Hutasoit sewaktu team Indonesia tiba di airport Sydney. Dalam pertandingan pertama Indonesia dan Selandia Baru bermain sama gugupnya. 20.000 penonton Sydney Sports Ground merasa kecewa atas mutu permainan yang dinilai lebih reridah dari kompetisi Divisi I mereka.

Namun kekecewaan mereka terhibur juga oleh kemenangan Australia 3-1 terhadap Irak. Dari dua pertandingan pembukaan ini nampak jelas bahwa dugaan wasit Asia akan bertindak keras terhadap permainan force pemain-pemain ,kulit putih terbukti sebaliknya. Gol Indonesia yang dibuat oleh sundulan si “kepala Medan” Sarman Panggabean boleh dicatat eksklusif. Tendangan sudut oleh Kadir meluncur pendek ke kaki Basri. Bola diteruskan ke sarang pertahanan Selandia Baru setinggt perut. Sarman yang terlanjur berposisi agak, ke muka melayangkan tubuhnya sambil mengipas boladentan bagian belakang kepala. Penjaga gawang Morris terkejut. Sekejap saja Sarman disambut dengan pelukan oleh kawankawannya. Selanjutnya Indonesia membuktikan mereka adalah yang lebih pintar, meski agaknya Kadir,’ Iswadi dan Waskito. (menggantikan Suaib pada menit ke-77) malu-malu mencetak gol dari sekian banyak peluang. Sementara serangan-serangan anak-anak negeri Kiwi yang diarahkan tinggi-tinggi ke gawang Indonesia berakhir di pelukan penjaga gawang Ronny Paslah. Baru setelah Coach Barry Truman menukar Geoff Brand dengan Alan Vest, yang belakangan, ini sempat menyamai kedudukan 1-1 pada menit ke-74. Batu loncatan. Dalam pertandingan kedua antara Indonesia-Australia, Coach Rale Rasic melihat ciri-ciri permainan asuhan Endang. “Mereka cepat, memiliki trobosan dan ketrampilan individuil” katanya pada TEMPO.

Tapi bagaimana untuk merebut kemenangan, tentu saja merupakan rahasia. “Kelebihan fisik dan stamina pemain kami Harus dimanfaatkan, betul-betul”, komentatnya pads pers Australia. Sementara itu di Traveloc’ge Motel, di kamar nomor 19, Endang seperti lazimnya memberi petunjuk-petunjuk bagaimaita menghadang laju serangan lawan yang biasanya dilakukan oleh kedua. back lawan, te`rutama dari sisih kanan melalui Utjesenovic. Nadir diinstruksikan tidak turun , untuk sewaktu-waktu menerima umpan sebagai striker. Suaib Rizal diberi. tugas untuk mematahkan setiap serangan dari back kanan lawan.

Penguasaan medan tengah tidak diharapkan banyak untuk membuka serangan, sebab umumnya tackling pemain muka dan tengah lawan sangat efektif untuk memungkinkan Indonesia menyusun serangan dari lini ini. Batu loncatan di lapangan tengah dibebankan pada Ronny Patti, sementara Jacob Sihasale ditarik agak mundur untuk membantu mematikan kombinasi lawan yang dipelopori Ray Richards, half lawan yang pandai melempar bola dari garis pinggir sampai ke titik penalti. Tetapi ketika pertandingan berlangsung, ‘ kentara sekali siasat Indonesia terbaca lawan. Utjesenovic setia sekali membayangi Kadir. Dia dan Bobby Hogg di kiri irit sekali dengan gerakan overlapping ke depan. Kedua porosnya, Peter Wilson dan Manfred Schaefer memberi perhatian istimewa pada Iswadi. Tapi gol pertama toh lahir, dari sisi kanan, ketika Utjesenovic melewati Sunarto dan melepaskan tembakan langsung ke gawang Ronny. Bola muntah dari pelukannya, lalu disabet Alston yang datang menerjang. Momen lain yang pantas dicatat, ketika Iswadi dalam perebutan mencungkil bola dengan tumitnya.

Gol kemenangan Australia dicetak sesaat menjelang turun minum dari tendangan bebas tidak langsung. Pertandingan di babak kedua selanjutnya adalah ujian bagi Anwar Ujang, Widodo dan Ronny. Penggantian Iswadi oleh Waskito dan Sarman oleh Anjas tidak menolong Indonesia dari’ kekalahan. “Pemain kita tidak bisa melakukan tackling”, keluh Endang. Tapi yang jelas dalain membuat kombinasi dengan tempo yang dikembangkan pemain-pemain Australia, tidak pula terimbangi. Alhasil buyar di tengah perjalanan. KeL kalahan Indonesia dalam pertandingan ini belum bisa dikatakan mematikan semangat mereka, meski dalam pertandingan di hari yang sama Irak memukul Selandia Baru 2-0. Baru melek. Dalam pertandingan ke3 Indonesia menemui bentuknya. Skor 1-1 dengan Irak tidak mengurangi kelebihan Indonesia. Paling sedikit dua gol yang telah masuk ke gawang Sattar tertolong oleh wasit Kim Yoo Won dari Korea yang membiarkan back lawan menghalaunya. Sutan Harhara dan Max Timisela dalam debutnya tidak men4ecewakan.

Meski yang disebut belakangan menderita kejang dan terpaksa digantikan Suaib. Setelah pertandingan ini pers Australia baru melek akan potensi pemain Indonesia. Sementara penggemar sepakbola di Sydney mulai jatuh cinta pada permainari Indonesia. “They are the darling of the crowd” – mereka adalah jantung hati penonton – kata Martin Royale, komentator TV Australia terkenal. Dan pertanyaan sini dari gembong sepakbola Australia pun terjawab dengan mutu yang diperlihatkan Indonesia ketika berhadapan dengan Irak. Dalam pertandingan lainnya di hari yang sama kembali Australia di ditahan 3-3 oleh Selandia-Baru, setelah terlebih dulu leading 3-1. “Perasaan takabur team Aussie ini membuat mereka lengah akan lawan-lawannya”, komentar sementara pers Australia, meskipun kemudian mereka memompa lagi dengan semangat menyala-nyala.

Peranan dan sikap pers semacam ini oleh Nuim Khaiyat ‘dan Rusman Pandjaitan keduanya wartawan Radio Australia – dijadikan contoh untuk sementara pers Indonesia yang menurut mereka “terlampau tajam kritik-kritiknya, sehingga secara moril justru menjatuhkan” (lihat box). Tingkah perawan. Di Melbourne, seperti pula di Sydney masyarakat Indonesia-nya berusaha menumbuhkan suasana Nusantara di antara rombongan. Keluarga Radio Australia Seksi Indonesia, berbondong-bondong bertamu di Travelodge Motel, Royal Park – meski disayangkan mereka hanya disambut oleh para pemain dan Coach Endang yang sempat memperkenalkan diri. Di bekas kota Olimpiade (1956) ini nasib Indonesia dalam turnamen yang tengah berlangsung ditentukan. Dan di kota ini pula, 17 tahun yang lalu-0limpic Sports Ground yang terletak di tepi sungai Yarra pernah mencatat prestasi team sepakbola Indonesia di- babak final (TEMPO, 3 Maret 1973). Kini team yang dipimpin trio Hutasoit-Gani-Endang berlaga kembali di medan yang sama, meski baru merupakan salah satu dari 94 calon yang sedang memperjuangkan target “16 besar” di Kejuaraan Dunia di Munchen tahun depan. Kemenangan. yang pertama bagi Indonesia terujud di Melbourne, meski gol semata wayang itu berkat harakiri back Selandia Baru.

Vemenangan pada tanggal 18 Maret itu bertepatan pula dengan hari ulang tahun Iswadi. Sehingga di samping harapan Indonesia bisa memenangkan turnamen, orang mengharapkan pula Iswadi dapat merubah kelakuannya dalam memasuki usia ke-26 tahun. Sebelumnya berita gembira pertama diperoleh dari Medan, ketika isteri Sarman pada tanggal 9 Maret melahirkan anak laki-lakinya yang. ke-2. Melbourne masih mencadangkan kenangan. Cuaca lbukota Vicforia yang, diurnpamakan “bak perawan yang bertingkah” – meminjam predikat Nuim, ternyata sempat membikin panik Endang. Sesaat team turun ke lapangan, Max Timisela yang semula akan diturunkan, tiba-tiba kejang pernapasannya – akibat udara yang berubah-ubah. I’m sorry.

Kembali ke Sydney dengAn setumpuk harapan, Indonesia kandas di bawah telapak Irak: Kalau putusan wasit Luk Tat Sun tidak boleh diganggu gugat, apa salahnya Sutan Harhara dijadikan kambing hitam. Sutan memang tidak membikin huru-hara yang berakibat penalti. Tapi siapa sangka kalau sliding tackle-nya terhadap Yusif sedikit di luar garis daerah penalti, disambut oleh penyerang Irak ini dengan menjatuhkan diri di dalam daerah penalti, sambil berguling-guling kesakitan. Tapi menjelang babak pertama berakhir wasitpun sadar bahwa pemain berkaos nomor 10 itu lebih mirip seorang- pemain drama. Ia diganjar kartu merah karena menghantam Sutan dari belakang. Pertandingan selebihnya mengingatkan pada lakon Indonesia di Rangoon. Hanya bedanya ketika itu Kadir luput menceploskan tendangan penalti ke gawang- Israel yang nota bene bermain 10 orang tanpa Spiegel yang diusir wasit. Harapan yang ditimbulkan Anjas, yang menyamai kedudukan 2-2 dengan gaya paling sempurna mempertebal keyakinan suporter PSSI bahwa kemenangan sudah dipanjer: Tapi siapa yang dapat meramalkan kalau dari celah-celah kepungan Indonesia, Irak dapat meloloskan diri bagaikan belUt dan mencetak gol. kemenangan. Tentu saja tanggung Jawab berniuara pada Endang dan Kapten Ujang, meski tersisihnya , Indonesia menjadi beban bersama. “I’m sorry”, kata Wasit Luk pada Hutasbit. Sementara Team Manager Indonesia coba memperbincangkan musibah penalti itu dengan anggota Komisi Wasit FIFA, Khovv Uwe Teik. “Dua jam kami berdiskusi”, kata Hutasoit yang selalu berlindung di bawah laws of the game FIFA. “Akhirnya Khow mengakui bahwa putusan wasit Hongkong itu terlalu berat”. “Team Prihatin” ini memang memiliki kepribadian sendiri. Dengan bekal kritik-kritik dibandingkan dengan doa restu yang lazim dibawa dari Tanah Air, para anggota dun pimpinan team dibebankan tanggung jawab yang dipikul bersama.

Misalnya, dokter Gani oleh keadaan dipaksa meladeni goalsbal di luar bidang kesehatan – terutama setelah pembantu Hutasoit, Sukasmo jatuh sakit. Sedang Sunarto dun Kadir membantu menangani urusan keimigrasian. Sementara Suaib dun Iswadi kebagian urusan perkoperan. Pendeknya suasana prihatin benar-benar terasa, meski sekali-sekali digoda oleh kenakalan Iswadi – yang nampaknya amar dimanjakan Endang. Ke Selatan. Apa gerangan pelajaran yang diboyong dari tanah. Kanggaroo ini? “Orientasi kita harps lebih banyak ke selatan”: Maksud Hutasoit lebih Bering ber-sparrig dengan pemain-pemain Australia yang gede-gede badannya. Tapi, agaknya’Hutasoit bukan menganjurkan pemain-pemain Indonesia iantas menukar menunya dengan roti dun kentang plus steak dun chicken untuk berlomba-lomba memperbesar badan. “Mereka memang Eropis. Tackling dun body contact mereka selalu unggul”.

Adakah strategi- pembinaan sepakbola Indonesia lantas menitik-beratkan pada kekuatan fisik? Ada benarnya sepanjang menyangkut turnamen yang dimenangkan oleh anak-anak Whitlam. Faktor fisik dun stamina yang dipunyai anak-anak Endang terbukti tidak dapat bertahan sampai turnamen usai. Tapi mengapa sampai ads 3 klub sepakbola Australia berani menawarkan 8 pemain PSSI untuk memperkuat team mereka dalam musirn kompetisi tahun ini? Agaknya mereka pun iri melihat kelincahan dun ketrampilan individuil yang tak dimiliki para pemain rnereka. Di sinilah letak persoalan: Indonesia belum mampu mengt mbangkan’ketrampilan dun kegesitannya untuk mengimbangi lawan-lawan yang lebih fihaknya. Mengeksploitir keunggulan skill dun seni bola alamiah yang dimiliki pemain pemain , Indcnesia, menggiring Endang pada dua persimpangan: oleh coach dewek atau pelatih using. “Harps coach asing, dan kita semua harus di up-grade lagi”, katanya tegas. Bolehjadi ia iri terhadap fasilitas yang diberikan pada Coach Australia dari Fairfield Marconi Soccer Club, yang di samping digaji $ 12.000 setahunnya, diberi mandat penuh untuk merencanakan program, memilih pemain dan menyusun team menurut idamannya. “Tapi untuk menunjuk team manager dengan kekuasaan itu di Indonesia belum mungkin”, kata Hutasoit dalam, wawancaranya dengan Radio Australia. Ada benarnya meskipun seandainya ada, toh pimpinan yang berkuasa di PSSI belum tenth berani mengambil resiko ini. Sebab soal keuangan dan organisasi, baik proseduril dan strukturil agaknya sulit mendukung terciptanya suasana baru yang ingin ditimbulkan seorang coach luar negeri. Dalam melanjutkan pembinaan jangka panjang, itulah sebabnya Hutasoit. mengajak sepakbola Indonesia berkiblat ke Australia, bukan secara teknis dan fisik melulu tentunya. Tapi lebih berbobot pada pembinaan klub-klub seperti yang drperlrhatkan bakat-bakat muda dalam pertandingan ekstra antara Kesebelasan remaja BankstownManly menjelang pertandingan Indonesia-Irak. Selama ini klub-klub via bondnya telah memberi kontribusi yang mengatas-namakan Republik ini. Adakah pimpinan PSSI telah memikirkan cara balas jasanya yang tidak lain hanya untuk memperkokoh tulang-puggung sepakbola Indonesia?

SIARAN DARI RADIO AUSTRALIA

Dua wartawan radio Australia dari Indonesia, Rusman Panjaitan dan Nuim Khaiyat melaporkan pandangan mata selama PSSI bertanding di Australia. mereka berpendapat pemain PSSI adalah pemain alam.

KEDUANYA wartawan Radio Australia dan masih warganegara Indonesia. Rusman Pandjaitan, 40 tahun dun Nuim Khaiyat, 32 tahun hampir tidak pernah bercerai dari team Indonesia – baik di dalam maupun di luar lapangan. Dart batik corong Radio Australia Seksi Indonesia mereka secara estafet mengejar tempo permainan. Kaya dengan ungkapan-ungkapan khas Medan – ‘ keduanya memang anak Medan laporan pandangan matanya meluap-luap hingga acapkali terkecoh menyebut nama pemain atau tertinggal oleh laju permainan. Mereka membahasakan Kesebelasan Indonesia dengan “kita” dun selalu memberi support kepada anak-anak PSSI “seperti membuang garam ke tengah lautan”. “Siapa ‘ lagi kalau bukan si Nuim yang pernah di BBC Inggeris dulu”, ujar seorang wartawan yang terpikat oleh teknik penyiar yang masih bujangan ini. Sementara Rusman yang telah berkeluarga agak kalem datum mengobral kata-kata. Dua sejoli ini pernah ketangkap basah – ketika melaporkan pertandingan Indonesia-Selandia Baru. “Kami dikritik kurang objektif oleh boss dl Melbourne”, kata Nuim, meskipun ketika Peter Moore, Kepala Radio Australia Seksi Indonesia mendampingi mereka, tak urung ia minta bicara di depan corong. “Says bisa mengerti bahwa mereka telah melaporkan apa adanya …. Tapi di sini saya harps berfihak”, kata Peter datum bahasa Indonesia yang. bersih dari logat Australia, “dalam catatan saya tidak kurang dari 17 kali pemain Selandia Baru menarik baju atau celana pemain Indonesia, tapi wasit tidak menghukumnya…”.

Bagaimana tanggapan orang bola di Jakarta mengenai siaran bola Radio Australia? “Lebih hebat dan RRI”, kata beberapa wartawan olahraga. “Says yakin paling kurang mereka menguasai perkembangan sepakbola dewasa ini”, kata Kadir Yusuf, “rasanya ingin saya menulis sprat ucapan terima kasih. Mereka telah membawa saga ke arena pertandingan”. Sprat pujian Nuim sudah punya: berupa piagam penghargaan Ditjora untuk prestasinya di BBC dalam menyiarkan laporan kemenangan Rudy di All England beberapa tahun yang lulu. Sedang bagi Rusman, pengalamannya meng-cover kunjungan Presiden Sneharto ke Australia barn-burp ini memberi arti tersendiri bagi kariernya sebagai wartawan Radio Australia.

Berdasarkan pengetahuan dun pengalaman mereka, “Kesebelasan PSSI tidak demikian buruk seperti yang dikritik koran-koran”. “Sampaikan kepada rekan-rekan di Tanah Air, ‘mengapa kalian begitu keras menghantam PSSI, padahal hampir semua team tidak bisa bermain seenaknya jika berhadapan dengan Indonesia”, kata Nuim – melupakan sebentar bahwa kritik-kritik dari Indonesia justru membakar semangat perjuangan anak-anak PSSI.

Menyinggung soul taktik dun strategi Kesebelasan, Rusman melihat “gejala-gejala yang menjadi pola permainan barisan “belakang PSSI: kebanyakan got terjadi pada saat-saat mereka berkutak-kutik di muka gawang”. Tapi kecendrungan untuk bertahan dari Coach Endang Witarsa dikecam Nuim “sebagai tindakan yang belum apa-apa sudah menyerah. Dan ini dapat dibuktikan dari penggantian cadangan yang selalu diturunkan adalah pemain bawah”. Sebagai penganut sepakbola terbuka – menyerang adalah pangkal pertahanan – mereka melihat juga kelemahan Kesebelasan PSSI membaca jalan pertandingan. Akhirnya mereka berkesimpulan bahwa “Anak-anak PSSI adalah pemain alam. Sekali groggy terus kehilangan pegangan untuk memperbaiki diri secara sistimatis”. Ternyata kritiknya tidak kurang tajamnya dari yang pernah dilancarkan oleh rekan-rekannya di Tanah Air.



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: