Krida-Krida Lanjutan (Kabiner Pembangunan II )

TEMPO 05/III 07 April 1973. Susunan kabinet baru, dimana sejumlah wajah baru muncul, dan beberapa lagi bertukar pos, dilantik oleh kepala negara. Kabinet Pembangunan II ini dengan tujuh program utama (Sapta Krida).
SUDAH semenjak beberapa bulan sebelumnya susunan Kabinet baru menjadi bahan duga-dugaan dan mencapai titik tinggi selama hari-hari Sidang Umum MPR bulan lalu. Tetapi perkiraan bahwa penyempurnaan itu tidak akan melalui perombakan besar adalah benar adanya. “Sederhana” kata Presiden mengantarkan pengumuman susunan baru itu Selasa minggu lalu, meskipun “efektif dan efisien”. Dan di hadapan 1O buah mikropon dan beberapa orang staf serta wartawan, Kepala Negara menyebut Kabinet yang baru disusunnya sebagai Kabinet Pembangunan II. Jelas, organisasi eksekutif ini merupakan lanjutan dari Kabinet Pembangunan sebelumnya, tetapi sekaligus juga memperkuat dugaan baru bahwa memasuki Pelita II nanti penyempurnaan tidak mustahil masih akan di lakukan.

Dari 17 Menteri yang masing-masing memimpin satu Departemen dan 5 Menteri Negara, hanya 4 orang berwajah malu meskipun tidak asing. Yaitu Panggabean sebagai Menteri Hankam, Radius Prawiro sebagai Menteri Perdagangan J.B. Sumarlin sebagai Menteri Negara Penertiban dan Pendayagunaan Aparatur Negara dan Sudharmono sebagai Menteri Negara Administrasi dan Keuangan Lembaga-Lembaga Pemerintah merangkap Sekneg. 11 orang Menteri bertahan pada pos semula, kecuali Prof. Subroto yang di samping Departemen Transkop yang memang sudah dipimpinnya sebelumnya. Ditambah pula dengan bidang Tenaga Kerja. Adapun 7 orang Menteri lainnya hanya mengalarni pertukaran kamar “dari sebuah rumah yang besar” seperti istilah Presiden ketika menyematkan bintang-bintang kehormatan beberapa hari sebelumnya. Dari 22 orang Menteri yang ditunjuk itu, 17 di antaranya bertitel sarjana — dan 13 darinya Profesor. Selebihnya: 4 orang Jenderal, ditambah Adam Malik, satu-satunya Menteri yang non-ABRI dan bukan sarjana.

Watak Demokrasi. Berbeda dengan sebelumnya Kabinet Pembangunan II berjalan dengan 7 program utama. Sapta Krida itu adalah: memelihara dan meningkatkan stabilitas politik, stabilitas ekonomi, keamanan dan ketertiban, menyelesaikan Pelita I dan menyiapkan lalu melaksanakan Pelita II, meningkatkan kesejahteraan Rakyat, meningkatkan penertiban dan penyalahgunaan aparatur dan menyelenggarakan Pemilihan Umum sebelum akhir tahun 1977. Dibanding dengan Kabinet Pembangunan I – yang dibentuk sejak 6 Juni 1968 dan disempurnakan 7 September 1971 – tampaknya hanya program ke-5 yaitu meningkatkan kesejahteraan Rakyat yang dicantumkan secara khusus bagi Kabinet sekarang. “Kita perlu memberikan perhatian khusus pada kegiatankegiatan di bidang tersebut, agar dana yang terbatas itu dapat digunakan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan Rakyat” kata Presiden. Agaknya bidang ini jadi lebih ditekankan pula sehingga secara khusus lagi Kepala Negara menyerahkannya sebagai salah satu dari dua buah tugas khusus Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono, di samping Menteri Negara Kesejahteraan Rakyat Sunawar Sukowati.

Sebab itu program tadi tampaknya berputan benar dengan ucapan Presiden bahwa pembangunan yang kita kerjakan menempatkan manusia sebagai titik sentral utama. Maksudnya tentulah harapan bahwa hendaknya Rakyat tidak hanya turut merasakan pembangunan, tetapi lebih dari itu “harus dirasakan sebagai tanggungjawabnya sendiri untuk memperbaiki kehidupannya, sebagai putusan yang ia sendiri memutuskannya, sebagai program yang ia sendiri menetapkannya”. Dalam hubungan ini Kepala Negara memperingatkan bahwa dalam melaksanakan pembangunan itu hendaklah tetap ditonjolkan watak demokrasi yang tertib dan, bertanggungjawab, dalam bidang ekonomi dan politik.

Ali Murtopo. Demokrasi atau tidak dalam pelaksanaannya kelak, agaknya lebih menarik lagi peluncuran Drs Frans Seda dan Budiardjo masing-masing dari jabatan 1ama sebagai Menteri Perhubungan dan Menteri Penerangan. Meshipun keduanya tidak akan dilepas begitu saja dari “rumah yang besar” sebagaimana lazimnya kebiasaan politik di sini, tetapi di atas semuanya pergeseran-pergeseran yang terjadi agaknya untuk beberapa hal kurang memberi arti pada predikat tehnokrat sementara Menteri. Penempatan Emil Salim sebagai Menteri Perhubungan menggantikan Frans Seda memang mungkin berdasarkan kebolehannya dalam menghitung-hitung dan menemukan liku-liku pcrhubungan yang dapat menambah keuangan negara. Namun, memindahkan kamar Prof. Sumantri Brodjonegoro yang insinyur dan doktor dalam hal tehnologi kimia itu sebagai Menteri P & K, tentulah untuk waktu yang tidak singkat akan menyebabkan sedikit kegerahan baginya. Taroklah bakatnya dalam bidang perguruan ini sudah cukup tersedia mengingat jabatannya sebagai Rektor — yang bahkan dirangkapnya terus selama menjabat Menteri Pertambangan — tetapi konon pula kabarnya mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia selama ini lebih merasakan tangan Pembantunya yaitu Prof. Iman Santoso.

Dan pembenahan yang dihadapi Prof. Sumantri di kamarnya yang baru ini tentulah akan lebih rumit dan sedikit asing. Kerja Mashuri sebagai Menteri P & K yang lama tentu belum selesai, sebab program-program pendidikan baru yang dirintisnya belum seluruhnya terlaksana dan membuahkan hasil, sementara SPP yang menyebab kannya lebih mashur itu masih perlu penelitian buntut-buntutnya di sanasini. Di fihak lain, walaupun sebelumnya didesas-desuskan adalah Ali Murtopo yang bakal menduduki kursi Menteri Penerangan, dari Mashuri SH sebagai Menpen yang baru diharapkan untuk lebih banyak berbuat. Terutama dari kalangan pers dan perfilman kepada Menpen yang ini tidak lebih banyak yang diminta selain lebih mencerahkan kehidupan dua jaluran komunikasi ini ke arah yang lebih sehat, luar dan dalam.

Sekedar ikut. Untuk sebagian mungkin masih ada alasan bagi berbagai fihak untuk mengharapkan penyempurnaan berikutnya. Bagi Sa.am Sirait yang pernah memperingatkan agar penyusunan Kabinet itu “tidak dilakukan atas pertimbangan sekedar untuk mengikut-sertakan”, agaknya demikianlah yang masih terasa. Dalam hal ini, bagi Prof. Widjoyo Nitisastro misalnya, walaupun hanya sekedar Menteri Negara (yang mengkoordinir kegiatan-kegiatan di bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri), tentu pula pengikut-sertaannya akan sedikit mengurangi kesibukannya sebagai Ketua Bappenas yang dua orang tokohnya yang lain – yaitu Dr Emil Salim dan Dr J.B. Soemarlin – telah terjejer pula di jabaan Menteri. Tetapi di atas semuanya Kabinet Pembangunan 11 ini, bagi M. Isnaeni sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia sudah “mencakup semua golongan”. Tampaknya memang begitulah adanya, sebab di dalamnya telah diikut-sertakan semua fihak, sipil, ABRI, tehnokrat dan non-tehnokrat, segala wakil golongan agama dan politik.

Ganti Tempat

Setelah sidang umum MPR selesai, terjadi sejumlah pergantian jabatan dalam jajaran ABRI. Kasad Jenderal Umar Wirahadikusuma akan menjadi ketua Badan Pemeriksa Keuangan Pusat.
BEGITU SU-MPR berakhir dan sehari sebelum pengumuman susunan Kabinet Pembangunan II, KASAD Jenderal Umar Wirahadikusuma mengupacarai serah-terima jaba’an Deputy-nya dari Letjen M. Yasin kepada Mayjen Sayidiman. Dan hari Senen lalu Jenderal Umar menyerahkan kedudukan KASAD-nya kepada Letjen Surono yang sebelumnya menduduki tempat Pangkowilhan Jawa-Madura. Kcmana Umar? Meskipun belum pasti, tetapi rahasia umum telah menetapkan kedudukannya yang baru sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Pusat (BPK). Lalu Letjen Makmun Murod yang sebelumnya sebagai Pangkostranas telasl dilantik Jum’at rminggu lalu di Yogyakarta untuk mengisi tempat yang ditinggalkan Surono. Sementara itu Mayjen Poniman yang sebelumnya Pangdam V/Jaya menduduki tempat sebagai Pangkostrad, sehingga Brigjen Mantik yang sekarang menjadi Panglima di Kalimantan akan menggantikan kedudukannya. Adapun Mayjen Wahono yang digantikan Poniman, mengambil alih jabatan Makmun Murod sebelumnya sebagai Pangkostranas.

Sementara itu sudah hampir pasti, bahwa Mayjen Widodo yang masih di Pangdam Diponegoro akan menggantikan tempat Letjen Tahir sebagai Pangkowilhan I Sumatera, karena yang terakhir ini konon sedang ditunggu jaba an baru sebagai Dubes di Paris. Tampaknya pergeseran-pergeseran akan berlangsung terus, seperti diakui Brigjen Sumrahadi Dan setelah Brigjen Ali Said SH, menggantikan Letjen Sugih Arto sebagai Jaksa Agung, kabar-kabar semakin kencang juga mempergunjingkan jabatan KASAL dan KASAU. Ini agaknya erat pula hubungannya dengan pengakuan KASAL Sudomo belum lama ini bahwa untuk menggantikan kedudukannya dia telah mengajukan 3 orang calon. Konon ke-3 orang itu adalah O.B. Syaaf, Abdul Kadir dan Syamsul Bahri yang masing-masing berpangkat Laksamana Madya. Di lingkungan Angkatan Udara adalah Saleh Basarah, Sudjatmiko dan Ashadi Tjahyadi yang seririg disebut-sebut sebagai calon pengganti KASAU sekarang, Soewoto Sukendar. Dan kalaupun Kapolri M. Hasan bakal diganti juga, maka tersebutlah nama-nama calon pengganlinya: Irjen Soejoed Bin Wahju dan Irjen Widodo Budidarmo.

Adik generasi. Dan entah siapa lagi. Tetapi benar atau tidak pergunjingan itu, yang pasti “sesuatu keputusan yang final dalam tubuh ABRI bisa saja berubah dalam tempat 3 atau 4 menit sebelum diumumkan” sebagai dikatakan Sumrahadi dari Puspen Hankam. Namun pasti bahwa pergeseran-pergeseran serupa itu merupakan langkah ke arah penyempurnaan tampuk pimpinan generasi 45 kepada angkatan penerusnya. Ketika melantik Mayjen Sayidiman sebagai Deputy KASAD, Jenderal Umar berkata: “Sayidiman adalah adik generasi 45, karenanya diberi kesempatan menjembatani peralihan generasi dalam tubuh TNI-AD”. Tampaknya demikianlah pula kebijaksanaan Departemen Hankam, bahwa di samping peremajaan, juga tenaga-tenaga akademi militer diberi kesempatan. Karena itu dalam garis-garis sebelumnya telah ditetapkan, perwira-perwira seangkatan Sayidiman paling sedikit harus menjadi Panglima Kodam secara bertahap. Demikianlah misalnya dengan Brigjen Acub Zainal di Kodam Cenderawasih, Brigjen Himawan Sutanto di Kodam Sriwijaya dan Brigjen Susilo yang kabarnya juga akan menggantikan jabatan Pangdam Hasanuddin karena Brigjen A. Azis bakal menjabat Danjen Kologad. Dan sejalan dengan ini, demikian pulalah halnya dengan berbagai Kesatuan pada tingkatan yang lebih bawah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: